White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 16 - Fair


__ADS_3


Episode 17


- Fair -


“Jadi, lo suka kebab juga?” tanya Ran seraya mengunyah kebab di mulutnya. Kini ia dan Digo tengah menikmati kebab dan cola di bawah payung-payung berbangku yang terletak di depan minimart.


“Suka banget sih engga, cuman suka aja,” cengir Digo. “Gue jauh lebih suka elo…” Demi apa kalimat itu terlontar dan Digo merasa konyol dengan gombalannya.


“Gue sangka lo bukan tipikal cowok yang suka ngegombal Dig, hahaha…” Untung saja Ran hanya menanggapinya dengan becanda, walaupun ucapan Digo tadi sebenarnya serius.


“Hehehe, Bara jauh lebih jago ketimbang gue,” timpal Digo mengangkat bahu.


“Btw, kayaknya gue udah dapet tiket masuk White Hero dari Bang Zu nih Dig, menurut lo gimana?” tanya Ran hati-hati.


Ia lebih ingin tau pasti mengapa Digo terkesan masih menghalang-halanginya masuk, bukankah White Hero terlihat seperti sedang membutuhkan sumber daya manusia.


Digo menghela napas. Sepertinya ia memang tidak bisa lagi menghambat Ran untuk bergabung. Lagian ia juga tak punya alasan penuh, White Hero memang berbahaya bagi Ran, tapi itu juga tergantung seberapa tugas dan misi yang akan dijalankan oleh Ran.


Tujuan Bang Zu merekrut anggota cewek pastinya untuk menggantikan peran Clara, yaitu bagian riset.


“Hmm, masih sama seperti sebelumnya Ran, gue masih belum bisa biarin lo masuk, terlalu bahaya Ran…”


“Apanya yang bahaya Dig? Lo kalau melarang harus kasih alasan,” tanya Ran pelan.


“Lo udah dapat pesan ajakan itu kan, dari unknown yang mengaku jadi Clara. Lo belum masuk White Hero aja udah ada yang tau dan nyoba gangguin. Apalagi kalau udah resmi gabung.”


Ran terdiam. Ucapan Digo benar, tapi bukan berarti ia tak boleh bergabung, justru karena pesan unknown itulah Ran semakin ingin tau soal White Hero.


“Gue nggak ngelarang lo gabung Ran, gue cuma ngasih tau resiko yang bakal lo hadapi, yang ancamannya bahkan nyawa, seperti gue yang beberapa kali lo dapati selalu dalam keadaan babak belur.”


Ran hanya diam, ia malas menanggapi Digo yang mau sampai kapanpun tuh cowok akan tetap tak setuju.


“Well, mungkin kita nggak perlu bahas lagi soal bergabungnya gue atau enggak, karena bagaimanapun gue akhirnya akan punya pilihan sendiri.” Senyum Ran datar.


Kalimat itu tak bisa dibantah Digo. Ya… Ran punya pilihan sendiri, dan Digo bukan siapa-siapa untuk bisa seenaknya mengatur-ngatur apa yang Ran ingin lakukan.


~o0O0o~


Bara mengecek notification handphonenya, dari sekian banyak pesan masuk, yang dari Somi duluanlah yang dibalasnya. Ia nyengir sambil memainkan jempolnya menekan keyboard screennya.


Bang Zu memperhatikan Bara yang cengir-cengiran, kemudian ia memperhatikan Digo yang juga sedang asik dengan jempol dan ponselnya pula. “Waah, parah nih, makin hari makin aneh aja rasanya semenjak kalian berdua udah punya doi ini…”


“Roda berputar Bang, gantian lah, masa kami mulu yang ngeliatin lo ngebucin selama ini.” Bara memasang wajah menyebalkan.


“Setau gue, lo kan emang nggak punya doi Bar.” Kini Digo yang menatapnya dengan wajah menyebalkan. “Somi juga bukan doi lo.”


“Soon…” Bara terlihat percaya diri. “Lo sendiri? Sama Ran gimana?”

__ADS_1


Digo mengangkat bahu, “Nggak ada apa-apa…"


“Serius lo? Kalau gitu, Ran boleh masuk White Hero lah ya kan…” Zufan menggerling pada Digo.


“Ngapain tanya ke gue.” Digo cuek dan bangun dari singgasananya, sofa depan TV.


“Mau kemana Dig?” tanya Bara. “Bentar lagi rapat lho.”


“Ke minimart depan, ada mau nitip nggak?”


Bara melirik Zufan. “Duit sponsor masih ada nggak Bang? Hehe, kan mau rapat, setidaknya ada camilan laah…”


Zufan langsung melotot pada Bara. “Kas kosong.”


“Yaah, terus kerjaan lo apa sebagai manajer Bang…” cemberut Bara.


Zufan hanya menghela napas menyerah, ia keluarkan selembar uang lima puluh dari koceknya. “Nih, beli camilan pake duit gue aja.” Ia sodorkan pada Digo.


“Ogah, biar gue aja yang beli, ntar lo besok malah nggak makan, Bang…”


Bara langsung terkekeh mendengar Digo.


“Ya udah baguslah…” Dengan cepat Zufan kembali menyimpan uangnya. Ia sebenarnya juga sedang kesulitan keuangan saat ini, belum gajian.


Fyi, saat ini Bang Zu kuliah sambil kerja kecil-kecilan, ia jadi fotografer buat beberapa acara seperti wedding, reunion, nggak terlalu menyita waktu. Lumayan buat nambah duit jajan, namun karena sekarang akhir bulan yah jadinya begitulah.


