White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 10 - Rapat Tengah Malam


__ADS_3


(Gambar : Sean Zufan )


Episode 10


- Rapat Tengah Malam -


Ping pong!


Notifikasi gawai Ran berbunyi saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka dan menggosok gigi.


Ran mendekati ponselnya yang sedang di charger dan melihat notifikasi direct massage (dm) instagram siapa yang masuk.


[@goaddig] : bagi nomor wa lo


Ran spontan nyengir garing begitu membaca dm dari Digo. Ternyata nih cowok beneran nge-chat. To the point banget lagi.


Di sisi lain, setelah berpikir keras mengirim chat apa, Digo kini sedang salah tingkah menunggu balasan dari Ran. Saat ini ia tengah berada di basecamp White Hero, sedang rapat anggota.


"Dig, gimana soal recruitment anggota baru kemaren? Gue denger dari Bara, lo ada nyambut satu calon anggota."


Digo tak mendengar pertanyaan Bang Zufan itu, ia sedang fokus menatapi layar beranda ponselnya.


"Digo?!"


Masih sama, Digo menunggu chat dari Ran dengan gregetan. Tiap detik rasanya lama banget.


Kenapa nih cewek belum balas dah...


"Woy Digooo! Lo denger Bang Zu nggak sih? Hp muluu...." Kini Bara menyentil daun telinga Digo, membuat cowok yang disentil tersadar bahwa dirinya masih rapat internal.


"Eh, sorry sorry, apa? Gimana gimana??" tanyanya polos.


"Eeh bambaank!! Lo kalau mau chat ntaran dong, nih rapat belom kelar." Bang Zu auto ngomel.


Namun omelan Bang Zu makin tak dihiraukan oleh Digo karena saat itu juga balasan chat dari Ran muncul.


[@therealran] : Nggak


"Yaah, apaan sih..." gerutu Digo setelah baca pesan itu.


Bang Zu yang terkacangi akhirnya cuma bisa geleng-geleng kepala. Untung dia sosok manager yang sabar. "Hmm... Ya udah rapat kita pending 10 menit..."


Bara dan Bang Zu bubar dari meja rapat menuju dapur mengambil minuman. Sementara Digo masih fokus dengan gawainya.


[@goaddig] : bagi WA ngga!


[@therealran] : buat apa gw kasi WA kalau cuma buat lu simpen


[@goaddig] : Ciee pengen dichat ditelpon ya


[@therealran] : paan sih


[@therealran] : ngarep banget


[@goaddig] : ya udah kalau ngga mau ngasih.


[@goaddig] : gampang banget dapetin nomor lo kok


[@therealran] : kalau gampang kenapa pake minta ke gw?


[@goaddig] : gw cuma mau minta dengan sopan ke orangnya kan...

__ADS_1


[@therealran] : sok manner


[@goaddig] : serah


[@goaddig] : pindah room ke WA


[@therealran] : vangke ... lo dah ada nomor gw ya?!


Digo sambil cekikian seiring jari jemarinya menekan keyboard di screen ponselnya dengan cepat. Kini layar gawainya sudah berada dalam aplikasi WA.


Digo : P


Digo : P


Sesuai dengan keinginannya nomor Ran langsung online dan membaca ping-nya.


Namun setelah chat ceklis dua itu menjadi warna biru pertanda chat sudah di-read, Digo tak mendapat balasan apapun dari Ran.


5 menit kemudian....


Digo : P


Digo mengirim ping lagi pada Ran. Setelah lewat beberapa menit kali ini justru tak di-read.


"Oke, rapat kita sambung yaa..." Bang Zu datang dengan secangkir kopi yang ia bawa dari dapur. "Digo, kali ini ngga ada toleransi lagi ya, tolong fokus biar rapatnya efektif."


Digo menghela nafas panjang. Dirinya terpaksa meninggalkan room chat dengan Ran.


"Gimana perkembangan anggota baru?" tanya Bang Zu pada Digo.


"Ada satu orang yang datang 2 minggu yang lalu," jawab Digo.


"*****, sebanyak itu gue ngasi kertas rahasia ke maba-maba itu, masa cuma satu yang minat gabung...." Bang Zu manyun. "Jadi, gimana? Calon member itu udah lo wawancara?"


"Setelah gue jelaskan apa itu White Hero dia ngga minat. Jadi ngga gue wawancara," jelas Digo ogah-ogahan. Ia masih geregetan karena Ran cuma nge-read WA nya


"Ya, tapi dia udah janji ngga bakal bilang apapun soal White Hero dan basecamp ini," ujar Digo.


"Hm... " Bang Zu bergumam. "Anak fakultas mana? Namanya siapa?"


"Lo ngga bakal kenal bang," kilah Digo. Kali ini dia benar-benar tak ingin Ran bergabung dengan White Hero.


"Digo...," potong Bara menatap Digo penuh selidik. "Dia cewek ya?"


Digo tak menjawab tapi Bara dan Bang Zu terlihat sudah paham.


"Kenapa sih lo selalu jadi aneh tiap kita open recruitment dan yang datang itu cewek?" Bara terlihat sedikit kesal. "Lo tau kan, udah satu tahun kita kekurangan anggota dan kita tinggal bertiga."


"Gue cuma nggak mau anggota cewek yang baru masuk kejadian kayak Clara, Bar." Nada Digo kini sedikit meninggi. "Kalian berdua masih ingat itu kan."


