
Episode 21
- Mistake -
Ran memasuki basecamp White Hero dengan tampang kucel. Agak melelahkan berkendara selama 30 menit dari sekre KAPI ke pusat kota, ditambah macet luar biasa karena memang sedang jam pulang kantor.
Bibirnya kering dan mukanya kilap, kunciran rambutnya agak sedikit berantakan, tapi itu tidak mengurangi kecantikan gadis itu, malah kini semakin kelihatan natural. Kucel dan natural, kombinasi yang aneh.
“Dari mana Ran? Gue telpon nomor lo nggak aktif.” Bara yang khawatir menyambut Ran begitu datang.
“Sorry, HP gue mati.” Ran meletakan helmnya di atas kabin, menyampirkan tasnya di kursi dan berjalan lelah ke sofa, ia menghempaskan tubuhnya dengan letih.
Digo yang sedang membaca buku melirik Ran sekilas, ia langsung tau bahwa gadis itu habis berkendara dengan jarak cukup jauh, terbukti dari tampangnya saat ini.
“Bar, ambilin pesenan gue di depan, tadi gue pesen Red Velvet,” pinta Ran. Yang ia maksud di depan adalah dapur Coffee Poirot.
Bara yang sudah menyayangi Ran sebagai teman masa kecilnya menuruti permintaan gadis itu.
“Ah ya… gue pesenin makan sekalian mau Ran? Lo pucet banget, belom makan kan?” tanya Bara berhenti di pintu.
“Nggak usah Bar, lo kan udah tau kalau gue nggak makan malam,” ujar Ran terlentang di sofa, namun terlambat karena Bara sudah pergi tak mempedulikan jawaban Ran, pastinya cowok itu tetap akan membawakan Ran makan malam.
Digo melirik Ran lagi, menyapu penglihatannya pada gadis itu lalu kembali pada bacaannya seraya bersuara, “Makan aja, ntar sakit.”
Ran sempat menoleh pada Digo, tapi gadis itu kembali memalingkan wajahnya, pura-pura tak dengar, ia masih dalam rangka mogok bicara dengan Digo gara-gara tuh cowok masih terkesan menyepelekannya di White Hero.
Digo yang tak direspon jadi semakin cuek. Ia sadar sudah 3 hari belakangan Ran tak ingin bicara dengannya. Digo juga tau penyebabnya karena Ran kesal tak ia anggap di White Hero.
Tak lama Bara muncul dengan nampan berisi nasi ayam penyet serta minuman rasa Red Velvet pesanan Ran. “Gais, barusan gue ditelpon Bang Zu, rapat malam ini di cancel,” ujarnya meletakan nampan itu di meja hadapan Ran.
“Kenapa?” tanya Digo. “Doinya sakit lagi?”
“Iya, pingsan lagi waktu di minimart katanya.” Bara mengambil jaketnya yang tergantung di kayu gantungan khusus jaket.
“Suruh aja Bang Zu bawa Lala periksa ke dokter, udah berapa kali tuh anak pingsan mulu.” Digo berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Membuat Ran ternganga dengan perpaduan antara cuek dan nggak peduli dari Digo.
__ADS_1
Nggak ngerti gue ama nih cowok… batin Ran.
“Cieee, ama doi orang perhatian, sama doi sendiri engga…” Bara menggoda Digo sambil melirik Ran sekilas. Untungnya Ran tak melihat Bara karena posisinya sedang membelakangi cowok itu.
“Mau kemana lo?” tanya Digo tak merespon kalimat Bara tadi.
“Cabut tempat doi lah…” Bara mengambil helmnya. Ia pun pergi dengan gaya sok gentle yang bikin Digo selalu membatin amit-amit. Ia tak yakin Bara benar-benar berani menemui Somi, cowok itu aslinya lebih cupu dari kelihatannya.
Kini tinggal Ran dan Digo. Digo yang serius membaca buku sambil dengerin musik dan Ran yang kini tertidur setelah menghabiskan setengah red velvet-nya sementara nasi ayam penyetnya tak ia sentuh sama sekali.
30 menit kemudian Digo merasa bosan dengan bacaannya. Perhatiannya kemudian beralih pada Ran yang terlentang tidur di sofa panjang sampingnya.
Wajah Ran kalau tidur bisa se-adem ini...
Yang paling bikin Digo terpesona adalah kelopak mata dan bulu mata Ran yang melentik bahkan ketika sedang tidur. Dan yang paling bikin Digo tak suka adalah melihat bibir Ran yang pucat dan kering karena kelelahan dan belum makan.
