YOUFORIA

YOUFORIA
Waiting for?


__ADS_3

Waktu kecil, orang tuaku selalu membelikan baju baru. Bukan sekedar sebagai hadiah ulang tahun atau hadiah karena acara besar seperti lebaran atau pergantian tahun, bahkan kalau mereka bisa, mereka pasti belikan satu baju setiap bulan buatku.


Kata Nenek, itu karena Mama suka main barbie waktu kecil. Makanya waktu tahu anaknya perempuan, dia senangnya bukan main. Dari belikan sampai mendesain baju sendiri buat aku itu semua kerjaan Mamaㅡnggak tahu sih nyokap orang ngelakuin hal yang sama atau enggak, but it's all about my Mom who know about fashion so wellㅡyang bahkan masih berkontribusi pada semua pakaian yang kubeli juga kupakai saat aku sudah menjadi gadis remaja berumur belasan.


Mama bakal tiba - tiba mengetuk pintu kamar dan suruh aku pakai baju hasil desainnya sebulan yang lalu buat kupakai hangout bareng teman, atau bahkan, sudah dengan lengkap menyiapkan baju, celana, outer, topi, sepatu, sampai kaos kaki dan gelang yang akan kupakai buat ngampus esok harinya. Kadang aku sampai pusing sendiri, masa iya aku terkekang karena baju doang? Tapi setelah Mama nggak ada dan banyak baju buatan juga pilihan beliau yang terpaksa kujual, rasanya sedih juga. Rasanya seperti mengalami kehilangan kedua kali, pertama saat Mama nggak ada, kedua saat kenangannya ikut hilang bersamaan dengan baju - baju hasil desainnya yang kujual. Lucu ya memang perasaan manusia, bisa berubah dalam waktu yang sesingkat itu.


Satu kardus berukuran sedang yang kubawa ke apartemen Elle dua tahun yang lalu adalah barang dan pakaian yang tersisa setelah semua kujual dengan setengah harga karena masuk katagori preveloved, sekalipun beberapa diantaranya baju merk ternama, tetap saja kalau sudah dipakai akan jatuh harga. Setelah menjalani hidup yang acak - acakan seperti dua tahun kebelakang, aku nggak pernah peduli lagi dengan apa yang kupakai, apalagi soal merk - merk mahal yang kalau dipaksakan beli bakal buat aku yang miskin ini makin melarat aja jadinya.


Dan sekarang, dengan apa yang ada di depan mataku sekarang ini rasanya masih sulit kupercaya. Baju merk ternama dan berharga mahal itu ada di depan mataku sambil melambai - lambai.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh... Gila! Banyak banget si *****, lo mau buka olshop apa gimana?"


Ini tentu saja suara Elle yang kupastikan baru pulang kerja. Aku sempat mendengar pintu apartemen terbuka dan suara hentakan kaki Elle yang terburu - buru sampai menuju kamarku, tapi sengaja tak kuhiraukan karena otakku masih sibuk mencerna kejadian yang baru saja terjadi sebelumnya.


Elle meraih salah satu bingkisan yang tertulis 'Dior' disana, lalu menatapku dengan pandangan penuh tanya. "Jangan bilang ini asli, Sya?"


"To be honest sih iya" kataku yang sukses membuat Elle membekap mulutnya sendiri dengan tangan kirinya, tangan kanannya meletakkan bingkisanku kembali ke lantai dengan hati - hati.


"Sya, dengar... gue tahu ini lo lagi galau dan sedih banget, tapi jangan sampai lo nyesel sendiri karena beli barang - barang begini astaga. Gimana nasib tabungan lo yang udah lo kumpulin selama dua tahun sampai lo harus ambil cuti kuliㅡ"


Aku berbalik, menatap Elle. "Yakan, Le? Gila orang yang udah beli ini semua. Coba bayangin berapa digit uang yang keluar, dan coba bayangin berapa banyak itu duit yang ada dalam ATMㅡbukan, tapi credit card, lebih tepatnya black card!"


Elle ikut duduk bersimpuh di lantai. "Blackㅡbentar ini maksud lo gimana sih? Jadi selama ini lo nabung biar punya black card"


Aku menoyor kepala Elle. "Bukan, si Aksa. Ini, ini semua dia yang belikan."


"AKSA?!" teriak Elle dengan suara tinggi melengkingnya. "Fix sih, Sya. Gila itu namanya!"


Kan, bukan cuma aku yang menganggap Aksa gila. Elle pun sama, bahkan semua orang kalau tahu apa yang terjadi hari ini pasti setuju untuk melabeli Aksa Yonaswara orang gila.


"Hell, no! Lo yang gila, Sya! Masa, lo nggak paham? Ini sogokan karena dia suka lo. Kan waktu pertama ketemu dia langsung ngelamar lo?"


