
“Cewek itu suka ditahan dan dibujuk, Bro…” Bara duduk di meja rapat setelah meletakkan mie dajjal level 15 itu di hadapannya.
Ia tak sabar membuka plastik sumpit dengan air liur yang sudah pecah di mulut. Sudah satu minggu ia tak makan mie kesukaannya itu.
“Hadeeh…” Digo yang seperti biasa, duduk di sofa depan TV, kini mendesah karena kepikiran. “Gue nggak ngerti sama pikiran cewek. Oke, gue tau dia malas bicara sama gue karena gue nggak ngasih dia tugas di White Hero, tapi pasal gue yang nahan Ran biar makan itu dua hal yang berbeda.”
Sluurpp…. Bara mengisap mie sepanjang 30 cm itu dari mangkuk mie yang terbuat dari sterofoam. Baginya, menikmati mie pedas yang masih hangat dan berasap ini lebih penting ketimbang meladeni Digo yang kini sedang galau.
“Waah, endeeuuss…,” gumamnya menyumpit lagi mie ke dalam mulut padahal mie sebelumnya belum sepenuhnya ia telan.
“Gue sumpahin ini mie terakhir lu di dunia ini.”
Bara langsung berhenti ngunyah dan menoleh ke arah Digo dengan kesal. “Gitu amat doa lo Dig, masa ngebiarin gue nikmatin mie bentar aja kagak boleh, ntar gue kasih saran buat lo soal Ran.”
Digo hanya menghela napas panjang membiarkan sobatnya itu melanjutkan santapannya. Digo pun membuka ponselnya. Cukup lama ia menatapi nomor Ran menimbang-nimbang apakah ia harus menelpon gadis itu untuk sekedar menanyakan kabar atau tidak.
Makin lama, rasa penasaran Digo semakin besar. Akhirnya, walau ragu, Digo menekan tombol panggilan pada nomor Ran. 5 kali ia mencoba panggilan itu, dan itu bikin ia tak sabar. Ran tak kunjung mengangkat telponnya.
Nih cewek seserius ini ya ngambek sama gue? pikir Digo.
“Halo…”
Akhirnya….
Suara itu membuat nafas Digo sempat tercekat, gugup. “Ha-hallo, Ran … I-ini gue, Digo.”
Agak lama balasan di telpon itu. “I-iya kenapa Digo?” Suara Ran terdengar agak serak.
“Ran, lo nggak apa-apa kan?” tanya Digo. Meski lewat telpon, rasanya suara Ran tak seserak ini.
“Nggak apa kok, ada apa yaa?”
Tuh kan, suaranya parau, nih cewek lagi sakit kayaknya. “Ran, lo sekarang dimana?”
“Gue di rumah. Kenapa emang Dig?”
“Gue ke rumah lo ya.”
“Ha?” teriakan heran dari Ran ditelpon yang sumbanh karena serak membuat Digo nyengir. “Buat apaan lo ke sini?”
“Lo udah makan?” tanya Digo lagi tanpa mempedulikan komentar Ran.
Lagi, agak lama balasan suara dari Ran. “Ntar lagi gue makan.” Seperti biasa, meski parau, Ran masih bisa terdengar judes.
Tebakan Digo benar, Ran pasti belum makan. Ini sudah jam 6 sore, kemungkinan besar tuh cewek nggak makan siang. “Makan pagi ada?” tanya Digo lagi.
“Lo mau ngomong apa sih Dig? Nggak usah nginterogasi gue soal makan deh.”
Dari jawaban itu Digo tau bahwa Ran tidak makan pagi. “Oke, gue ke sana sekarang. Gue langsung otw.” Digo langsung menutup telpon.
Bara yang memperhatikannya dari belakang menatap Digo dengan tatapan menggoda. Mie pedasnya sudah ludes ia habiskan sembari menguping obrolan Digo.
