YOUFORIA

YOUFORIA
Surprise!


__ADS_3

"Tak kenal maka tak sayang,' boleh nggak sih aku benci dengan quote yang satu ini? Sejujurnya bukan salah yang buat quotenya sih, yang salah itu mas mas barusan yang memanfaatkan quote ini untuk suatu hal yang menurutku agak mengganggu privasiku. Apa barusan katanya?


"Iya, mbak ada yang kurang." Setelah itu aku menghentikan aktivitas hitung - menghitung belanjaannya. Belum sempat aku bertanya, dia berbicara lagi seakan bisa melihat isi kepalaku. "Nomor telepon mbaknya belum, hehe."


Damn! Aku hanya bisa mengumpat dalam diam, rasa tidak sopannya ditambah dengan haha - hehe di akhir kalimatnya bikin aku naik darah.


"Tak kenal maka tak sayang, kali aja habis dapat nomor teleponnya nanti jadi sayang - sayangan, Mbak."


Shit, I'm going to fight you! Rasanya mau aku lempar mulutnya pakai botol aqua yang dia beli barusan tapi nggak tegaㅡbukan sih, lebih tepatnya aku nggak mau kena marah tante Ema dan Elle untuk kesekian kalinya hanya karena aku yang tidak bisa menjaga tempramenku sendiri. Sial, hari ini cukup sial memang.


Lalu apa yang aku lakukan? Tersenyum kaku sambil menjawab, "wah sayang sekali ponsel saya rusak, Mas. Dan saya belum ada uang untuk membetulkannya lagi" alasan klasik.


Pria dengan hoodie hitam itupun pergi, dengan rasa kecewa mungkin, ya? Aku bernapas lega, sebelum sadar kalau belanjaannya belum diambil juga dibayar. Sialan! Aku mengelus dada.


Ini, laki-laki seperti ini nih yang harusnya di musnahkan Thanos dari setengah populasi manusia, udah nggak ada gunanya, bikin kesal, cuma nyusahin pula, duh rasanya sekarang aku mau pindah planet aja deh kalau bisa.


"Asya!"


Pandanganku beralih pada sosok wanita berambut panjang, berbaju putih polos yang agak kumal, kuntilanakㅡbukan, aku bercanda. Itu Elle, sahabatku.


Rasanya agak memalukan juga untuk mengakui fakta kalau gadis jangkung yang dekil dan kumal itu sahabatku, sahabat rasa saudara lebih tepatnya.


Elle membawa masuk kursi dari depan minimarket ke dalam, tepat dimana AC menghembuskan napas penuh kenikmatannya. Ia merubuhkan tubuhnya, matanya terpejam sesaat. Iya, cuma sesaat, sebelum ia mulai berbicara lagi, "Mbak es teh nya satu, gulanya sedikit aja, mama saya diabet, saya sebagai keturunannya ada resiko 50% kena penyakit yang sama," jelasnya panjang lebar.


"Bodo amat sih, Le," kataku sambil pergi ke etalase, mengembalikan belanjaan yang dibawa si pria yang baru saja pergi barusan.


"Jahat banget lo, nggak tau gue habis dijadiin kacung sama mama?!" Elle bernapas sebentar, kemudian mengeluh lagi, "masa anak gadisnya yang mirip Lisa Blackpink ini disuruh angkat - angkat barang di gudang coba, Sya?!"

__ADS_1


Merasa kasihan, aku mengambil sebotol air putih dingin, lalu membuka tutupnya. "Es teh manisnya nggak ada, Mbak. Ini aja,ya?" kataku, mengikuti adegan cerita buatannya dengan menjadi mbak mbak penjual minuman, kemudian aku memberikan botolnya pada Elle. Dengan rakus, ia segera menenggak air putihnya. "Lo yang bayar, ya. Gue cuma ngambilin aja" jelasku, dan joroknya Elle mendadak menghentikan sesi minumnya sampai tersedak dan airnya tercecer kemana - mana. "Ya Tuhan, Gracielle?!"


"Sialan lo, Sya! Nggak lucu gue ngutang di toko sendiri," rutuknya, kemudian tertawa. Nah gini, kalau nggak aneh ya namanya bukan Elle, abis misuh - misuh tiba-tiba ketawa kaya nggak ada dosa.


"ALRISA GRACIELLE?!!!"


Aku dan Elle mendadak membatu melihat kehadiran Tante Ema yang wajahnya sudah tidak enak dipandang.


