
Satu minggu kemudian, suasana
basecamp masih tidak baik-baik saja bagi Bara.
Pasalnya, Ran dan Digo masih melanjutkan perang dinginnya. Ran yang masih kesal karena Digo belum juga memberikannya tugas penyelidikan di White Hero dan Digo yang memang cuek dan bodo amat mau Ran ngambek atau masih mogok bicara dengannya.
Bara selaku orang ketiga di sekitar mereka tentunya merasa tidak merdeka. Ia harus meladeni omelan Ran dan menjadi perantara mereka bicara padahal masih satu ruangan.
“Bara, bilangin tolong ke orang itu, bentar lagi hujan, karpet basecamp yang dia jemur di rooftop ntar bisa basah,” ujar Ran pada Bara, sementara matanya melirik pada Digo yang membelakanginya duduk di sofa.
“Ehem, Dig, denger noh, lo mesti ambil karpet ke atas sekarang.” Dehem Bara di sela-sela mengerjakan tugas kuliah di laptopnya.
Digo melirik Bara dan Ran sekilas, kemudian matanya kembali ke layar TV. “Kasih tau dia Bar, karpet udah gue ambil dan sekarang justru lagi diduduki sama dia.”
Ran jadi merasa konyol karena baru menyadari bahwa ia sudah duduk di karpet itu sejak tadi dengan banyak buku miliknya yang tertumpuk di atasnya. Ran yang salah tingkah hanya pura-pura tak dengar dan lanjut mengerjakan tugas kuliahnya pula.
Tiba-tiba pesan dari Somi masuk ke WA-nya..
Somi : Ran, kalau lo lagi sama Digo atau chat sama dia, tolong tanyain ke dia ya, gue boleh minta data dan tulisan tentang kasus suap dosen yang dia ungkap kemaren ngga?
Somi : Gue ada simulasi di matkul pertelevisian, jadi mesti broadcast berita hot kampus.
Aishh… Ran mendesah mengapa Somi harus minta tolong soal Digo. Dari pada Somi mengamuk padanya terpaksa Ran tanyakan, iya … tentu saja nanyainnya lewat Bara.
“Bara, gue boleh minta tolong ngga? Tanyain dong ke orang itu, Somi boleh minta tulisan tentang kasus suap dosen kemaren ngga? Buat tugas kuliah katanya.”
Bara yang sebenarnya sudah lelah menjadi perantara masih bisa sabar meladeni kekanak-kanakan ini. Berhubung kali ini melibatkan Somi, cinta pertamanya, yang lagi butuh bantuan. “Ehem, noh Dig, Somi minta tulisan kasus kemaren.”
“Sampain ke Somi, ntar gue kirim lewat email,” jawab Digo datar.
Bara menaikan alis kepada Ran, karena ia yakin cewek itu pastinya mendengar ucapan Digo. Ran pura-pura cuek dan membalas pesan Somi.
Somi : Yaah Ran, lo tau sendiri email gue nggak bisa log in dan gue lagi males bikin email baru. Bilang ke Digo kalau ntar sore gue anter flashdisk ke tempat dia, tanyain sekalian dia bisa gue temui dimana.
__ADS_1
Ran kembali mengumpati Somi. Mengapa hari ini ia begitu sial harus bicara pada Digo duluan. Ran punya ide, ia resend chat permintaan Somi ke nomor WA Bara. Ini supaya ia nggak harus bersuara lagi.
Bara yang nge-read sedang berusaha menahan kebeteannya. Ia melanjutkan pesan itu ke nomor Digo.
Digo yang membaca pesan itu pun membalas pada Bara, padahal mereka bertiga punya grup WA.
Digo : Coffee Poirot aja, jam 5 an.
Bara kembali re-send pesan itu pada Ran dan Ran meneruskan pesan itu pada Somi. (Author : ribet amat kalian, wkwkwk)
Somi : Oke thanks Ran. Bilang juga ke Digo ntar bawain buku Opini Publik yang mau gue pinjam.
Ran menepuk dahi muak, lelah akan semua ini. Ia resend pada Bara tanpa peduli akan semakin menipisnya kesabaran cowok itu. Namun setelahnya yang ia dapat malah pesan lain dari Bara.
Bara : Bilang sendiri atau lo kirim ini langsung ke Digo
“Baraaaa….” Ran memasang tampang memelas pada Bara. Membuat Digo tau bahwa Ran pasti ingin menyampaikan sesuatu lagi tapi Bara tak mau jadi perantara terus.
Digo pun nyengir lalu mengirim pesan pada Bara.
Bara yang membaca pesan dari Digo akhirnya membanting hpnya dengan kesal dan gondok. Ditambah lagi tugas kuliahnya ini cukup berat dan memusingkan. Di saat yang bersamaan ia harus meladeni dua manusia yang kekanak-kanakan ini, siapa yang nggak kesal coba.
