YOUFORIA

YOUFORIA
Something Happened


__ADS_3

Aku melangkah gontai menuju pantry setelah break diumumkan. Hari ini, semua kru kerja gila - gilaan karena aktor mendadak demam dan harus menemui dokternya sore nanti.


Mas Danin langsung merevisi jadwal shooting. Subuh - subuh melakukan crew call dadakan. Memajukan jadwal lalu mengambil scene demi scene seakan tak ada hari esok.


"Kalau bukan karena si Vano yang masuk angin, kita nggak akan kerja sebegitunya sampai kayak orang kesurupan!" keluhku sembari mengacak rambut yang sudah berantakan dengan kasar.


Aldi menghela napas, sambil memejam mata dan merebahkan tubuhnya pada sofa. "Gila emang mereka! Aduh, nggak mau lagi deh gue ikut proyek film kalau prodnya Pak Revan dan sutradaranya Pak Yonas, disiplin banget berasa lagi magang jadi tentara," Aldi mengeluh juga.


The suck day! mungkin begitu yang akan kujawab ketika ditanya hari ini hari apa.


Aldi yang biasanya tidak bisa diam dan selalu semangat aja kali ini tepar juga, apalagi aku?


"Serak suara gue, perlu ngisep kencur nih biar nanti siap teriak - teriak lagi," kata Mbak Nada yang terduduk dengan satu botol minuman dan satu potongan kecil rempah yang mungkin dia bilang bernama kencur itu.


"Emang ngaruh ya, Mbak?" Aku bertanya, tepat setelah terdengar suara renyah dari Mbak Nada---dia baru saja mengunyahnya. "Astaga, Mbak. Lo makan kencur kayak makan permen aja," tambahku.


"Normalnya, orang makan permen aja nggak dikunyah sih, Mbak." Aldi ikut masuk pembicaraan sembari membuka kedua matanya dan menatap Mbak Nada.


"Dulu gue mantan anggota PASKIBRA waktu SMA, nah makan kencur tuh udah jadi kebiasaan, apalagi buat danton* yang kerjanya ngasih aba - aba dengan lantang."


Aku dan aldi mengangguk paham. "Pantas aja lo jadi Astrada, Mbak. Cocok apalagi satu tim sama Pak Revan dan Pak Yonas, teriakan dan kencur lo jadi ada gunanya," sahut Aldi yang berhasil kena desis Mbak Nada yang mulai kesal.


"Kalau jadi astrada cuma modal suara kencang, profesi tukang parkir punah sih, Di."


Kami tertawa setelahnya. Tolong deh, jangan satuin Aldi sama Mbak Nada, setiap bertemu kalau nggak berantem sama ejek - ejekan ya bisanya cuma bikin sakit perut karena ketawa aja.


"Pantesan masih ramai, masih pada disini ya?" Mas Danin masuk ke pantry dengan sekotak kardus berukuran sedang yang kupastikan berisi makanan.


"Udah dateng, Mas?" Aldi langsung terduduk melihat kotak yang mungkin saja terlihat bersinar di matanya.


"Udah tuh, langsung dibagiin di depan sama PU*, karena udah pada keburu lapar jadi pada ambil duluan."


Gimana nggak lapar kalau nggak makan selama sembilan jam? Pak Revan yang biasanya marah - marah karena jam makan siang molor aja kali ini nyuruh kita skip breaknya biar sekalian nunggu sore.


Aldi, Mbak Nada, dan aku segera bangkit dari kursi, berniat berhambur keluar untuk mengambil jatah makanan sebelum Mas Danin dengan sengaja menghalangi.


"Tunggu disini aja, saya sudah suruh Manda bawakan kesini sebagian barusan."


Manda? Amanda yang itu kan? Nggak salah dengar ini?


Aku terdiam, tiba - tiba terpikirkan kalau Manda masih tidak terima dengan kejadian tak mengenakkan waktu itu.


Setelah itu saja kami tidak pernah bertegur sapa, kalau tak sengaja berpapasan juga malah memilih bersikap seperti tidak saling mengenal.


Bagaimana kalau dia memberi racun pada makananku agar aku mati seperti di sinetron - sinetron garapan sutradara komersial*?---nggak gitu juga sih, terlalu ekstrem itu namanya.


Aku hanya bisa menghela napas, menerka - nerka apa yang akan terjadi memang tak ada gunanya, yang ada malah aku gelisah nggak karuan gini.


Benar saja, tak lama Amanda datang dengan satu plastik besar berisi beberapa kotak makanan. Memang dasarnya Mas Danin nggak pernah bohong juga sih, jadi kedatangan Amanda memang sudah kuprediksi.


Ia memberikan kotak itu padaku terlebih dahulu kemudian berkata, "maaf, Mbak, yang kemarin... " Aku mendadak terdiam. Ini Amanda beneran minta maaf ke aku? Di depan Mas Danin, Mbak Nada, juga---Aldi? "gue kelewatan banget, padahal cuma masalah sepele," Amanda melirik Aldi ketika kata 'sepele' keluar dari mulutnya. "Harusnya, gue nggak gitu. Sekali lagi, maaf, Mbak."


