
Dulu, aku selalu bilang lebay waktu lihat orang pacaran dan doing uwunest things seperti jalan gandengan kayak mau nyebrang jalanan, bersihin sisa makanan di sudut bibir dengan tangan yang padahal sendiripun bisa, suap - suapan di tempat umum padahal udah bukan anak balita, dan semua hal yang menurut orang cheesy tapi dalam sudut pandangku waktu itu, mereka semua cuma bikin aku geli.
Well, sekarang aku tahu apa alasannya. Because i didnt feel what they feelㅡfalling in love with someone.
Tapi kalau boleh jujur, nggak banyak hal yang beda setelah aku dapat title baruㅡpacarnya Aksa Yonaswaraㅡserius, nggak banyak!
Mungkin yang berubah itu intensitas ketemunya kami dari dua atau tiga kali dalam seminggu jadi setiap hariㅡkarena satu tempat kerja juga sih kalau iniㅡeven sekedar untuk ngantarin pulang terus aku bakal bilang, "Lo itu pacar gue apa supir gue sih, Sa?" Then, we laugh together in the car.
Satu hal yang buat aku tercengang setelah akhirnya kami punya hubungan, waktu Aksa bilang kalau dia bukan tipe cowok romantis seperti orang - orang. "You think I accepted you because you're romantic? No! Big NO! Kalau lo cowok sok romantis yang tiap pagi bawain gue kembang atau chat bilang I love you, gue justru nggak akan pernah mau terima lo, Sa!"
It's true. Aku nggak bohong, karena seperti yang aku bilang, itu terlalu alay dan jatuhnya jadi geli sendiri.
Aku terima dia ya karena dia Aksa dengan segala kekakuannya dan keanehannya yang kadang bikin aku gemas sendiri. Dia bukan tipe orang yang selalu mengirimiku spam chat setiap detiknya, tapi dia orang aneh yang tiba - tiba telepon aku saat tengah malam cuma buat tanya hal - hal random seperti semalam misalnya, Aksa tanya aku kenapa empat harus dibilang empat dan lima harus dibilang lima?
"Kan empat hurufnya ada lima: E M P A T, sedangkan lima hurufnya hanya ada empat: L I M A, gimana kalau selama ini mereka kebalik ya, Sya?" Beruntunglah ia bertanya via telepon, coba kalau langsung, mungkin udah aku jitak kepalanya karena pemikiran aneh yang seringnya nggak penting buat dibahas sama kami berdua.
Aksa tuh sudah mewakilkan definisi lucu sekaligus mengesalkan, memang.
Semakin lama aku kenal dia, semakin banyak hal yang aku tahu juga. Seperti perbedaan Aksa dan Pak Yonas yang benar - benar jauh berbeda. The saddest fact, even kita pacaran, kita nggak pernah makan siang bareng di kantor ataupun di lokasi syuting karena dia sibuk sama kerjaannya. Pada akhirnya, Aldi satu - satunya orang yang mau menemani sembari menceritakan banyak hal soal Aksa yang nggak pernah aku tahu seperti sekarang ini misalnya.
"Hari ini yang mau diomongin Bang Aksa atau Pak Yonasnya, Mbak?" kata Aldi, sembari menyuapkan satu suapan besar bakmi pada mulutnya. Menu makan siang kali ini memang bakmi, Bakmi GM lebih tepatnyaㅡitupun aku mau karena Aldi maksa banget kesana, katanya dia lagi ngidam, belum cukup dengan alasan tidak masuk akalnya, ia menambahkan banyak alasan lain yang buat aku akhirnya menyerah untuk mengiyakan kemauannya.
Aku melirik ke kanan - kiri, melihat orang - orang di sekelilingku yang mungkin saja adalah salah satu dari rekan kerja kami. "Kalau mau ngomongin soal Yonas timing sama tempatnya pas juga sih karena kita lagi nggak di kantor, tapi gue mau dengar soal Aksa aja deh kayaknya."
"Nggak mau dengar cerita soal saya aja, Mbak?" Aldi aku toyor. "Bercanda elah, Mbak."
"Nih, ini yang buat lo jomlo melulu, Di. Lo tuh banyak bercandanya, sama yang kemarin juga, siapa namanya? costume supervisor* kita itu... Oh, si Amanda! Lo nggak niat seriusin, malah ninggalin."
Dia tersenyum, kemudian menyandarkan punggung pada kursinya. "Gue belum cukup umur buat seriusin anak orang, Mbak." Aku terkekeh. "Kalaupun mau seriusin orang nih ya, mending gue seriusin lo aja Mbak, gimana?"
__ADS_1
"Kan, ini lo minta gue lempar pakai sambal banget ya?!"
"Haha, ampun Mbak ampun."
"Ini lo jadi ceritain soal Aksa, nggak?"
"Oh iya astaga... sampai nggak sadar gue, Mbak," Aldi melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, kemudian meneguk es jeruknya sampai habis. "Udah jam satu kurang lima belas dong, Mbak! Kita harus balik ke lokasi syuting!"
Aku ikut panik sendiri. Gini nih malasnya makan siang di tempat yang jauh dari lokasi syuting, baru juga makan beberapa suap udah mau habis aja jam istirahatnya. Waktunya udah habis duluan buat perjalanan sama trafic jam.
