
(Gambar : Bara Kernan Abdi Yansyah)
Digo memeriksa notifikasi instagramnya, seperti biasa, tiap hari selalu ada followers yang nambah dan like bahkan pada foto-foto lamanya. Belum lagi direct massage instagramnya, cewek-cewek yang entah siapa ikut nge-dm dia.
"Hhoaamm, susah kalau jadi cowok ganteng," gumam Digo bosan.
"Apa kata lu, Nying?" Bara menodong Digo dengan sumpit Mie Dajjal Level 20 yang dimakannya. "Ganteng pun lu masih ngeluh, Anying."
Bara melanjutkan suapannya dengan hidung merah berair dan lidah kepedasan, efek panas karena tak tau diri memesan mie pedas level paling tinggi.
"Nyet, lo awas ntar ya ngeluh-ngeluh sakit perut sembelit, bolak-balik boker dan bikin kamar mandi kita jadi bau horor, awas lu!!" Digo mengipas-ngipas lehernya setelah membuka pintu jendela basecamp White Hero.
Sore ini udara panas banget. Sudah seminggu lebih basecamp White Hero nggak dialiri listrik karena masih rusak. Lebih tepatnya, manager White Hero mereka, Bang Zu, malas banget ngurus ke PLN.
"Anjiinh, mau sampai kapan kita ngga ada listrik gini, panas, AC nggak bisa hidup, gue kepedesan, ditambah lagi si Digo nyebelin, ya Loorddd!!" Bara berteriak seiring cabe setan merajai mulutnya.
"Bara ... Baraa ...., kalau sampai yang lain pada tau, kapten tim futsal, juara olimpiade renang peraih medali emas dan jago judo ini kalau kepedesan tingkahnya malu-maluin kayak gini, gue yakin nggak ada yang sudi jadi fans lu." Digo menggeleng-geleng.
"Diam lu! Eh anjiiir... pedes banget gilaak, nyesel gue pesen level ini." Bara memegang kepalanya dengan kedua tangannya, menahan perih panas yang mulai terasa menjalar ke otaknya.
Ia berlari membuka kulkas, tapi kemudian sadar bahwa listrik mati dan kulkas juga pasti tak hidup, ia langsung berlari keluar basecamp, menyusuri lorong dan naik ke tingkat atas, dapur Coffee poirot, mencari susu dingin.
Digo hanya menghela napas tak peduli. Ia kini tengah bosan, mungkin bulan ini jadi momment paling bosan di sepanjang hidupnya.
Bad idea-nya, masa-masa Digo bertemu dengan Ran tepat ketika kegabutannya mencapai puncak. Itu sebabnya Digo sadar, bahwa sensasi ingin dekat dengan Ran itu sempat terlontar dari mulutnya minggu kamaren.
Itu sebabnya pula ia tak menghubungi Ran sekalipun Digo bakal dengan mudah mendapatkan kontaknya atau sosial media Ran.
Karena Digo sepenuhnya sadar, bahwa ia tidak ingin menjadikan anak orang sebagai pelampiasan gabutnya.
Yhaa ... semoga tuh cewek nggak baper lah... Lagian dia bukan tipikal cewek yang mudah baper kayaknya... pikir Digo.
Tak lama, tiba-tiba pintu basecamp dibuka dengan keras, Bara muncul di pintu dengan wajah histeris.
"DIGO!! Lo mau tau big news??" seru Bara menahan hetic.
Digo hanya diam menatap Bara, tapi gelagatnya mengisyaratkan bahwa ia ingin dengar.
"Ran dan Somi. Mereka di sini!!" teriak Bara heboh.
Kening Digo berkerut, bukan karena mengapa Ran dan Somi bisa ada di sini, tapi karena mengapa Bara bisa kenal Ran dan Somi.
"Lo tau mereka?" heran Digo.
"Udah jadi rahasia umum kalau FISIP punya maba bidadari kayak mereka, anying." Bara sontak berjalan ke dalam ruangan, menyambar topi yang terletak di sebelah bekas cup Mie Dajjal yang belum dibereskannya kemudian menyemprotkan parfum yang diraihnya di atas lemari brangkas.
"Lo mau ngapain?" Digo auto curiga.
"Nyamperin mereka lah." Bara mengangkat tangan sok keren.
