White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 8 - Di Ujung Malam


__ADS_3

"Dig. White hero itu apa?"


Finally Ran bertanya akan hal itu. Padahal Digo sedang malas menjelaskan, tapi bagaimanapun ini adalah tugas salah seorang member White Hero untuk memperkenalkan organisasi itu pada calon member.


Sekaligus sebenarnya, kalau mereka kedatangan calon anggota seperti ini seharusnya dia dites dan wawancara dulu.


Tapi sekali lagi, Digo sedang malas.


"Hmmm, White Hero itu organisasi rahasia kampus. Keberadaannya nggak diakui siapapun karena jarang yang tau. Dan yang jelas, organisasi ini ilegal, jadi lo nggak usah gabung," jelas Digo terdengar agak ketus, lebih tepatnya ia hanya tak ingin Ran bergabung, tak tau mengapa.


"Siapa juga yang mau gabung sama organisasi nggak jelas gini," balas Ran juga auto males.


"Gue juga berharapnya lo nggak usah gabung, Ran." ujar Digo pelan.


Ran menoleh. "Kenapa?"


"Bahaya buat keselamatan lo." Sampai saat ini, Digo meyakini itulah firasatnya kenapa Ran tak perlu gabung. "Sebagai sesama manusia, gue sarankan lo ngga perlu join, lagian ntar lo juga bakal nyesel."


Ran mengangkat bahu. White Hero baginya juga tak begitu menarik, namanya aja kedengaran aneh.


"Lo tenang aja, gue bakal tutup mulut soal status lo, White Hero, dan basecamp ini. Jadi sekarang mumpung hujan udah reda mending lo tepati janji lo buat anter gue pulang, oke?!" tegas Ran. Ia benar-benar tak mau berlama-lama, sudah lewat jam 12 malam dan ia rindu kasur kamarnya.


Digo menyambar kunci motornya. Berdiri tanpa bicara dan mengkode Ran agar berjalan mengikutinya ke luar basecamp.


Pintu pembatas lorong basecamp dengan lantai dasar coffee Poirot dibuka, ternyata ada jalan pintasnya melewati dapur cafe. Tau gini mengapa Ran harus capek-capek naik turun tangga itu tadi ya.


"Kalau ada jalan pintas, kok lo tadi masuk lewat rooftop, naik turun tangga?" tanya Ran tanpa aba-aba, nadanya terdengar agak bete.


"Gue lupa ngunci pintu masuk yang di rooftop tadi," jelas Digo. "Lagian kenapa lo main masuk-masuk gitu aja sih, mentang-mentang pintu di rooftop nggak dikunci."


"Namanya juga orang penasaran, lagian kode rahasia kalian kenapa cheesy banget dah. Kayak buatan anak TK," ledek Ran, mulutnya engga bisa dikontrol emang.


"Kode itu gue yang bikin." Digo melirik Ran dengan muka tersinggung.


Ran kini tak tahan untuk tertawa. Ia tergelak sambil melihat Digo dengan geli. "Hahahaa, serius lo yang bikin?"


"Sengaja gue bikin gampang..." Digo dengan santai memasukan tangan ke sakunya. Mereka kini baru saja keluar dari pintu bertuliskan staff only.


Sementara, cafe sudah tutup. Lantai dasar itu kosong, lampunya pun sudah dimatikan. Yang hidup hanyalah lampu teras bagian luar cafe.


"Waktu itu Bang Zu nyuruh gue dan gue lagi males mikir makanya gue bikin kodenya ngasal doang. Lagian kunci utamanya bukan memecahkan kode tapi bagaimana memunculkan kode itu," jelas Digo.


"Ah, ya, kalian pake tinta rahasia..."

__ADS_1


"Bukan di tinta. Tapi di kertasnya. Kertasnya khusus. Diimpor dari Zimbabue," ujar Digo membukakan pintu cafe, menyebabkan bunyi lonceng yang khas itu.


"Zimbabue??" Ran merasa sangsi, tapi akhirnya ia tak bertanya lebih lanjut.


Vespa Ran masih terparkir aman di halaman cafe, tak jauh di dekatnya adalah ninja hitam milik Digo. Sebuah perbedaan drastis antara vintage dengan modern.


"Cewek kok bawa vespa, hari gini," komen Digo pelan menaiki ninjanya.


"Cewek juga punya selera..." balas Ran bodo amat. Ia memasang helm basahnya, hingga membuat beberapa air mengucur keluar dari busa helmnya, menetes mengalir di dahinya. Ran tak peduli rambutnya jadi basah. Yang ia pentingkan adalah keselamatan.


Sebaliknya dengan Digo, ia sama sekali tak memakai helm, ia bahkan ke sini tadi tak bawa helm.


