
“Lo bayangin nggak sih Bar kalau di posisi gue, dan dia seenaknya ngeremehin gitu! Emang dia siapa sih sampai yang paling berhak ngatur-ngatur tugas orang…” Ran tak berhenti ngomel selama menuruni tangga Coffee Poirot.
Bara yang mengiringinya hanya menghembus panjang. Firasatnya mengatakan bahwa Ran dan Digo bakal selalu berantem dan Bara bakal jadi tempat pelampiasan keduanya.
“Hahaha, dari dulu emang gitu, Ran, sejak anggota White Hero masih ada 7 dan 8 orang, Digo punya tugas di bagian perencanaan strategis, dia juga yang nentuin job desk anggota,” tanggap Bara santai.
“Tapi kenapa harus Digo?”
“Karena tuh cowok jenius, Ran. Makanya sesepuh White Hero nunjuk dia dibagian strategis,” jawab Bara. “Sepuluh tahun gue temenan sama dia, tuh anak emang jenius, tampangnya aja yang kayak orang nggak ada masa depan gitu.”
“Hahaha….” Akhirnya Ran tertawa. “Btw, kalian berdua berarti emang temenan sejak kecil ya?” Ran kini tengah celingak-celinguk ingin menyebrang jalan.
Mereka berdua sedang menuju minimart depan Coffe Poirot, membeli beberapa cola dan snack. Lucunya, mereka ingin melakukan acara penyambutan untuk Ran tapi Ran malah ikut membeli snack-snacknya.
“Yeaa, gue sama Digo tetanggaan waktu kami umur 8 tahun.”
“Sampai sekarang tetanggaan?” Ran masuk minimart duluan begitu Bara membukakan pintu kaca.
“Enggak, waktu umur 10 tahun keluarga Digo pindah rumah. Tapi gue sama dia tetap temenan satu SD, satu SMP, dan satu SMA….”
“Dan sekarang satu kuliahan,” tawa Ran. “Nggak bosen apa?”
“Well, gue dan Digo waktu SD dan SMP beda geng. SMA juga beda temen main, tapi kami bisa bareng karena sama-sama White Hero.” Bara mengikuti Ran ke rak bagian kulkas dan minuman.
“Nah, ini yang gue penasaran. Kalian berdua kok bisa masuk White Hero?” Ran akhirnya bisa menanyakan rasa ingin taunya soal itu.
“Ehem, gue sebenarnya agak malu bilang ini sih, tapi … “ Bara terlihat sedikit ragu mengatakannya. “Gue dan Digo waktu kecil sering main detektif-detektifan, hehehe…”
“What? Kok samaa??” seru Ran menutup mulutnya, kini malah Bara yang heran, padahal tadinya ia kira Ran yang bakal heran atau menertawainya.
“Apanya yang sama?” Bara ikut cengir.
“Gue waktu kecil juga sering main detektif-detektifan sama tetangga gue…”
“Wait… wait…” Bara memikirkan suatu kemungkinan di otaknya. “E-elo … waktu kecil tinggal di daerah komplek Asri??”
__ADS_1
“Eh? Kok tau? Sekarang gue tinggal di sana lagi sih,”
“Elo cucunya nenek Rosmarianne kan?” tunjuk Bara menahan rasa exicted.
“Kok tau?” Pertanyaan yang sama terlontar lagi dari Ran.
“Lo nggak ingat gue? Bara Bara Bara, Bere Bere Bere …” Bara menempelkan kedua telunjuk di kedua sisi pipinya. Persis seperti yang ia lakukan saat berusaha membuat Somi ingat kemarin waktu pertama kali bertemu. Sayangnya tak seperti Somi, Ran tak ingat soal gerakan Bara itu.
Melihat wajah Ran terlihat kebingungan dan berusaha mengingat, Bara berpikir apa yang bisa ia lakukan supaya Ran ingat, karena kenangan masa kecil mereka tak akan semudah itu dilupakan.
“Elo waktu kecil dipanggil Raran, dulu elo gue sama Digo sering main karena kita tetanggaan, rumah kita deketan. Dan kita bertiga sering main detektif-detektifan. Lo ingat nggak?”
Wajah Ran perlahan berubah karena mulai ingat. “Omaygat omaygaat!!” serunya tanpa memedulikan orang-orang yang melihat di dalam minimart itu. Ran sampai meletakan kembali cola yang diambilnya kembali ke kulkas karena ingin melonjak semangat.
“Gue ingat!” teriak Ran tersenyum lebar. “Elo Babar dan si Digo Didig!!”
“Hahaha, lo ingat kami kaaan…”
“Ya ampuun, mana mungkin gue lupa sama persahabatan kita bertiga waktu kecil, ***** gue masih nggak percaya…,” seru Ran, ia kembali meraih colanya tadi. “Kok gue nggak bisa ngenalin kalian sejak pertama ketemu.”
“Gue juga sama, harusnya gue ngenalin lo sejak awal. Dan gue nggak nyangka lo bisa tumbuh jadi cewek secantik ini…” Bara mengakuinya dengan santai.
