YOUFORIA

YOUFORIA
Changed


__ADS_3

Time changes so fast, begitupun proses pre-production yang finally rampung dengan amat memuaskan. Senang? pastinya, karena itu artinya tahap produksi akan di mulai sebentar lagi.


Malam ini, ketika aku tengah berdiri di balkon dan menatap orang - orang juga kendaraan yang terlihat kecil dari lantai tujuhㅡtempatku berdiri sekarang iniㅡlagu The night we met-nya Lord Horan yang jadi soundtrack resmi dalam series thirteen reason why ini berbunyi, sengaja kudiamkan terlebih dahulu agar aku bisa mendengar lagunya sebentar saat terkena angin malam.


Menunggu sekitar sepuluh detik, akhirnya aku meraih ponselku yang tergeletak begitu saja di ujung sofa. Menatap layar ponsel sebentar untuk memastikan panggilan dari siapa yang datang, sembari kemudian mengangkat teleponnya.


"Halo?" sapaku, sembari melangkah lagi ke dekat balkon.


"Mau dinner bareng nggak? Saya udah di depan gedung apartemennya Elle."


"Eh?" Aku melihat kebawah lebih seksama setelah mendengar informasi dari Aksa. Dan benar saja, sesosok manusia yang tak diundang itu tengah berdiri dengan jas kotak - kotak dan topi hitamnya. Sekalipun wajahnya tak terlihat sama sekali, tapi melihat seseorang tengah berdiri tepat di sisi Mercedes hitam itu seakan memberi sinyal kalau Aksa memang benar datang.


"Kalau nggak mau, nggak apa - apa sih, apa saua ajak Keenan aja ya mumpung udah disini?" katanya, sengaja ingin membuatku merasa bersalah jika menolak tawarannya.


"Bukannya nggak mau," Aku menghela napas sebentar. "Coba lihat ke atas, sebentar!" pintaku yang segera di sanggupi Aksa. Pria itu menengadahkan kepalanya, melihat keatas sampai akhirnya menemukanku di antara balkon - balkon dengan lampu menyala.


Aksa melambaikan tangan kanannya ke arahku sambil menyunggingkan senyumnyaㅡsekalipun tak jelas karena jarak pandang yang terlalu jauh, tapi aku yakin dia tengah tersenyum lebar memamerkan gigi kelincinya yang menggemaskan.


"Lo lihat kan gue masih gembel banget, kasih waktu sepuluh menit deh buat ganti baju."


"Oke - oke, saya tunggu di mobil, ya?"


"Oke!"


Setelahnya aku segera masuk ke dalam apartemen, menutup pintu menuju balkon dari dalam lalu berhambur ke kamar untuk berganti pakaian.


Celana jeans, kaos putih, outer berwarna khaki, dan totebag putih tulang jadi pilihanku untuk hari ini. Aku hanya memakai apa yang kutemukan oleh kedua mataku.


"Aksa!" panggilku, Aksa menoleh ke arahku, lalu menyunggingkan senyum kelincinya yang kali ini terlihat jelas olehku. "Lama, nggak?"


Aksa menggeleng. "Yang penting kamu mau saya ajak keluar."


"Oke kalau gitu, let's go!" Aku melangkah menuju sisi kanan mobil dan segera masuk tanpa menunggu Aksa karena ia sudah malakukan hal yang sama di sisi yang lainnya.


*


"Padahal tadinya saya ke tempat kamu cuma mau ngasih tau soal crew call* doang." Langkah kakiku berhenti sejenak, lalu menatap Aksa. "Waktu di crew call saya bilang kalau yang kasih tahu kamu biar saya aja."


Aku tersenyum senang, bukan karena Aksa yang melakukan berbagai macam cara hanya demi mengajakku makan malam setelah sekian abad lamanya, aku senang karena kalau sudah di lakukam crew call itu tandanya syuting akan segera dimulai.


"Besok kita mulai syuting, biasa, kumpul jam Delapan di gedung buat briefing sebentar, terus nanti jam sepuluh langsung ke lokasi syuting pertama barengan."


Aku mengangguk - nganggukkan kepala sembari tersenyum senang.


"That's the best news I heard today!"

__ADS_1


"Segitu senangnya mau syuting film?"


"Of course dong! Udah berapa tahun coba gue nggak kerja di balik layar film lagi?"


"So, is it worth even you've been failed the CPNS test and waited for long long time to this?"


"Yes, yes, yes! What you said is right! Now, we must to eat because I feel hungry already!"


Aksa membuka pintu restoran sambil mempersilahkanku masuk dengan tangan kanan yang ia rentangkan sembari bilang, "Of course, My Lady!"


Satu jitakkan dariku melayang tepat di keningnya, "Lady, lady, apasih... geli ish!" omelku yang dengan kurang ajarnya malah di tanggapi dengan tawa kecil Aksa.


Kalau di pikir - pikir lagi, aku udah lama nggak lihat setengah mata bulatnya yang tertelan juga gigi kelinci yang biasa ia pamerkan. Sibuknya kerjaan buat kami nggak punya waktu bahkan untuk bertegur sapa atau melempar senyum semata sekalipun intensitas bertemunya kami bisa di bilang sering, tapi tetap saja itu hanya urusan pekerjaan, tidak lebih.


