
Di sini lah Ran sekarang, halaman Coffee Poirot, kini waktu telah menunjukan pukul 10 malam.
Setelah dilema selama nonton di bioskop dengan Somi, Aiden, dan Zidan, akhirnya Ran memutuskan untuk kembali ke cafe itu. Dirinya terus teringat akan petunjuk yang ia temukan sore tadi.
Entah mengapa Ran yakin petunjuk itu bukanlah kerjaan orang jahil. Kalau iya, seniat itukah orang itu sampai kertas yang ia berikan terbuat dari kertas khusus yang di dalamnya tersembunyi tinta rahasia.
Ran menaruh helm kuningnya di spion vespanya. Merapikan rambutnya sedikit lalu menarik nafas dalam. Bagaimanapun ia setidaknya harus memastikan, seorang Ran punya prinsip, kalau sudah penasaran maka ia akan terus mencari tau sampai ia dapat jawabannya.
Kakinya melangkah mendekati teras kayu cafe, tangan kanannya meraih gagang pintu dan mendorongnya pelan, bel pun berdering ketika pintu dibuka.
Di dalam, cafe sangat terang dan cukup ramai oleh anak-anak muda yang nongkrong, ngopi dan main game. Cukup berisik juga.
Ran melangkah ragu berjalan menuju tangga, dirinya agak canggung kalau-kalau ada yang nanya mau pesan apa karena dirinya tidak berniat basa-basi untuk duduk memesan minuman dulu. Sudah jam 10 malam, dirinya hanya harus cepat-cepat melaksanakan tujuannya.
Di lantai dua, tak kalah ramai, Ran memperhatikan ke sekitar. Ia pun memperhatikan setiap tongkrongan orang-orang yang duduk, siapa tau ada yang mengenakan simbol warna putih atau sejenisnya mengingat nama organisasi rahasia itu "white hero".
Nihil, Ran tak menemukan petunjuk apapun. Ran mengeluarkan kertas petunjuk tadi dari dalam sakunya.
Poirot melempar bola tiga kali
Poirot gagal pada lemparan keempat
Kuncinya ada pada singa dan ular
Follow the light
Tunggu.... lantai cafe ini kan totalnya ada tiga tingkat sudah dengan rooftop.
Make sense... Pikir Ran, jiwa-jiwa pecinta novel misterinya kini mulai mencuat. Ran yakin teka-teki ini pasti mudah, karena untuk merekrut anggota secara rahasia, maka organisasi itu tak mungkin memberikan kode rahasia yang sulit.
Thinking as simple as possible, Ran....
Ran menutup mata, ia tak peduli dengan waiters yang lewat memperhatikannya dengan heran.
Ran kemudian membuka mata, sepertinya ia harus ke lantai tiga, rooftop Coffee Poirot. Ia menaiki tangga dan mendapati lantai beratapkan langit dan bangku-bangku kosong. Sepertinya malam ini memang close order untuk rooftop.
__ADS_1
Melihat ke sekeliling, matanya menangkap sebuah pintu kayu yang terletak di sisi samping tangga. Pintu itu memiliki ukiran bermotif ular yang melilit daun dan di bagian tengah ada motif singa.
Bingo... Ran tersenyum puas, sudah ia duga, kode rahasia itu terlalu mudah.
Ran membuka pintu kayu itu, terbuka!
Kakinya melangkah masuk, kalau bukan karena cahaya lampu luar rooftop, Ran mungkin akan langsung jatuh karena begitu pintu dibuka langsung ada tangga menuju ke bawah. Sepertinya di bawah bakal gelap sekali.
Dibantu senter ponselnya, Ran menuruni tangga dengan hati-hati. Kini ia berada di lantai tiga, setelahnya Ran merasa ia telah turun tangga sebayak empat lantai, karena rasanya terlalu banyak anak tangga yang berputar-putar.
Ia sampai pada lantai dasar dan langsung bertemu lorong.
