YOUFORIA

YOUFORIA
Dazed


__ADS_3

Dulu saat masih sekolah aku selalu benci pada hari senin. Fakta jika kita butuh waktu enam hari untuk mencapai hari minggu, dan hanya membutuhkan waktu satu hari menuju hari senin menurutku itu sangat tidak adil. Kalau di umpamakan mungkin waktu liburan kita itu seperti sepotong cake yang dimakan setelah makan besarㅡrasanya manis, tampilannya cantik, tapi porsinya sedikit, mahal pula harganya.


Maka dari itu jika menemukan tanggal merah pada hari senin rasanya seperti diberi emas berlian ketika jadi pengangguran dalam waktu yang sangat lama. Tentu saja lega dan bahagia karena kita tak akan dihantui pikiran besok adalah hari senin dan kita harus bersiap untuk sekolah ataupun kerja!


But for now, everything has no effect on me yang hanya menjaga sebuah minimarket milik keluarga Elle. Karena tanggal merah ataupun tidak, kalau hari itu shiftku ya aku tetap harus bekerja. Tapi setidaknya tanggal merah di hari senin membuat kami bisa berkumpul bersama seperti ini.


Aku tidak tahu semua berawal darimana, tapi melihat pemandangan seperti ini rasanya masih asing untuk kupercaya sebagai sesuatu yang nyata. Maksudku, kalau hanya kamiㅡAku, Elle, dan Keenanㅡmemang sudah biasa, tapi kehadiran dua tamu tidak diundang itu benar - benar tak terduga.


Sebelumnya Aku dan Elle sibuk membuka dan membersihkan minimarket. Keenan sudah mengabari kalau ia akan datang agak siangan karena merasa perlu datang ke gereja untuk berdoa, entah ada apa manusia yang satu ini mendadak ingat Tuhan. Biasanya dia begini kalau sedang ada maunya, tapi ya kami tidak tahu, itu urusannya dan Tuhannya.


Disela-sela waktu berberes kami saat pagi hari, Aksa datang membantu. Memang bukan suatu keanehan lagi, karena Aksa memang hampir setiap hari membantuku. Elle sempat mengajukan banyak pertanyaan aneh terkait kejadian yang katanya langka iniㅡElle tidak tahu apapun soal Aksa kecuali dia pria aneh yang melamarku tiba-tiba, juga jati diri Aksa yang ternyata sutradara kelas duniaㅡseperti, "Lo bangkrut terus mau kerja disini?" Atau, "lo lagi cari bahan buat film baru lo ya?" "Oh tunggu... Jangan-jangan lo mau minta gue buat akting di film lo?" Kurang lebih begitulah pertanyaan aneh yang membuatku tertawa, sedangkan Aksa tentu saja bingung akan sikap Elle yang seperti itu.


Ah iya, jam makan siang! Sekarang aku ingat darimana semua itu bermula.


Jadi begini,


saat itu jarum jam sudah menunjuk pada angka dua belas tepat. Tandanya, matahari sedang berada tepat diatas kepala dan entah sudah berapa kali aku menguap karena bosan, belum lagi cacing-cacing di perutku yang sudah berisik minta diberi makan.


Aku sedikit bersyukur karena bekerja di sebuah minimarket saat siang hari cukup menguntungkan, misalnya; aku tidak perlu was-was dengan sinar matahari yang bisa merusak kulitku, aku juga tidak perlu khawatir panas akan melelehkan otak kecilku karena AC menyala dua belas jam lamanya, dan tentu saja karena aku bisa mengambil makanan expired yang sedari tadi pagi sudah kupilih dan simpan di tempat yang aman.


Aku meraih onigiriㅡchicken mayonnaise flavour of courseㅡyang tadi pagi kusimpan dibawah meja, expirednya hari ini. Biasanya pemilik toko akan membuangnya. tapi bagi perutku, ini rejeki nomplok namanya. Makanan gratis siapa yang nggak mau?


