
"No! I said no and never! Sya, kita udah satu apartemen dua tahun, nggak pernah berantem karena hal kecil dan udah biasa berbagi kerjaan rumah dan ini itu. Demi Tuhan ya Arasya, gue nggak setuju kalau lo mau nyewa apartemen yang bahkan jauh darisini!"
Yagini, bukan Elle namanya kalau nggak lebay dan heboh sendiri. Padahal cuma aku tinggal ke puncak loh, bukan ke luar negeri, apalagi luar bumi.
"Sementara doang, Le. Paling empat atau enam minggu paling lama. Lo tahu sendiri, tempat syutingnya jauh banget, dan gue bukan nyewa apartemen sendiri, sama beberapa kru juga."
"Kita nggak ngomongin soal jarak minimarket ke GI, Sya. Masalahnya, ini Puncak! You know? That's mean you left me here alone, that's the saddest fact ever!"
"Astaga, gue bakal balik seminggu sekali kalau lo mau, itupun kalau nggak sibuk. Lo lupa? kan ada Aksa yang siap jadi pak supir gue." Aksa tersenyum mendapati dirinya bisa aku butuhkan, even jadi supir.
Elle terdiam sebentar, terlihat sibuk berpikir dengan raut wajahnya yang kesal.
"Oke, seminggu sekali lo harus luangin waktu! Kalau lo nggak bisa pulang, gue bisa ajak dua anak kurcaci ini buat antar gue, gimana?"
"Ganteng gini dibilang kurcaci, nenek sihir lo emang!" Itu Seta yang baru saja keluar dari dalam minimarket setelah selesai mengambil dua kaleng soda, satu untuknya, satu untuk Aksa, "lagian kenapa harus puncak sih ya? Gue curiga, ini lo berdua mau kerja buat film apa buat anak?" Setelah berbicara dengan seenaknya, sebuah french fries melayang dan terjatuh tempat pada ujung kepala Setaㅡtypical Aksa memang.
"Mulut lo minta ditampar banget ya?" Aku mendelik.
"Astaga, Seta... " Keenan ikut menyauri dengan nada simpati. Aku baru saja hendak memberikan bungkusan cheetoz milikku pada Keenan atas pembelaannya sembelum kemudian ia berbicara lagi, "Benar juga lo!"
"Si kampret, nggak ada bedanya ya emang lo berdua!" Kubatalkan sudah niatku untuk bersedekah pada kaum duafa berinisial Keenan.
"Udah - udah, kurcaci sama penyihir diam, princess mau ngomong dulu"
"Okay, shut the fucked up saudara - saudara, ibu negara mau berbicara," hardikku, lalu perhatian kami semua terfokus pada Elle.
"Fyi, di puncak tuh ada villa neneknya Keenan. Nah, that's why gue merasa perlu ngajak Keenan karena dia bisa diandalkan dalam urusan penginapan," Elle melirik Aku dan Aksa secara bergantian. "Lo berdua juga bisa datang kesitu di waktu luang buat ketemu kita. Nah kalau Seta, dibutuhkan biar bisa nyetir gantian sama Keenan, gimana - gimana?"
"Lah, lo ngapain, Le?" celetuk Keenan kemudian.
"Kan gue yang ngasih ide!" Elle malah tertawa. "Bercanda, gue yang ngatur soal makanan deh, kan ada minimarket, kalian lupa?"
Oh iya, aku hampir melupakan minimarket bersejarah yang kini sudah sepenuhnya diurus Tante Ema juga beberapa karyawan baru yang di rekrut sebelum aku mulai kerja.
"Okay kalau gitu, see you guys!"
Elle mengandengku masuk ke dalam mobil Keenan untuk pulangㅡjangan lupa, apartemen kami berada di gedung yang samaㅡsembari menceritakan banyak plan - plan yang akan ia lakukan di puncak nanti dengan semua ide - ide gila yang hanya bisa terpikirkan oleh dia.
Sayangnya, pikiranku daritadi terfokus pada hal lain.
Selama enam bulan lebih melihat sosok Yonas, apa aku bakal kangen Aksa, ya?
***
Two month is passed by shoot in Jakarta. Aku sudah mempersiapkan diri, merapikan semua barang dan pakaian yang akan kubawa esok ke Puncak. Lokasi syuting kedua memang di situ, selain karena perlu view healing dan nature yang adem, puncak juga nggak bisa di pisahin sama aura romanticnya.