“Hahaha, kasihan abang awak…” Bara kembali asik dengan ponselnya, mengacangi Zufan yang selanjutnya menjelaskan mengapa keuangan kosong dan sponsor lagi susah.


~o0O0o~


“Ja-jangan-jangan….” Feeling Digo nggak enak.


Ia langsung berlari naik tangga menuju rooftop, pintu masuk white hero selain pintu dapur yang kini pastinya sedang sibuk beroperasi karena pelanggan café malam ini ramai seperti biasanya.


Sesampai di rooftop yang kini memiliki beberapa meja terisi, Digo memasuki pintu bertuliskan staff only itu dan turun tangga dengan kecepatan penuh.


Jangan sampai Ran sudah masuk basecamp… tekadnya.


Begitu di ujung lorong, ia melihat sosok yang tengah berjalan menyusuri lorong, benar itu Ran, Digo bisa tau karena di ujung lorong dekat pintu basecamp ada satu lampu yang hidup.


Mumpung Ran masih di tengah-tengah lorong dengan cepat Digo berlari dan menahan lengan cewek itu dari belakang.


“Akh…..” Ran yang kaget karena sebuah bayangan dari belakang melesat menghampirinya dan mendorongnya pelan ke dinding. Mulutnya langsung dibekap pelan dan saat itulah ia melihat wajah Digo di depan hidungnya.


“Ran…” bisik Digo.


“Digo apa-apaan…” Mulut Ran dengan cepat di tutup Digo lagi dengan telapak tangan kanannya.


“Sst… jangan keras-keras ngomongnya…”

__ADS_1


Ran melepaskan tangan Digo lalu mendorong cowok itu agar menjauh darinya. “Lo bisa nggak sih nangkap gue jangan kayak nangkep maling?” Kini Ran memelankan suaranya.


“Lo kenapa ke sini lagi Ran?” bisik Digo.


“Gue mau ikutan rapat…” jawab Ran mengangkat bahu santai.


Digo menatap Ran tak percaya. Ia memegang kedua bahu Ran dan menunduk sedikit untuk menatap mata cewek itu. “Lo nggak harus ngelakuin ini Ran…”


Ran menghembus nafas lelah. “Gue udah bikin pilihan sendiri Dig. Gue mau gabung White Hero.”


Digo akhirnya melepas bahu Ran seraya mundur dan mengangguk pasrah. Ran begitu keras kepala, ia tak bisa menghalangi Ran lagi.


“Oke…” Digo mengangguk berusaha mengerti atas pilihan Ran meskipun ia sudah berusaha membuat cewek itu tau akan resiko menjadi anggota White Hero.


Digo menjabat tangan Ran dengan ekspresi fair. Setelahnya cowok itu langsung berjalan mendahului Ran dan menghilang di balik pintu basecamp.


Ran terdiam. Ia mematung di tengah-tengah lorong yang remang-remang sambil menerawang tangan yang tadi dijabat oleh Digo. Lalu ia menatap pintu basecamp yang terletak diujung lorong.


Apa keputusannya masuk White Hero ini adalah benar?


~o0O0o~


Digo memasuki basecamp dengan tampang datar. Sebagian kecil dirinya masih tak siap dengan kehadiran anggota baru apalagi itu adalah Ran, sebagai dirinya yang lain menerima keputusan yang telah diambil Ran.


“Yeeyy, Cheetos dataang…” Bara mengambil snack itu dari kantong dan langsung membukanya.


“Oke, rapatnya kita mulai saja yaa.” Bang Zu yang duduk di sofa kini pindah ke meja rapat yang terletak di tengah-tengah ruangan. Bara dan Digo pun mengikuti gerakan Zufan.


“Gue ada kasus baru buat kita pecahkan.” Zufan berdiri di samping papan tulis dan mengambil spidol, bersiap untuk mencorat-coret papan tulis seperti biasanya. “Pertama gue jelasin dulu soal latar belakang, kalian tau kan bentar lagi bakal ada pemilihan presma BEM baru…"


“Tunggu Bang…” Digo menyela. Dirinya merasa harus bilang bahwa Ran ada di sini, dan mestinya cewek itu harus mengikuti rapat dari awal supaya tak ketinggalan.


“Ya?” tanya Zufan.


“Ran tadi ada di sini. Sebaiknya kita nunggu dia.”


Ran, cewek itu kini sedang berdiri di balik pintu. Saat dirinya masih menimbang-nimbang masuk atau tidak, ia pun akhirnya mendengar suara Digo.


Senyum tipis tersungging di bibirnya. Bagaimanapun, ternyata Digo orangnya memang fair.


Ran mengumpulkan keyakinannya lalu membuka pintu basecamp dengan pasti. Ia muncul dengan wajah ramah sambil mengangkat tangannya dengan sedikit canggung. “Ha-hai gais…”


“Ran…” Bara dan Zufan sama-sama nyengir senang melihatnya. Kedua orang itu langsung berdiri menyambut Ran.


“Keputusan yang mantep Ran…” puji Zufan.


“Ran, lo keren, sumpah!” Bara mengancungkan jempolnya.


Ran hanya balas nyengir dan sedikit malu-malu kucing. Ia pun duduk di kursi yang dipersilahkan dan itu tepat berhadapan dengan Digo.

__ADS_1


Keduanya saling bertatapan. Ran hanya mengabaikan Digo begitupun cowok itu, Digo hanya diam dan memasang wajah datar.


To be continued…..


__ADS_2