Benar juga! Kenapa aku nggak kepikiran soal itu, ya?


Jari - jari Elle mengetuk - ngetuk lantai, seakan memberi tanda kalau ia sedang sibuk berpikir sekarang. "Gimana kalau dia maksa lo nikah sama dia, terus kalau lo nggak mau, lo disuruh bayar semua ini?"


Masa iya Aksa tega? Aku menggeleng sebelum akhirnya berkata, "justru gue diancam bayarin belanjaan dia yang harganya lebih mahal dari ini semua kalau gue gamau ambil barang - barang ini, Le."


Elle langsung melongo. "Kalau gitu fix sih. Si Aksa gila" Elle menyimpulkan semuanya, sambil menatap semua belanjaan yang bahkan nggak muat disimpan di lemariku sendiri.


*

__ADS_1


Hari ini aku masuk shift pagi, sampai sore paling, nanti setelah shiftku selesai, Tante Ema yang menggantikan. Elle sudah jarang jaga toko karena sibuk sama pekerjaannya di Daily News. Paling sesekali datang untuk sekedar ambil cemilan atau pas lagi kepengin pulang bareng.


Anehnya hari ini aku nggak lihat Aksa. Setelah belanja menghabiskan sekian juta hari ini dia hioang gitu aja. Mungkin nggak sehabis pulang semalam dia menyesal? Aku nggak tahu pasti, tapi biasanya dia bahkan sudah datang sebelum minimarket buka, lalu membantu ini itu sampai setidaknya makan siang. Sayangnya, hari ini tidak begitu, keberadaannya tak terlihat sejak pagi bahkan sampai sekarang yang sudah lewat dari jam makan siang. Kesannya aku jadi kayak nungguin dia nggak sih?


Aku membereskan etalase sebentar, lalu kembali ke kasir setelah dua orang pria datang. Yang satu langsung menuju etalase, yang satunya berdiam di kasir sambil berkata, "Mau isi shopepay, bisa, Mbak?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Kodenya?" pintaku, lalu melirik pria yang satunya yang malah sibuk menyemprotkan pilox pada CCTV di pojok belakang, aku panik sendiri tapi berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri, setelahnya aku berpura - pura seakan semuanya tak ada apa - apa, kemudian menatap pria di depanku yangㅡ


"Berikan semua uang yang ada!" hardiknya yang tiba tiba sudah berdiri di belakangku sambil menodongkan pisau tajam di leherku.


Mataku membulat sempurna saking kagetnya. Selama dua tahun aku menjaga minimarket, baru kali ini dihadapkan pada situasi seperti ini. Biasanya aku hanya mendengar dari berita atau melihat kejadian ini dari televisi, tapi sialnya, hari ini semua itu nyata dan menimpa aku sendiri.


Badanku gemetar hebat, keringat dingin mendadak keluar bersamaan dengan mataku yang terasa panas. Otakku sudah kupaksa berpikir tapi rasanya buntu. Aku tak bisa berbuat apa - apa selain menuruti lelaki yang mengancamku. Situasi ini membuatku tak punya pilihan lain selain memberikan semua uang yang bahkan bukan milikku.


Tapi tak lama sirine polisi terdengar.


Lelaki yang mengancam barusan menarik rambutku, lalu melempar tubuhku begitu saja pada etalase di belakang kasir. Aku tersungkur dan merasa sedikit kesakitan. "Sialan! ****** brengsek! Siapa yang suruh telepon polisi!" makinya kemudian meraih uang di kasir dengan terburu - buru.


Dia memanggil teman yang satunya lalu pergi begitu saja bahkan tanpa mengambil setengah dari keseluruhan uang di kasir. Sedangkan aku masih terdiam saking terkejutnya.


Tak lama polisi dan beberapa orang datang membantuku, polisi mengamankan minimarket dan menanyaiku, aku menjawab semuanya secara detail dengan keadaan yang masih terguncang.


Lalu sosok orang yang sempat kutunggu juga kuharapkan kehadirannya datang dengan napas yang masih ngos - ngosan, bisa kutebak dia berlarian menuju kesini karena dengar berita ini yang entah darimana, atau mungkin karena ia melihat mobil polisi dan banyak orang berkumpul di depan minimarket.


Aku menggeleng lemah. "Tante Ema, gue harus kasih tahu dia perihal uang yang diㅡ"


Aksa menggenggam lenganku, membawaku keluar minimarket lalu mendudukanku di kursi. Setelahnya ia pergi ke etalasi paling kiri untuk mengambil sesuatu, tak lama ia kembali dengan beberapa barang seperti betadine, kapas, handsaplast, bahkan sebotol air putih berukuran sedang.


