
[Episode 2]
~Wajahnya Berdarah~
"Tega lo ya Mi, setelah ngedorong gue menghadap senior-senior itu, lo malah pergi. Untung gue nggak diapa-apain sama mereka..." Ran memanyunkan bibirnya seraya mengangkat tasnya, lebih tepatnya toote bag putih polos.
Hari ini ia cuma ngampus satu mata kuliah saja, makanya cuma bawa satu buku catatan, powerbank dan pena.
Bedak? No, Ran bukan tipe cewek yang mementingkan make up. Katanya sih males aja, ribet. Palingan ia hanya menyelipkan lip balm.
"Ya maaf Raaan...." Somi mengikuti langkah Ran sambil setengah merengek. "Kemarin Aiden mendadak nongol dan narik lengan gue. Lo tau sendiri kan, tuh anak terlalu terobsesi sama gue."
"Udahlah, jadian aja kalian gih. Susah amat temenan 5 tahun tapi nggak jadian-jadian."
"Apaan dah Ran, gue nggak lebih dari sekedar temen curhatan soal jejeran mantan-mantannya itu." Gantian Somi yang manyun.
Kenapa ya, tiap bahas Aiden, Ran selalu nyuruh mereka jadian aja. Lagian Somi juga berpikir nggak pernah ada rasa sama Aiden, sahabat 5 tahunnya itu.
"Au ah gelap. Gue laper nih." Ran melihat arlojinya, pukul 15.30 WIB. Tadi pagi ia cuma sarapan oat milk, dan ia belum sempat makan siang karena tidak mau terlambat masuk kelasnya Pak Idjang.
"Makan dimana kita?" Somi, sahabatnya itu langsung membuka Google Map, mencari tempat makan apa saja yang enak siang ini.
"Oke google, dimana restoran enak siang ini?" Tololnya Somi yang selalu seperti itu, mendekatkan mulutnya pada microphone Iphonenya agar terbaca oleh aplikasi Google Voice.
"Lo selalu bikin gue malu aja Mi," tawa Ran.
"Waah, makan Ayam Penyet aja kuy Ran, tempat Mbok Atik."
"Hahaha, buat apa pake Google voice kalau ujung-ujungnya makan tempat langganan..." Ran mengacak-acak rambut Somi gemas.
"Heheee, yok yok ke sana yok. Pake mobil gue aja ya. Panas nih siang kalo pake vespa lo."
"Hiyalah, horang kayaaa..."
Ran dan Somi berjalan menuju parkiran mobil. Somi menekan tombol kuncinya dan seketika mobil merek Nissan warna putih berdering tak jauh di depan mereka.
Mobil mereka berhenti di lampu merah, jalanan sudah mulai macet dan ramai, mengingat sudah masuk jam pulang kantor.
__ADS_1
Bichi naneun sollo
I'm going solo lo lo lo lo lo
I'm going solo lo lo lo lo lo
Lagu oleh Jennie personel Black Pink (girl band korea selatan) itu tersiar sampai keluar mobil, saking kerasnya volume speakernya.
Baik Ran dan Somi sama-sama tergila-gila dengan lagu korea. Bukannya nggak suka produk anak bangsa, keduanya tetap doyan lagu Indo kok, tapi kini mereka lagi pengen aja dengerin lagu-lagu luar.
Tiba-tiba, mata Ran menangkap sesuatu saat mobil mereka melewati gang. Gang itu termasuk jalur alternatif andalan mereka untuk menghindari macet.
Lebar jalannya pun hanya cukup untuk 1 mobil, jadi Somi cuma nyetir agak pelan. Kalau ada mobil yang berpapasan ya mepet-mepetan buat lewat.
"Som-Somii, Mi berenti dulu Mi!!" Ran spontan menepuk punggung tangan Somi yang sedang memegang tuas gigi mobil. Ia membuka kaca mobil dan mendongak ke arah belakang.
"Kenapa Ran?" tanya Somi setelah memberhentikan laju mobilnya.
"Tadi gue lihat ada yang lagi kelahi. Di samping bangunan itu..." Ran menunjuk ke ruko abu-abu tak jauh di belakang mobil mereka.