Aku tersenyum. Entah minta maafnya Amanda ini tulus atau tidak, setidaknya kita nggak saling diam - diaman lagi seperti sebelumnya. "Santai sih, Man. Gue juga minta maaf karena ucapan gue yang kelewat kasar."


Senyum Amanda terbit juga, kemudian ia memberikan kardus makanan lainnya pada Aldi dan Mbak Nada. "Yaudah kalau gitu, gue gabung sama anak - anak di depan ya?"


Kami mengiyakan sambil bernapas lega.


"Dia lo apain, Mas? Sampai tiba - tiba minta maaf gitu? Nggak lagi di vonis sakit berbahaya atau sekarat kan?" tanya Aldi pada Mas Danin yang kemudian terduduk di sofa sembari tertawa.


"Tanya Bang Revan deh, dia yang bicara kemarin setelah lihat interaksi Amanda sama Asya yang nggak sengaja ketemu di sini."


"Ah elah, kalau suruh nanya ke Pak Revan mending enggak aja deh gue."


Mas Danin tertawa lagi, kami pun sama. Boro - boro mau tanya perihal Amanda ke Pak Revan, dipanggil namanya aja udah deg degan duluan.

__ADS_1


*


"STAND BY!" Mbak Nada melihat keadaan sekitar. "ROLLING SOUND!" teriaknya, "ROLLING CAMERA!"


"ACTION!" Suara aba - aba dari Aksa membuat Vano melakukan akting sesuai arahan dari Aksa juga Mas Hanung sebelumnya.


Scene demi scene ia lewati dengan mulus semata - mata demi para kru yang terpaksa merombak jadwal karena sakitnya.


Padahal, Vano sudah menolak untuk pergi ke dokter karena demamnya bisa hilang setelah ia istirahat cukup.


Aktor muda yang sayangnya ganteng dan baik hati itu mengatakan tidak apa - apa sekalipun suhu tubuhnya naik menjadi tiga puluh tujuh derajat. Berbeda dengan sang manajer yang terus memaksa minta cuti sehari agar sang aktor bisa beristirahat dan kesehatannya pulih kembali.


Kami tidak bisa apa - apa selain menurutinya, tentu saja dengan syarat melanjutkan shooting lebih awal dan meniadakan shooting saat malam.


"CUT!" teriakan Aksa membuat kami bertanya - tanya. Apa scene terakhir ini memuaskan atau masih mau diulang? "Vano! Sini sebentar," pinta Aksa yang segera diiyakan sang aktor.


Vano menghampiri Aksa, mendekat ke layar monitor.


"Menurut kamu gimana?" Aksa meminta pendapat.


"Disini, sepertinya harus saya ulang lagi."


Aksa melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, lalu menghampiri Pak Revan sembari berbisik---entah apa yang diucap.


"Kita ulang scene ini sekali saja, karena kalau mengulang lebih dari itu akan OT*, Vano juga harus segera ke dokter kan?"


Vano mengangguk, kru yang lainpun mengiyakan.


Last but not least, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hari ini.


Sekalipun harus datang subuh sampai nggak sempat mandi dulu, setidaknya semua nggak sia - sia.


Salut juga sih sama Vano yang profesional sekalipun sedang sakit. Coba kalau aku yang ada di posisinya, nggak sakit aja aku rebahan, apalagi kalau sakit? Tapi jangan deh, sehat aja aku udah gampang tepar.


"Lensa?" tanya Aldi yang berdiri di sampingku.


"Udah masuk semua, kamera juga udah oke. Nih laporannya." Dua lembar kertas laporan kuberikan pada Aldi untuk diperiksa lagi.


"Oke, gue yang kasih ke Pak Revan deh, pulang barengan juga soalnya."


Mengingat Aldi, Pak Revan, Mas Danin, yang tinggal bersama di apartemen Aksa membuatku segera mengiyakan.


*


Karena pulang lebih awal, Aksa mengajakku untuk pergi keluar. Aku bisa apa selain iya iya aja? Toh pulangpun belum tentu bisa tidur karena anak - anak pasti sibuk main jenga, uno, remi, atau mungkin ngerumpi.


"Seat beltnya jangan lupa dipakai ya Bu Aksa."


Bukannya menurut dan memakan seat belt, aku malah terdiam, masih kaget dipanggil dengan title baru---Bu Aksa---yang bikin deg degan.


Ternyata bukan cuma dipanggil Pak Revan aja ya yang bikin aku senam jantung, di panggil Aksa dengan semaunya diapun sama bahayanya---tentu dalam konteks yang berbeda.


"Bu Asya mungkin ya, itu lidah lo keseleo kurang olah raga apa gimana?"


Aksa yang tengah menyalakan mobilnya melirikku sembari menarik sudut bibirnya sedikit. "Mau kamu ajak olah raga emangnya, Sya?"


"Hah?!" Aku panik sendiri, ini imajinasiku yang terlalu liar apa memang ucapan Aksa yang ambigu?


