YOUFORIA

YOUFORIA
Come True


__ADS_3

Plak! Aku menampar Amanda setelah tahu kalau semua rumor buruk tentangku berasal dari dia hanya dengan alasan cemburu karena kedekatanku dengan Aldi.


"Shut the fucked up, Man! Gue selama ini nggak pernah ya cari - cari masalah sama lo, jangan libatin gue di antara perasaan lo yang nggak di balas sama Aldi! Sumpah, jijik gue sama cara lo yang ngajak orang - orang buat ikut benci gue dengan semua rumor buatan lo!"


Mata Amanda memerah, tanpa menjawab ucapanku yang kelewat marah, yang ia lakukan justru berniat menamparku balik yang untungnya segera di halang Aksa.


"Kamu nggak usah repot - repot cari cara buat bikin Aldi nggak suka sama Asya. Dia pacar saya, bukan pacar Aldi."


What the heck?! Ini... Ini beneran Aksa ngaku di depan semua orang yang sibuk nontonin kita semua?


"Kan... Benar gue bilang, bukan Aldi. Tapi Pak Yonas."


"Serius Asya pacarnya Pak Yonas?! Duh gawat, nggak mau deh gue macam - macam sama dia kalau gitu."


"Benar juga, hidup gue udah susah buat nurutin kemauan Mas Hanung sama Pak Yonas, jangan ditambah susah cuma karena gangguin pacarnya."


"Gue juga udahan deh, nggak mau ikut campur."


Begitu kira - kira ucapan yang kudengar dari orang - orang sekitar.


Makan Amanda! Kamu udah nggak ada pasukan lagi buat nyerang aku dan Aksa.


Bukan hanya matanya, sekarang seluruh wajahnya memerah. Bisa kupastikan itu bukan lagi hanya karena marah, tapi karena malu. Apalagi yang bicara di depannya sekarang ini Aksa, bukan aku.


Amanda melepaskan tangannya, menatapku sinis kemudian pergi begitu saja.


"Man, lo tahu? Dengan lo begini... Lo ngebuktiin kalau Aldi deserves someone better, of course... besides you!"


"Talk with my a*s, dude!" balasnya tanpa mau berhenti ataupun menoleh, yang dia lakukan justru mengangkat tangan kanannya yang mengepal, lalu mengangkat jari tengahnya.


"Then, go away b*tch!"


"Arasya?" Suara panggilan Aksa membuatku sadar, aku kembali ditarik ke dunia nyata dengan mata yang perlahan terbuka.


Oh, shit! Aku ketiduran lagi.


"Lo kenapa nggak bangunin gue sih?!" kataku, sembari buru - buru merapikan tasku yang lebih sial lagi isinya malah keluar semua.


Aku meraih ponsel di dasbor mobil, menyalakan senter lalu mengambil barang - barangku untuk kumasukkan kembali ke tempat asalnyaㅡtasku, tentu saja.


"Saya suka lihat kamu lagi tidur, kayak bayi, gemas."


Astaga, ini apalagi? Bangun dari mimpi buruk aku langsung diajak ke mimpi indah apa gimana?


Aksa memajukan kursi mobilnya yang tadi ia mundurkan dan turunkan sandarannya karena ia pakai berbaring. "Saya nggak keberatan buat tidur sama kamu padahal."


Aku melotot kaget. Astagfirullah mulutnya Aksa minta di ruqiah banget kayaknya.


Aksa yang kaget dengan reaksiku langsung menyadari kalau yang ia ucapkan adalah sesuatu yang salah. "Eh, maksudnya... Maksud saya, saya nggak keberatan nunggu kamu bangun dengan tidur disini gitu."


Aku bernapas lega mendengar penjelasannya.


Aku tahu bagaimana kakunya Aksa dan hebatnya ia dalam membuat situasi yang canggung, tapi aku baru tahu kalau dia juga ahlinya dalam membuat kalimat ambigu.


"Forget it! Btw, Sa."


"Ya?" Aksa memutar badannya ke arahku, menaikkan kedua kakinya lalu berduduk sila.


Aku terkekeh. "Ini gue cuma mau ngomong sebentar, kenapa lo malah berbenah seakan gue bakal ngomong semalaman?"


Aksa tersenyum lebar, memperlihatkan gigi kelincinya yang menggemaskan. "Saya nggak masalah sih dengar kamu bicara semalaman juga."