"Udah malam, ngapain pake helm basah, maksa banget."


"Pake helm bukan karena ada polisi, tapi biar safety."


Ran dan Digo bak dua kutub berbeda, bukan?


Masing-masing kendaraan mereka melaju. Bunyi vespa Ran dan knalpot ninja Digo memecah kesunyian jalanan basah dengan gerimis yang tinggal tipis-tipis.


Digo mengikuti laju vespa Ran yang tak diragukan lagi keganasannya. Ia sudah cukup syok sepanjang jalan saat dibonceng Ran waktu itu.


Digo sebenarnya penasaran Ran belajar dari mana sehingga bawa motor bisa segila itu untuk ukuran cewek.


Ran membuka pagar dan memasukan motornya ke dalam garasi. Sementara Digo diam memperhatikan dari luar pagar.


"Oke, thanks lo udah anter gue pulang." Ran berjalan sambil menutup pintu pagar.


"Ran ..." panggil Digo dari atas motornya.


"Ya?"


"Ucapan gue tadi soal lo nggak usah gabung White Hero, gue serius...," ujar Digo pelan tapi menekan.


Ran hanya diam. Dalam hati ia agak kecewa, merasa kalau bukan karena White Hero artinya tak ada lagi alasan untuk bertemu dengan Digo, bukan?


"Tapi..." Digo segera menggantungkan ucapannya. "Gue rasa kita nggak ada salahnya untuk saling mengenal," lanjut cowok itu kemudian.


Kalimat terakhir Digo bikin hawa dingin sehabis hujan mendadak merubah suasana menjadi terasa hangat.


Ran perlahan tersenyum manis, kemudian ia tergelak. "Dasar... padahal lo pernah bilang kita nggak usah ketemu lagi."


Digo mengangkat bahu, "Well, gue percaya kalimat ini, bahwa pertemuan pertama boleh jadi adalah angin lewat, pertemuan kedua adalah kebetulan, dan pertemuan selanjutnya mungkin saja takdir."

__ADS_1


Ran nyengir mengangguk setuju. "Noted, hehehe."


"Oke, gue balik dulu." Digo membunyikan motornya.


Ran melambai disusul Digo yang langsung melaju pergi.


Sampai masuk ruang tamu hingga kamar, Ran jadi tak bisa berhenti tersenyum. Serasa ada yang hangat mengalir di dalam dadanya. Entahlah, kini ia hanya ingin meyakini karena senang mendapat kenalan baru.


Di sisi lain, Digo melajukan motornya dengan kencang. Ada kupu-kupu berlarian di dalam perutnya, kini Digo merasa yang tadi bukanlah dirinya karena seumur hidup ia tak pernah bicara seperti tadi dan sespontan tadi.


*****, kok gue tiba-tiba ngomong gitu yaa, astagaa!!


~o0O0o~


Ran tak menceritakan apapun pada Somi saat keesokan harinya di kampus.


Pertama, ia tak ingin bilang kalau dirinya kembali ke Coffee Poirot setelah mereka pergi nonton. Kedua, ia tak ingin bicara apapun soal White Hero karena ia sudah janji untuk merahasiakannya. Dan yang ketiga, Somi pasti ribut, antara histeris sama ngeceng-cengin dia dan Digo.


Satu hal yang sebenarnya tak Ran mengerti, mengapa Digo bilang ingin saling mengenal tapi mereka berdua sama sekali tidak tukeran kontak atau sosial media.


Ran jadi tak mau terlalu berharap sih, lagian, memang tak ada alasan lagi untuk saling ketemu kan.


"Gais, ntar sore nongki di Poirot ya." pesan Aiden dalam group chat mereka.


Ah ya ... Coffee Poirot, tempat itu bakal masih jadi satu-satunya alasan untuk Ran dan Digo masih bisa bertemu. Tapi, emangnya itu worth it ya??


Zidan, temennya Aiden, akhir-akhir ini emang sering join dengan mereka, makan siang di kantin fakultas atau nongkrong di beberapa cafe.


"Kenapa sih, nongkinya di Poirot lagi dah," omel Somi di kursi setirnya.


Ran melirik Somi ceki, Somi pastinya tak tau bahwa Ran saat ini benar-benar sangat ingin ke sana.


Bukan apa-apa, terakhir kali ia dan Digo bertemu malam seminggu yang lalu. Ia hanya penasaran apa yang terjadi kalau jumpa Digo lagi.


Karena cowok itu nggak bisa ditebak...


________________


Jan lupa


vote dan comment yaa ^^


Salam Zheyenk❤

__ADS_1


Tuan Putri Aira


__ADS_2