YOUFORIA

YOUFORIA
Oasis


__ADS_3

Hold on... hold on...


Don't be scared


You'll never change what's been and gone


Belum galau namanya kalau belum dengar lagu Oasis yang ini. Stop crying in your heart, baca judulnya aja udah buat aku sedih sendiri, apalagi dengar lagunya, rasanya hati kaya di obrak - abrik tanpa henti.


Dangdut banget sih, but ya welcome to Arasya's life, yang bisa tiba - tiba nangis sendiri hanya karena dengar lagu emo macam gini.


Lagunya Oasis ini emang nggak pernah gagal buat dipahami. Kebanyakan lagu yang dibuat mereka sangat relateable dengan kehidupan. Sebagian bahkan terasa seperti mewakilkan perasaan.


Oke, kembali ke lirik lagu diatas, You'll never change what's been and gone. Lirik ini selalu berhasil bikin aku merenung. Karena berapa kalipun aku minta kembali ke waktu dimana semua baik - baik aja, kenyataan selalu tahu kapan harus menamparku sampai aku sadar kalau semuanya sudah terlanjur terjadi dan nggak bisa kembali.


"Arasyㅡeh... kamu kenapa? ada yang sakit? perlu saya antar ke rumah sakit?"


Aku menggeleng, jelas menolak tawarannya mentah - mentah.


"Benar nggak apa - apa? Saya kebetulan lewat dan lihat kamu sendirian, ada mobil kok, saya antar, ya?"


"Alhamdulillah gue sehat wal'afiat, udah lo pergi aja, anggap nggak lihat gue bisa nggak?" jawabku ketus karena merasa terganggu akan manusia yang tidak diharapkan kehadirannya, siapa namanya? Aksa, iya dia lagi.


"Nggak bisa, saya udah lihat kamu nangis."


What the fㅡ


"Korelasinya nangis sama pergi apasih?"


"Nggak ada"


Good.


"Nah, yaudah lo pergi sana"


"Nggak bisa."


Damn!


"Tinggal pergi aja susah banget astaga." Sayangnya, usiranku belum cukup buat dia pergi. "Kalau lo nggak mau pergi, gue yang pergi" ancamku, muak sendiri. Kutunggu tiga detik tapi dia masih enggan untuk pergi. Tekatku bulat, untuk pergi sendiri entah kemana lagu ini mau menemani.


Malam ini langit cerah, banyak bintang di langit dan angin menghembus dengan tenang, sejuk, tenang, dan terang, cukup untuk membuatku yang sesang kacau ini merasa sedikit tenang. Langkah kaki membawaku kemanapun hati dan pikiranku ingin pergi, melewati beberapa blok, menyeberangi beberapa jalan sambil sesekali menatap langit. Aku tidak peduli apapun, sekalipun ada yang menabrakku saat aku berjalan aku tidak peduli, sungguh. Yang aku pedulikan amarahku yang kuharap bisa segera mereda.


Sialnya, pikiran memaksa aku untuk mengingat semua perjuanganku. Dari cuti kuliah, belajar sambil kerja sampai tak punya waktu barang untuk bernapas lega sedetik saja. Dan setelah tes di depan mata, hasilnya ternyata sia - sia.

__ADS_1


Haha, ini lucu! Hidupku mungkin terlihat seperti komedi yang perlu ditertawakan, dan aku tentu saja dengan senang hati menertawakan diriku sendiri yang selalu kalah dari setiap keadaan. Seharusnya aku memang hanya perlu untuk hidup tanpa mencoba mengharap. Sekalipun harapan kecil kalau tak terkabulkan tetap saja menyesakkan, terlebih melihat usaha yang kulakukan ternyata hanya pantas dijadikan bahan tertawaan.


Itu lucu! Aku terduduk di kursi taman yang agak ramai sambil menertawakan diriku sendiri. Beberapa diantara mereka mungkin menatapku sinis dan mengira aku gila, maybe that's true. Rasa sesak, kecewa, sedih, marah and whatever I feel benar - benar membuatku gila.


I froze instantly when someone patted me on the head. Aku refleks menoleh dan menemukan Aksa yang terduduk agak jauh dariku, di kursi yang sama, hanya jarak yang tak terlalu dekat juga. Dia masih menepuk ujung kepalaku dan entah kenapa perasaan aneh lainnya mendadak muncul dan membuat bendungan air mataku hancur runtuh begitu saja. Aku yang tadinya menertawakan diriku, sekarang berubah jadi menangisi diri sendiri.