Lorong itu begitu gelap gulita, Ran menyusuri lorong panjang itu dengan jantung deg-degan. Akhirnya cahaya senternya menemukan sebuah pintu kayu. Lagi-lagi pintu kayu itu memiliki ukiran singa dan ular. Ran jadi semakin yakin, mendadak dirinya jadi semangat.
Ran membuka kenop pintu, terkunci. Ran paksa membukanya, memang terkunci.
Gimana nih...
Ran mengarahkan senter hp nya ke tempat ia berasal tadi, lorong panjang, terlalu seram untuk dia kembali dan menyerah. Tapi pintunya terkunci. Mau nggak mau Ran sepertinya memang harus kembali.
Ran menelan berat, senter ponselnya terus mengarah ke depan, kakinya melangkah terasa berat, agak gemetar.
Detik berikutnya sesosok makhluk menariknya, pelan tapi tegas. Tubuhnya terdorong ke dinding dan sosok itu menahan kedua bahunya dengan erat.
Saking cepatnya, Ran bahkan tak sempat berteriak. Matanya terpejam karena reflek. Begitu ia membuka mata, sinar senter menyoroti wajahnya sehingga membuat mata Ran terpejam lagi.
"Lo si-siapa??" cicit Ran tercekat, ia menyipitkan matanya berusaha melihat sosok di balik sinar senter itu, namun nihil, tak mungkin ia bisa melihat wajah orang itu.
"Lo ... " Suara yang familiar. "Ngapain di sini??"
"Di-Digo??" terka Ran, firasatnya yakin itu suara Digo.
"Lo ngapain di sini?" ulang suara berat itu. Ran makin yakin bahwa itu memang Digo.
"Lo bisa jangan nyenter muka gue dulu ga?"
Sinar senter Digo kemudian turun menyorot lantai. "Sekarang udah bisa jawab?" tanyanya datar.
__ADS_1
"Lorong ini emang biasa gelap gini ya?" Ran tak bisa menunda pertanyaan itu lagi. Sedari awal dirinya paling risih dengan lorong gelap ini.
"Nggak usah ngalihin pembicaraan. Elo ngapain di sini, Ranne Fakhria??" Nada Digo semakin tajam saja. Cengkramannya di bahu Ran tanpa sadar mengeras.
"Nggak usah ngegas kali!" Lawan Ran menantang wajah Digo yang hanya berjarak hitungan senti dari wajahnya
"Lo mata-mata ya?" Digo kembali menegaskan cengkramannya pada gadis itu.
"A-apa?" Ran kini jadi speechless. Bisa-bisanya ia dibilang mata-mata, orang dia nggak tau apa pun. "Gu-gue ... dapet petunjuk dan disuruh ke sini." Ran akhirnya menjawab
"Dari siapa?"
"Gak tau, ga kenal orang yang ngasi kertas petunjuknya," geleng Ran. "Eh, btw lo bisa berhenti mepetin gue kayak gini nggak sih?!"
Digo tersadar, dirinya masih dalam posisi menahan bahu kanan Ran ke dinding. Spontan ia melangkah mundur, "Eh so-sorry..."
"Jadi, lo sendiri ngapain di sini?" tanya Ran balik.
"Ini basecamp gue."
Jawaban Digo membuat Ran terdiam sejenak. Sesempit inikah dunia sehingga Digo ternyata adalah salah satu anggota dari organisasi yang sudah membuat Ran penasaran
"Lo anggota ... hero ... hero apa gitu gue lupa namanya,"
"White Hero."
"Nah iya, lo anggota itu?"
Baru saja Ran melontarkan pertanyan itu, tangan Ran sudah ditarik agar mengikuti langkah Digo. "Nggak enak ngobrol di sini. Nggak tahan gue gelap-gelapan."
"Eh..." Ran hanya bisa melongo mengekor Digo.
Lagi, untuk yang kedua kalinya Digo menarik tangannya.
Nih cowok kenapa mesti pegang tangan gue lagi dah... terus mau ngapain dia narik gue masuk ke dalem dan gelap-gelap gini....
______________
__ADS_1