Digo terus mengamati wajah Ran sambil memikirkan dilemanya selama ini. Sebelum bertemu dengan Ran ia merasa pernah bermimpi tentang gadis itu.
Tentunya masa kecil mereka dalam hal ini dikecualikan, Digo bahkan tak terlalu ingat betul masa-masa itu.
Sesungguhnya Digo belum mau jatuh cinta, tidak untuk saat ini. Dan sejujurnya ia juga belum pernah mengalami yang namanya benar-benar jatuh cinta, bahkan tak tau rasanya seperti apa. Lagian ia juga tidak peduli itu.
Tapi boleh diakui, Digo sering memikirkan Ran beberapa minggu belakangan. Tak tau apa sebabnya, tiap cewek itu muncul di hadapannya ada rasa senang yang menggelitik, seolah ada rindu yang terpuaskan.
Hanya saja sensasi itu jadi berubah setiap kali bertemu dengan Ran mereka sering beda pemikiran dan berdebat. Contohnya seperti adu argumen soal Ran yang ingin masuk White Hero.
Digo masih memandangi wajah Ran dan berbicara dengan pikirannya sendiri. Sampai akhirnya Ran membuka mata dan tersadar dirinya tidur di basecamp.
Ia bangun seraya menyurai rambut panjangnya, ikat rambutnya mungkin terlepas saat ia tidur tadi. Kemudian Ran menyadari Digo juga masih di basecamp bersamanya.
“Lo masih di sini…”
Ops … Ran tak sengaja bicara duluan pada Digo setelah 3 hari mogok bicara.
Cowok yang tadinya cepat-cepat merubah pandangan dari wajah Ran ke buku bacaan kini melirik gadis itu sekilas. “Hooh, nggak mungkin kan gue tinggalin lo tidur di sini,” ujar Digo. “Makan gih, nasinya udah dingin tuh.” Cowok itu bahkan mengatakannya dengan wajah cuek.
__ADS_1
“Gue nggak makan malam dan lo tau itu,” tegas Ran. Yaah kan jadi terpaksa dialog sama cowok ini … batinnya.
“Lo tadi habis dari mana?” Digo akhirnya menanyakan hal yang ingin diketahuinya sejak Ran datang.
“Bukan urusan lo.” Ran bangun dan menyurai rambutnya lagi. Berencana ingin langsung pulang, ia menyambar tasnya di kursi rapat.
Digo yang tau gelagat Ran ikut berdiri dan menahan lengan cewek itu. “Makan dulu, Ran. Lo pucat ntar di jalan kenapa-napa.”
Ran berhenti dan berbalik menatap Digo. “Apa peduli lo?" tanyanya terlihat dilema. "Kenapa jadi sok perhatian gini? Maksudnya apa?"
Digo mengangkat bahu, ia berusaha mendapatkan jawaban yang pas, lidahnya jadi kelu saat ini. "Yea ... apa alasan kemanusiaan cukup buat lo paham?"
"Ooh... alasan kemanusiaan? Ka-karena kita sesama manusia gitu...." Jujur saja, Ran sedikit kecewa dengan jawaban itu. Ia pikir Digo perhatian padanya karena memang ada rasa.
"Mending lo makan dulu sebelum pulang. Ntar gue anter kok," bujuk Digo.
"Lo nggak berhak ngatur-ngatur gue.” Ran, si cewek keras kepala itu melampiaskan kekesalannya barusan. Tatapannya terkesan menantang, dan Digo tak suka ditantang apalagi sama cewek.
Digo melepas pegangannya dengan asal. “Ya udah pulang aja sana.”
Demi apa Ran tak menyangka Digo akan bicara seperti itu. Walau sempat speechless untuk merespon ucapan unpredictable dari Digo, Ran yang gengsi dan pantang kalah pun kemudian melanjutkan langkahnya. Meraih helm di atas kabin dan pergi dari ruangan itu tanpa bicara lagi.
Jujur saja, Digo langsung menyesal bicara seperti tadi.
Pasalnya kalau tuh cewek kenapa-napa di jalan gimana. Udah malam dan dia pucat kayak belom makan dari pagi.
Digo mengacak-acak rambutnya karena kesal telah kalah dengan gengsi dan emosinya.
Seharusnya gue tetap anter dia pulang….
~o0O0o~
Mari di Like dan comment. Thx ^^
See you on next....
__ADS_1