White Hero (Indonesia)

White Hero (Indonesia)
Eps. 13 - Terciduk


__ADS_3


Episode 13


- Terciduk -


"Ran, duh lo kemana aja sih? Dari semalam gue telpon-telpon ngga ngangkat."


"Hehehe, sorry Den, batre gue lowbat kemaren, terus gue matiin biar bisa nelpon Kak Rey buat jemput setelah urusan di rumah sakit kelar," jelas Ran menyeruput lemon hangatnya.


Pagi ini mendung banget. Sayangnya Ran ada kelas pagi, makanya jam segini udah di kampus.


Aiden kini menatap Ran penuh selidik. “Somi udah cerita soal apa yang kalian alami kemaren. Gue heran, lo kayaknya secepat itu deh deket dan akrab sama Digo. Lo bahkan rela robek baju lo demi dia? Are you serious?”


“Gue juga nggak ngerti sih, kok gue bisa sepeduli itu ya. Lo tau sendiri kan Den, gue orangnya bodo amat yang gimana. Gue biasanya nggak mungkin bisa se-heroic itu buat nolong orang lain yang bukan orang dekat gue, dan lagian gue tipikal orang yang enggak pandai ngungkapin rasa peduli gue juga.” Ran mengangkat bahu. “Gue kenapa ya Den?”


“Lo udah berapa kali ketemu Digo? Segitunya sama dia, kayak udah sering banget interaksi.” Aiden masih terkesan menginterogasi, padahal tadinya Ran ingin curhat soal kenapa ia punya perlakuan berbeda pada Digo.


“Kok nanyanya gitu sih Den?” Ran jadi ngundurin niatnya untuk diskusi soal apa yang ia rasakan.


Aiden terlihat baru ngeh atas apa yang diucapkannya. Mungkin ia terlalu mencampuri dan mengatur-ngatur. “Eh, sorry, maksud gue … wajar aja sih mungkin lo dari awal ketemu sama dia juga udah dapet feel-nya kali ya.”


Ran hanya menghela napas panjang tak mengacuhkan kalimat Aiden selanjutnya. Kepada siapa ia bisa diskusi soal keanehannya akhir-akhir ini.


Mengapa pikiran tentang Digo begitu menguasainya beberapa hari belakangan, lebih tepatnya sejak malam itu, saat Digo bilang ‘tak ada salahnya kalau kita saling mengenal’.


Come on Ran! Kalimat itu nyatanya bukan apa-apa… Lo kenapa sih Ran?


~o0O0o~


Digo kini sedang duduk malas-malasan di sofa basecamp White Hero. Kondisinya sudah cukup membaik. Ternyata luka di bahu, tangan, dan pelipisnya kemarin bukan masalah besar. Toh, Digo punya sel darah putih yang terlalu perfect sehingga selama ini tiap luka atau cedera Digo tak membutuhkan waktu lama untuk pulih.


Cowok itu mengecek notifikasi ponselnya, seperti biasanya banyak follow like dan dm instagram dari cewek-cewek ABG. Bored…


Ia pun membuka room chat WA dengan Ran. Ia ingat belum berterimakasih dengan sepatutnya pada Ran sejak kejadian dua hari yang lalu. Apalagi waktu itu, ketika sampai di rumah sakit, Digo hanya bertemu Bara yang menyusul setelah mengantar Somi.


Ran pulang tak beberapa lama sebelum Digo keluar dari UGD. Bara bilang, kondisi cewek itu kurang baik, selain rambutnya acak-acakan dan bibirnya pucat, bajunya juga kacau karena robekan di bagian bawahnya yang digunakan untuk menutup luka Digo.


Ah … seharusnya Digo menghubungi cewek itu dari kemarin, atau bahkan harusnya langsung malam itu.


Sambil menimbang-nimbang apakah ia harus menelpon Ran atau tidak, Digo menghela nafas panjang karena ia bukan tipikal cowok yang suka memperpanjang urusan dengan yang namanya cewek.


