YOUFORIA

YOUFORIA
Aksa?


__ADS_3

Kecintaanku pada film memang sudah terlalu dalam, dan bukan berarti aku nggak pernah ambil quote lucu dari setiap film yang aku tonton. Masalahnya quote yang satu itu berhasil buat aku rasanya mau muntah.


Masih soal quote yang kemarin, dan aku masih nggak habis pikir. I mean, does knowing someone mean to loving? for the example I know the president because he is my neighbor, does that mean I loving him too? The answer is, no! big NO!


Sialnya, hanya karena quote itu aku sampai benci sama filmnya. Aku tahu harusnya aku nggak gini. Dibalik film yang aku benci banyak orang - orang yang kerja banting tulang, bergadang, bahkan sampai jumpalitanㅡnggak gini juga sih tapi ya who knows?ㅡdan aku yang tahu sedikit soal dunia perfilman harusnya nggak seperti ini.


But shit! We can't control our feeling to hate someone, right? It's like, just because.


Mungkin ini yang terjadi padaku setelah kejadian aneh kemarin. Iya, masih kemarin, rasanya semua masih fresh di kepala, karena pria asing yang minta nomerku dan lebih parahnya karena pria lainnya yang mendadak melamarku di tempat kerja.


Bukan, aku bukan menolak karena ia adalah pria jelek, dekil, kumal, kusut, pengangguran, atau hal lainnya yang bisa buat aku ilfeel, aku juga nggak sejahat itu untuk menolak seseorang hanya karena visualnya saja. Tapi aku juga nggak menutup mata kalau visual dia justru jauh dari hal yang bisa buat aku ilfeel.


Dia, si pria sakit jiwa itu sayangnya ganteng, sayangnya badannya bagus, sayangnya suaranya merdu, sayangnya aroma tubuhnya wangi, kaya raya lagi! Iyalah kaya orang dia ke minimarket aja pakai tuxedo dan jam tangan mewah merk ternama yang mungkin harganya cukup buat biaya hidupku selama dua bahkan sampai lima tahun lamanya.


Masalahnya dia adalah pria asing, asing! Coba ubah font nya jadi italic terus bold, habis itu kasih garis bawah sekalian biar bisa langsung kebaca.


Parahnya, aku masih nggak tahu darimana dia bisa tahu namaku, nama lengkapku! I think that's so weird, no? Apakah kalian juga berpikir seperti itu?


Kebayang kalau ternyata dia seorang penguntit yang memberanikan diri untuk menemui dan melamarku, lalu setelah aku tolak dia buat rencana untuk mengambil nyawaku. 'Kau adalah milikku,' begitu yang dia bilang sebelum akhirnya menancapkan pisau yang tajam tepat di ulu hatiku, lalu yang kuingat terakhir kalinya hanyalah suara tawa pria itu, kemudian pandanganku mengabur, semua jadi hitam dan akuㅡloh kok jadi bunuh - bunuhan gini?


Nggak lucu banget, yang udah belajar dan kerja sampai lupa makan siang, kerja keras dari pagi sampai petang, dan jatuh bangun berulang - ulang ini akhirnya mati karena dibunuh orang? Dan pas ditanya sama pengadilan nanti dia jawab alasannya karena sayang? Heck no! Ngerasain bahagia aja belum udah ngebayangin mati aja, dibunuh pula cara matinya. Bisa banget mendramatisasinya.


Padahal kemarin Elle sudah hampir menelepon 112ㅡBukan, 911 yang mau dihubungi Elle. Ini sih bagian paling memalukkan, masa ia dia mau minta bantuan pakai kode darurat Amerika coba, duh gusti.


Malu asli, aku yang malu sampai di tegur masnya yang ganteng dan rada waras itu. Masa kode darurat negara sendiri nggak tahu?


But ya life must go on, begitu juga soal rasa malu, benci dan kesalnya aku karena kejadian kemarin yang lebih baik kita lupakan.


Jadi, pagi ini cuaca lagi bersahabat, langit juga nggak panas, cerah berawan. nggak tahu deh kenapa tumben banget teduh dan nggak terlalu panas seperti hari - hari kemarin. semoga aja ini awal yang baik, nggak lucu kan kalau hidupku sial mulu.

__ADS_1


Baru aja aku berharap soal hal baik eh sudah menemukan sesuatu yang berhasil mematahkan secuil harapanku sendiri.


"Arasya?" panggilnya, aku merinding seketika.


Itu dia, pria sakit jiwa yang kemarin. Sejujurnya dari jauh aku kira dia pelanggan biasa yang menunggu minimarket buka karena butuh sesuatu, tapi dilihat dari dekat ternyata bukan.


