White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 15 - Teror


__ADS_3


Episode 15


- Teror -


Kini hanya tinggal mereka berdua, Digo dan Ran.


Beberapa detik hening dan terasa canggung. Apalagi kini Ran masih duduk di meja rapat dan Digo di sofa, jarak keduanya bikin suasana makin awkward.


Ah ... gara-gara Zufan dan Bara nih, kalau nggak, nggak bakal secanggung ini.


Ran memejamkan mata dan menarik nafas panjang, berusaha menetralkan diri dan pikiran. Ia kembalikan lagi niat dan tujuannya ke sini tadi untuk apa.


"Ehem." Ran mendehem untuk memulai pembicaraan. "So-sorry ya, gue jadi nambah masalah buat lo, gue nggak maksud buat bikin Bang Zu dan Bara tau soal gue yang udah pernah ke sini."


Digo mengangkat bahu. "Well, udah takdirnya juga kali."


"Lo, nggak marah kan Dig?"


Kini Digo spontan menoleh menatap Ran, heran, apa ia tadi menjawab dengan nada dingin tanpa melihat ke arah lawan bicaranya itu? Digo sadar harus mengubah kebiasaan dingin dan cuek yang berlebihan pada orang, apalagi ia ingat bahwa niat awal ketemu Ran kan karena ingin berterimakasih atas pertolongan gadis itu kemarin.


Digo tersenyum ganteng, menampakkan kedua lesung pipinya. "Ya kali gue marah Ran. Bukan salah lo juga. Btw sampai kapan kita mau ngobrol duduknya jauhan gini?" tawa Digo merasa harus menghibur Ran, cewek itu terlihat merasa bersalah.


Ran balas senyum kecil dan pindah duduk ke samping Digo. Ia memperhatikan luka di pelipis Digo yang sudah mengering, namun bekas benang jahitan masih terlihat jelas di sana.


"Luka lo kayaknya udah mau sembuh, kok cepet banget?"


"Gue punya imun yang bagus, jadi kalau luka, biasanya lebih cepet sembuhnya," jawab Digo kembali datar. Detik kemudian, ia sadar bahwa nadanya tak boleh terlalu datar, apalagi pada orang yang seharusnya ia ucapkan terimakasih.


"Btw Ran."


"Btw Dig."


Ran dan Digo ngomong bersamaan. "Ehem, lo duluan." Digo mempersilahkan Ran bicara.


"Dig, gue ke sini sebenernya mau nunjukin sesuatu." Ran langsung to the point, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan pada Digo.


Digo bergeser mendekatkan duduknya di samping Ran untuk melihat lebih jelas isi pesan yang ada di ponsel cewek itu.


+628... : Hai Ranne Fakhria. Ini Clara anggota white hero. Rabu pukul 8 malam datang ke dekanat FISIP ya, gue butuh bantuan lo untuk menyelidiki suatu kasus, dan lo akan tau apa itu white hero.


Digo mengerutkan dahi membaca pesan itu. Lagi? Ada orang yang ngaku-ngaku jadi Clara dan sekarang ia nyoba buat gangguin Ran. Digo lihat tanggal pesan itu dikirim, kemaren, tanggal 7 November. Nomornya tentu tak akan aktif lagi jika Digo telpon sekarang.

__ADS_1


Tak salah lagi, ini pasti orang yang sama. Setelah membuat dirinya babak belur dengan cara yang pengecut, kini ia mencoba mendekati Ran. Atau, bisa jadi saat ini ia cuma ingin membuktikan bahwa ancaman dia soal Ran dan Somi memang nggak main-main.


Ya, tujuan dirinya mengirim pesan ini pada Ran cuma untuk pamer. Dia tau Ran bakal nunjukin pesan ini ke gue... Digo hanya tersenyum miring menyadari kemungkinan pasti itu.


"Gue sengaja nunjukin langsung ke lo biar gue bisa nanya apa lo ngasih tau ke anggota lo yang lain soal gue..." ujar Ran.


"Ini jebakan Ran," tukas Digo tetap tenang. "Pertama, gue nggak pernah nyeritain lo dimana pun dan kepada siapapun anggota White Hero."


Ran mengerutkan dahi. Lantas, siapa Clara dan dari mana ia dapat nomor gue?


"Kedua..." Digo melanjutkan ucapannya. "Clara emang anggota White Hero, tapi dia udah meninggal setahun yang lalu, Ran."


Ucapan Digo seketika membuat Ran langsung merinding.


Ia spontan mencengram baju lengan Digo untuk menetralkan kekagetannya. Ia tau bahwa pesan ini pasti jebakan seperti yang dibilang Digo tadi, tapi tetap saja rasanya horor karena sejak menerima pesan ini kemarin Ran menganggap si pengirim pesan ini benar-benar bernama Clara, dan kenyataannya cewek itu sudah wafat.


"Te-terus, siapa yang ngirim pesan ini pake nama orang yang udah meninggal, Dig?" tanya Ran masih memegang baju lengan Digo.


"Pastinya dia orang jahat. Di hari kejadian gue babak belur kemarin, gue juga dapat pesan dari orang yang ngaku-ngaku tau alasan kematian Clara, gue dipancing datang dan taunya gue hampir celaka," jelas Digo.


Ia yakin Ran dan Somi sama sekali belum dapat cerita mengapa ia bisa luka-luka kemarin. Jadi menurutnya tak ada salahnya Ran tau karena ia juga berhak tau sebagai orang yang di TKP.


