
Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke salah satu perpustakaan di Ibu Kota. Sepertinya membaca buku sembari mendengarkan lagu melalui headset bisa menjadi healing alternatif dikala kesibukan tahap produksi, juga dari marahnya Elle yang sampai membuat ia harus ambil cuti sehari dari tempat kerjanya.
Semalam, dia pulang marah - marah. Bicara banyak soal beauty privilege yang katanya dijadikan senjata para teman - temannya buat menggiring Elle jadi tumbal para seniornya.
"Kan bukan salah gue kalau gue cantik?" katanya semalam, sembari mengacak rambutnya yang sudah berantakan itu jadi semakin berantakan.
Aku akui, semalam, penampilan Elle memang sedikit messy.
"Wow, wow, calm girl!"
Setelahnya, Elle membicarakan bagaimana perlakuan para seniornya yang kelewat kurang ajar. Mulai dari nyuruh ini - itu, maksa dia ikut makan bareng tim dan turut menghibur mereka dengan bernyanyi, menari atau bahkan melakukan hal - hal konyol yang mengharuskan mereka untuk tertawa terbahak setiap makan bersama.
"Mereka pikir gue ini dagelan apa gimana sih?" omelnya, tak mau berenti. "Waktu gue nolak for doing that stupid things, mereka bakal bilang, 'kan lo cantik, Le. Semua orang pasti suka, kalau gue yang dekil ini nyanyi ataupun nari yang ada malah jadi bahan omongan.' Apa hubungannya cantik sama ngehibur para senior yang lapar akan hiburan sih?" Elle emosi.
Nggak ada korelasinya sih memang, jadi, aku mewajarkan kenapa akhirnya Elle bisa meledak seperti semalam.
"Terus mereka bilang dari sekian anak baru harusnya gue bersyukur karena diperlakukan amat - sangat baik karena beauty privilege di lingkungan kantor it works katanya! Beauty privilege t*i kucing dah ah, nggak ada satupun senior yang memperlakukan gue dengan istimewa, semua sama, hobinya bikin gue pusing tujuh keliling! Demi apapun rasanya kesel banget gue sampai mau resign!"
Aku nggak terlalu kaget juga mendengar Elle yang mengancam dengan kata resign. Karena bukan sekali dua kali dia marah - marah sampai seperti itu.
Sejujurnya, aku sendiri bukan orang yang bisa memberi saran atau tanggapan seperti Aksa yang selalu bisa menenangkan kemarahan atau rasa kecewaku. I just listen all of that shit and give her a chocolate for make her mood better.
Toh, besok dia akan baik - baik aja dan bersikap seakan thats nothing for her.
Begitu pikirku sebelum setelah pulang jogging aku masih menemukan Elle di apartemen dengan setelan piama tidurnya tengah menguap sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil air minum.
Ini Elle nggak beneran mau resign, kan? Sayangnya, aku nggak punya keberanian buat bertanya. Aku biarkan Elle melakukan apa yang ia mau, mungkin dengan meliburkam diri dalam waktu sehari Elle bisa kembali.
Okay, cukup sampai disitu kisah Elle semalam yang ternyata buat aku kepikiran sampai sekarang. Makanya, datang ke perpustakaan adalah pilihan terbaik yang bisa kulakukan untuk melupakan semuanya, terlebih aku sedang libur.
Salah satu novel western klasik kupilih untuk menggantikan cerita baru di otakku, The Catcher In The Rye**ㅡ**one of my favorite novel, yang sebenarnya sudah kubaca berkali - kali dari jaman aku masih jadi anak SMA, dari versi inggrisnya sampai terjemahannya. Ya, gimana ya... kalo udah masuk list kesukaan emang susah bosannya, yang ada setiap buka bukunya rasanya aku mau terus baca sampai selesai aja.
Kali ini teman bacaku adalah spotify, bukan maksud promosi aplikasi loh ya, udah kebiasaan aja, sampai buat reading playlistnya segala.
Sedang asyik - asyik baca sambil mendengarkan lagu, tiba - tiba seseorang melepas headset dari telinga kananku, aku refleks menoleh ke kanan tapi anehnya tak menemukan seorangpun.
"Holden Caufild, ya?" Aku menoleh ke asal suara, lebih tepatnya di sebelah kiriku. Dan benar saja, aku menemukannya. Aksa! Yang sialnya mencondongkan mukanya terlalu dekat dengan mukaku, mungkin karena salah satu headsetku kini berada pada telinga kirinya, dia tidak bisa menjauh... tapi tetap saja, bukan begini caranya!
Aku melepaskan headsetku, lalu menjauh sedikit darinya. Bukan apa - apa, posisinya terlalu membahayakan buat kami berdua, buatku lebih tepatnya.
__ADS_1
"Sejak kapan lo disini?" tanyaku.
Aksa melepas headset yang menempel pada telinga kirinya, lalu berjalan ke depanku agar bisa duduk tepat di hadapanku. "Sekitar dua jam yang lalu mungkin? Niatnya saya mau selesaikan bacaan itu," jawabnya sambil menunjukkan tiga buah buku yang cukup tebal di tangan kanannya. Aku menanggapinya dengan oh panjang. "Tadinya habis ini saya mau jemput kamu buat makan siang, tapi keburu lihat kamu disini."
"Nggak ada acara lain selain pergi makan nih?"