Aku merotasikan bola mata malas. Kan benar, Aksa tuh sudah sangat mendefinisikan kata menggemaskan sekaligus mengesalkan.


"Udah dengarin dulu!" kataku, Aksa mengangguk mengiyakan. "Masa gue mimpi habis nampar Manda, Sa?"


Aksa mengangkat salah satu alisnya. "Kamu? Nampar Manda? Atas dasar apa?"


"Di Mimpi gue, Manda yang nyebarin rumor yang nggak - nggak soal gue, Sa. Terus satu siang dia datangin gue cuma buat ngatain gue dong. Sumpah, di mimpi itu gue benar - benar murka sampai rasanya mau kutuk dia jadi batu aja deh asli."


Aksa terkekeh. "Kamu pikir kamu ibunya malin kundang?" katanya, di sela - sela tawanya.


"Ish... " Aku mendesis, menatap Aksa sebal.


"Namanya juga mimpi, Sya. Kalau nggak jelas ya wajar. Nggak ada mimpi yang bisa jadi nyaㅡ" Aksa tiba - tiba terdiam tanpa melanjutkan kalimatnya.


Melihat Aksa yang mendadak seperti itu, aku jadi bingung sendiri. Ini Aksa kenapa sih?


"Sa!" panggilku.


Aksa mengerjap, kemudian menatapku. "Sampai mana tadi?"


"Ih lo mah... tahu deh ah... gue pulang ya?"


Aksa tersenyum lagi. Bedanya, kali ini senyumnya terlihat agak dipaksakan.


"Btw, hati - hati."


Aksa menganggukkan kepalanya. "Nanti saya kabarin kalau sudah sampai, ya?"


"Gue tunggu," sahutku yang kemudian keluar dari mobil dan menutup pintu.


"Love you, Sya!"


"See you!"


"Nggak di balas love you dari sayanya?"

__ADS_1


"See you juga pengganti kata love you tahu. That means I love you more, so i cant wait to see you tomorrow!"


Aksa terkekeh mendengar penjelasannku.


Tapi aku serius, kita punya banyak cara untuk menyatakan rasa. Dan bagiku, ucapan see you dariku sudah mewakilkan semua itu.


"Goodnight!" kata aksa terakhir kali, sebelum kemudian melajukan mobil hitam miliknya sampai hilang dari pandangan.


*


"Pulang juga lo,Sya. Gue kira bakal nginep di mobil semaleman."


"Ya kalik." Aku mendelik. Baru juga pulang udah ngajak berantem.


"Lo nggak habis make out section di mobil kan?"


"Astagfirullah Elle, mulut anda kok kurang ajar sekali," sarkasmku sehalus mungkin, tanpa mengurangi rasa kesalku pada mulut lancang Alrisa Gracielle yang sayangnya sahabatku, coba kalau bukan... sudah kulempar sandal itu mulutnya. "Lo pikir gue apaan make make out seaction di mobil... kayak ngga ada hotel aja."


Tawa Elle pecah seketika. "Bener - bener ya lo, Sya!"


"Lagian bercanda lo tuh another level banget dah ah..."


"Ya ... siapa tahu kan? Apalagi lo di dalam mobil hampir dua jam. Nggak usah berkilah, karena gue bahkan lihat dari mobilnya Aksa datang sampai parkir di depan gedung."


"Lo ngapain juga lihatin kita selama dua jam deh, Le?" Aku terkekeh sendiri, sembari merubuhkan tubuhku pada sofa dengan tas yang sebelumnya kulempar dengan sembarang.


"Gabut aja gue tadi, terus tiba - tiba ada telepon dari Mama yang entah sejak kapan udah ada di Pangalengan, makanya gue ke balkon buat teleponan eh terus lihat mobil si Aksa datang."


Aku mengangguk paham. "Percaya nggak percaya, gue tadi ketiduran. Tapi si Aksa nggak bangunin, kurang ajar emang dia" Aku menjelaskan. "Btw, Tante Ema ngapain sampai Pengalengan segala?"


Kedua bahu Elle terangkat setengahnya. "Nggak tahu gue juga, mana gue disuruh nyusul kesana coba astaga... ya jelas kalau akhirnya kita jadi debat selama dua jam lamanya hanya karena Pengalengan dan kebun teh doang."