"Aiisshh Dig, lo kenapa selalu berakhir babak belur kayak gitu sih? Dua kali ya gue nemuin lo dalam keadaan hampir sekarat kayak gitu. Lo mestinya jauhi yang namanya hal-hal yang bisa bikin lo berdarah-darah kayak gitu Dig." Ran kini terdengar seperti mengomel, ia juga sudah melepaskan cengkramannya di lengan baju Digo karena suasana hatinya sudah normal lagi.


"Emang White Hero itu ngelakuin apa? Ngurusin kasus apa sehingga bikin nyawa anggotanya terancam kayak gini?" protes Ran.


"Membela kebenaran itu emang nggak gampang Ran. Negakin keadilan dan membongkar kejahatan itu tugas dan amanah yang luar biasa. Bahkan nyawa lo jadi taruhan sekalipun."


"Kenapa lo mau sampai segininya sih Dig? Kebenaran dan keadilan itu cuma bulshit, lagian kita mahasiswa bisa apa ngelawan oknum-oknum jahat itu."


"Lo nggak harus paham soal gue dan White Hero Ran, tapi yang jelas, gue cuma mau lo aman..."


"Percuma Dig, orang jahat ini udah tau gue dan nyoba bikin gue makin dekat sama White Hero. Gue orangnya pantang mundur..."


Digo menangkap ketekadan itu dari wajah dan kalimat Ran. Saat itu ia betul-betul khawatir Ran benar-benar akan masuk white hero dan terlibat dengan semua kerumitan ini.


"Kalau lo mau masuk white hero, sebaiknya lo bawa niat yang baik, Ran. Jangan hanya karena pesan nggak penting ini dan karena kesal mengapa gue selalu berakhir babak belur, lo jadi memutuskan untuk masuk white hero untuk menghadapi orang-orang itu..." tutur Digo pelan.


Ran tersenyum dingin. "Gue emang bukan orang yang idealis banget Dig, tapi setidaknya gue tau mana keadilan dan mana oknum brengsek yang mesti dipidanakan..." Perkataan Ran begitu tajam.


Cahaya jingga dan senja yang masuk melalui dinding kaca basecamp yang menghadap ke taman membuat suasana terasa menyesakkan buat Digo.


Mengapa ia dan Ran harus beradu argumen di kala dirinya sangat butuh ketenangan. Ia hanya ingin suasana tenang bersama Ran, tapi mengapa arah pembicaraannya jadi seperti ini...

__ADS_1


"Lo pasti ngerti kan Dig kenapa gue ngomong gini? Oke, gue paham bahwa kita baru kenal, I know gue nggak berhak ikut campur urusan lo dan main masuk gitu aja dalam lingkaran organisasi lo, tapi gimana pun gue nggak suka lihat lo dalam bahaya Dig!" Nada Ran kini sedikit meninggi.


"Siapa sih yang suka lihat orang babak belur." Ran menambahkan kalimat terakhir supaya dirinya tak terkesan menspesialkan Digo.


"Lagian ..." Ran melanjutkan. "Berikutnya gue memutuskan untuk nggak bakal peduli lagi lo mau luka, lo mau babak belur, dan gue juga nggak mau repot-repot nolong elo kalau berdarah lagi. Nambah pikiran gue aja tau ngga."


"Ooh jadi ternyata selama ini lo mikirin?" Digo kini tak bisa menyembunyikan senyumnya.


Tak disangka nih cewek ternyata bisa bersikap normal kayak cewek pada umumnya juga, khawatir akan orang yang ia pedulikan atau ia sayang (?).


Ran menatap Digo dengan bete. "Nggak usah mancing-mancing deh ya tolong."


"Hahaha, iyaa iyaa, gue percaya kok kalau lo nggak mikirin gue, lo juga nggak peduli kan. Ya ya, gue tau kok, santuy..." Digo berusaha mengganggu cewek itu.


Ran yang jadi salah tingkah akhirnya memutuskan untuk berdiri. "Dah ah, gue mau balik."


"Eh tunggu," Digo menarik tangan Ran agar cewek itu kembali duduk di sampingnya. "Lo udah makan?"


Ran menatap Digo heran kok tiba-tiba nanyain makan. "Sekarang jam 6 sore lewat Dig, gue nggak makan malam."


"Diet ya?"


Ran menggeleng. "Gue emang nggak suka makan malam," sambilnya senyum.


Lagi, Digo paling tidak bisa berkutik karena senyuman itu. "Jadi kalau malam dan lo kelaperan, makan apa?"


"Biasanya gue Go Food kebab, churros, atau bikin salad sendiri."


"Gue tau kebab paling enak di Depok," cengir Digo.


"Terus?" tanya Ran bingung, ia tidak mau ge-er bahwa Digo ingin membawanya pergi ke sana.


"Kita ke sana sekarang."


"Ha?" Ran masih bengong.


"Ayo..." Digo bangkit sambil menggandeng tangan Ran.


Dari dalam basecamp, melewati lorong, naik tangga menuju rooftop dan turun lagi ke lantai satu Coffee Poirot hingga sampai parkiran café itu, pegangan mereka tak lepas.


Anehnya Digo merasa nyaman dan Ran juga merasa demikian.


~o0O0o~

__ADS_1


Gais, dont forget to give me thumbs, hehee


__ADS_2