Aksa mengangkat salah satu alisnya sebelum kemudian berbicara, "kamu mau kemana emang?"
"Kalau nonton gimana?"
"Boleh juga," Aksa mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Kamu mau nonton apa? Biar saya pesanin tiketnya lewat TIXㅡ"
"Bukan nonton di bioskop maksud gue, nonton film lama di rumah lo sambil ngemil gitu misalnya."
"Eh?" Salah satu alis Aksa terangkat. "Kamu mau ke rumah saya lagi?"
"Loh, why not? Rumah lo nyaman kok, gue nggak masalah. Thats better than ngantri di bioskop buat beli tiket ditambah lagi setelah masuk studio kita masih cari nomor tempat duduk yang which is paling gue nggak suka."
Senyum kelinci khas Aksa terbit seketika. "Oke, kita ke rumah saya sekarang."
*
Dari sekian banyak kaset film yang Aksa punya, Film Avengers: Endgame jadi pilihan final kami berdua.
Aksa menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingungnya. "Saya?" Kemudian ia tertawa. "Kalau dipikir - pikir wajar sih kamu kesal, tindakan saya waktu itu memang kurang masuk akal."
Iya, saking nggak masuk akalnya, aku sampai ngatain dia gila.
"Btw, Sa. Gue mau nanya," Aksa mengalihkan pandangannya ke arahku lagi. "Kenapa harus gue?"
"Apanya?"
"Yang lo suka, yang lo lamar."
Aksa menghembuskan napasnya sejenak, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa. "Karena mimpiㅡ"
Aku tertawa. Jawabannya masih sama, ya? Karena mimpi, haha. "Mimpi macam apa yang bisa bikin lo tahu nama gue sih, Sa?"
Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Bercanda...." Ia memberi jeda sejenak, memiringkan posisi duduknya hingga menghadap ke arahku sepenuhnya. "Karena saya tahu kamu orang baikㅡ" Oh, dia konsisten sama jawabannya ternyata. Kalau aku nggak salah ingat, waktu itu dia juga jawab gitu, kan? "ㅡjuga cantik."
__ADS_1
Eh?
"A-aku nggak secantik itu sampai biㅡ" Oh, shit! Ini kenapa jadi ikut - ikutan aku - kamuan gini manggilnya?
Aksa menelungkupkan kedua tangannya pada mukaku, lebih tepatnya kedua sisi pipiku. Menatap mataku, hidungku, bibirㅡwhat the hell are you doing now ya, Bapak Aksa? Sayangnya, kata - kata menyangkut di tmkerongkongan dan tak ingin keluar dengan mudahnya, yang kulakukan hanya diam membisu dengan wajah yang semakin memerah setiap detiknya.
"Kamu cantik mau pakai apapun juga," Ia mencubit hidungku, kemudian merubah posisinya menuju ke depan televisi kembali. "Pokoknya cantik, titik!"
Damn it! You will kill me now, ha? Omg, his words attack my heart too much and it's not good for me!
"Apasih lo, geli banget dengarnya." Aku memukul pelan bahunya.
"Sya, maap banget, tapi ini kamu kalau pulang sekarang bisa nggak?"
Hah? Apalagi sih ini? Benar deh aku nggak bisa paham sama apa yang ada di otaknya. Setelah apa yang dia omongin barusan, sekarang dia malah usir aku gitu aja? Sepertinya aku harus punya boneka voodo buat jaga - jaga kalau si Aksa bersikap seenaknya seperti sekarang ini.
"Gue nggak salah dengar?"
"Nggak, sama sekali nggak."
Oke, so whats going on now? Aku salah lagi apa gimaㅡ
"Aku takut khilaf, kamu pulang sekarang biㅡ?"
I kissed him, on his cheek.
I mean, I've been kissed his cheek?! It's just happened and I dont know why I did this stupid things! Aku hanya ingin membungkam mulutnya, but what i did is out of my control.
He froze for a secondㅡme tooㅡlalu mengerjap sesaat sebelum kemudian menatapku dengan wajahnya yang memerah, I didnt expect his respons will like that who i taught he is cutie.
"W-wait for me plz, Sya. My brain can't funsion even a bit little just because of what you said before." Aksa terdiam setelahnya. "I want ask you again, that means you changed? you accepted me as your bf? you'll be my gf? And that means you'll be mine? that right, no? this is a dream? Can you just slap me andㅡ" ia mengacak rambutnya. "Saya masih belum siap. Ini terlalu mendadak, I think I'm going to die of embarrassment now!"
Tawaku melebar seketika. Aku kira, cuma aku yang deg - degan kalau Aksa menggenggam tanganku, aku kira cuma aku yang bisa mati karena malu sendiri, ternyata sama ya?
Aksa melirikku, pretend like he is okay lalu menatapku dengan raut muka optimisnya. Ia menghela napasnya sebentar kemudian menggengam lenganku yang setelahnya ia bawa masuk pada saku jaketnya. "I'm ready now, so we have to date now, right?"
Aku mengangguk setuju. "Yes, we have to do it."
Okay, so, I want to introduce someone, bukan lagi orang sakit jiwa, pria aneh, atau orang asing. He just Aksa, Aksa Yonaswara yang nggak tahu gimana pada akhirnya jadi pacarku juga.
__ADS_1
Congratulate us, yep? Because finally, we officially dated after passing through many annoyed things.
***