Sudah cukup Clara menjadi cewek paling dekat dengannya dengan segala perhatian yang diberikan cewek itu. Digo sampai detik ini masih belum mau membiarkan seorang gadis masuk ke dalam kehidupannya, ribet, apalagi pada cewek yang baru dikenalnya beberapa minggu.


Tapi, seenggaknya lo mesti berterimakasih Digo….


Entah dari mana suara itu berasal dan kebetulan sesuai dengan logikanya, akhirnya Digo menekan tombol panggilan ke nomor Ran.

__ADS_1


*Tuut tuut …


“Hallo*?”


“Ha-halo Ran, i-ini gue, Digo…”


“Anjir Dig, lo beneran lagi nelpon Ranne Fakhria??” Bara yang duduk di meja rapat menatap Digo sambil mengunyah mie dajjal level 15 nya.


Ya, setelah minggu lalu cabe level 20 itu terlalu menyiksa perutnya kini ia menurunkan 5 level kepedasan pada mie kesukaannya. Bara sebagai pecinta mie pedas tentu saja masih sangat sayang sama lambung dan ususnya.


Digo tak mengacuhkan godaan Bara. Ia melanjutkan ucapannya di telpon setelah Ran bertanya dia ada dimana.


“Gue di café…” jawab Digo. Hampir saja ia menyebutkan basecamp karena Bara taunya Ran sama sekali tidak mengetahui identitas Digo dan White Hero. “Lo dimana?”


“Ini gue bentar lagi nyampe basecamp lo…”


“APA??” Digo langsung tersentak kaget saat Ran bilang begitu. “Lo bilang tadi lo lagi dimana?”


“Eh santai dong nadanya nggak usah ngegas gitu,” Ran agak terdengar sedikit judes.


“Ran, biar gue aja yang nyamperin lo di café…”


“Telat karena gue udah depan pintu…” Setelah Ran berkata begitu disusul lah suara ketukan pintu Basecamp White Hero.


Bara menatap heran pintu ruangan itu.  “Masuk aja kali Bang,” seru Bara hanya lanjut menyumpit mienya dengan santai.


“Buka pintu gih, mumpung gue lagi sopan.” Ran mematikan sambungan telpon. Itu bikin Digo melompat dari sofanya dan menghambur ke arah pintu.


“Buseet, lo ngapain Dig? Udah kelar telponan sama Tuan Putri?” cengir Bara, meski kepedasan mienya diturunkan jadi level 15 tetap saja hidung cowok itu jadi merah dan berair.


Digo membuka pintu sekecil mungkin. Menyelip keluar, lalu menutup pintu kembali dengan cepat. Bara yang duduk membelakangi pintu tentu tidak melihat Ran di ambang pintu, cowok itu terlalu asik menikmati mie pedas obsesinya.


Ran nyengir evil pada Digo begitu cowok itu keluar dan menghadapnya dengan wajah panik. “Lo gila ya Ran?!” pekik Digo sambil berbisik. “Ngapain lo di sini?”


“Nyari elo,” tukas Ran santai.


“Kan bisa chat gue atau nelpon gue dulu. Kalau Bara tau lo di sini, mati gue …”


“Heran deh gue, sampai sekarang nih lorong masih gelap, kalian nggak ada duit buat perbaiki listriknya apa?” omel Ran, ia masih ingat saat pertama kali datang ke tempat ini listriknya rusak, dan ternyata sampai sekarang udah berminggu-minggu juga masih rusak (?).


“Listriknya udah bener kok, lampu lorong sengaja dimatiin biar hemat,” jelas Digo cepat. “Eh, ngobrolnya jangan di sini…” Digo menarik pergelangan tangan Ran dan menyusuri lorong panjang menuju tangga dan pintu rooftop.


