White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 25 - Rindu Yang Semakin Pekat


__ADS_3

Episode 25


- Rindu Yang Semakin Pekat -


Digo mengunyah permen karetnya dengan perasaan hampa. Bahkan main PUBG yang biasanya nggak kenal waktu, kini jadi membosankan. Ini hari keempat dirinya tak bertemu dengan gadis itu, iya ... Ranne Fakhria.


Empat hari lalu dirinya mendapat kabar dari Ran melalui grup WA White Hero, bahwa Ran ke Bandung selama satu minggu karena acara keluarga. Ia konfirmasi ke Somi pun cewek itu membenarkan bahwa Ran sesekali emang pulang ke Bandung, rumah kampung halamannya. 


Jadilah Digo selalu berperang melawan diri sendiri untuk tidak menelpon ataupun menghubungi cewek itu. Bagaimanapun tak bisa dipungkiri bahwa Digo rindu gadis itu.


Namun rasa gengsi dan harga dirinya lebih tinggi dari apapun. 


Selama menahan diri untuk tidak menghubungi Ran, selama itu pula lah ia menunggu chat apapun dari gadis itu. Tentu kemungkinannya hanya 0,001% mengingat Ran belum mengibarkan bendera perdamaian dengannya. 


~o0O0o~


Ini adalah weekend paling luar biasa bagi Ran. Selesai mengikuti kaderisasi KAPI dan lulus sebagai anggota resmi KAPI ditambah lagi otak dan pikiran Ran terasa lebih fresh dan berisi. Ia dapat banyak ilmu dan pembekalan dari training ini.


Ran merasa lebih berprinsip dan mengerti apa makna dari sebuah perjuangan, termasuk arti penting mahasiswa dalam sejarah bangsa. Selama training pun, Ran aktif berbicara mengungkapkan pikiran dan pendapatnya, hal itu pulalah yang membuat Ran berani orasi di depan umum.


Dari 15 orang awal yang ikut pelatihan, hanya tinggal 8 orang saja yang bertahan sampai hari terakhir, secara karena pelatihannya emang keras dan militan banget. Dari 8 orang itu, Ran adalah cewek satu-satunya, dan tujuh lainnya adalah cowok termasuk Zidan.


Lebih sedikit peserta, lebih besar pula tekanannya, pengawasan MoT jadi lebih ketat. Karena menjadi satu-satunya peserta perempuan yang berhasil bertahan, Ran akan jadi yang paling diandalkan oleh beberapa senior dan veteran KAPI. Berita ini juga sampai ke Sekretariat KAPI Pusat, bahwa di KAPI Cabang ada perempuan tangguh sebagai kader dengan prospek kepemimpinan yang kuat di masa depan.


Setelah mengobrol sebentar dengan para senior dan beberapa veteran KAPI yang ramai di sekretariat, Ran pun pamit pulang. Bayu yang sudah berjanji sejak awal mengantar pulang semakin bangga bahwa ia tak salah pilih dalam merekrut Ran. Ia tau bahwa cewek ini memiliki aura yang kuat menjadi orang yang tangguh.


"Proud of you Ran, lo bisa bertahan, satu-satunya dari 7 cewek, keren banget lo sumpah..." Bayu mengoceh sembari menyetir mobil.

__ADS_1


"Thanks banget Bang, lo ngajak gue ikut kaderisasi, seumur hidup nggak pernah gue punya mental dan otak sekritis gini," tanggap Ran kali ini lebih niat meladeni Bayu. Pasalnya ia memang berterimakasih pada Bayu telah memberinya kesempatan seberharga ini. "Kesabaran gue semasa training nggak sia-sia, walaupun gue akui berat banget."


"Hahaha, traning kaderisasi KAPI emang sengaja dibikin 'sedikit' keras dan militan. Ini supaya kader yang dihasilkan nanti punya ilmu, mental, dan fisik yang siap dalam menghadapi segala situasi. Percayalah, apa yang lo alami seminggu training belum apa-apa dibanding tekanan dan pengambilan keputusan yang akan menghadapi lebih banyak orang," ceramah Bayu.


Ran mengangguk setuju, ia menceritakan gejolak dan perlawanan mengalahkan diri sendirinya pada Bayu, mengingat ia tak akan bisa cerita dengan siapapun nantinya di kampus atau basecamp, paling juga cerita sama Zidan.


Saat ini ada satu hal yang membuat Ran sangat bersemangat untuk kembali ke Jakarta.