"Awas kalo lo deketin Ran." Demi apa kalimat itu terlontar dari mulut Digo begitu saja. Ia jadi was-was duluan karena kalau soal kharisma, Bara adalah salah satu lawan beratnya.
Pernyataan Digo sukses bikin Bara nyengir heboh. "Sepuluh tahun Bro kita temenan, gue nggak pernah denger ancaman itu dari mulut lo, hahahahaha!!!" Bara ngakak lepas.
Digo hampir ingin tenggelamkan dirinya di bumi saat itu juga, saking malunya. Benar juga kata Bara, 10 tahun, baru kali ini juga Digo menunjukan kode kerasnya itu.
"Hahahaha, oke oke ... santuy ... lo ngga perlu khawatir karena gue dan Somi udah punya kemistri duluan. Tuh cewek manisnya lain..." cengir Bara.
__ADS_1
Digo tak peduli, ia masih merutuki ucapannya barusan.
"Jadi... lo mau ikut gue ke atas?" tawar Bara.
"Emang bisa langsung duduk gabung mereka, gitu?"
"Ya bisalah, kok ciut gitu sih?"
Digo mendadak bete dengan gaya sok gentle Bara barusan, Bara kalau udah pede, pasti ngeselin banget tampangnya. Sok ganteng, najis.
"Lo hapus dulu tuh hidung meler lu, baru lo bisa ikut gue nyamperin mereka..." Digo bicara tak kalah gentle dan berjalan melewati Bara, duluan keluar pintu basecamp.
Bara, cowok itu merasa sangat exicted, selain karena sobatnya itu menunjukan ancaman yang selama ini tak pernah didengarnya, tapi juga karena Somi, cinta pertama dalam hidupnya itu kini telah datang kembali....
~o0O0o~
(Gambar : Somi Emilia)
"Caramel Macchiato Ice nya 1, Macha Ice Coffee 1, Taro Boba 1 pake toping Cheese ya Mas, terus Chocolate Flamingonya 1, sama kentang gorengnya 3 porsi ... eh Ran lo mau pesen Banana Split ngga?" Somi kini sedang sibuk memesan makanan plus pesanan Aiden dan Zidan yang di-request lewat grup WA mereka.
Benar, kedua cowok itu belum datang dan mengaku telat bentar karena masih rapat di kampus.
"Boleh deh, serah lu...," jawab Ran tak terlalu peduli, dirinya kini sedang celingak-celinguk siapa tau matanya menangkap sosok seseorang yang sedang dalam pikirannya.
Ia juga tak peduli dengan Aiden dan Zidan yang selalu telat datang 1 jam dari waktu kesepakatan mereka. Jadi kalian pasti tau siapa sosok yang dimaksud bukan?
Setelah waiters yang menerima pesanan mereka pergi, dua orang cowok ganteng muncul, bukan dari pintu masuk melainkan dari lantai atas. Siapa lagi kalau bukan Bara dan Digo.
Ran hampir salah fokus sampai ia menjatuhkan ponsel dari pegangannya ke bawah meja. Badannya dengan cepat merunduk ke bawah, spontan antara ingin mengambil ponsel dan ingin bersembunyi.
"Somiii...." Panggilan dengan nada gurih dari Bara membuat tak hanya Somi tapi juga Ran ikut melihat ke asal suara.
Somi menyipitkan matanya, berusaha mengenali siapa yang memanggilnya.
"Lo masih inget gue??" Bara kini menghampiri dan langsung duduk di kursi samping Somi, perkiraan di awal kursi itu akan diduduki oleh Zidan.
"E...elo, Ba... Bara???" Somi sedikit ragu.
Bara tersenyum dengan meletakan kedua telunjuknya di kedua sisi pipinya. Seperti isyarat yang mungkin jadi kebiasaan mereka dulu.
Tapi bagi Digo apa yang dilakukan Bara barusan itu menjijikan.
"Gilaa, ini serius beneran lo Bara??" Somi dengan antusias ngegebukin lengan Bara dengan tasnya.
"Hahaha, surprise! After 10 years, I found you..." cengir Bara.
"Lo kok bisa tau gue di sini?? OMG lo banyak berubah sekarang, makin ...."