Aksa lagi - lagi menarik ujung bibirnya sedikit. "Bercanda, bercanda."


Mau bercanda mau nggak tetap saja bikin aku gelisah nggak karuan gini, sialan memang Aksa lama - lama.


"Song request, no?" Aksa membuka sesi obrolan setelah mobil mulai melaju melalui jalan utama.


"The night we meetnya Lord Horan tahu nggak lo?"

__ADS_1


"Soundtracknya Thirteen reason why, kan?"


"Yep!"


"Okay, lagunya Lord Horan siap didengarkan,"


Benar saja, tak lama nada yang kukenal berbunyi secara pasti.


Menatap Aksa yang tengah serius melihat jalanan yang sepi dengan ditemani lagu demi lagu membuatku tenang sepanjang perjalanan. Entah mau dibawa kemana aku sekarang ini, yang pasti, dengan begini saja rasanya lelahku bisa hilang dan aku bisa tidur pulas.


Aku nggak tahu apakah semua orang yang lagi falling in love merasakan hal yang aku rasakan juga? Sensasi aneh yang menyenangkan sekaligus ketakutan.


Apa yang harus ditakutkan kalau selalu ada Aksa dimana aku membutuhkan, selalu Aksa orang pertama yang langsung mencariku setiap harinya, dan hanya Aksa who treat me like princess even i dont believe in that.


Aku serius! Selama dua puluh dua tahun aku hidup, aku nggak pernah percaya dengan cerita dongeng para putri raja nan cantik jelita seperti apa yang dibuat oleh Walt Disney.


Tidak ada satupun kehidupan seseorang yang tiba - tiba berubah hanya karena menggunakan sepatu kaca seperti Cinderella, tidak ada satupun kehidupan seseorang yang berubah setelah menemukan pangerannya dan mencium monster pemarah seperi Belle.


Aku bukan bermaksud menjelek-jelekkan Disney sih, waktu kecil aku juga suka lihat Mickey Mouse kok, bahkan aku sengaja mengumpulkan uang untuk beli majalah Bobo hanya agar bisa membaca komik Donald Duck.


Maksudku, aku hanya tidak bisa mengerti bagaimana bisa kita percaya hanya dengan satu kejadian bisa membuat hidup kita berubah sepenuhnya? Kejaiban? Apa keajaiban itu benar ada di kehidupan nyata? Bukannya itu hanya dibuat untuk dunia dongeng dan cerita fiksi saja?


Lalu, berubahnya kehidupanku yang banyak campur tangan seorang Aksa apakah suatu keajaiban juga?


Aku baru tahu, jatuh cinta serumit ini ternyata.


Aku menggeleng sembari menepuk - nepuk pipiku sendiri, berusaha menarik diri dari tumpukkan pertanyaan yang kubuat - buat sendiri.


"Something happened, Sya?" tanya Aksa sembari melirik ke arahku.


"No, I'm fine, I'm okay."


Mobil masih melaju dengan kecepatan standar, langit yang memang sudah gelap semakin terlihat menggelap karena mendung yang ikut mengusir keberadaan para bintang malam.


Aku sedikit bersyukur, kalaupun hujan, setidaknya aku nggak pulang sendirian dan---


"AKSA!" pekikku kaget saat sebuah pohon tumbang tepat di depan mata.


Untungnya, pohon itu tak menyentuh kami---bahkan mobil Aksa---sama sekali. Tapi tetap saja, kalau Aksa yelat menginjak rem sedetik saja... aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelahnya.


"Sa, lo nggak apa - ap---"


Melihat Aksa yang mendadak membeku dengan muka yang kini memucat membuatku panik tak karuan.


"Sa?" panggilku pelan sembari menggoyangkan bahunya.


Aksa masih tak merespon, bahkan tak bergerak seakan ia sedang menjadi patung.


"Demi Tuhan ini lo jangan bercanda! AKSAA!" teriakkanku membawa kesadaran Aksa kembali ke dunia nyata. Aku bersyukur sekaligus bingung. "Lo nggak---"


"Sya?" Aksa memanggil tanpa mau melirikku, pandangannya masih terfokus pada pohon yang tumbang tepat di depan kap mobilnya. "Kita balik pulang aja ya? Saya antar pulang."


"Lo... nggak apa - apa kan?"


Tak ada jawaban setelahnya, kami sama - sama diam.


Sebenarnya ada apa?


***


*Sutradara Komersial adalah sutradara film yang berspesialisasi dalam pembuatan iklan , seringkali untuk televisi, tetapi kadang-kadang juga pada film dan video musik (mengingat bahwa video musik diakui sebagai bentuk iklan untuk lagu yang ditampilkan dalam video).


*Danton adalah singkatan dari kata komandan peleton.


*OT merupakan singkatan dari “Over Time”. Ini biasanya berhubungan dengan penyewaan tempat, alat, atau lokasi. Kru akan berupaya sedemikian mungkin agar durasi penyewaan tidak “OT”, karena kalau “OT” bisa kena charge tambahan atau denda.

__ADS_1


__ADS_2