Sembari mencari tempat yang cocok dan kosong untuk kami berdua, tatapanku berhenti ketika melihat dua orang yang jelas kukenal tidak jauh dari tempatku berdiri.


"Sa!" ucapku pelan, hampir seperti berbisik bahkan. "Itu Elle sama Seta bukan, sih?"


"Eh iya, itu Seta sama Elle." Aksa menatap keduanya lekat - lekat. "Setㅡ"


Aku membekap mulut Aksa dengan tanganku. "Lo mau ngapain?!"


Setelah membuka bekapanku, Aksa berbicara, "benar juga, mau ngapain ya saya?"


"Asya!" panggil seserang yang baru saja datang di antara Elle dan Seta.


Keenan?! Bentar... aku kira Elle dan Setaㅡ


"Terus kalian udah terlanjur lihat kita kenapa pergi?" Sekarang ketiganya menatap kami dengan pandangan penuh curiga.


Aku dan aksa pada akhirnya mendekati mereka.


Seta melahap steak yang sudah ia perkecil sebelumnya. "Pacaran udah, lagian ini anak dua lama ngilang juga, kan?"


"Nggak! Nggak gituㅡ"


Kok jadi gini? Kesannya jadi mereka yang menangkap basah aku dan Aksa. Padahalkan aku mengira sebaliknya, lagian aku sama Aksa...


"Nggak ada apa - apa diantara kita tuh, ini cuma keluar buat dinner sekalian si Aksa mau bahas soal crew call ke gue," jelasku panjang lebar. "Lagian lo, Le, mau dinner barengan kenapa nggak bilang - bilang?"


Elle tidak langsung menjawab, ia malah memanggil pelayan restoran terlebih dulu untuk meminta dua kursi lagi di antar meja bundar mereka yang besar.


"Ya, gue kira lo masih sibuk kerja, Sya. Lagian gue pulang apartemen masih kosong, terus pas banget si Keenan nyamper ke apart gue buat ngajak makan, Seta juga telepon gue buat ajak makan bareng, yaudah deh jadinya sekalian."


Keenan dan Seta mengangguk setuju.

__ADS_1


"Pantesan gue telepon nggak lo angkat, Sa. Ternyata love bird lagi sibuk."


"Seta, jangan nunggu gue lempar garpu buat bikin lo berhenti bicara seenak udel, ya!"


Seta membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. "Ampun Bu Asya!" katanya, setelahnya kami tertawa.


"Terus kenapa lo nggak nyamperin? Malah mau pergi gitu aja ngelihat temen sendiri?" Keenan angkat bicara, nada bicaranya seakan sengaja dibuat untuk mengintrogasi kami berdua.


"Gue nggak lihat lo disini, Nan."


Keenan berdeham sebentar, kemudian mengangguk - nganggukan kepalanya. "Gue habis dari toilet sih."


"Ya karena itu, gue kira cuma ada Elle sama Seta, terus gue kira... " Keenan, Seta, juga Elle mendengarkanku dengan seksama. "Gue kira... kalian emang lagi nge-date."


"Gila lo, Sya! Gimana bisa gue... " Elle menunjuk Seta. "sama diaㅡ"


"Aneh lo, Sya. Lo tahu sendiri gimana kelakuan teman lo yang satu ini, boro - boro mau dating, baru di jadiin target crushnya Elle aja pada kabur duluan," sahut Keenan sembari tertawa di ujung kalimatnya.


Seta meneguk cairan berwarna merah dari gelas bergagangnya. "Lagian si Elle bukan tipe gue juga sih."


"Siapa juga yang bilang lo tipe gue si?!" Elle tak mau kalah.


"Akur banget ya kayak Tom and Jerry, duh tau ah, lapar gue," Keenan menyuapkan potongan steak pada mulutnya. "Ini lo berdua disini mau makan apa ngapain?"


"Mau berenang gue, nggak tahu aja lo kalau gue udah bawa bikini disini," kataku sembari mengangkat totebag yang ku bawa.


"What the hell are you doing, Sya?!"


"Ya lo lagian nanyanya aneh - aneh aja. Gue kesini ya buat makan lah."


Suara tawa kami terdengar setelahnya, menguap bersamaan dengan musik klasik yang diputar restoran. Jangan tanya apa judulnya, aku nggak paham sama sekali.


Satu hal yang Keenan, Elle, dan Seta tidak tahu soal kebiasaan barukuㅡmencopot flatshoes yang kupakai ketika makan, lalu kakiku yang telanjang kuletakkan pada sepatu converse hitam milik Aksaㅡseakan itu sudah jadi kebiasaan untuknya, setelah Aksa sadar apa yang aku lakukan ia tersenyum ke arahku.


But I feel wrong here,


because not so long,


my heart fluttered just because of his smile. I mean, just HIS SMILE! So, does that mean my heart has changed now?


Should I tell him that my heart has changed and I accept him as someone special to me?


***


*crew call: pengingat bagi para kru agar selalu datang tepat waktu saat proses shooting berlangsung. Umumnya pihak produser yang melakukan crew call sebelum proses shooting berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2