Aksa mendekatiku, duduk tepat disampingku, merangkul dan menenangkanku sambil membelai rambutku. Anehnya, aku tidak menolak, aku tidak menolak semua yang ia lakukan padaku. Aku tak paham perasaan apa yang merasukiku, yang kumau saat itu hanya menangisi semua kesedihanku.


"You did well, Sya" katanya dengan nada yang lembut, tangisku semakin menjadi. "Sejujurnya, saya nggak tahu kamu nangis karena apa. Tapi setidaknya saya mau kamu tahu kalau kamu nggak sendiri."


Sial, lagi-lagi ucapannya berhasil membuat pertahanannku roboh. Bahkan air mataku rasanya masih akan terus mengalir deras tanpa mau berhenti sebelum kering sendiri. Aku tak tahu sudah menangis berapa lama, dan bahkan aku baru sadar kalau aku sedang menangis di depanㅡtepatnya di pelukan seseorang.


"It's been 60 minute, Sya. Saya biarin kamu nangis dengan maksud biar kamu lebih lega. Tapi nggak selama ini juga."


Rasanya Aksa kehabisan cara untuk membujukku. Satu jam bukan waktu yang sebentar, aku tahu mungkin dia sedikit pegal dan butuh peregangan, tapi setidaknya untuk hari ini aku mau egois dengan meratapi kesialanku selama ini.


"Stop crying or I'll kiss you, huh?"


Aku langsung terdiam, melepas rangkulannya, lalu duduk menjauh tepat ke sisi paling ujung sambil menatapnya sebal.


"Harus ya lo bilang gitu disaat lagi begini?"


Sialnya, Aksa malah ketawa. Gigi kelinci dan mata bulatnya terlihat sempurna saat ia tertawa. Tapi, tetap saja aku terlanjur kesal karena ucapan asalnya.


"Oke, oke maaf" katanya, kemudian suasana diantara kami sepi kembali.


"Kenapa lo ikutin gue sampai kesini sekalipun udah gue usir?"


Aksa yang sedari tadi sibuk memandangi langit hitam kini menoleh ke arahku, kemudian menarik ujung bibirnya sedikit. "Menurutmu kenapa?"


Loh, ditanya kok malah balik nanya.


"Terus, kenapa lo diem aja?"


"Kamu maunya saya gimana?"


Astaga, ini manusia kenapa nggak ada normal normalnya sih? Aku gedek sendiri. "Can you just answer when I ask you?" kataku dengan nada yang agak tinggi karena kelewat kesal tentunya.


"Oke" Aksa memiringkan badannya ke arahku dalam keadaan duduk, kaki kirinya ia lipat seperti posisi saat akan duduk sila dengan sepatu sport yang masih menempel di kakinya, tubuh bagian sisi kirinya ia sandarkan pada sandaran kursi, kepalanya ia miringkan empat puluh lima derajat sambil memandangiku. Lebih tepatnya, perhatiannya benar - benar tertuju hanya padaku sekarang. "Kalau kamu mau cerita saya dengarkan, tapi kalau saya bertanya itu namanya nggak sopan, itu etika dasar."


Benar juga sih.


"Kalau saya tanya alasan yang bisa bikin kamu sesedih ini, saya takut kamu malah sedih karena ingat lagi. Jadi, saya nggak mau tanya, saya cuma mau menghibur kamu sekalipun saya nggak tahu caranya gimana, tapi setidaknya kamu berhenti nangis, kan?"

__ADS_1


Lalu entah bagaimana akhirnya aku mulai menceritakan hal yang membuatku sefrustasi ini. Setelah di ceritakan rasanya ternyata masalahku tidak serumit atau seberat itu. Tapi tetap saja mengingat seberapa besar usaha dan pengorbanan waktu, tenaga, juga uang yang ku kerahkan demi jadi PNS agar setidaknya bisa hidup tenang dan bahagia yang ternyata hasilnya malah tak ada cukup bikin aku putus asa.


"Sukses sama bahagia itu beda, kamu tahu?"


"Maksudnya gimana ya Pak?"


Aksa malah tertawa mendengar tanggapanku, atau mungkin karena panggilan aneh dariku? "Gini... " wajahnya berubah jadi serius lagi. "Sukses itu bisa kita dapat saat kita mencapai sesuatu, sedangkan bahagia bisa kita dapat dari manapun tanpa harus menunggu sampai si sukses datang."