"Minum dulu" katanya sambil menyodorkan sebotol air putih ke arahku. Kemudian dia berjongkok, menatap lututku yang sedikit luka juga lebam. "Ini saya mau ngobatin boleh nggak?" katanya sambil menunjuk lututku. Aku mengiyakan, dan Aksa segera mengobatiku dengan barang yang ia bawa. "Kamu bisa hubungi Tante Ema sekarang. Dia harus tahu soal ini kan?"


"Iya, Tante Ema harus tahu, gara - gara guㅡduh!" keluhku saat Aksa menekan lukaku terlalu kencang.


"Sekali lagi kamu nyalahin diri sendiri, saya akan lakuin hal yang sama lagi" ancamnya bikin aku sebal.


"Ini, lo kenapa jadi suka ancam - ancam gue sih, Sa, emang lo siapa?"


"Bukan siapa - siapa sekarang, tapi kalau kamu mau kita pacaran saya ayo ayo aja"


Astaga Aksa, ini dia salah makan apa gimana sih? Bisa - bisanya modusin aku dalam keadaan begini.


Setelah selesai, dia berdiri, duduk pada kursi di sebelahku yang terhalang meja kecil. Dia memanggil namaku, "Sya" katanya. Aku menoleh. "Ponsel lo, boleh pinjam?"

__ADS_1


Aku mengerjap. "Buat apa?"


"Sebentar" katanya yang kemudian kuturuti. Gila ya, aku nggak paham kenapa aku menuruti semua perkataannya.


Aksa meraih ponselnya dari tanganku lalu mengetikkan sebuah nomor yang kemudian dimasukkan ke list quick call dan tak lupa dia pin sekalian.


"What are you doing now ya Bapak Aksa?" tanyaku yang hanya ditanggapi dengan senyum kelincinya.


"Buat jaga - jaga, biar kamu bisa lebih gampang hubungi saya kalau ada apa - apa"


Ini jadi dia ngesave nomor sendiri gitu ya? lucu sekali.


"Nggak masalah kan Bu Asya?" tanyanya yang berhasil buat tawaku pecah seketika. Nggak tahu deh persisnya karena apa, tapi dengar dia panggil aku dengan embel - embel 'Bu' rasanya lucu. "Ketawa berarti setuju. Jangan sungkan hubungi saya, ya?" tambahnya meyakinkanku. "Lalu soal uang curiannya, bisa aku gantikan kalau kamuㅡ"


Moodku hancur seketika. Lagi - lagi Aksa mengandalkan uangnya dan jujur aku nggak suka. "Sa, gue tahu lo baik, gue juga tahu lo suka gueㅡ"


"Kok tahu? Kamu selama ini part time jadi dukun apa gimana?"


Kalau aku dukun sih sudah kusantet dia dari lama, yakin.


"Urusan uang yang dicuri biar jadi urusan gue, ya. Please don't cross your line, Sa."


"Oke"


Aku bernapas lega mendengar jawabannya. Bukannya nggak tahu diri karena menolak bantuan Aksa, hanya saja aku mau menyelesaikan semuanya sendiri. Aku nggak terbiasa bergantung ke orang lain selama aku masih bisa. Nggak salah kan ya?


Ponsel Aksa berbunyi sebentar, Aksa mengeluarkannya, sebuah nomor yang tak asing tertera pada layar ponselnya.


Tunggu, itu nomorku?


Aksa mematikan panggilan dari ponselku ditangan kirinya dan memasukkan kembali ponsel miliknya dengan tangan kanannya. "Nah, sekarang saya sudah punya nomor kamu" katanya sambil tersenyum tanpa dosa.


"Bisa banget ya modusnya" ungkapku sarcasm.


Aksa malah tertawa. "Ini yang ngesave nomor kamu saya loh, Aksa Yonaswara yang kata kamu sutradara kelas dunia"


Oke, ini kenapa si Aksa jadi kepedean gini ya?


"Thankyou for your kindness, Mr. Aksa. But I don't think so. Kayaknya menghubungi anda bukan suatu kepentingan bagi saya"


Aksa tersenyum jail. "Mau taruhan?" cibirnya, buat aku mengangkat lengan dengan posisi siap memukul wajah gantengnya. "Oke, sorry" katanya kemudian, malu sendiri, dan itu malah bikin aku tertawa.

__ADS_1


Aku percaya sih ini Aksa diam - diam sedang belajar jadi lebih pede, mungkin aja setiap pagi dia bercermin sambil bilang, 'Ini dia sutradara kelas dunia yang tampannya nggak usah ditanya, Festival Film Cannes aja didapatkan, apalagi Asya!' Ya, mungkin kurang lebih begitu, haha, apasih, ya?


***


__ADS_2