Aku menggelengkan kepala sambil mendecih. Memang ya, kelakuan anak nggak jauh sama orang tuanya. Contohlah Tante Ema dan Elle yang sama - sama tidak jelas soal visi misi dan jalan hidupnya.


Suara ponselku berbunyi, aku segera meraih tasku, mengacak semua isinya sampai kemudian menemukan ponselku.


Panggilan dari Aksa ternyata.


Aku mengulum bibir, kemudian menyunggingkan senyum dengan menarik salah satu ujung bibir.


"Halo?" kataku sembari bangkit dari sofa menuju kamar dengan tas di tangan, berdadah ria pada Elle sebelum kemudian berlalu pergi.


"Saya udah sampai," katanya.


"Iya, Sa. Lo mau langsung tidur atau---"


"Soal Manda... " Aku mengerutkan dahi, kenapa tiba - tiba jadi Amanda, ya? "Kalau benar dia yang nyebarin rumor itu, kamu bakal gimana?"


Jangan bilang selama perjalanan dia cuma mikirin soal ini? Bukannya dia sendiri yang bilang kalau mimpi itu nggak nyata, terus sekarang kenapa begini?


"Nggak tahu juga sih, Sa. Nggak penting juga mikirin hal yang belum tentu kejadian, kan?"


"Ehh? Emang besok ada apa?"


"Nggak ada! Hm... maksud saya, shooting besok."


Aku ber-oh ria. "Then, i'll go to sleep already. Thanks for today ya Bapak Aksa, ketemu besok lagi, bye."


Aksa hanya terkekeh sembari mengucap kata goodnight sebelum panggilannya ia putuskan.


Sudah jadi peraturan tak tertulis bagi kami, siapa yang menelepon, dia juga yang akan menutupnya. Dan itu berjalan sampai sekarang.


Aku menatap langit - langit kamar, memejamkan mata sesekali dengan maksud untuk menenangkan diri dari segala kesulitan dan kelelahan di tempat kerja. Yang aku tak sadar, terakhir aku memejamkan mata terlalu lama sehingga kesadaranku hilang ditarik secara paksa pada dunia lainnyaㅡdunia mimpi.


*


"CUT!" Teriak AksaㅡPak Yonas mungkin lebih tepatnya.


Aksa terdiam sejenak, memutar adegan sebelumnya yang ditampilkan melalui layar monitor lalu mengarahkan para artis dan kameramen sesuai dengan kemauannya.


"Aldi!" Yang Aksa panggil segera berlari menghampiri. "Coba movement dari angle lain."


Aldi menganggukkan kepala, kemudian meraih kamera salah satu kru dan mencoba mengambil video dari sudut lain.


"Begini bagaimana, Pak?"


Aksa memangut - mangut. "Oke, kita pakai yang ini!"


Kami bernapas lega, untung hanya butuh satu kali. Kalau mengingat beberapa hari sebelumnya, kami bahkan pernah bekerja sampai 20 jam hanya karena take a shoot belasan kali demi memuaskan keinginan para sutradara yang sudah seperti dewa.


Kalau kalian pikir kerja di dunia perfilman itu enak dan cuma santai - santai, udah deh, jangan sekali - kalinya coba lirik kesini. Bukan apa - apa, masalahnya itu semua jauh dari realita.


Kerjaan di balik dunia perfilman nggak ada yang santai even seorang produser. Belum tahu aja seberapa seringnya Pak Revanㅡproduser di projek film kai iniㅡmarah - marah cuma karena jam makan siangnya yang molorㅡthats why aku lebih suka makan diluar sama Aldi daripada nunggu PU* datang dengan makanan yang sebelumnya harus kena ceramah siang bersama Pak Revan terlebih dahulu.


Kalau Aksa dan Mas Hanung diibaratkan dewa yang kemarahannya sangat ditakuti seluruh umat kru, mungkin Pak Revan ini bisa jadi Tuhannya para dewa yang dengan tatapan dinginnya saja bisa amat sangat mematikan kita semua.


Hal yang perlu kalian tahu, bukan cuma Aksa yang berubah ketika kita lagi shooting, hampir semua kru bakal berubah seratus delapan puluh derajat jika sudah menyangkut perkara tugas dan tanggung jawab mereka saat dalam set.


"Break dulu. Scene terakhir sudah oke," teriak Mas Hanung yang segera ditanggapi dengai wajah senang dan lega para kru. Setidaknya, hari ini sesuai jadwalㅡjam dua belas bisa istirahat untuk makan siang.