Begitu ingin naik tangga, Digo menyadari ada yang sedang menuruni tangga karena masuk lewat pintu rooftop café. Digo mengumpat dalam hati, bangke … Bang Zu kan biasanya masuk lewat pintu dapur.


Spontan Digo menarik pelan Ran ke balik tangga spiral itu, lalu memojokan dirinya dan Ran ke bagian sudut paling gelap.


“Dig … Digo e-elo mau ngapain?” cicit Ran kaget dengan gerakan Digo.

__ADS_1


Berikutnya Ran langsung diam begitu cowok itu menempelkan telunjuknya di bibir Ran. Keduanya tak bergerak bahkan menahan nafas saat langkah kaki Bang Zu menuruni anak tangga demi anak tangga.


Tiba-tiba gerakan kaki Zufan berhenti. Keadaan gelap gulita itu tiba-tiba menjadi sangat hening seketika.


3 detik … 5 detik … 10 detik … rasanya begitu sangat lama dan menegangkan. Digo curiga dan was-was apa manajernya itu merasakan kehadiran mereka.


Bang Zu berhenti dan diam di tengah-tengah anak tangga, lebih tepatnya anak tangga itu tepat berada di depan wajah mereka.


Di tengah-tengah situasi deg-degan itu, dalam sekejap sebuah sorotan cahaya menyenteri mereka dari atas. Ran menutup matanya karena cahaya itu terlalu terang dan mendadak bagi penglihatannya.


“Digo?” Suara Bang Zu terdengar sangat heran. Ia turun tangga dan menghampiri Digo dan Ran di balik tangga itu. “E-elo …?” Bang Zu berusaha mengenali siapa cewek yang sedang bersama Digo di pojokan seperti ini.


“Hadeeeh, mau ciuman aja kenapa mesti ke-gep ama elo sih, Bang.” Digo mendesah kesal melangkah sedikit menjauhi Ran.


Ran dan Zufan tentu sama-sama syok mendengar kalimat Digo barusan.


Ran kini melirik cowok itu dengan kesal mengapa ‘ciuman’ harus menjadi alibi dirinya dan Digo bisa ada di balik tangga.


Nggak ada alasan lain apa?!


Saat Ran ingin menyanggah ucapan Digo demi harga dirinya di mata orang lain, Bang Zu sudah duluan berkomentar.


“Ciuman di rooftop aja kali, ga ada orang juga, kenapa mesti di sini? Lo bukan tipikal cowok mesum Dig.”


“Ciuman di rooftop nggak greget.” Digo sepertinya kini tak peduli dan ingin menyanggah seluruh ucapan Zufan, ia sudah telanjur badmood.


“Udah pernah ciuman di rooftop berarti?”


“STOP!!” Ran sudah tak tahan lagi. Apa-apaan dengan situasi memuakkan ini. “Kita nggak ciuman dan juga nggak pernah ngelakuin itu,” tegasnya. “Saya ke sini nyari Digo."


Persetan dengan Digo ingin Ran merahasiakannya, memang kenapa kalau Ran tau basecamp White Hero ini? Toh Ran sama sekali tak punya niat buruk untuk menyebarkan informasi soal sekre ini.


“Lo masuk lewat pintu rooftop? Atau pintu dapur?” tanya Zufan pada Ran dengan penuh selidik.


“Gue bahkan pernah melewati keduanya.” Ran mengangkat bahu, kini ia tak peduli akan apapun. Kalau saja Digo tidak membahas soal ciuman, mungkin Ran akan tetap diam.


Itu akibat dari ucapan lo yang sembarangan… ketus Ran dalam hati.


Kini Zufan menatap Digo. “Digo?” panggilnya pertanda meminta penjelasan dari cowok itu.


“Aiissh…” Digo mendesah kesal.


Kok jadi kayak gini sih…


~o0O0o~


Jangan lupa

__ADS_1


Vote dan comment :*


__ADS_2