"Asya!"


Aku menoleh mencari asal suara, kemudian menemukan sesosok manusia yang jelas kutangkap eksistensinya. Itu Elle!


"Makan makanan expired lagi?" tanyanya yang kemudian menghampiriku.


Aku enggan menjawab, hanya menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban iya.


Elle berdecih sambil menggeleng, merasa kasihan mungkin. The saddest fact is: aku memang pantas dikasihani.


Well, singkatnya hidupku memang menyedihkan. Bahkan, kalau dulu Elle tidak mengulurkan tangan padaku, sudah kupastikan aku akan menjadi gelandangan sekarang.


Dua tahun yang lalu Elle menawariku untuk tinggal di apartemen sederhananya dan membiarkanku membayar uang sewa hanya dengan setengah harga! Belum cukup sampai disitu, setelah ia tahu semua ceritaku, dia memaksa ibunya untuk memperkerjakan aku di minimarket keluarganya.


"Lo bisa ambil yang baru, Sya. Mama nggak akan tahu kalau barangnya ilang satu," candanya, aku tertawa. "Nggak kasihan sama perut? Dapat makanan yang nggak sehat mulu," tambahnya, kali ini raut mukanya berubah, terlihat sedikit cemas.


"Tenang aja, Le. Perut gue nggak serewel perut lo"


Sekarang giliran Elle yang tertawa.


Fyi, perutnya Elle memang sensitif, telat makan sedikit langsung mual, makan pedes sedikit langsung mules. Penyakit magh akutnya membuat Elle tak punya pilihan selain menjaga pola makan.


Lalu tiba - tiba Aksa menghampiriku, kemudian meraih onigiri dari tanganku. "Bilang apa yang mau kamu makan, saya belikan" katanya membuatku dan Elle kebingungan.


Aku berusaha meraih onigiriku lagi tapi Aksa malah mengangkat onigirinya keatas, aku hanya memandanginya sebal. Ya, aku cukup tahu diri dengan tidak memilih meraihnya lagi karena Aksa jauh lebih tinggi dariku, bahkan dari Elle yang menurutku sudah tinggi.

__ADS_1


"Nggak semua bisa lo beli pakai uang" ucapku kesal.


"Tapi makanan bisa" jawab Aksa membuatku berpikir dua kali.


"Ini lo mau traktir kita, Sa?" Elle menyela, aku langsung menatap Elle, bermaksud menyuruhnya menutup mulut dan membiarkanku berbicara.


"Gue tahu lo banyak uang, Sa. Tapi lo nggak harus belikan semua yang gue mau"


"Asya suka Richeese sih, gue juga tapi level dua aja, jangan yang pedes - pedes."


"Elle!"


"Oke."


Aku hendak berbicara sebelum pintu minimarket terbuka dan kedatangan sesosok Keenan dengan pakaian santainyaㅡkaos hitam dan celana longgarㅡmengalihkan niatku.


"Wah Pak Dokter turun pangkat" sambut Elle dengan ejekan yang malah membuat Keenan tertawa.


"Baru tahu gue dokter pakai pangkat segala, udah kaya perwira"


"Yakan lo emang mau jadi perwira duㅡ" Keenan membekap mulut Elle dengan tangannya.


"Haha, bercanda, dia bercanda" kata Keenan jelas mengelak, atau lebih tepatnya tidak mau mengakui fakta yang diucap Elle.


Elle melepaskan tangan Keenan dari mulutnya, lalu berlari bersembunyi tepat di belakangku. "Serius, dia mau jadi tentara, tapi karena lemah dia nggak pernah diterima."


Aku hanya bisa tertawa melihat keduanya. Ini, pemandangan seperti ini yang bisa jadi hiburan dari segala macam rumitnya kehidupan.


Keenan memilih menghentikan pertikaiannya dan berusaha damai dengan Elle. Lalu perhatiannya teralihkan akan sesosok Aksa.