Geli juga sih sebenarnya bicara soal roman, but you guys must to know how great this movie is! Not just a roman movie, but mereka menyelipkan banyak nilai kehidupan dan pasti akan meninggalkan kesan. Jujur aja, aku sendiri excited untuk melihat hasil jerih payah semua ini karena dari apa yang kulihat di balik layar saja rasanya sudah amat sangat baik dan melampaui ekspetasi terhadap film garapan dua sutradara terkenal seperti Mas Hanung dan Aksa.
In different way it's remembering me of, Me Before Youㅡfuckin' movie ever who made me cry a lotㅡbest of the best movie for sure! Dari segi cerita, cinematographynya, sound effect, and all of the stuff benar - benar sempurna.
Film yang meninggalkan amat banyak kesan bahkan setelah ditonton bertahun - tahun, rasa sakitnya Louisa masih terasa.
Oke, kembali ke realita yang jauh dari rasa sakitnya Louisaㅡtake a shoot di puncak.
Sekalipun aku nggak bisa bilang kalau ini masuk kategori jalan - jalan, setidaknya, dengan berada disini saja aku sudah merasa beruntung.
Tentu saja karena akhirnya paru - paruku terisi dengan oksigen yang lebih baik dan lebih bersih dari udara di Jakarta, tentu saja karena aku nggak harus berpanas - panas ria karena kawasan Puncak banyak ditumbuhi pepohonan besar yang menyaring oksigen sekaligus menangkal panasnya sinar matahari yang menembus lapisan ozon planet kita, tentu saja karena pemandangannya yang lebih indah daripada gedung gedung pencakar langit yang dibangun oleh para arsitek ternama, dan tentu saja karena Puncak bisa membuat cerita baru tentangku dan Aksaㅡapasih, geli! Duh.
Itu yang aku rasakan saat pertama kali sampai di puncak setelah langit mulai menggelap. Karena macetㅡjalan yang menggunakan sistem buka tutup di puncak memang selalu membuat semua orang harus mengantri di jalanan hanya demi sampai di tujuan masing - masingㅡkami sampai pada malam hari.
Berbeda dengan dua hari kebelakang ini, saat kita mulai shooting lagi dan semua ucapanku sebelumnya rasanya lebih baik kalian lupakan.
"Sya, kamu lihat Yonas?" kata Mas Danin yang sudah datang duluan dengan tumpukkan kertas yang dipangku pada lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk memegangi ponsel yang sesekali ia tempelkan telinganya.
Aku menggeleng. "Nggak deh Mas, ini kan saya baru datang," kataku, sembari mengangkat totebag yang masih kukaitkan pada bahu.
Mas Danin mengerutkan dahinya, tampak berpikir keras sebelum akhirnya berbicara lagi, "kalau saya minta kamu datang ke apartemennya dia buat kasih ini mau?" Mas Danin mengangkat tumpukan kertas di lengan kirinya sedikit. "Urgent nih, saya mau kesana tapi disini masih ada yang harus diurusi."
Apartemen Aksa?
"Oh, alamatnya... " Mas Danin melihat ponselnya, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu sebelum kemudian ponselku bergetar. "Sudah saya kirim lewat whatsapp. Tolong banget, ya, Sya. Nanti saya traktir es cendol deh."
Aku tertawa. "Karena masih ada waktu, yaudah deh, Mas. Saya bantu," jawabku yang segera ditanggapi dengan eye smile khas Mas Danin yang katanya bikin para kaum hawa kehilangan akal sehatnya. Setelah melihat sendiri, menurutku, mereka nggak salah sih, senyumnya Mas Danin ini memang masuk kategori bahaya, tentu nomor dua setelah Aksa.
__ADS_1
"Nggak jauh kok, malah lebih dekat dari hotel rekomendasi yang dia tolak dengan alasan punya apartemen sendiri." Ia memberikan tumpukkan laporannya padaku.
Aku mengangguk paham, paham soal kenapa aku harus ke apartemennya Aksa, paham soal seberapa dekat lokasi apartemennya, tapi masih tidak paham kenapa Aksa bisa punya apartemen disini dan aku nggak tahu apa - apa.
"Iya, Mas, tenang aja. Semua beres sama saya," kataku menyombong. Mas Danin malah tertawa.
"Aduh, Sya. Makasih banget, serius deh nanti siang saya belikan es cendol!" Mas Danin excited sendiri. Padahal, alasanku mau pergi kesana bukan karena cendolnya, tapi karena Aksanya.
Aku pergi setelah mengucap kata sama - sama, meraih ponselku lalu membuka chat dari Mas Daninㅡsoal lokasi apartemen Aksa.