Wajar kalau aku sempat salah mengira, kali ini apa yang ia pakai berbanding terbalik dengan kemarin. Hari ini ia memakai jaket hitam dan celana jeans, lalu dia memakai topi hitam, juga earphone tanpa kabel yang tertancap di kedua kupingnya sebelum akhirnya dia memanggilku dan mencabutnya satu.


Beda banget kan? Kemana tuxedo mahal buatan designer dan jam tangan mewah merk ternamanya? Nggak ada, yang sama cuma satu, gantengnya yang bahkan menurut aku bertambah berkali - kali lipat karena pakaian yang ia pakai sekarang terlihat lebih lokal, lebih nyata, bukan seperti CEO ala - ala cerita novel yang kadang kubaca.


"Masih ingat saya?" tanyanya menyadarkanku.


Oh, tentu saja ingat. Orang gila yang tahu namaku dan melamarku dengan tiba - tiba kemarin itu, kan?


"Saya mau minta maaf, mungkin yang kemarin itu terlalu tiba - tiba, tapi saya memang sudah mengenal kamu lama"


Hah? kenal lama?


"Gini, sebagai permintaan maaf saya, saya mau bantuin kamu, apapun itu, gimana?"


"Nggak! lo pergi aja deh, hidup gue udah suram jangan nambah - nambahin" kataku sambil melengos pergi.


Bukannya pergi dia malah mengekori. Aku bisa apa selain diam? Yah mungkin nanti dia pergi sendiri kalau capek, begitu pikirku, tapi ternyata dugaanku sepenuhnya salah.


Pria itu benar - benar membantuku, dari membantu membukakan rolling door toko, mengelap kaca, menyapu, mengepel, menata barang, bahkan sekarang dia tengah menurunkan kardus - kardus berisi barang baru yang ia angkut dari gudang.


Aku bagaimana? Masih diam, memperhatikan, sekalipun otak tak berhenti memikirkannyaㅡmaksudku, apakah dia benar membantuku untuk meminta maaf? Ia tulus? Atau itu hanya kedok untuk mengorek banyak informasi dan kemudian membunuhku?ㅡ yang ini aku kira terlalu ekstrim sih.


Pusing dengan pertanyaan sendiri, entah bagaimana awalnya aku jadi memperhatikannya dengan seksama tanpa rasa curiga, dan kalau dilihat - lihat lebih dekat kurasa wajahnya agak familiar. Kedua matanya yang bulat bagai kelinci, wajah yang tirus juga rahangnya yang kuat ditambah dengan senyumnya yang manis juga buat akuㅡeh senyum? Dia baru saja senyum ke aku?! Wah berani sekali orang gila yang satu ini.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya kerjain lagi?"


Aku geleng-geleng sambil menepuk kedua pipiku. Nggak boleh gini, Sya! Nggak boleh!


"Nggak ada. Udah, makasih, lo pulang aja sana."


Dia meraih dua botol aqua dan menyerahkannya padaku. Aku mengernyit.


"Kamu nggak mau hitung ini?" tanyanya.


Aku segera meraih dan menghitungnya. "Tujuh ribu rupiah."


Ia mengeluarkan dompet kulit merk ternama dari kantong celananya. Oh, setidaknya dompet itu memberi kepastian kalau sang pemiliknya memang orang kaya yang sedang merakyat hari ini.


Seperti pembeli pada umumnya, setelah membayar belanjaannya, ia membawa minumannya. Lalu melangkah pergi meninggalkan minimarket, sebelum aku sadar kalau ia meninggalkan satu botol minumannya di meja kasir.


"Mau kemana?"


"Bukannya kamu baru saja mengusir saya?"


"Ehh?"


"Bercanda, saya pergi karena ada urusan" katanya sambil melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar minimarket.


"Hey, botolnya ..."


Dia berbalik, kemudian berbicara, "untukmu, saya tidak mungkin meracuninya karena itu barang di sini, jadi minumlah. Anggap sebagai rasa terimakasih saya karena mau menerima bantuan saya," jawabnya sambil tersenyum, lagi - lagi senyumnya berhasil bikin jantungku mau copot.


Tapi terimakasih? Terimakasih karena mau menerima bantuan darinya? Ya Tuhan, aku yakin sekarang kalau dia memang orang gila.

__ADS_1


"Kalau kamu khawatir," dia senyum lagi, hobi banget senyum sepertinya manusia ini. "Aksa Yonaswara! Itu nama saya, mulai hari ini kita akan lebih sering bertemu. Sampai jumpa besok!"


***


__ADS_2