“Uunchh, gercep banget Ksatria Digo mau nemui Tuan Putri Ran yaa?”
“Diam lo…” Digo lagi malas ngeladeni Bara apalagi kalau sudah nge-cengin begini.
Terakhir kali Bara meledek Digo yang luka di Gelanggang Remaja, yang ngetawain sok dramatisnya lah, sampai Digo dibilang cupu ketika Ran harus ngerobek bajunya sendiri demi cowok itu.
“Jangan lupa bawa sesuatu, masa ke rumah calon pacar nggak bawa apa-apa.”
“Apaan sih, Nying. Kok bahasin pacar-pacar dah. Bocah banget sih lu,” Digo berdiri dan menyambar kunci motornya yang digantung di samping mading.
“Good luck Ksatria Digo.” Bara mengedipkan matanya, masih doyan gangguin Digo.
__ADS_1
Digo tak mengacuhkan, ia membuka pintu bertepatan dengan munculnya Bang Zu di ambang pintu.
“Mau kemana Dig?” tanyanya.
“Digo mau nge-date Bang.”
Bara anying, umpat Digo saat cowok itu main nyeletuk aja.
“Jadi serius lo punya pacar Dig?” heran Bang Zu. “Siapa?”
“Hadeeeh, nggak kok Bang, Bara lagi suka bacot akhir-akhir ini, ngga usah didengerin.” Digo mengacak-acak rambutnya muak. Mengapa tiap ia mau bertindak pasti ia mesti menghadapi kurcaci-kurcaci kayak mereka.
“Digooo!! Gue tunggu cerita PDKT lo yaaa!” teriak Bara yang masih dengar Digo saat menaiki tangga menuju rooftop. Ia hanya menggeleng-geleng dan melanjutkan langkahnya.
~o0O0o~
Ran kini jadi kelimpungan sendiri. Digo mau ke sini, apa yang harus ia lakukan?
Beres-beres? Ah, untung saja kondisi rumahnya selalu rapi, Ran bahkan nggak punya waktu untuk mengotorinya. Jikalaupun rumah berantakan, saat ini kondisi tubuhnya terlalu lemah untuh beres-beres.
Ran meraih kaca yang ada di nakas, kemudian mematut dirinya yang tersandar di kepala tempat tidur. “Gue nggak kucel-kucel amat kan ya?” gumam Ran bicara sendiri, ia cuma mandi pagi tadi soalnya.
Ingin rasanya Ran menelpon Digo bahwa ia menolak dengan keras cowok itu untuk datang. Lagian ini sudah magrib, apa kata tetangga kalau dirinya menerima tamu cowok masuk ke dalam rumah jam segini.
Ran pun nge-chat Somi di tengah kepanikannya.
Ran : Somi
Ran : P
Ran : P
Somi : Apaan
Somi : Paan sii, gue lagi telponan tau…
Ran : loh, ama siapa?
Somi : Kalau gue kasih tau, lo jangan nge-cengin gue ya…
Ran : Iya
Somi : Janji?
Ran : Iya loh
Somi : Gue lagi telponan ama Zidan
Seharusnya Somi yang bakal kaget mendengar kabar dari Ran bahwa Digo akan ke rumah, tapi malah Ran duluan yang kaget akan kabar dari Somi.
Ran : Telponan ngapain?
Somi : Udah ah, besok gue cerita
Somi : Eh lo mau ngasih tau big news apa?
Ran : Nggak jadi deh
Ran : Masih big news soal lo barusan
Ran : hhh
Somi : Wkwkwk
__ADS_1
Somi : Gaje lo Ran
Somi : Ya udah, bye
Ran sebenarnya ingin bertanya apa yang harus ia lakukan karena Digo bakal datang. Dan gimana caranya biar Digo nggak lama-lama di rumahnya.
Ah, setidaknya Ran cuci muka dulu biar nggak terlalu kucel. Baju? Apa ia mesti ganti baju dulu?