Aku mengernyit, tak paham. Aku nggak tahu dia yang bicaranya berat, aku yang bodoh, atau prinsip kami yang berbeda, tapi intinya tetap sama, aku nggak paham sama sekali.


Aksa mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, kemudian menyodorkannya padaku, membuatku bingung. "Ingusnya bersihin dulu, nanti saya lanjutin"


Astaga! Kenapa terang-terangan banget sih?! Kan malu.


"Sekarang coba kamu bilang ke saya, arti sukses sama bahagia versi kamu"


"Sukses, contohnya lo sendiri tuh udah hidup sukses, jadi sutradara kelas dunia yang banyak prestasi juga penghasilan, bahagianya... Pasti lo bahagia sama semua pencapaian lo selama ini kan?"


"Versi kamu, bukan tentang saya menurut kamu"


Bisa banget jawabnya. Aku tambah malu aja karena kelihatan bodohnya. "Ya... Sukses menurut gue pokoknya harus dapat gaji cukup dan jadi karyawan tetap. So, setidaknya gue harus jadi PNS! Nah kalau udah dapat itu semua, otomatis gue bakal bahagia dong."


Aksa menghembuskan napasnya sejenak sebelum berbicara, "bahagia itu bisa hal sederhana, sesederhana melihat bintang di langit seperti sekarang, atau sesederhana saya yang akhirnya bisa ngobrol santai sama kamu sekarang itu juga bahagia namanya."


Aku terdiam, otak kecilku sedikit demi sedikit berusaha menangkap kata - katanya. Seolah yang ia ucapkan adalah istilah - istilah sulit yang harus kucari tahu artinya dari ensiklopedia. Yang begini ya namanya ngobrol santai?


"Intinya, kamu bisa bahagia tanpa harus nunggu si sukses datang, Sya. Kalau sukses sama bahagia kamu jadiin satu, kamu pikir para pelancong yang ternyata seorang tuna wisma itu kenapa harus repot - repot menyisihkan uang untuk travelling kesana - sini daripada membeli rumah atau membeli pakaian formal untuk kerja di kantoran?"


Iya juga sih.


"Lagipula, takaran sukses orang tuh beda. Kalau saya sudah menganggap diri saya sukses, saya nggak akan lanjut kerja. Buat apa? Kan udah sukses" katanya sambil tertawa, aku ikut tertawa juga akhirnya.


Aneh, aku tertawa begitu mudahnya setelah menangis satu jam lamanya. Seakan semua yang keluar dari mulut Aksa adalah mantra penolak kesedihan, sekarang yang tertinggal hanya rasa penasaran akan rencana dan tujuanku kedepannya. Nggak mungkin juga kan aku kerja seumur hidup di minimarket? "Gue nggak tahu lagi kedepannya mau gimana" keluhku sambil menatap kedua mata bulatnya.


"Kamu kan sempat kuliah jurusan perfilman, kenapa nggak coba kerja di bidang itu aja?"


"Gue belum lulus... Cuma cuti kuliah, dan tadinya nggak akan gue lanjut lagi karena bakal jadi PNS."


"Maybe God has a better plan for you, kenapa nggak coba balik ke dunia perfilman aja?"


"Maunya gitu, tapi duitnya gamau" Aksa malah tertawa mendengar jawabanku. Padahal aku tidak bermaksud melucu. Itu nyata, aku memutuskan cuti memang karena nggak ada biayanya. "Gue nggak bercanda."


Aksa langsung diam sambil mengucap kata maaf yang entah keberapa kalinya. Sekalipun dia kaku dan sering sekali merusak suasana, tapi dia hangat. Bahkan dinginnya angin malam ternyata nggak bisa menembus kehangatan manusia yang satu ini. Kalau diumpakan mungkin Aksa ini kaya oasis kali ya? Keberadaannya bisa menghangatkan sekaligus jadi sumber ketenangan.

__ADS_1


Setelah kata maafnya, suasana diantara kami sepi kembali. Aku dan aksa sama - sama sibuk menghitungi jumlah bintang di langit yang cerah ini. Tak ada sedikitpun mendung terlihat, yang ada hanya taburan bintang yang mungkin sengaja Tuhan perlihatkan agar aku tak sedih sendirian.


***


__ADS_2