"Di, mau makan diㅡ"


"Sori, Mbak. Gue ada urusan, gue makan disini, nunggu jatah dari PU aja."


Aku mengangguk mengiyakan. Nggak masalah sih, aku juga bisa makan sendiri.


Di seberang set juga banyak tempat makan yang bisa kumasuki dengan menu berbagai macam, so, it's okay.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu gue tinggal ya?" Aldi mengiyakan, sedangkan aku melangkah pergi perlahan meninggalkan set demi makan siang.


*


"Bu, aku lauknya rendang sama telur dadar aja," pintaku. "Oh sama kasih kuahnya, terusㅡ"


"Sambalnya yang banyak ya, Mbak Asya?" ucap Ibu Darmiㅡpemilik rumah masakkan padangㅡini membuatku terkekeh. Padahal aku nggak sesering itu untuk mampir kemari, hanya empat atau lima kali mungkin dalam satu bulan, tapi ingatannya soal aku ternyata nggak pernah hilang.


"Si Mas yang satunya nggak ikut, Mbak?"


Mas?


Oh, Aldi.


Aku menggeleng. "Ada urusan dia katanya, Bu. Jadi absen mulu."


Bu Darmi ber-oh ria sembari memberikan piring berisi nasi, terlur dadar, dan rendangㅡsesuai dengan pilihanku. Tak lupa ia beri sedikit kuah di nasinya, juga sambal yang banyak.


Jangan salah. Nasi padang adalah the most wanted makanan di seluruh penjuru dunia. Misal aku dikasih pilihan antara Nasi padang sama makanan mewah yang kadang namanya sulit diucappun aku tetap memilih Nasi padang yang jelas enak, murah, dan dapat banyak lagi. Apalagi belinya di rumah masakan padangnya Bu Darmi.


"Makasih ya, Bu," kataku setelah membayar semua makanan yang kini sudah beralih kedalam perutku.


"Iya Neng, sering - sering mampir, ya."


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Darmi.


Pasti aku sering mampir, Bu.


Sekalipun makan sendirian membosankan dan mengeluarkan uang, itu lebih baik daripada mengambil jatah dari PU dengan syarat harus dengar amukan Pak Revan yang buat mood aku mendadak hancur. Marahnya Pak Produser yang satu itu memang membuat semua orang khawatir.


Melupakan soal para PU, Pak Revan dan segala hal yang bisa membuat moodku hancur, aku memilih berjalan - jalan sebentar sebelum menuju set. Menghirup udara yang sejujurnya tidak segarㅡya iyalah, ini jakarta man bukan pegununganㅡtapi setidaknya bisa mengalihkan perhatian.


Setelah asyik berjalan - jalan sembari mengembalikkan energi, aku kembali ke set yang entah kenapa mendadak sangat ramai di salah satu lobi.


"Kalau gue yang sebarin rumor kalian emang kenapa?!" Ini suara Manda. Sekalipun agak samar, aku masih bisa mengenalinya.


Penasaran, aku semakin mendekati kerumunan. Ingin mengetahui peristiwa yang terjadi di siang hari yang cukup jadi pusat perhatian.


"Lo...." Aldi mengacak rambutnya kasar. Ini pertama kalinya aku melihat ia yang sefrustasi itu. "Man, gue nggak pernah dekatin lo. Itu hal pertama yang harus lo tahu. Kedua, suka nggaknya gue ke lo nggak ada hubungannya sama Mbak Asya sampai harus lo jadiin bahan gosip segala!"


Aku terdiam sesaat. Otakku berpikir sejenak, mengerjap sesekali sembari bertanya - tanya pada diri sendiri: Jadi, yang nyebar rumor aneh di sini itu benar Amanda?


"Nah tuh orangnya datang." Amanda menatapku dengan tatapan meremehkan. "Gimana rasanya di belain Aldi terus, Mbak?"


"Bentar, ini ada apa sih?" bohongku, pura - pura bodoh di situasi yang sesungguhnya amat memalukan ini.


Daripada kebingungan karena mendadak jadi pusat perhatian, aku lebih bingung lagi karena yang kualami sekarang ini persis seperti mimpiku semalam saat tertidur di mobilnya Aksa.


Deja vu apa gimana sih ini? Tapi masa iya aku nanti nampar Amanda juga?


