White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 14 - Basecamp


__ADS_3


Episode 14


- Basecamp -


Bara, cowok itu menyedot ingusnya yang tak berhenti meler sejak mie dajjal level 15 itu tak habis ia makan. Ia terlalu penasaran dengan obrolan saat ini.


Bagaimana tidak, seorang Ranne Fakhria, kini berada di Basecamp White Hero, sekretariat sakral sekaligus markas yang hanya boleh dimasuki oleh anggota, namun kenyataannya sekarang sudah berhasil dimasuki oleh non anggota yaitu Ran.


Sambil terus mengelap hidungnya dengan tisu, Bara kini menonton percakapan di depannya yang tak kalah seru dan menegangkan dibanding movies yang ditontonnya.


"Jadi, lo tau basecamp ini karena kertas petunjuk dari gue? Tapi kok gue nggak ingat kapan gue ngasih ke elo ya?" tawa Bang Zu, cowok itu sudah lebih santai.


Ia justru malah senang artinya Ran masuk ke basecamp ini dengan undangan resmi sebagai calon anggota, bukan kelalaian dari Digo yang mengajak orang lain sembarang masuk basecamp.


"Gue awalnya juga nggak ingat sih Bang, kebetulan banget gue nongki di Coffee Poirot ini. Gue cuma bengong doang sampai akhirnya kertas dari lo jatuh ke wastafel, ahahaha..." Tawa Ran sama sekali tidak lucu bagi Digo sekalipun Bara dan Zufan ikut tertawa.


Digo memutar mata dengan memasang wajah bosan saking betenya.


Kalau saja Bang Zu nggak muncul, coba aja Ran nggak pake ke sini, ah ... harusnya gue nelpon Ran lebih cepet biar tuh cewek nggak telanjur ke sini ...


Penyesalan demi penyesalan kini berputar di kepala Digo.


Kalau jadinya begini kan Ran pasti bakal ditarik masuk White Hero oleh om-om ini... Digo melirik kesal pada Bang Zu. Kalau lagi kesal sama Zufan, Digo dan Bara sering mengganti nama cowok itu dengan sebutan om-om meskipun jarak umur mereka cuma tiga tahun.


"Jadi gimana kesan awal lo soal sekre ini, Ran?" tanya Zufan. Yap, tanpa ba-bi-bu ia mulai mewawancarai Ran tanpa membuat cewek itu menyadarinya.


"Gelap." Kata dari Ran spontan membuat Bara dan Digo hampir menyemburkan tawanya karena pasti ini sama sekali bukan jawaban yang Zufan inginkan.


"Come on, mestinya kalau lagi ngerekrut anggota baru setidaknya sekre ini ada lampu dan prepare dikit lah kan." Ran mengangkat bahu dengan santai.


Zufan tersenyum kecil. "Andaikan white hero ini kaya, pasti nggak bakal terjadi seperti waktu itu," ujar Zufan pelan. Ia merasa buruk sebagai manajer, selain itu, akhir-akhir ini para sponsor sedang sulit dimintai bantuan dana.


"Tapi..." Ran melanjutkan kalimatnya. "Menurut gue, sekre ini keren." Cewek itu mengangguk-angguk sembari menyapu matanya ke sekeliling basecamp. "Kalau siang dan terang, sekre ini menurut gue nyaman dan asik sih."


Bara mengancungkan jempolnya dengan senang. "Cakepp."


"Hahaha, oke, jadi sejauh mana lo tau soal white hero?" Zufan melanjutkan pertanyaan wawancara dadakannya. Kalau jawaban Ran memuaskan, mungkin cewek ini menjadi anggota baru white hero.

__ADS_1


"Gue nggak tau apapun sih. Serius. Tapi menurut firasat gue, White Hero kayak agen rahasia gitu ya, soalnya perekrutannya juga sembunyi-sembunyi dan mesti memecahkan petunjuk yang dikasih. Soal goals white hero sepertinya untuk tujuan positif," jelas Ran.


Cewek itu menyiratkan minat dari sorot matanya dan Zufan berhasil menangkap itu. Ran pasti menyukai hal terkait penyelidikan, mata-mata, dan kasus.


"Oke." Zufan merasa sudah cukup akan jawaban Ran. Tanpa perlu melontarkan pertanyaan wajib yang harus sesuai Standar Operational and Procedur (SOP) dari Interview White Hero, Zufan langsung menawarkan ini pada Ran.


"Jadi, lo mau gabung White Hero?"


Pertanyaan Zufan barusan membuat Ran terasa kembali ke saat itu. Saat seseorang memberikannya selembar alamat dan menawarkannya kalimat yang sama. Dan di hari yang sama, ia dan Digo bertemu untuk yang pertama kalinya.


Sebelum Ran menjawab, Digo memotong dengan cepat. "Bang, are you sure?"


"Why not?" Zufan mengangkat bahu. "Gue rasa dia bakal cocok di White Hero dan white hero juga pasti butuh dia."