Ting Tong ...
Terlambat, bel rumahnya dibunyikan dan itu pasti Digo. Di tengah tubuhnya yang lemah karena nggak enak badan, Ran justru kini masih sanggup untuk kelimpungan. Ia beranjak dari tempat tidur, mencuci muka dengan cepat, kemudian mengeringkan wajahnya dengan handuk.
Bel dibunyikan lagi, Ran tak sempat mengganti baju tidurnya. Ia melihat sekilas ke cermin, baju tidurnya terlihat normal dan wajahnya fresh habis cuci muka. Kemudian Ran bergegas membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, munculah seorang ksatria … maksudnya seorang cowok bernama Digo.
Ran membuka pintu sedikit dan melongok ke luar. Ia pikir, Digo bakal menerobos masuk atau basa-basi untuk duduk dulu di ruang tamu. Tapi tuh cowok hanya berdiri di depan pintu dan menyodorkan dua kantong penuh makanan padanya.
“Eh?” Ran menatap dua kantong itu dengan heran.
“Gue nggak tau lauk dan sambel kesukaan lo, jadi gue bawain makanan favorit gue aja,” ujar Digo datar, sangat datar malah. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
Ran menerima dua kantong itu–masih–dengan bingung. “Kok lo tau kalau gue belom makan?” tanya Ran pelan.
“Itu yang mau gue tanyain, kenapa lo belum makan?” balas Digo, terdengar khawatir.
“Gu-gue….” Ran takut Digo akan marah kalau ia jujur bahwa ia belum makan karena lupa.
“Udah … nggak apa-apa,” potong Digo cepat. Ia tak mau membebani orang sakit untuk menjawab pertanyaan tak pentingnya. Yang penting sekarang Ran harus makan.
Digo bisa melihat dengan jelas bibir pucat dan wajah lesu Ran. “Habis ini lo langsung makan ya. Minum obat kalau dirasa lo bakal demam. Jangan begadang…”
Ran tak percaya seorang Digo punya sisi ‘perhatian ala cuek’ seperti ini, apalagi kemarin nih cowok membiarkan ia pulang sendiri meskipun Ran sok-sokan menolaknya. Asal Digo tau aja, cewek itu suka ditahan dan dibujuk, batin Ran.
Jangankan Ran, Digo sendiri juga tak menyangka bisa melontarkan kalimat perhatian itu pada seorang cewek.
Ran hanya mematung menatap Digo. Cowok ini benar-benar sesuatu….
“Ehem…” Digo mendehem menghilangkan salah tingkahnya. “Ya udah, gue cuma mau nganter itu. Gue pulang dulu…” Digo berbalik dengan cepat, kemudian menuruni tangga teras dan menaiki motor ninja hitamnya.
Ran menyeringit ketika menyadari Digo tak memakai helm. “Lain kali kalo ke sini pake helm,” celetuk Ran.
Digo menoleh. “Hehe siap…” Ia menghidupkan dan membunyikan motornya.
“Digo…”
Suara Ran membuat Digo menoleh lagi. “Ya?”
“Makasih udah nganterin makanan,” lanjut Ran tersenyum simpul.
Digo nyengir sambil mengangguk dengan cool. Cengiran itu, cengiran itu menjadi pemandangan paling digemari Ran selama memakan makanan yang diantar Digo.
Meski dirinya tak selera makan karena lidahnya mati rasa, tapi cengiran Digo membuatnya semangat untuk menghabiskan nasi, beef teriyaki, nori (rumput laut kering), telur rebus, pergedel kentang, sayur brokoli, dan jus apel itu.
“Hmmm…,” Ran mengunyah sambil menatapi semua makanan itu.
Jadi semua ini adalah makanan kesukaan Digo…. senyumnya senang bisa tau hal tentang cowok itu.
~o0O0o~
Hayo mana like dan commentnya
See you tomorrow ❤
__ADS_1