Amanda cekikikan. "Nggak usah pura - pura ****, Mbak," katanya, sembari berjalan mendekat ke arahku. "Yakan, Mbak? Lo masuk sini karena Aldi? Gue tahu kok, makanya lo diangkat jadi asisten dia juga, padahal aslinya lo nggak tahu apa - apa."


Hah? Aku nggak salah dengar? Ini kepala si Amanda habis kejedot pintu apa gimana sih? Bisa banget ngawurnya.


"Gue dengar, Mbak Asya ini pernah jadi astrada di salah satu film pendek seniornya juga. Benar, Mbak?"


"Emang kenapa kalau iya? Masalah lo banget, Man?" jawabku yang mulai naik pitam dengan tingkah anak gadis yang satu ini.


"Bayar pakai apa sampai dijadiin astrada disana, Mbak? Jual dirㅡ"


Plak! Aku menampar Amanda.


"Shut the fucked up, Man! Gue selama ini nggak pernah ya cari - cari masalah sama lo, jangan libatin gue di antara perasaan lo yang nggak di balas sama Aldi! Sumpah, jijik gue sama cara lo yang ngajak orang - orang buat ikut benci gue dengan semua rumor buatan lo!" Aku menghela napas sebentar. "Soal jadi astradanya gue di film pendek lainpun bukan urusan lo! Logikanya aja lo pakek, kalau gue berani jual diri kenapa harus repot - repot kerja lagi?!"


Mata Amanda memerah, tanpa menjawab ucapanku yang kelewat marah, yang ia lakukan justru berniat menamparku balik yang untungnya segera di halang Aksa.


"APA - APAAN INI?!" Suara Pak Revan membuat kami panik seketika.


Orang - orang yang tadinya berkumpul segera pergi kesana - kemari. Sayangnya, Aku, Manda, Aksa, dan Aldi yang sudah tertangkap oleh kedua matanya tidak bisa kabur kemana - mana lagi.


"Saya nggak mau jadwal shootingnya molor cuma karena cinta monyet - monyet kayak kalian ya!"


Astaga, masa dikata monyet.


"Aldi! Saya jadikan kamu DOP disini tanpa lihat usia kamu, saya ajak kamu karena saya tahu kamu mampu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya mengacaukan film saya!"


Aldi menundukkan kepalanya. " Maaf, Pak. Saya janji hal seperti ini nggak akan saya ulangi."


"Memang harus begitu! Kalau keulang kamu saya pecat aja sekalian!"


"Hus! Mulutnya, istigfar, Bang, nggak boleh marah - marah mulu. Nggak lucu kan kalau lo stroke di usia muda." Ini Mas Danin, line producer* sekaligus pawangnya Pak Revan.


Pokoknya, semarah - marahnya Pak Revan sama siapapun, nggak akan lama kalau disisinya ada Mas Danin.


"Lo mau gue kena stroke?!"


"Ya enggak, hehe." sahut Mas Danin lengkap dengan haha - hehenya.


"Manda, kamu tinggal bicara ke saya saja kalau sudah nggak mau kerja disini. Saya nggak keberatan buat kehilangan kamu. Saya memang perlu orang - orang berbakat, tapi juga yang disertai akal sehat dan personality yang hebat. Dimata saya, sikap kamu ini kekanakan sekali, dan saya nggak butuh anak - anak disini!"


Amanda hanya diam, menundukkan kepalanya yang kutebak sedang meratapi nasibnya sendiri.


Aku nggak tahu harus bilang ini suatu keberuntungan atau kesialan. Aku merasa beruntung karena akhirnya rumor itu bisa di selesaikan, tapi aku juga merasa sial karena harus mengalami hal kekanakkan seperti itu.


Well, setidaknya sekarang semua baik - baik saja. Semoga.


***

__ADS_1


*PU (Pembantu Umum) / Production Assitant: bertugas untuk membantu tim produksi secara generik. Apabila ada kebutuhan mendesak secara tiba-tiba, maka production assistant lah yang bergerak cepat dan mobile. Pembantu umum juga membantu menyiapkan logistik konsumsi dan mendistribusikannya ke kru.


*Line Producer / Produser pelaksana: Tangan kanan produser untuk urusan teknis. Ibaratnya, produser merancang satu produksi secara kesuluruhan (plafon budget, timeline, tenaga kerja, dsb), produser pelaksana yang menjalankan rancangan tersebut setiap harinya.


__ADS_2