White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 7 - Berdua Dalam Gelap


__ADS_3

White Hero update tiap hari


_______________________________



Begitu sampai pada pintu di ujung lorong, Digo merogoh saku dan mengeluarkan anak kunci, kemudian menjejalkannya pada lubang kunci.


Kenop pintu dibuka, di dalam sama saja, gelap.


Digo melepas tangan Ran, berjalan dengan senternya mencari sesuatu.


"Dig, kok gelap lagi sih, gue benci gelap. Eh ... lo kemana??" Tangan Ran meraba ke depan, takut menabrak sesuatu.


Tak lama, lampu lentera di dinding dihidupkan, membuat ruangan itu disapu oleh cahaya temaram berwarna oren keemasan.


Cahaya lentera itu cukup membiaskan cahaya meski samar, mata Ran setidaknya bisa melihat isi sekeliling ruangan.


Ruangan itu cukup besar berbentuk persegi panjang. Keempat sisi dindingnya di isi oleh berbagai benda. Ada sisi dinding yang berisi rak tinggi hingga ke langit-langit ruangan, dengan deretan penuh buku-buku. Sisi dinding lainnya diisi komputer dan lemari mirip kabin. Sisi dinding satunya berisi satu set sofa dengan tv layar tipis di depannya. Dan sisi dinding keempat ditutupi tirai.


Sementara di tengah-tengah ruangan ada meja kayu besar, sepertinya dipakai buat rapat atau belajar.


"Kuno banget sih tempatnya, belum dialiri listrik ya sampai pake lentera segala??" omel Ran, ia benar-benar nggak suka dengan yang namanya gelap dan remang-remang.


"Kan udah gue bilang, listriknya lagi rusak." Digo berjalan mendekati tirai, ia menggesernya, menampakkan dinding kaca dan pintu kaca yang sepertinya bisa dibuka. Ternyata dinding sisi itu transparan, dibaliknya ada semacam taman, namun Ran tak bisa melihat lebih jelas karena di luar lebih gelap.


Cuaca malam saat itu sedang mendung dan mau hujan.


"Jadi, lo anggota white hero? Ini basecampnya?" tanya Ran.


"Ya, bisa dibilang begitu." Digo melepas hoodie yang dipakainya, menyisakan selembar kaus abu-abu di tubuhnya.


"Kok bisa?" tanya Ran masih penuh selidik memperhatikan tingkah Digo. Kenapa nih cowok tiba-tiba buka baju? Hoodie maksudnya...


"Harusnya gue yang nanya, kok bisa lo dapat petunjuk itu," ujar Digo merebahkan diri di sofa.


Ran yang masih berdiri di tengah ruangan pun mengangkat bahu. "Nggak tau, tau-tau ada yang muncul dan ngasi gue kertas."


"Ah, Bang Zu bisa banget nyari anggota jelek kayak gini," celoteh Digo menghela nafas.


"Apa? Jelek? Lo bilang gue jelek?" Ran merasa super tersinggung. Dirinya berjalan menghampiri Digo. Meski remang-remang, Digo bisa lihat mata Ran melotot nggak terima.


"Hahaha, iya, gue ngatain lo jelek, kenapa? Mau marah?" tawa Digo renyah.


"Serah lo deh, gue kayaknya mau pulang aja, nggak jelas nih basecamp atau rumah hantu, gelap banget." Baru saja Ran berbalik ingin pulang, mendadak langit bergemuruh dan menumpahkan hujan yang langsung deras.

__ADS_1


Langit seolah tak mengizinkan Ran langsung pulang saat itu juga.


"Haha, noh, malam tersinggung karena lo bilang dia gelap," cengir Digo santuy, ia mengeluarkan ponselnya.


"Kan emang gelap," judes Ran. "Duuh kenapa harus hujan sih..."


"Jangan salahkan hujan. Awan hanya tak sanggup lagi menahan bebannya."


"Sok puitis lo." Ran akhirnya berjalan dan duduk di sofa sebelah Digo, namun menyisakan jarak begitu besar di antara keduanya. "Ehem, gue numpang di sini sampai hujannya reda."


"Semoga hujannya lama," celetuk Digo dengan gaya bodo amat. Ia terus memainkan ponselnya.


Ran tak menghiraukan Digo, ia turut mengeluarkan ponselnya, sial bentar lagi baterainya habis.