Oke, so, here we go.
*
"Mas Danin, ini aku suruh ngetukin pintu apartemennya Pak Yonas dan nunggu dia sampai keluar apa gimana?" tanyaku melalui panggilan yang terhubung pada Mas Danin yang jauh disana.
"Astagfirullah, saya lupa kasih tahu kata sandi apartemennya, ya?" Mas Danin terdiam sebentar. "Nah tuh, cek whatsapp dari saya. Sudah saya kirim."
Aku membuka ponselku, melihat chat yang baru saja masuk.
"Eh, iya. Udah masuk nih, Mas. Makasih." Aku memencet tombol angka sesuai kata sandi yang yang Mas Danin kirim. Agak bingung juga sih sebenarnya, mengingat bagaimana bisa Mas Danin tahu kata sandi apartemen milik Aksa pribadi?
"Kalau Yonas belum bangun, bangunin aja, siram pakai air sekalian kalau nggak bangun - bangun."
Aku terkekeh sembari membuka pintu. "Haha, iya, Mas. Yang penting bangun ya orangnya?"
"Iya, betul! Aduh, nggak salah ini saya nyuruh kamu, cepat tanggap tanpa harus saya bilangin berkali - kali."
Aku tersenyumㅡsekalipun tahu kalau Mas Danin tidak mungkin melihatku.
"Yaudah kalau gitu, Sya. Saya percayain semuanya ke kamu, ya?"
Aku mengiyakan, setelahnya tak ada lagi jawaban karena Mas Danin sudah menutup teleponnya duluan. Padahal, ngobrol sama Mas Danin ini asyik banget. Berasa lagi ngobrol sama teman SDㅡbohong sih, aku aja udah lupa teman SD yang mana dan namanya siapa.
Aku melangkah masuk apartemen, disambut dengan lukisanㅡinterior yang sama persis dengan rumah miliknya di Jakartaㅡdan... Aksa?
"Datang - datang telponan sama cowok lain, ya, Sya?"
"Nih dari Mas Danin," kataku, sembari mengalihkan tumpukkan laporan dari lenganku kepada Aksa.
Aksa mengambil laporannya, kemudian menatapku sembari menelengkan kepala. "Jadi, yang telepon kamu tadi Mas Danin?"
"Iyya Mas Danin, emang kenapa, Sa?" Aku sengaja ingin menggoda Aksa. Dan benar saja, setelah aku berbicara, ia melengos pergi.
Astaga, Aksa cemburu?
Aku tertawa. "Mas Danin yang suruh gue kesini, dia juga yang kasih tahu kata sandi apartemen lo, Sa."
"Ini kamu datang pure karena mau kasih ini doang?"
Aku mengangguk. "Emang mau ngapain lagi?"
"Morning kiss dulu sini, nanti saya nggak akan ngambek lagi."
Aksa kok makin lama makin jadi sih?
"Mana mana yang mau di morning kiss? Gue kasih morning kiss pakai kertas laporan mau?"
Dia mendengus sebal.
"Udah mandi belum lo?"
"Kenapa? Mau mandiin saya?" candanya dengan wajah datar, nggak tahu juga kenapa bicara begitu rasanya biasa aja bagi dia? Menyebalkan.
"Ish... " desisku, sembari memutar bola mata malas. "Mandi gih, buruan berangkat kerja kalau udah. Empat puluh lima menit lagi udah harus stand by disana ini."
"Udah mandi barusan, tinggal berangkat, tapi belum sarapan."
"Me too, buy somr food for breakfast or ... "
"Masak bareng aja nggak sih? atau mau saya masakin?"
"Mau! Mau dimasakin sama Pak Aksa ya ya yaaa??"
__ADS_1
"Then give me morning kiss dulu, nanti baru saya masakin."
Mataku berbinar. Bukannya lebay, masalahnya, dimasakkin Aksa ini rasanya kayak dimasakkin chef restoran bintang limaㅡsemua masakannya enak pakai banget!
"Pokoknya saya mau dipeluk terus morning kiss dulu, baru saya masakin. No nego!"
"Banyak maunya banget ya lo!" kataku kesal, tapi tetap berjalan menghampirinya, kissed his cheek lalu memeluknya dari belakang, persis seperti apa yang dia mau.
Aksa menoleh ke arahku. "At the and, you did it right?"
Aku tersenyum, kemudian menyandarkan daguku pada bahunya, mencium aroma menenangkan yang sudah jadi ciri khas Aksa.