"Nanti Elle pel kok, Ma" Elle segera angkat bicara sebelum dapat ceramah pagi.


"Pel pakai tangan, bukan pakai mulut!" Tante Ema ngomel lagi, sekarang pandangannya beralih ke aku, aku deg - degan juga jadinya. "Asya, tante tinggal seminggu bisa kan ya? Kalau Elle buat masalah marahin aja, tante titip toko ke kamu, kalau ke Elle tante takut tiba-tiba toko tinggal nama aja."


"Ya ampun, gini, ya nasib jadi anak tiri" celoteh Elle yang berhasil membuat tante Ema menjitak kepalanya.


"Astaga, ini sebenarnya anak mama itu Asya apa aku sih, Ma?" katanya, aku tertawa melihatnya. Drama seperti ini memang sudah jadi tontonanku setiap Elle membuat masalah.


"Yaudah ya, tante pergi dulu. Nitip toko, nitip Elle juga, ya" katanya sambil melangkah pergi.


Setelahnya kami segera berhambur pada tugas masing-masing. Elle mengepel lantai, aku merapikan beberapa etalase yang berantakan.


Aktivitas kami terhenti sesaat setelah menyadari ada sebuah mobil mewah yang baru saja terparkir di depan. Tak lama, seorang pria dengan tuxedo hitamnya turun dan berlari memasuki minimarket dengan terburu-buru, sedangkan pria dengan setelan rapi satunya menunggu di mobil, bahkan tanpa menurunkan kaca jendelanya sedikitpun, seakan tak peduli apa yang akan dilakukan pria lainnya.


Aku sendiri segera bersiap ke kasir, Elle pergi ke dekat pintu.


"Biar gue yang nyapa ya, Sya!" kata Elle excited, kemudian ia membenarkan poninya sambil berkaca pada layar ponselnya. Dia memang seperti itu kalau melihat pria tampan.


Tidak jauh beda dengan pendapat Elle. Menurutku, keduanya memang ganteng. Yang buru-buru turun dari mobil terlihat lebih manly, sedangkan yang satunya terlihat lebih pendiam. Supirnya mungkin, ya? pikirku, karena melihat posisi duduk mereka saat di mobil barusanㅡsatu di depan dan satunya duduk di belakang.

__ADS_1


"Selamat datang di ...."


"Menikahlah dengan saya!" kata si pria tiba - tiba.


Woah, it's surprising me seriously.


"Hima Arasya, menikahlah dengan saya" lagi, dia mengulangi pertanyaan yang sama. Yang berbeda, kali ini dia menambahkan nama Hima Arasya di awal pertanyaannya.


Sebentar, Hima Arasya?! Dia memanggilku? Maksudnya, yang diajak nikah itu aku? Bukan Elle?!


"Asya?" panggilan Elle menyadarkanku dari segala pertanyaan yang ada di kepala. "Lo kenal dia?" tanyanya memastikan.


Aku menggeleng. "Nggak!" jawabku mantap. karena kenyataanya memang begitu, aku tidak mengenalnya. Tahu namanya siapa saja tidak.


Refleks Aku dan Elle saling menatap, situasi menjadi canggung dan sekarang kami berdua sama-sama bingung.


"Lemme call 911" bisik Asya yang kemudian meraih ponsel dari saku celananya.


"112, mbak, kode darurat polisi di Indonesia. Kalau 911 itu kode darurat Amerika" ungkap seorang pria lainnya yang entah sejak kapan sudah berada di dalam minimarket. "Saya mau antar dia kesini untuk tujuan lain, maaf sebelumnya, anggap saja kalian tidak bertemu dengan kami hari ini" tambahnya sambil menyeret pria yang satunya. Sekalipun kadang ia memberontak dan ingin kembali ke dalam minimarket, akhirnya dia bisa masuk mobil dan pergi juga.


Aneh, kenapa orang bisa berbuat semaunya tanpa peduli konsekuensinya? Apa yang dia bilang barusan? Menyuruh kami bersikap seakan semuanya nggak ada? Bagaimana bisa semudah itu? Pria asing itu melamarku dan yang lebih mengerikan lagi, dia tahu namaku, nama lengkapku!


Lengkap sudah kesialanmu hari ini, Sya.


Benar, kan? harusnya aku pindah planet aja. bumi udah nggak aman karena ditempati orang - orang aneh seperti yang aku temui hari ini.


***

__ADS_1


__ADS_2