"Biarin aja Ran, paling anak-anak geng..." Somi kembali menginjak gas. "Toh kita bisa apa? Ntar malah kita yang diapa-apain."
Lamunan Ran segera buyar ketika Somi berseru sambil memberhentikan mobilnya. "We are here!!"
Keduanya pun turun dan masuk ke restoran nuansa pedesaan karena bangunannya terbuat dari kayu dan atapnya dari campuran jerami dan ijuk. Mereka sengaja duduk di bangku lesehan biar enak selonjoran.
Setelah memesan makanan Somi kembali membuka pembicaraan.
"Jadi, kemarin, cowok yang lo jumpai itu beneran si Digo?"
"Iya, dan lucunya kok bisa ada ya rumor soal gue dan cowok itu punya hubungan. Orang gue dan dia aja sama sekali nggak saling kenal."
"Dia orangnya gimana sih? Ganteng pasti? Ah pasti ganteng lah, setiap cowok yang disandingkan sama lo pasti rata-rata ganteng..."
"Apaan dah," tawa Ran. "Nggak tau sih gue dia orangnya gimana. Dan menurut gue wajahnya lumayan."
"Cieee, kalau lo bilang lumayan, berarti ganteng banget dong."
Makanan mereka tiba. Keduanya pun langsung makan karena perut masing-masing sudah keroncongan.
__ADS_1
Selepas makan keduanya kembali lagi ke kampus, karena vespa Ran masih di parkiran motor fakultas. Selain itu arah rumah keduanya juga berlawanan arah dari lokasi Ayam Penyet Mbak Atik.
"Bye Ran, hati-hati ya..." Somi melambaikan tangannya dari dalam mobil.
"Lo juga hati-hati Som." Ran memasang helm mode vintagenya, sama antiknya dengan vespanya yang berwarna kuning ngejreng.
"Lo kenapa nggak bawa mobil lo itu ke kampus sih, percuma punya Mitsubishi tapi nggak dipake."
"Males gue, lebih cepet pake roda dua," cengir Ran. "Oke, gue cabut dulu, bubay..." Motor Ran melaju duluan dan meninggalkan lingkungan kampus.
Biasanya Ran lewat jalan raya besar kalau pulang, tapi entah mengapa kali ini Ran memilih jalur alternatif.
Begitu ia berbelok di persimpangan kecil seorang lelaki jangkung keluar dari celah ruko dalam keadaan hampir sekarat.
Ran spontan memberhentikan motornya karena refleks. Ia sontak menjerit kaget begitu lelaki itu menoleh ke arahnya.
Separuh wajahnya tertutup oleh darah yang terus mengalir dari luka sayatan di dahinya.
"Aaakhhh....!!!"
Ran tak percaya lelaki itu mendadak mengampirinya, Ran membeku sesaat, dirinya mematung membiarkan lelaki itu berdiri di dekatnya.
"Gue boleh minta tolong?" rintih lelaki itu, lebih terdengar cemas.
Mata Ran hanya melotot kaget dan ngeri. Kondisi lelaki ini benar-benar mengerikan, apalagi dahinya yang bocor itu.
"Eh... elo Ranne Fakhria kan?" Lelaki itu bertanya lagi. Kini wajahnya terlihat heran.
Ran sekarang jadi lebih kaget. Mengapa cowok ini bisa tau dirinya? Jangan-jangan orang ini sengaja mencegat ia dan ingin merampok lagi.
Berbeda dengan perintah otaknya yang ingin menggeleng, Ran malah mengangguk mengiyakan pertanyaan cowok itu. Sekarang ia hanya bisa balas menatap dengan mata besarnya itu.
"Ran, tolongin gue ya?" pinta cowok itu dengan wajah agak panik. Tampangnya benar-benar kacau, ditambah lagi dengan darah di wajahnya.
Ran malah sempat mikir itu darah asli atau engga. "E-elo siapa??" gagap Ran masih mematung.
"Lo nggak ingat? Gue Digo..."
________________
__ADS_1
See you on the next episode...