"Tapi Clara meninggal juga bukan karena White Hero, Dig...."


"Ya, dia memang meninggal karena kankernya." potong Digo. "Tapi, dia meninggal tanpa bisa menghabiskan waktu sebagai cewek SMA biasa karena harus menyelidiki kasus ini-itu di White Hero."


"Digo, gue rasa lo nyembunyiin sesuatu..." Zufan menatap Digo dengan tajam. Ia sudah kenal Digo sejak anak itu berumur lima tahun.


Zufan sudah hapal betul sorot mata Digo jikalau ada hal yang ganjil. "Siapa calon anggota baru itu?"


"Menurut gue secara general dia juga nggak cocok ngelakuin misi berbahaya yang akan kita lalui." Digo, cowok itu masih saja berkilah.


Demi apapun ia bertekad tak akan melibatkan Ran dalam White Hero.


"Soal ngelakuin misi, kita bisa nyesuain nanti tergantung kemampuan calon anggota. Selain itu, kita nggak akan terima sembarang orang bukan, kalau dia memang tak berkompeten setidaknya kita bisa kenal dan wawancarai dia dulu kan?" Zufan kini terdengar lebih tenang.

__ADS_1


Ini bukan yang pertama kalinya Digo berulah seperti ini. Bahkan Bara pun juga sempat melakukan hal yang sama.


Inilah mengapa setahun terakhir tinggal mereka bertiga yang menjalankan White Hero setelah senior-senior white hero terdahulu pensiun sesuai dengan peraturan keanggotaan (maksimal umur anggota adalah 22 tahun).


Bila pensiun, maka tidak akan terlibat lagi dengan kegiatan White Hero secara langsung, melainkan hanya sebagai penasehat.


Zufan telah dipercaya menjadi manajer oleh senior-senior White Hero terdahulu. Salah satu tugasnya adalah melakukan pengkaderan pada adik-adik penerus White Hero nanti.


Jikalau ia tak menemukannya dan saat pensiun nanti yang tinggal White Hero masih Digo dan Bara ... ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Menjinakkan kedua orang ini saja sudah pencapaian luar biasa baginya.


"Gue rasa ... perekrutan kita lanjutkan di Desember nanti." Digo mengucapkannya dengan tegas.


Zufan hanya diam. Watak Digo yang keras memang tidak bisa dilawan. Ia melirik ke arah Bara, cowok itu terlihat kesal, tapi wajahnya terlihat memaklumi akan alasan Digo.


Digo dan Bara pernah melakukan hal yang sama. Ada kalanya keduanya nyembunyiin informasi akan calon anggota yang datang dan tidak melaporkannya pada Bang Zu.


Rapat selesai pukul 12 malam. Setelah membahas hal tadi, mereka merencanakan langkah strategis tentang penemuan kasus baru yang akan mereka selidiki, yaitu tentang pemalsuan dokumen gedung serbaguna yang sedang mangkrak.


Jam menunjukan pukul 23.30 wib.


Digo mengecek WA nya. Tak ada balasan dari Ran, dan Digo tak begitu peduli lagi karena ada pesan dengan nomor tak terdaftar masuk ke WA nya.


+628...... : Malam Dig, ini Clara, lo masih inget kan?


Digo tersentak sangat kaget begitu nama mendiang Clara tertulis di sana, dan nomor itu mengaku sebagai Clara yang nyatanya telah meninggal setahun yang lalu.


Kening Digo berkerut, profile photo nomor itu kosong. Statusnya juga kosong.


Berani-beraninya ada yang iseng ngubungi gue pake nama Clara....


Digo : Lo siapa?


Digo : Mau lo apa?


+628... : Kalau lo mau tau alasan Clara meninggal, lo datang sendirian ke gelanggang remaja jam 5 sore besok. Jangan kasih tau siapapun atau engga lo rasain akibatnya.


Digo membacanya dengan tenang. Ini pasti jebakan atau pancingan seseorang. Digo menelpon nomor itu dan sesuai dugaannya nomor itu langsung tak aktif.


Tapi tetap saja, Digo kesal mengapa pengirim ini harus nyebut nama Clara supaya dirinya datang.


"Anjinh! Nggak ada metode lain apa, harus ya nyebut-nyebut nama mendiang!"


Digo lebih tersentak kaget lagi saat Bara sudah muncul di belakangnya dan berteriak begitu mengintip room chat yang masih terbuka di ponsel yang dipegang Digo.


"*****!! Lo ngga usah pake teriak dong." Digo menangkan jantungnya.


Maklum aja, gimana nggak kaget saat baru dapet chat dan ada yang mengaku sebagai mendiang Clara. Meskipun setelah itu Digo sadar bahwa itu pasti orang lain, teriakan Bara barusan asli nambah bikin syok.


"Nggak bisa dibiarin ini. Pokoknya gue mesti ikut lo besok." Bara bersungut-sungut saking kesalnya.


"Serah lo asal jangan kasih tau apapun sama Bang Zu." Digo memelankan suaranya, melirik ke pintu masuk memastikan Bang Zu yang sudah pamit pulang dari tadi benar-benar tidak tiba-tiba muncul.


"Hehehe, ashiaappp!!"



(Gambar : Nih, bonus foto Bara, foto Digo next episode)


~o0O0o~


Update tiap Selasa, Jumat dan Sabtu


Jan lupa

__ADS_1


Vote dan Comment


See you on next episodes...


__ADS_2