Aksa berjalan menuju kulkas, aku mengikuti dari belakang tanpa melepaskan pelukan, bagaimana bisa? Aksa menggenggam kedua tanganku yang berada di perutnya.
Menurutku, itu lucu. Kami jadi seperti sedang lomba tujuh belasan yang menggunakan bakiak lalu berjalan bersamaan.
Ceklek, pintu apartemen terbuka secara tiba - tiba. Aku langsung menjauh dari Aksa, berpura - pura mengelap sesuatu di meja dekat kulkas, sedangkan Aksa malah tertawa melihat tingkahku yang seperti itu.
"Oke, sepertinya gue datang di waktu yang tidak tepat." Ini Pak Revan, yang baru saja datang sendirian tanpa tampang dan gesture yang canggungㅡjauh berbeda denganku yang kikuk sendiri.
"Pintu keluar di belakang, Bang."
What the heck?! Aksa gila! Masa ngusir Pak Revan gitu aja?!
Pak Revan menatapku dan Aksa secara bergantian, kemudian tertawa, lalu berjalan menjauhi pintu dan malah mendekati kami.
"Gue mau ambil ponsel sama kunci mobil doang sih, Sa."
Ponsel sama kunci mobil Pak Revan? Loh, kok bisa ada disini?
Sayangnya aku tak berani bertanya, aku hanya berdiam diri. Tak berani mengatakan apa - apa, bahkan untuk menatap Pak Revan aja aku malu sendiri.
"Anggap aja lo pada nggak lihat gue, setelah urusan gue selesai, lanjut lagi deh teletubbies sectionnya, asal nggak sampai di set telat aja."
Teletubbies katanya, aku mau tertawa tapi keburu ingat situasi yang amat sangat tidak mendukung untuk tertawa, bahkan tersenyum sekalipun.
Mampus kamu Arasya! Masuk kandang singa ini namanya! Tahu sendirikan bagaimana mengerikannya Pak Revan di set? Aku nggak bisa membayangkan apa yang bakal dia lakukan setelah lihat aku dan Aksa barusan.
Pak Revan buka penggosip kayak Aldi sih, bukan juga si ceriwis yang suka keceplosan seperti Mbak Nada, bukan juga si mesin detektor kebohongan seperti Mas Danin yang hidupnya selalu lurus tanpa bisa berbohong, tapi tetap saja, ini Pak Revan yang bisa saja membawa - bawa hubungan kami kalau aku nggak becus kerja di set.
"Gue pergi lagi ya, bye!" pamit Pak Revan tanpa melirik kami sedikitpun.
Dia beneran pergi?
Aku tercengang sendiri.
"Nggak mau tanya kenapa Revan bisa ambil ponsel dan kunci mobilnya disini? Atau mungkin tanya soal Mas Mas kesayangan kamuㅡMas Danin yang tahu soal tempat ini sampai akses masuknya?"
Aku tersadar kembali dari pertanyaan - pertanyaan yang menumpuk di kepala, mendengar pertanyaan runtut dari Aksa dengan seksama, kemudian menganggukkan kepala.
"Mereka teman saya, nginep disini semua, sama Aldi juga," katanya, sembari memotong apel yang selesai ia cuci di wastafel dapur.
Pak Revan? Temannya Aksa? Subhanallah sekali ya circle pertemanan Aksa ini.
"Kok bisa lo temenan sama mereka?"
"Senior kuliah, dulu teman ngeband juga."
Aku terdiam sebentar. Bicara soal ngeband, aku jadi ngat polaroid yang menangkap kenangan Aksa, Seta, dan wanita yang katanya hanya memberi pangalaman yang kelam.
"Dulu, saya, Revan, Danin, sama Seta sering kemari untuk liburan. Asalnya cuma nyewa satu dua kali, lama - lama, saya pikir mending beli sekalian aja. "
Aku menggelengkan kepala, tak percaya. Segitu mudahnya bagi Aksa membeli apartemen mewah seperti ini. Sekarang aku membenarkan kalau gaji sutradara itu emang tinggi, apalagi projek filmnya banyak dan nggak main - main begini.
"Sya, ambilkan saya gula disitu!" mintanya sambil menunjuk ke arah yang ia maksud, aku menurut. Meraih toples berwarna putih yang bertuliskan gula di bagian tutupnya.
"Ini lo mau buat apa, btw?" Aku menyerahkan toples berisi gula pada Aksa.
"Apple cinnamon french toast, mau?"
Aku mengangguk, apasih masakan Aksa yang bisa kutolak? Nggak ada!
***
__ADS_1