"Lo ada powerbank?" tanya Ran.


"Nggak, dan kalaupun ada nggak bakal gue pinjemin."


Ran memutar mata, sepertinya Digo ahli banget bikin orang kesel. Ran melirik jam di ponselnya, udah mau jam 12 malam. Hujan belum reda dan semakin malam semakin nggak aman baginya untuk pulang sendiri.


Apa ia mesti telpon Aiden buat jemput dia pake mobil? Selagi ponselnya masih hidup.


Digo, cowok itu menyadari kerisihan Ran. "Ntar kalau hujan udah agak reda, gue anter lo pulang," cetus Digo tanpa memandang Ran, masih terpakut pada layar ponselnya.


"Eh, gimana gue bisa jamin kalau ntar lo beneran ngantar gue pulang dengan selamat?"


Ran menelan berat, sedikit merasa bersalah udah nuduh Digo. "I-iya percaya kok. Apa salah ya gue kan cuma waspada." Prinsip Ran selagi masih bisa membela diri, ia bakal terus mempertahankan argumennya.


"Serah lo..." Digo tak mau ambil pusing. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja. Kemudian ia mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Ran. Sikunya naik ke atas sandaran sofa selagi tangannya menopang kepala.


Wajahnya menampakkan penasaran menatap Ran.


"Apa?" tanya Ran galak.


"Hmm, gue masih penasaran kenapa kita bisa dirumorkan punya hubungan." Kening Digo berkerut.


"Kok lo tiba-tiba bahas itu lagi sih?" Ran agak terdengar muak. "Emang sebelumnya lo ga pernah kena rumor kayak gitu apa?"


"Emang lo sendiri pernah?"


"Sering malah. Dan gue muak, apalagi kalau si cowok turut ngaku-ngaku, ribet deh pokoknya, untungnya gue sih bodo amat, si Somi yang selalu kelarin masalahnya."


"Somi?"


"Sobat gue."

__ADS_1


"Oh..."


"Terus, menurut lo kenapa kita bisa kena rumor itu?" gantian Ran yang bertanya balik.


"Nggak sih, biasanya gue dirumorkan sama cewek-cewek centil dan menye-menye yang emang tertarik sama gue. Dan baru di kuliah ini gue dirumorkan sama cewek yang spesiesnya kayak lo."


"What? Spesies maksud lo?"


"Iya, udah jelek, judes lagi..." cengir Digo. Cowok itu sepertinya sedang bosan, sengaja nyari perkelahian dengan Ran, lagian cowok manapun pasti setuju bahwa makhluk di depannya ini super cantik bak dewi. Bedanya Ran memang spesies yang judesnya.


"Dua kali ya lo bilang gue jelek, gue ga jelek," protes Ran. Heran dia, baru Digo cowok yang bilang dia begitu.


"Hahaha, lama-lama lo kayak anak kecil aja, gaya lo kayak cewek yang bodo amat, tapi kok dibecandain jelek aja sampai marah-marah gitu."


"Diam Dig. Gue lagi males ngeladeni lo."


"Males, tapi ntar kangen lho,"


"Ngga usah sok-sok jadi Dilan deh, lagian kita nggak sedekat itu." Ran makin gedeg dibuatnya. Apa ia telpon Aiden sekarang aja ya. Perlahan tangannya mencet tombol panggilan di nomornya Aiden.


Tutt... Tutt...


Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan....


Aiden sialan... umpat Ran. Nggak bisa diandelin.


Digo, cowok itu tau, sayup terdengar juga dengannya Ran gagal menelpon seseorang.


"Tenang aja napa, bentar lagi hujannya juga reda, ntar lo langsung gue anter kok..." celetuk Digo dengan gaya malas. Lama-lama kasihan juga, lagian wajar juga Ran risih berduaan dengan cowok dalam satu ruangan gelap ini.


"Ehem... peka juga lo," dehem Ran.


Digo? Bukan Digo namanya kalau nggak peka. Instingnya kuat, prediksinya bahkan yang paling diandalkan dalam komplotannya, White Hero.


"Digo ... White hero itu apa?"


_______________


***Ini hari ke-2 gw di noveltoon dan upload hari ke-2 jugaa


Terimakasih atas antusiasnya dan supportnya


vote dan comment terus yaa ^^


Salam Zheyenk❤

__ADS_1


Airasn***


__ADS_2