Bertemu Digo... ia sudah sangat merindukannya.


~o0O0o~


"Ran..."


"Digo..."


Keduanya sama-sama ingin memeluk ketika bertemu lagi di basecamp White Hero yang hangat. Tapi tentunya kerinduan masing-masing tak mungkin dinampakkan mengingat dua sejoli ini sama-sama gengsian dan jaga image. Lagian, satu sama lainnya berpikir akan awkaward kalau tiba-tiba meluk, pasti bakal dianggap gaje.


Ia duduk di sofa sebelah Digo sambil senyum simpul. "Long time no see...."


Ya, sepertinya perang dingin antara ia dan Digo telah berakhir sejak satu minggu Ran mengalami pendewasaan diri. Setidaknya, setelah mengikuti pelatihan KAPI, Ran jadi sadar bahwa mogok bicara dan perang dingin dengan Digo adalah suatu hal yang sama sekali tidak berfaedah. Nggak ada untungnya, yang ada malah lebih memburuk.


Digo menaikan alisnya sebelah, bingung dengan perubahan sikap dan aura Ran yang terlihat lebih gimana gitu... lebih kharisma aja, tapi Digo tak tau persis apa. Yang pasti tubuh Ran kini terlihat lebih ramping, pipinya nggak setembem biasanya.


Tangan Digo perlahan terangkat, ia menyampirkan rambut Ran ke belakang telinga, menampakan kalung liontin biru di lehernya. Ran yang bingung dengan tindakan Digo hanya menatap cowok itu dengan tegang. Nih cowok mau ngapain?


Digo menyapu pandangannya pada seluruh wajah Ran. Hanya inilah cara ia melepas kerinduannya pada gadis ini. Cuma satu minggu tapi rasanya udah kayak nggak ketemu satu tahun, lama banget rasanya.

__ADS_1


Dahi, mata, hidung, pipi, bibir, dan dagu gadis itu. Semua terlalu indah bagi Digo bisa menikmati pemandangan ini lekat-lekat. Sepertinya mata dan bibir itu akan menjadi candu bagi Digo nantinya.


"Di-Digo...." Ran merasa sedikit aneh dengan kelakuan Digo. Ya, ia tau nih cowok pasti merasakan rindu yang sama dengan apa yang dirasakannya. Tapi nggak gini juga kali natapnya.


Gue bisa pingsan karena melting ditatapin Digo kayak gini....


Ada sekitar 5 menit, keduanya hanya bertatap-tatapan seperti ini demi melepas rindu masing-masing. Waktu yang cukup lama hanya untuk menatapi wajah orang lain.


Tak lama kemudian, Digo terdadar dan cepat-cepat menormalkan pikirannya. Ia yakin, yang ia rasakan ini pasti hanyalah nafsu belaka. Cowok itu cepat-cepat memalingkan wajahnya dari Ran sebelum dirinya tak tahan untuk menyentuh wajah bening itu.


Ran yang juga terbangun dari lamunannya ikut merubah posisi dan salah tingkah dengan pipi merona. Rasanya ada yang bergejolak di hatinya setelah 5 menit menguasai seluruh penglihatan Digo. Apa maksud dari cowok itu seperti tadi, Ran bahkan tak mau repot-repot memikirkannya.


Digo nyengir receh mencairkan suasana, "Seminggu di Bandung ngapain aja?"


Ran ikut nyengir, berusaha menutupi pikirannya yang sedang mencari jawaban atas apa yang tidak ia lakukan. "Hahaa, di rumah doang sih, mau reunian sama temen SMA mereka juga pada kuliah."


Digo manggut-manggut ber-oh-oh ria. Padahal aslinya dia masih berusaha menahan rasa hangat di dadanya. "Udah makan?"


Ran menggeleng dengan santai. "Belum, temenin gue makan yuk." Tak seperti biasanya, Ran merasa lebih anteng mengaku ia belum makan ketimbang dulu yang sedikit cemas bahwa cowok itu akan marah bila ia belum makan.


"Kita makan di sini aja gimana? Biar gue yang keluar, langit mendung soalnya," ujar Digo logis. Ran pun hanya mengangguk setuju atas usul Digo. "Mau makan apa?" tanya Digo sembari mengenakan sweaternya.


Ran tersenyum. "Makanan favorit lo..."


~o0O0o~


Vote dunk

__ADS_1


Commentnya dunk


Maaciih❤


__ADS_2