“Woii kalian apaan sih…,” teriaknya muak. Ia menatap Digo dan Ran bergantian. “Mending kalian berdua ngomong langsung aja kali, jangan libatkan gue lagi. Gue ingin damai. Please kali ini gue yang minta tolong, gue ingin T E N A N G,” mohon Bara menangkup kedua tangannya di depan dengan tampang tersiksa.
“Please gue mohon….” ujarnya lagi terdengar ingin menangis, lebay memang tapi ia sudah mencapai puncaknya. Bayangkan saja sudah satu minggu ia jadi perantara perang dingin antara Ran dan Digo.
“I-iyaa Baraa, gue nggak bakal minta tolong nyampein pesan lagi, iyaa….” Ran turut merasakan bagaimana ketersiksaan Bara.
Digo yang menyaksikan itu kini berusaha menahan cekikikannya. Ia melanjutkan tontonannya di TV sambil sesekali nyengir teringat wajah kocak Bara dan Ran tadi.
~o0O0o~
“Karena kita sudah lengkap, maka rapat kita mulai.” Zufan menarik white board ke dekat meja rapat dan menjangkau spidol di atas kabin. “Laporan pertama dari Bara.”
__ADS_1
“Oke…” Bara membuka catatannya. “Seperti yang udah gue kirim ke grup, file itu isinya silsilah keluarga rektor dengan jabatannya. Struktural jabatan orang-orang di KAPI dan GNMI beserta pekerjaan mereka semua saat ini.”
Instruksi Bara membuat Zufan, Digo dan Ran kini membuka grup WA mereka dan memahami isi file yang disusun Bara.
“Nomor kontak, alamat, CV, dan biodata mereka juga lengkap di sana. Jadi pas kalau kalian butuh info orang-orang ini tinggal lihat di database yang gue upload di drive,” tambah Bara lagi.
Ran benar-benar takjub dengan kemampuan Bara yang bisa mencari info, dari mana Bara bisa mendapat data-data pribadi orang itu kalau bukan karena keahlian Bara sebagai hacker.
“Kerja lo bagus Bara.” Zufan mengangguk-angguk puas. “Sekarang laporan dari Digo.”
Digo bersandar sambil melipat tangannya, ia tak butuh catatan untuk menjelaskan, dan itu memang kelebihan dia. “Gue udah maping dan nyusun daftar orang-orang yang berpotensi untuk diajak koalisi. Dalam file yang gue kirim (ke grup WA) juga ada list pihak yang mesti diajak negosiasi karena mereka sepertinya juga sedang dinego oleh kedua kandidat.”
“Oke. Kira-kira kapan bisa ketemu sama calon koalisi kita?” tanya Zufan.
“Well, dengan nomor dan alamat mereka yang didapat oleh Bara gue rasa kita udah bisa mulai jumpa orang-orang itu minggu ini,” kata Digo yakin.
“Baiklah, Ran, gue rasa lo bisa bantu Digo nyusun jadwal dan strategi pertemuan koalisi besok.” Kata-kata Zufan barusan membuat Ran merasa semangat. Akhirnya ia dikasih tugas meskipun itu bukan keluar dari mulut Digo yang punya kewenangan membagikan job desk.
“Siap bang,” senyum Ran senang. Senyuman itu membuat Zufan, Bara, apalagi Digo terpana. Manisnya bukan main. Padahal mereka masih suasana rapat.
“Terakhir laporan dari gue sebelum penutup, dana kita buat tiga bulan ke depan bakal aman, jadi kalian nggak usah khawatir, sponsor dan alumni White Hero support gue buat maju jadi presma,” tutur Zufan dengan wajah berseri. Siapa yang nggak berseri kalau cuan menghampiri. "Rapat selesai."
“Yok Ran, lo mau gue yang nganter atau Digo aja?”
Digo melirik Bara kemudian pura-pura tak dengar. Dari tatapannya barusan menyiratkan bahwa sebenarnya Digo berniat mengantar tapi mengingat dirinya masih perang dingin dengan Ran akhirnya Digo mengurungkan dan memercayai Bara untuk mengantar Ran pulang.
“Lo aja Bar. Gue mesti pulang secepatnya malam ini. Kak Rey mau nelpon,” ujar Ran menyandang tasnya.
Sejujurnya Rey ini siapa? batin Digo yang pertanyaannya sejak awal belum juga terjawab. Digo selalu dengan mudah mendapat informasi mengenai target-targetnya ketika menyelidiki kasus, tapi mengapa giliran Ran ia sama sekali tak tau apapun tentang cewek itu. Termasuk siapa Rey yang sepertinya sering telponan dengan Ran.
Apa Rey abangnya kali ya… asumsi Digo.
~o0O0o~
__ADS_1
Like dan komen yaa
Trims^^