
Shirt dress berwarna hitam yang dibelikan Aksa seminggu yang lalu jadi pilihan untuk kupakai mengunjungi orang tuaku. Alasannya hanya satu: aku ingin mereka, terutama Mama melihatku menggunakan pakaian bagus setelah sekian lama.
Secara tak sadar aku menyimpulkan senyumku.
Entah kenapa rasanya bisa sesenang ini. Fakta kalau ternyata hidupku nggak sesial itu sekalipun aku gagal tes PNS dan masih jadi seorang kasir sekaligus penjaga minimarket, tetap saja rasa bahagia yang kudapat sekarang malah bertambah berkali - kali lipat.
Kalau dipikir - pikir, yang Aksa bilang padaku ternyata benar juga. Aku bukannya nggak bisa bahagia, aku cuma nggak sadar dan mengesampingkan itu semua hanya demi kesuksesan semata. Padahal sukses dan bahagia itu suatu hal yang jelas berbeda.
At the end, I admit that Aksa knows me better than myself.
"Arasya!"
Aku menoleh ke asal suara, lalu menemukan Aksa yang baru saja keluar dari Mercedes-Benz hitam miliknya, kemudian ia berlari menghampiriku dengan senyum yang tak pernah sirna dari wajahnya. Aku ikut tersenyum, senyumnya Aksa memang menular dan itu bahaya.
Tapi, kenapa dia bisa disini? Maksudku, bahkan gedung apartemen Elle nggak dekat dengan minimarket yang biasa dikunjungi Aksa.
"Ke TPU Karet Bivak*, kan? Saya antar sekalian, mau?"
Aku mengerjap sesaat, otakku tak henti - hentinya memikirkan obrolan kami di minimarket kemarin. Kayaknya semalam Elle cuma bilang kalau hari ini peringatan kematian orang tuaku, dia nggak bilang dimana tempatnya, kan? Jadi, Aksa tahu darimana?
"Bentar, Sa" Aku menelengkan kepalaku ke kiri sambil menatap Aksa. "Pertama, lo... kok tahu gedung apartemen Elle? Kedua, emang gue pernah ajak lo ke kuburan orang tua gue ya?"
Aksa menggaruk tengkuknya yang kuyakin sama sekali tak gatal. Gesturenya yang seperti itu menandakan ia yang tengah kebingungan untuk memberikan jawaban.
Sialnya, pikiran - pikiranku tentang keanehan Aksa belum sepenuhnya hilang. Dari lamaran mendadaknya, mengetahui namaku disaat pertama kali kita bertemu, lalu soal alergiku, sampai soal cuti kuliahku, bahkan sekarang soal tempat pemakaman orang tuaku. Nggak salah kan kalau aku anggap Aksa betulan aneh?
"Saya datang kesini karena Elle bilang kamu biasa kesana sendirian. Kamu emang nggak pernah ajak saya, ini semua inisiatif saya sendiri dengan bantuan informasi dari Elle. Maaf kalau saㅡ"
"Oh... Elle yang bilang?" Aku memastikan. Aksa menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu berarti guenya yang salah paham, sorry." Aku melangkah pergi, meninggalkan Aksa yang tengah kebingungan sendiriㅡbukan begitu juga sih. Dari pada pergi, mungkin lebih tepatnya aku hanya berjalan duluan menuju mobilnya. Kukira dia diam - diam mengekori, tapi setelah aku berbalik dan melihatnya lagi, ia masih berdiri di tempat yang sama tanpa bergeming sedikitpun. "Ini lo nggak jadi ngantarin gue?"
"Oh... sebentar" kata Aksa yang kemudian terburu - buru menyusulku.
Kami berangkat dalam keadaan canggung, tahulah bagaimana kakunya Aksa, belum. lagi ditambah karena kejadian sebelumnya. Kalau boleh jujur, aku sendiri masih merasa kalau semua tentang Aksa itu penuh rahasia, dia tahu soalku terlalu banyak tanpa pernah aku beritahu, dan itu cukup mengusikku.
Apa Aksa selama ini memang menguntitku? Atau mungkin dia salah satu dari sekian banyak orang yang uangnya dipinjam orang tuaku? Atau dia ada kaitannya dengan semua kejadian yang menimpaku? Aku menggeleng, berusaha sebisa mungkin mengabaikan semua pikiran negatifku. Nggak boleh suudzon Arasya, dosa kamu udah banyak jangan sok - sokan mau memperbanyak lagi.
