White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 24 - Pengkaderan


__ADS_3

Episode 24


- Pengkaderan -


Ran mematut kertas yang dipegangnya sebelum menemui Bayu yang masih sedang persentasi di kelasnya.


Dirinya berusaha meyakinkan diri bahwa ia akan mengikuti kaderisasi KAPI karena bermaksud ingin memata-matai organisasi kepemudaan itu. Ia harus membuktikan pada Digo bahwa cowok itu salah, Ran tak semudah itu dipandang sebelah mata.


Ran menunggu Bayu dengan santai sambil sesekali memainkan ponselnya. Ia duduk di bangku luar kelas Bayu, bersikap normal seolah tak menunggu siapapun supaya tidak mencolok dan tak diperhatikan.


Barangkali beberapa cowok entah senior atau seangkatannya yang lewat pasti curi-curi pandang pada primadona kampus ini. Namun bukan Ranne Fakhria kalau ia tidak memasang tampang cuek dan bodo amat.


Bayu keluar bersama beberapa temannya. Lagi-lagi ada Jeremy, dan lainnya. Mereka bersiul-siul pelan saat mengetahui seorang Ranne Fakhria menunggu Bayu Rahardian di depan kelasnya. "Aseek, enak banget nih keluar kelas ada yang nungguin," goda teman-teman Bayu.


Bayu hanya cengengesan girang dan menyuruh temannya untuk duluan pergi. Ada sensasi senang bagi Bayu menyadari bahwa Ran menunggunya keluar kelas. Tapi di sisi lain pastinya karena Ran ingin memberikan formulir calon anggota KAPI.


Tanpa bicara, Ran menyodorkan map kertas berwarna coklat itu pada Bayu. Bayu menerimanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Ran.


"Gue pamit dulu..." Ran ingin berlalu setelah barang itu diserahkan tapi Bayu menahan langkahnya.


"Ran, lo udah tau apa-apa saja yang mesti disiapin?" tanya Bayu.


Ran menggeleng. "Ntar gue chat aja kalau gitu," ujar Bayu.


"Oke." Ran ingin melanjutkan langkahnya tapi Bayu lagi-lagi menghentikannya.


"Lo mau gue jemput waktu pergi pelatihan besok ngga?" tawar Bayu. "Jarak ke sekre 30 menit. Setelah pelatihan nanti lo pasti bakal capek mesti pulang berkendara sendiri. Apalagi lo bawa koper buat nginep seminggu."


Ran terdiam memikirkan tawaran itu. Ya, bawa motor selama 30 menit waktu itu saja sudah membuat Ran merasa lelah. Apalagi setelah seminggu mengikuti pelatihan yang menguras pikiran dan tenaga.

__ADS_1


Apa gue bawa mobil aja kali ya? pikir Ran.


"Gimana Ran?" tanya Bayu membuyarkan lamunannya.


"Emm... boleh deh Bang, kalau nggak ngerepotin," angguk Ran. Menurutnya tidak ada salahnya juga menerima bantuan Bayu, menimbang-nimbang akan lebih menghemat tenaganya juga. Toh mulai dari sekarang ia harus mengakrabkan diri pada Bayu supaya bisa memata-matai tanpa canggung.


Bayu tersenyum manis. Cewek mana pun pasti meleleh akan senyuman itu. Tapi bagi Ran masih lebih manis senyumnya Digo kali ya?


Setelah berpisah, Ran menuju basecamp. Ia memang tidak ada mata kuliah hari ini, ke kampus hanya untuk menemui Bayu.


Begitu tiba di markas White Hero tak ada siapapun, kunci sekre pun ia yang pertama membuka, mungkin lagi pada ngampus mengingat ini masih jam 2 siang. Ran pun merebahkan diri di sofa empuk yang biasa ia duduki, mumpung cowok-cowok pada nggak ada.


Tiba-tiba, muncul pertanyaan di kepalanya. Bagaimana cara ia menjelaskan pada Digo, Bara dan Zufan bahwa ia akan pergi seminggu dan tak akan ke basesamp selama itu. Termasuk, bagaimana ia harus menjelaskan pada Somi dan Aiden kemana ia akan pergi ditambah bolos 4 kelas untuk seminggu besok. Tak mungkin Ran kabur dan menghilang begitu saja.


Pusing mencari alasan untuk seminggu, Ran pun terlelap di sofa itu. Sampai akhirnya ia terbangun dua jam kemudian. Gadis itu agak kaget mendapati dirinya lagi-lagi tertidur di basecamp dan ia lebih kaget lagi saat Digo sudah duduk di sofa singlenya dengan cuek membaca buku.


"Lo akhir-akhir ini kurang tidur ya?" Digo justru balik nanya. "Makanya itu yang bikin lo sakit, udah makan siang?"


Ran hanya mengerjapkan matanya sekali, mulutnya ingin berbohong mengatakan sudah, tapi hatinya tak mau kompromi. Tapi, Digo pasti marah kalau tau dirinya belum makan padahal sekarang sudah sore.