“Gue heran, kenapa Digo nggak ngenalin lo juga ya? Padahal kita bertiga dulu akrab banget dan sering main loh.” Bara ikut heran dan menaruh ciki-ciki itu di keranjang belanjaan yang dijinjingnya.
“Wajar aja sih, nggak ada yang bisa nebak soal pertumbuhan. Dan gue nggak nyangka kalian berdua bisa jadi keren gini. Tinggi banget lagi. Dulu tinggi kita kan sama, dan si Digo … sering nangis…”
“Sering nangis…!”
Bara dan Ran serempak mengucapkannya, keduanya sama-sama cekikikan mengingat Digo kecil yang kalau jatuh dari pohon dan mendapat luka di lututnya selalu nangis pulang.
“Anjiir, masih nggak nyangka gue…” Ran masih menggeleng-geleng kok bisa mereka bertiga ditakdirkan ketemu lagi seperti ini. Kini keduanya sudah berada di lorong basecamp White Hero.
“Kita wajib kasih tau ini ke Digo, pasti dia juga nggak nyangka.” Bara tak sabar melihat reaksi Digo. “Ah ya, berarti lo masih ingat Bang Zu ngga? Dia dulu kan sering ikut main sama kita, lumayan sih…”
“Hmm… kalau itu gue nggak ingat.”
__ADS_1
“Yaah, karena jarak umur kita tiga tahun jadi Bang Zu lebih sering main sama anak seumurannya juga. Tapi kalau soal main detektif-detektifan dia juga doyan ikut kita main,” jelas Bara, ia membuka pintu basecamp.
Begitu masuk, Bang Zufan sedang di atas kursi mengikatkan tali spanduk yang bertuliskan “Welcome To White Hero” di dinding kaca. Sementara Digo terlihat sedang duduk santai bersiap menghidupkan lilin kue tart coklat di hadapannya.
“Haaishh Bara … kan udah gue bilang chat dulu kalau udah di café, kok udah masuk duluan sih!” omel Bang Zufan. “Gagal deh surprisenya…”
Ran jadi cekikikan melihat tingkah mereka yang ingin bikin kejutan untuknya. Ran malah terharu dibuatnya.
“Hehehe, sorry-sorry, gara-gara keasikan ngobrol, gue jadi lupa…” Bara cengengesan sambil meletakan kantong belanjaannya di sofa. “Dan kalian tebak apa, Ran ini adalah Raran!” serunya heboh.
“Raran?” Bang Zu terlihat bingung, begitupun Digo, ia natap Bara dengan tatapan aneh, ‘ngomong apaan siih lo?’
Bara tak pantang menyerah. Ia mendekati Ran lalu menguncir dua rambut cewek itu dengan tangannya secara asal. Ran yang dikuncir hanya bingung dengan kelakuan Bara yang ia akui … aneh.
“Wait, e-elo… Raran, si … cewek kuncir dua…” Bang Zufan menunjuk Ran tak percaya.
“Yap! Lo ingat sekarang Bang, gue pikir yang bakal ingat duluan elo Dig, kan kita bertiga lebih sering main.”
“Waah, iyaa bener, kalau gue ingat-ingat lagi lo emang mirip Raran…” Bang Zu mempersilahkan Ran duduk di sofa, samping Digo.
Ran hanya cengengesan senang dengan situasi ini, dimana ia dipertemukan kembali dengan tim detektif sepermainannya dulu. Ia menyenggol Digo yang ada di sampingnya. “Didig, masih sering nangis kalau jatuh?” bully Ran dengan wajah usil.
“HAAHAHA….” Zufan dan Bara menyemburkan tawanya karena ledekan Ran
Digo? Cowok itu kini jadi malu. Ia juga baru ngeh soal Raran berbarengan dengan Zufan, tapi haruskah Ran menganggunya soal ia yang dulu sering nangis tiap kali jatuh saat manjat pohon….
“Gilak, kita berempat kayaknya udah ditakdirkan ketemu lagi yaa…” Zufan membuka tutup botol cola yang berdecis karena sodanya. “Eh kalian ingat kan, sesekali gue main sama kalian terus bikinin permainan misi dan petualangan gitu buat kalian…
“Wah iyaa, dulu lo yang tukang bikinin kertas petunjuk-petunjuknya…”
Akhirnya malam itu pesta penyambutan Ran diisi dengan acara reunian mereka. Mereka jadi nostalgia akan masa kecil mereka dulu. Dan sepanjang obrolan itu Ran dan Digo saling curi-curi pandang.
Sama-sama memikirkan, apa ini benar-benar takdir? Baik kah atau buruk kah?
Entah mengapa keduanya berfirasat takdir ini akan mengantarkan mereka pada suatu hal yang besar. Tapi Ran dan Digo tak tau takdir kejam apa yang akan menghampiri mereka.
__ADS_1
~o0O0o~
Kasih likenya yaah, makasiiii