"Loh, Sa? Lo ngapain disini?"


Aksa tak menjawab, dia malah memegangi tengkuknya sambil senyam senyum sendiri. Asli aku khawatir lihatnya, mana sok manis gitu aduh astaga takut gantian aku yang gila nantinya.


"Sebentar... " lagi-lagi Keenan menatapku dan aksa dengan pandangan penuh curiga seperti kemarin. Dan entah bagaimana pula, aku jadi gugup hanya karena ucapan menggantungnya. "Kalianㅡ"


"Mau Richeese nggak lo? Si aksa mau traktir" For the first time aku merasa harus bersyukur hanya karena Elle yang tiba - tiba mengajukan penawaran. I mean, tawarannya bisa jadi saviour buatku. Nggak lucu kan kalau aku harus menjelaskan soal lamaran tiba - tibanya Aksa.


"Wah, bro. Okedeh gue mau yang apa aja asal nggak pedes, level dua" kata Keenan melengkapi pesananku dan Elle. No spacy spacy club complete already.


"Oke" tanggap Aksa sambil mengetikkan pesanannya.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu, setelah Aksa mengkonfirmasi pesannannya, lima menit kemudian seseorang datang dengan banyak plastik berisi makanan di tangan, kang ojol? Bukan, itu orang yang kemarin. Yang juga ganteng dan aku kira supirnya.


Elle memanyunkan bibirnya kemudian berbicara, "Loh, kok lo yang datang?!"


"Harusnya lo makasih, masa senior kerja lo yang beliin lo makan" makinya buat kami kebingungan, kecuali Elle.

__ADS_1


Senior kerja? Oh, Daily News! Dia bekerja disana. Berarti... dia bukan supirnya Aksa astaga.


"Dia teman saya, saya pesan ke dia karena kebetulan rumahnya dekat Richeese. Namanya Setㅡ"


"... an. Setan jahanam dia astaga, Aksa kenapa laki - laki sebaik, setulus, sepolos, dan setajir lo bisa berteman sama setan iblis dajal macam dia?!"


"Apasih, Le, yaampun... Gue nggak paham"


"Jangan peduliin nenek lampir yang satu itu, gue Seta. Temannya Aksa, senior di tempat kerjanya dia" Ia melirik Elle dengan wajah malasnya. "Nggak kalah tajir juga kok sama Aksa" tambahnya percaya diri. Aku tertawa melihat tingkahnya yang kekanakan, sebelas dua belas dengan Elle, pantas saja kalau mereka tidak bisa akur.


"Bilang aja rekan kerja sih, ribet amat pakai senior - junior" gumam Elle. Moodnya sudah terlanjur hancur.


Dan begitulah kurang lebih cerita dimana kami berlima bisa duduk bersama untuk makan siang di minimarket. Ini memang aneh, amat sangat aneh, tapi aku menyukainya.


Kami makan bersama, banyak bercerita, saling mengenal dan mengakrabkan diri. Elle masih saja mengoceh soal Seta yang katanya Tim Manajer yang kerjanya teriak - teriak dan mempersulit kerjaannya, dia sampai meminta Aksa untuk menjauhi Seta kalau lelaki yang satu itu masih mengerjainya.


Seta jelas membela diri, dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Itu salah Elle karena tidak mengecek teleprompter* terlebih dahulu, bayangkan saja teleprompternya mati ditengah acara siaran. Alhasil pewarta harus membaca teks dan ia juga beberapa staf termasuk Seta kena tegur direktur.


Selain itu, cerita soal Keenan yang ternyata pernah bercita - cita menjadi seorang tentara terungkap hari ini. Ternyata alasan dibalik kemalangannya di bidang itu adalah karena kegagalannya saat menjalani tes fisik, ia malah terserang demam hari itu. Ketika disuruh lari keliling lapangan dalam waktu 15 menit, Keenan yang sudah berlatih dan percaya diri karena biasanya mampu mengelilingi enam sampai tujuh putaran dalam waktu lima belas menit, sialnya harus jatuh pingsan bahkan sebelum menyelesaikan satu putaranpun saat hari - H.