"Makin ganteng ya?" Bara mengedipkan mata. Ia hanya tertawa renyah saat Somi bergidik sok jijay.
"Eh Dig, lo ngapain berdiri aja? Duduk gih, noh di sebelah Ran." Bara mengarahkan dagunya ke bangku di depannya.
"Kok lo bisa tau gue?" Kini Ran yang bicara pada Bara, tak peduli mereka belum saling berkenalan tapi cowok di sebelah Somi ini ternyata sudah tau namanya.
Bara yang terlihat bingung menjelaskan hanya mengarahkan dagunya pada Digo. "Noh, si Digo sering cerita soal lo."
Ran spontan melotot ke arah Digo, ya cowok itu dalam sekejap sudah duduk di sebelahnya. Sementara Digo, dirinya spontan menginjak kaki Bara, dalam hati dirinya syok kenapa Bara ngomong gitu.
__ADS_1
"E-elo... waah bener-bener yaa..." Ran melipat tangan sambil geleng-geleng kepala dan bersandar memiringkan hadapannya ke arah Digo. "Dari seminggu yang lalu lo nggak ngehubungin gue, bahkan follow ig gue dan dm pun engga, dan sekarang gue denger lo ternyata sering ngomongin gue?"
Boom!
Digo tak tau mesti jawab apa. Ini gara-gara Bara asal ngomong tadi nih. Tapi ini bukan saatnya untuk menyalahkan orang, Digo mesti bersikap gentle.
"Oke, gue follow ig lo sekarang. User Instagram lo apa?" tanya Digo dengan wajah datar.
"Nggak usah," ketus Ran.
"@therealran," celetuk Somi dengan wajah polos. Kini giliran ia yang dipelototi Ran.
Tak lama notifikasi handphone Ran bunyi.
[therealran] : @goaddig kini mulai mengikuti anda.
Ran memutar mata melirik Digo. Digo nyengir evil sambil meenggoyangkan ponselnya. "Follback ya. Ntar malem gue chat."
"Uuuuuuuwwww..." Bara dan Somi sama-sama usil. Tentunya Ran dan Digo juga sama-sama pura-pura nggak peduli.
"Btw, ngapain kalian di sini?" tanya Bara. "Nunggu temen?"
"Iya nih, Aiden sama Zidan," jawab Somi. "Kalian berdua? Eh Dig, ini yang ke dua kalinya lho kita lihat lo di sini."
"Hahaha, kami sering nongki di atas." Yang jawab si Bara. Ran spontan melirik Digo, nongki di atas yang dimaksud pasti bascamp White Hero, mereka sama-sama tau itu.
Setelah itu mereka lama mengobrol, pesanan mereka juga sudah datang namun Aiden dan Zidan juga tak kunjung muncul.
Minuman keduanya juga sudah ludes dihabiskan oleh Bara dan Digo. Sengaja biar ngga mubazir, lagian nomor aiden dan zidan pun dihubungi juga tidak aktif.
Meski kesal, setidaknya Ran dan Somi tak begitu sia-sia karena ditemani kedua cogan ini.
Digo melirik jamnya, sudah mendekati pukul 6 sore. Pukul 6 ini mereka akan mengadakan rapat internal White Hero. Digo mengode Bara agar bicara.
"Gais, udah jam 6 nih, habis ini kami ada janji, kalian gimana? Masih nunggu temen kalian?" tanya Bara.
"Kita pulang aja deh kayaknya ya Ran?" Somi sedikit kecewa obrolan seru mereka mesti berakhir.
Ran mengangguk. "Ya udah kita balik aja. Gue juga mau telponan ama Bang Rey malam ini."
"Uuuuuwwww sweet banget daah...." Somi nyengir menyipitkan matanya.
Bang Rey??! Siapa Bang Rey? Apa? Telponan??!
Bara seolah mendeteksi kalimat itu dari lirikan Digo pada Ran barusan.
Ketika Digo sadar diperhatikan, wajahnya pun kembali berubah menjadi pokerface dan seolah tak peduli. Padahal aslinya dirinya kini super kepo.
Siapa Rey??
________________
Nantikan episode baru tiap selasa, jumat, dan sabtu
Jan lupa
vote dan comment yaa ^^
Salam Zheyenk❤
__ADS_1
Tuan Putri Aira