Digo tak tau harus menyanggah apa. Semua yang dikatakan Zufan tak ada yang salah, namun tetap saja Digo tak rela Ran masuk white hero karena cewek itu pasti terseret dengan segudang ancaman dan resiko yang telah ia hadapi selama ini.


"Jadi gimana Ran?" tanya Zufan kembali pada Ran.


Ran melirik Digo beberapa saat. Pikirannya kini bingung, kalau mengikuti kemauannya, White Hero bakal jadi wadah buat Ran ngembangin obsesinya sejak dulu.


Bisa memecahkan kasus dan melakukan penyelidikan layaknya di novel-novel misteri yang ia baca dari kecil bahkan hingga sekarang. Tapi, melihat wajah Digo, cowok itu sepertinya keberatan jika dirinya bergabung.


"Kenapa?" tanya Zufan.


"I don't know, gue mungkin belum siap jadi mahasiswa yang tidak biasa. You know, apa kata orang tua dan temen-temen gue di kampus kalau ternyata gue masuk organisasi illegal, ya kan..." Ran terdengar seperti sedang berkilah bagi Zufan.


Berdasarkan first impression-nya pada Ran, cewek ini bukan tipikal orang yang mempedulikan apa kata orang akan dirinya.


Kini Zufan bergantian menatap Ran dan Digo, bingung mengapa mereka berdua terlihat begitu saling mempertimbangkan.


"Yang jelas Bang Zu tenang aja, bersedia atau nggak-nya gue masuk White Hero, gue janji bakal tetap rahasiain keberadaan sekre dan organisasi ini," senyum Ran manis.


Digo yang lagi low mood bahkan sempat ter-enyuh akan senyuman itu, sayangnya senyuman itu bukan diuntukan padanya melainkan pada si om-om gila ini. Digo kembali menatap bete pada Zufan.


Zufan hanya balas senyum Ran dengan cengiran. Ia yakin Ran bukan cewek biasa, lihat aja dari cara dia bicara, begitu tegas dan berani. Dan bahkan ia bisa mendapat perhatian dari seorang cowok cuek dan dingin seperti Digo.


Nih cewek bukan sembarang cewek, bagaimanapun dia pasti ditakdirkan jadi anggota white hero... batin Zufan.


"Jadi, wawancaranya udah selesai nih Bang?" tanya Ran polos.

__ADS_1


Bara dan Digo kini tergelak akan pertanyaan Ran yang ternyata sejak awal sadar bahwa ia sedang diwawancara. Bang Zufan pun jadi salah tingkah sendiri dibuatnya.


"Hahaha, oke deh, tanggung jawab gue udah kelar, gue mau cabut dulu." Zufan berdiri sambil mereganggkan tangannya.


"Loh? Jadi lo ke sini cuma buat wawancarai Ran, Bang?" tanya Bara, akhirnya ia merasa sudah diperbolehkan bersuara.


"Tadinya gue ke sini cuma mau ngecek kalian masih hidup apa engga. Eh taunya di lorong nyiduk dua orang yang bilang lagi kissing," cengir Zufan.


"What??" Bara berteriak syok menatap Ran dan Digo bergantian. "Serius?"


"Gue yakin lo nggak bakal percaya ucapan om-om ini Bar." Digo menyurai rambut ala badboy-nya dengan santai sambil pindah duduk ke sofa.


"Gue juga yakin bahwa lo pasti tau yang pertama kali bikin alibi kissing itu siapa Bar." Ran tak kalah santainya, padahal dalam hati ia masih kesal soal alibi 'itu'.


Bara kini bingung. "Jadi kalian udah ciuman apa engga sih?"


"BARAAA!!" teriak Digo dan Ran kini merasa sangat-sangat malu mendengarnya, padahal mereka kan tidak melakukan 'itu'.


"HAHAHAHA!" Bang Zu ngakak parah menyaksikan situasi ini dari ambang pintu.


"Udahlah Bar, lo mendingan ikut gue cabut dari sekre ini."


"Ngapain gue ikut lu yang pasti mau pergi nge-date." Bara mencibir, "tau kok gue jomblo."


"Cari pacar makanya. Noh si Digo udah gercep duluan."


"Bangke mulut lo Bang..." Digo melempar sepatunya ke arah Zufan yang langsung menutup pintu dan kabur. Disusul Bara yang kini tertawa lepas, cowok itu kini bergelagat juga ingin pergi.


"Mau kemana Bar?" Ran sudah curiga.


"Hehehe, segan gue di sini, gangguin kalian..." cengir Bara iseng banget.


Menyadari Digo yang sedang bersiap melempar sebelah sepatunya lagi, Bara berlari keluar pintu tanpa ba-bi-bu. Daripada kena lemparan Digo, sakitnya minta ampun. Bahkan Bara masih ingat rasa sakit di pipinya kena lemparan ujung sepatu Digo.


"Enjoy your time!" seru Bara sembari berlari melewati lorong, suaranya jadi menggema. "Let it burn man!!"


~o0O0o~


SWIPE FOR NEXT

__ADS_1


__ADS_2