"Mau gue beliin makanan?" tawar Digo yang seperti tau keluhan Ran. Ran hanya diam menatap Digo, bingung mengapa cowok itu sekarang jadi mendadak baik dan perhatian.


"Gue beliin makanan yang kemaren aja, mau?" tanya Digo lagi. Sebelum Digo kembali menjadi evil, Ran cepat-cepat mengangguk mau.


Tanpa bicara lagi, Digo menutup buku bacaannya dan bangun menyambar kunci motor di atas meja, lalu sosok itu pun pergi tanpa bersuara.


Tak tau mengapa, ada perasaan aneh terlintas pada Ran. Bayangkan, selama seminggu ke depan ia nggak akan ketemu Digo ...


Sepertinya ia merasa akan ada yang hilang untuk sementara.

__ADS_1


~o0O0o~


Ran menarik koper mininya keluar rumah, barang itu langsung disambut Bayu dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya. Ya, ini hari pertama Ran mengikuti training kaderisasi KAPI.


Selama di mobil, yang paling banyak mengoceh hanyalah Bayu. Bayu memberikan tips-tips dan gambaran kegiatan yang akan diikuti selama satu minggu ke depan. "Pokoknya, lo nggak bakal nyesel deh ikut pelatihan ini. Bener-bener bikin lo menjadi orang yang berbeda dalam artian positif setelah selesai training," ujar Bayu. "Ilmu di sini nggak bakal bisa lo dapet di manapun, ntar lo juga bisa ngerasain kekeluargaan KAPI tuh gimana."


Ran hanya mengangguk dan merespon sedikit cerita Bayu. Sementara pikirannya yang sesungguhnya masih tertinggal di Jakarta, kampusnya dan basecamp itu.


Setiba di markas, ia diantar panitia ke asrama yang terletak di belakang sekretariat KAPI. Ada kamar-kamar dan aula cukup besar yang menjadi tempat pertemuan atau acara. Tentunya penginapan cewek dan cowok dipisah berjarak cukup jauh, mengingat ini adalah organisasi eksternal kepemudaan yang menjunjung tinggi moral dan pancasila.


Selama menunggu pembukaan training, Ran berkenalan dengan beberapa orang baru. Total trainee yang ikut pelatihan ada 15 orang. Mereka berasal dari berbagai angkatan dan universitas yang berbeda. Ran menjadi trainee termuda karena masih semester satu, oh iya, Zidan juga.


Setelah Ran tanyakan alasan Zidan masuk KAPI, sepertinya cowok itu tidak memiliki niat lain selain ingin di-training supaya cakap menjadi pemimpin dan kandidat Ketua BEM Fakultas Teknik 2 tahun lagi.


Ran tak tau apa yang akan ia dapat selama seminggu ke depan, tapi Ran sudah bertekad melakukannya dengan baik. Hitung-hitung ia dapat ilmu, teman, dan asah keberanian.


Hari pertama hingga ketiga langsung menjadi hari-hari sulit buat Ran. Selain materinya non stop 12 jam, kaderisasinya juga cukup berat. Ini sama halnya dengan ospek tapi versi ekstrim. Peserta diuji fisiknya dengan olahraga satu jam setelah bangun tidur, bangunnya jangan dikira jam enam tapi jam empat.


Materi tentang kepemimpinan, aktivis, politik, perjuangan mahasiswa reformasi tahun 1998, idealisme, hingga pembahasan tentang tuhan dan agama pun membuat otak terasa ingin memuntahkan ilmu-ilmu yang dipaksa masuk hanya dalam satu minggu.


Master of Training (MoT) serta para kakak asuhnya galak banget. Squat jump di sini menjadi hukuman paling ringan jika melanggar rules training. Bahkan kesalahan sekecil apapun seperti terlambat tidur di jam yang ditentukan pun tetap diadili keesokan harinya. Udah gitu, porsi makan benar-benar dikit banget. Gizinya terasa nggak seimbang dengan kebutuhan otak yang harus berpikir kritis menerima segala materi berat yang diberikan. Belum lagi serangan kantuk saat materi dijelaskan, nguap dikit disuruh squat jump bagi yang cewek, push up bagi yang cowok. Banyak yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan dan pulang karena mental yang rapuh.


Untuk pertama kalinya, Ran merasakan satu minggu terberat dalam hidupnya. Tapi ia bertekad tak akan menyerah. Bila muncul perasaan tak sanggup ini, hanya satu yang jadi penyemangatnya, Digo. Kalau ia berhasil melalui semuanya ia akan menemui cowok dengan mental yang lebih kuat dan berani, sehingga Digo bisa menganggapnya sebagai partner yang bisa diandalkan.


Ah, kalau lagi mikirin ini, Ran jadi merindukan cowok itu....


~o0O0o~


Like dan komen ❤

__ADS_1


__ADS_2