
Kata orang, there are two reason why people dont talk about things; either it doesn't mean anything to them, or it's mean everything.
Kalau yang pertama adalah alasan dibalik diamnya Aksa, harusnya dia akan bersikap biasa aja dan memilih mengalihkan pembicaraan atau menjawab asalpun bisa, toh aku kan nggak tahu apa - apa.
Jadi, aku berpikir kalau yang kedua adalah yang paling mungkin menjadi sebab utama kenapa seorang Aksa bersikap seperti itu waktu kutanya soal wanita yang yang ada dalam sebuah polaroid yang kutemukan dalam buku. Aku yang mengira Aksa lupa menyimpan malah membawa dan bahkan menanyakannya, tanpa tahu kalau yang aku lakukan justru membuat Aksa yang dasarnya kaku semakin membisu.
Sekarang aku benar - benar menyesalkan kejadian itu. Kalau saja aku nggak penasaran, atau setidaknya aku nggak usah menanyakan soal wanita ituㅡyang kulakukan cukup memberikan polaroidnya kembali sambil bilang, "gue nemu dalam buku lo nih, Sa"ㅡdan semuanya pasti nggak akan jadi serumit ini.
Seharusnya aku nggak usah repot - repot memikirkan soal Aksa dan sikap anehnya lagi. Tapi rasanya dunia punya banyak cara untuk menghancurkan ekspetasi melalui peristiwa sadis bernama realita.
Ingat kemarin Elle mengabari soal Mas Hanung yang sedang mencari kru buat projek terbarunya? Sialnya, ternyata projek Mas Hanung ini adalah kolaborasi dua sutradara hebat di Indonesia, Mas Hanung dan yang satunya... iya, dia adalah Aksa.
Oke, jadi... kebetulan macam apa ini?!
Setelah tahu soal itu aku makin pusing sendiri, menceritakan semuanya ke Ellepun rasanya sia - sia. Saran dari cuma satu, "Yaudah sih, lo tinggal minta maaf aja sama si Aksa."
Nggak gitu! Kalau semuanya bisa selesai dengan kata maaf, mungkin permintaan maafku padanya melalui pesan teks semalam akan dia balas, atau setidaknya dibaca. Kenyataanya, mungkin saja dia malah tak sudi lagi membuka pesan teks dariku, atau paling parahnya, dia diam - diam memblokir nomorku.
Sikapku keterlaluan banget ya emang?
"Udah sih, Sya. Lo tinggal datang dan ikut daftar disana, masalah Aksa bisa lo urus setelahnya."
"Kalau Aksa dendam terus jelek - jelekin gue di depan Mas Hanung gimana? Bisa kalah perang sebelum dimulai gue nanti, Le."
"Astaga Arasya ..." Elle menghembuskan napasnya sebelum kemudian berbicara lagi, "Lo yakin si Aksa bakal segitunya cuma karena foto sesosok wanita yang ntah siapa dalam polaroid yang lo temuin dalam bukunya? Chill and free aja gituloh, dia bukan bocah."
Iya juga sih, aku nggak tahu umur Aksa berapa, tapi yang jelas dia memang bukan anak balita yang bisa ngambek selama berhari - hari hanya karena hal sepele.
Chill and free, kata - kata Elle ini aku noted agar tertancap dalam pikiranku. Aku tinggal datang, ikut seleksi ataupun wawancara, kalau ketemu Aksa aku tinggal menyapa, berlaku seakan yang kemarin tak ada apa - apa. Oke, Arasya, kamu pasti bisa!
*
Welcome to Arasya's life yang nggak jauh - jauh amat dari kata sial.
Begitu aku selesai mendaftarkan diriku dan melewati banyak tahapan seleksi sebagai salah satu kru, aku langsung melihat Aksa. Bodohnya, aku malah sembunyi, berpura - pura mengecek ponselku sambil berdoa agar Aksa segera menghilang dari pandanganku.
__ADS_1
Tapi tampaknya, doaku hanya menguap begitu saja setelah terucap. Bukan tanpa sebab, karena ketika aku melirik sedikit ke arahnya, Aksa sudah berdiri tepat di depanku.
"Sya," panggilnya, aku yang terkejut segera mengendalikan diri sembari memaksa senyum sekalipun terlihat kaku.
"Eh, Aksa?" tanggapku, berpura - pura semuanya baik - baik saja.
"Ada yang mau saya bicarakan."
Ah, soal kemarin, ya?
"Pak Yonas!" Aksa memalingkan wajahnya ke asal suara yang memanggilnya. Salah satu kru yang memanggilnya menghampiri Aksa lalu menatapku sesaat sebelum kembali melirik Aksa. "Eh, temannya Pak Yonas, ya?"