Lalu soal Aksa, Elle dan Keenan menyuruh Aksa agar tak terlalu kaku saat bersama kami. Iya, Aksa memang kaku. Selain karena menggunakan panggilan saya-kamu, dia juga sangat kaku saat berhubungan dengan orang baru. Saking kakunya, Elle dan Keenan, juga Seta sepakat memberinya julukan 'kanebo kering' sebagai bahan ejekan. Haha, ini menyenangkan, sungguh.


"Jangan makan itu, kamu alergi telur!" kata Aksa tiba - tiba.


Oke, sekarang Aksa melarangku makan cemilan yang dibawa Seta dengan alasan bahan dasarnya dari telur, dia bilang, aku alergi telur! Demi Tuhan aku semakin merinding sendiri karena hal ini. Maksudku, selama ini, hanya Elle, Tante Ema, dan Keenan yang tahu, bagaimana bisa Aksaㅡ


Gila, aku sampai tak tahu harus berkata apa.


Elle dan Keenan langsung menurunkan ayamnya, menyimpan kedua tangan ke meja lalu menatapku dengan wajah seram, seakan menuntut untuk meminta penjelasan.


"Apa? Ada apa?" tanyaku pada keduanya, berpura-pura seakan tidak ada yang salah dengan ucapan Aksa. Padahal, ucapannya juga mengejutkanku. Maksudku, dia, Aksa, tahu namaku, nama panggilan, nama lengkap, soal kuliahku, dan bahkan sekarang alergiku. Jadi seberapa banyak yang ia tahu soal aku?


"Hm... " Keenan berdeham, kini ia menatap Aksa. "Lo tahu Asya alergi telur darimana?" kata Keenan tepat sasaran, "Nggak, yang lebih penting, lo tahu Asya, Elle, dan minimarket ini darimana? Sejak kapan?" Aksa langsung terbatuk. Sedangkan aku? I was completely dazed and shocked, karena rasanya kali ini aku nggak bisa lari dan berbohong lagi dari Keenan.


Aksa memukul-mukul kecil dadanya agar batuknya berhenti. Seta yang baru saja datang setelah pergi mengambil beberapa minuman di eltalase belakang memberikan minum padanya, tapi ia menggelengkan kepala, menolak karena batuknya mulai reda juga. "Ah... Itu... "


"Dia beberapa kali datang ke sini untuk belanja" ungkapku, jelas berbohong.


"Haha, iya. Apalagi setelah tahu kalau ia sutradara, gue langsung nyuruh dia datang kesini sering - sering. Kan lo tahu, Asya juga tertarik sama film. Jadi, kita kadang makan bareng, lo kan sibuk di rumah sakit" Elle membantu kebohonganku, Aksa mengangguk-ngganguk setuju akan sandiwara dadakan kami, sedangkan Seta yang sedari tadi berusaha menahan tawa dengan tidak berdosanya malah tertawa terbahak sendiri.


"Ini lucu serius kalian harus tahu, haha" ucapnya, kemudian tertawa lagi, kami kebingungan sendiri melihat tingkahnya. "Maksudnya, kalian daritadi sibuk berbicara sampai nggak sadar kalau ayam kalian gue habisin semua!"


Seketika kami menatap makanan kami yang hanya tersisa tulang - belulang, anehnya, bukannya marah, kami malah tertawa lebar karena kejadian ini.


Hari ini menyenangkan, setidaknya itu yang aku pikirkan. Terimakasih hari senin! mulai hari ini, aku berjanji tidak akan mengataimu menyebalkan lagi!


***

__ADS_1


*Telepromter: alat bantu baca khususnya bagi seseorang yang ingin berbicara di depan umum.


__ADS_2