Dan gara - gara itu, aku harus meninggalkan mangkok baksoku yang masih tersisa banyak. Bisa kupastikan, dua jam dari sekarang aku bakal lapar lagi.
*
"Mbak Asya, nih ada titipan dari orang, katanya buat lo," kata Amanda sembari menyodorkan kotak berisi makanan.
"Dari siapa?"
Oh, sekarang aku paham kenapa Aldi nggak mau seriusin Amanda, walaupun dia cantik dan putih banget kayak anak - anak turunan cina lainnya, ternyata dia lemot banget ya kalau diajak bicara?
"Iyalah orang, masa setan, Man. Maksud gue, orangnya siapa? Namanya gitu."
Amanda terdiam sejenak. "Kurang tau sih kalau itu, Mbak. Gue tadi dititipin sama Pak Yonas, mungkin ada yang nitipin dia juga, tapi nggak tahu deh, coba tanya dia aja."
Seutas senyum simpul terukir jelas pada wajahku setelahnya. Pak Yonas, ya? Itusih emang titipan dia. Lagi mendadak mode Aksa banget nih di tempat kerja? Tumben amat.
"Yaudah kalau gitu, Man. Thanks ya!"
Amanda mengangguk, kemudian melenggang pergi begitu saja tanpa merasa curiga.
__ADS_1
Sebenarnya, aku sama Aksa nggak bermaksud buat back street ala - ala juga sih, cuma mungkin karena kebiasaan Aksa yang nggak mau mencampuri segala urusan pribadi dengan urusan kerjanya buat ia akhirnya melakukan hal - hal kecil kayak gini.
Bukan sekali dua kali juga, aku pernah mendapati sebatang coklat Dairy Milk setelah aku kena marah Aldi karena salah bawa lensa kamera, aku juga pernah tiba - tiba di buatkan segelas kopi saat kami berada di pantry secara tidak sengaja. Selama ini, bukan kami yang sembunyi - sembunyi, hanya mereka saja yang nggak peduli dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri - sendiri.
Sesekali Aldi sengaja menyinggung hint - hint kecil kalau sedang kumpul dengan kru lain saat istirahat atau makan bersama, dia bakal tiba - tiba bilang, "Eh, Sya, kemarin gue kayak lihat lo sama cowok di kafe benar, nggak?" Lalu setelahnya, teman - teman yang lain menyorakiku dengan riang, meminta penjelasan dariku agar memberi tahu soal si pria yang kata Aldi kepergok jalan berdua denganku.
Kalau sudah seperti itu, aku hanya bisa mendengus sebal padanya, berusaha bungkam dan memilih pergi untuk menghindari mereka agar tidak ditanya macam - macam.
"Sialan ya lo emang!" begitu kurang lebih omelan yang kukirim melalu fitur voice note di whatsapp ke Aldi.
Seseorang menepuk pundakku, menyadarkanku dari segala pikiran - pikiran yang mendadak melintas di kepala.
"Eh, Sa?"
"Kamu lihat Aldi nggak?" Aku menggeleng, karena setelah kami kembali dari GI, aku dan Aldi memang nggak barengan lagi. Nggak tahu deh, anak itu kelayapan kemana. "Yaudah kalau gitu, tolong bilangin dia buat cari saya ya nanti. Langitnya mulai agak mendung, saya perlu dia buat diskusi ulang soal lighting* lagi."
Oh urusan kerjaan ya? Aku kira dia memang mau ketemu aku. "Baik, Pak, saya beri tahu Aldi secepatnya."
Aksa mengangguk mengiyakan lalu melangkah pergi, tapi baru saja beberapa langkah ia pergi, Aksa berhenti, membalikkan tubuhnya kemudian menatapku sambil berkata, "Richeesnya udah kamu terima?"
Aku tersenyum senang mendengar pertanyaannya, kemudian menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban iya. "Thanks, Sa."
Aksa ikut tersenyum, memperlihatkan gigi kelincinya yang menggemaskan di sela - sela wajah tampan yang penuh keringat di balik topi berwarna hitam polosnya. "Pulang kerja jangan kemana - kemana, makan malam bareng di rumah saya mau?"
Aku mengangkat tangan kananku, membuat simbol 'oke' dengan menempelkan ujung jempol dan ujung telunjuk. "Sure!"
The duality of Aksa sama Yonas memang beda, tapi jangan lupakan fakta kalau keduanya adalah orang yang sama. All of that is only part of his personality, and I don't mind that, I accept everything about him like he accepts everything about me and that's enough for us.
***
__ADS_1
*Costume Supervisor: bertugas untuk membantu setiap pekerjaan Costume Designer, mengelola costume yang sudah jadi, mengawasi permintaan costume, merekrut orang-orang yang bekerja pada bagian costume hingga menghitung anggaran dan kebutuhan lain yang diperlukan.
*Lighting: adalah seni pengaturan cahaya dengan mempergunakan peralatan pencahayaan agar kamera mampu melihat obyek dengan jelas, dan menciptakan ilusi sehingga penonton mendapatkan kesan adanya jarak, ruang, waktu dan suasana dari suatu kejadian yang dipertunjukkan dalam suatu pementasan.