Aku hanya tersenyum, sambil menganggukkan kepala.
"Ada apa, Di?" tanya Yonas, mengabaikan pertanyaan rekan kerjanya. Sekarang, kesannya jadi kayak aku yang ngebet jadi temannya, padahal dulu yang ngikutin aku setiap waktu juga siapa?
Orang yang dipanggil 'Di' ini memberikan beberapa kertas yang berbentuk seperti proposal, atau mungkin laporan? Entah, yang jelas karena itu Aksa harus segera pergi dan melupakan ucapannya barusan yang katanya mau membicarakan soal kemarin.
"Nanti saya telepon, kamu nanti nggak ada acara kan?"
Sembari melangkah pergi untuk pulang, aku tak henti - hentinya memikirkan soal Aksa yang kemarin dan hari ini. Entah kenyataannya the duality of Aksa yang memang berbeda dan tidak pernah ia tunjukkan padaku secara sengaja, atau memang karena dia merasa menyesali sikap anehnya sampai mau meluruskan semuanya di sela - sela kesibukannya? Entahlah, yang bisa aku lakukan hanya menunggu waktu untuk mendapat jawaban dari semuanya.
Sebelum sempat kakiku melangkah meninggalkan gedung, ponselku berbunyi. Panggilan dari Aksa terlihat dari layar teleponku.
"Haㅡ"
"Kamu udah pulang?"
"Belum, baru aja mau keluar gedung."
Aksa berdeham sebentar. "Kalau kamu nunggu saya di Lotteria depan gedung mau?"
"Sekarang?" Aksa langsung mengiyakan di sela - sela panggilan orang - orang yang membutuhkannya. "Gue tunggu deh, lima belas menit cukup, kan?"
"Lebih dari cukup, kalau gitu sayaㅡ"
__ADS_1
"Iya gih, kerja lagi, kasian itu mereka pada butuh lo" Setelahnya, Aksa menutup panggilan telepon. Aku melangkah pergi menuju Lotteria di seberang jalan.
*
"Mau pesan apa, Mbak?"
"Asian wings satu samaㅡ" perhatianku teralihkan ketika pintu Lotteria terbuka. "Loh, udah selesai, Sa?"
Aksa menganggukkan kepala sembari berlari kecil menghampiriku. "Ganti sama couple set aja, Mbak"
Couple katanya? Wajahku memanas. Padahal yang Aksa maksud itu nama menunya, bukan kitanya. Haha, kita katanya. Astagfirullah Asya kamu ini kenapa?!
Kami duduk di salah satu tempat yang kosong, sebenarnya Lotteria memang bukan tempat yang ramai juga, mungkin itu jadi salah satu sebab kenapa Aksa mengajakku kesini. Sekalipun Aksa hanya seorang sutradara, jangan lupakan popularitas yang ia dapatkan dari semua karya juga ketampanannya yang bahkan melampaui para artis jajaran atas, apalagi projeknya sekarang yang kolaborasi dengan Mas Hanung yang juga masuk jajaran sutradara terbaik di Indonesia.
"Soal yang kemarin ..." Aksa menghela napasnya sejenak. "Bisa kita lupain?"
Hah? Aku nggak salah dengar kan? Aku kira dia mau minta maaf, tapi ini... apa katanya?
"Soal polaroidnya, kamu bisa pura - pura nggak tahu soal itu?"
Apasih ini, aku nggak paham, serius. Bukan penjelasan atau kata maaf yang diucapkan, malah disuruh melupakan.
Aku meneguk minuman dinginku sebentar sebelum kemudian berbicara, "bisa, kalau lo mau anggap semua soal kemarin - kemarinnya lagipun bisa banget kok. Tenang aja, kita kan cuma stranger," kataku, menyindir secara halus.
Kok jadi aku yang ngambek? Ini aku kenapa sih astagfirullah.
Aksa menoleh ke kanan kiri, seakan sedang mencari atau memeriksa sesuatu. Aku yang penasaran berniat melakukan hal yang sama, tapi baru saja aku hendak memalingkan wajahku, aku baru menyadari sesuatu.
He kissed me on my lips and there was no explanation from him.
I froze instantly, hanya bisa mengerjap beberapa kali sembari merasakan bagaimana wajahku menjadi memanas sekalipun AC menyala tanpa jeda. Kedua tanganku memegang pipiku yang memanas, khawatir wajahku sudah memerah karena kelakuan kurang ajarnya Aksa.
Oke, bisakah seseorang mengatakan padaku situasi macam apakah ini?
***
__ADS_1