"Mau mendengarkan lagu?" tanya Aksa di sela - sela diamnya kami berdua.
Aku menoleh ke arahnya yang masih sibuk dengan situasi jalanan di depan. "Boleh"
Tak lama alunan musik dengan nada indah membentuk suatu melodi yang tampak tak asing. Setelahnya, lirik demi lirik mengalir menyapa telinga.
But I can't do this alone
Sometimes I just need a light
If I call you on the phone
Need you on the other side
__ADS_1
So when your tears roll down your pillow like a river
"I'll be there for you" "I'll be there for you" Menyanyikan sepenggal lirik dalam waktu yang bersamaan membuat aku dan Aksa refleks saling melirik sesaat, kemudian kami berdua tertawa. Jangan tanya dimana letak lucunya, bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang aku tahu, suasana diantara akhirnya mencair.
"But you gotta be there for me too"
Senyumku melebar ketika Aksa menyanyikan sepenggal lirik yang entah kenapa menurutku mewakilkan perasaannya. Bukannya mau menebak - nebak sendiri, aku bukan dukun yang bisa meramal atau menerka - nerka perasaan orang secara benar. Hanya saja, aku merasa bingung, dia ini benar-benar hanya bernyanyi atau sengaja mau berbicara begitu padaku?
"Okay, it seems like I have to stop singing rn" kata Aksa tiba - tiba setelah aku mendadak diam kembali.
Aku meliriknya. "Why?" tanyaku, takut - takut Aksa salah mengerti dengan sikap diamku.
"Suara saya nggak bagus tapi saya suka nyanyi, lucu ya?" katanya lagi sambil tertawa kecil di ujung kalimatnya.
Benar kan, dia salah paham.
Aku buru - buru menggelengkan kepala. "Kata siapa?" Aksa melirikku sebentar, mungkin mencari kebenaran melalu ekspresi wajahku. "Suara lo bagus kok, suara Martin Garrix sama Troye aja sampai kalah"
Tawa renyah Aksa terdengar bersamaan dengan lagu There for you by Martin Garrix ft Troye. Lagu ini menemani perjalanan kami, sampai - sampai aku lupa soal kecurigaanku pada Aksa ketika beberapa kali kamiㅡterutama Aksa ikut bernyanyi.
*
Bring me back to the pastㅡadalah salah satu harapan yang selalu aku ucapkan dikala rindu dengan sosok orang tuaku. Bukan tanpa sebab, tapi kehilangan semuanya dalam waktu singkat masih jadi trauma sendiri bagiku.
Lalu, apa yang akan aku lakukan jika benar bisa kembali ke masa lalu? Tentu saja, aku mau melihat mereka lagi. Ya, orang tuaku yang kini terhimpit di balik tanah merah, tak lupa rumput jepang hijau yang dibiarkan menyelimuti keduanya, bucket bunga yang kubawapun sudah kutaruh di dekat nisannya untuk mempercantik keduanya.
"Ikut ajasih, ayo"
Begitu kira - kira percakapan singkatku dan Aksa sesaat sebelum menuju kemari dari arah parkiran.
Aku soal kebiasaanku yang suka bercerita sendiri kalau datang kesini, menceritakan hari - hariku yang membuatku tertawa juga terluka. Seakan - akan mereka ikut menjadi saksi juga telinga dari segala keluh kesah yang ada selama ini. Tapi kalau ada Aksa begini, mana bisa aku bercerita sendiri seperti biasanya? Yang ada aku dianggap gila. Rasanya aku benar - benar mau mengutuk diriku sendiri, harusnya aku nggak ajak Aksa kesini.
"Halo, Om, Tante, hari ini saya antarin Asya" Lagi - lagi aku dibuat bingung sendiri sama tingkah manusia yang satu ini. Kayaknya yang dukun itu Aksa deh, ya? Jangan - jangan selama ini dia bisa baca semua pikiranku. "Saya Aksa, Om, Tante, temannya Asya."
Oh, ternyata yang suka bicara sama batu nisan di kuburan bukan hanya aku, Aksa pun sama. Yaudah sih pas ya, sama gilanya, ehh.
"Sekarang saya hanya bisa memperkenalkan diri dulu, kalau waktunya sudah tepat dan Asyanya sudah siap, mungkin saya akan kesini dengan maksud lain."
Maksud lain? Aku mengernyit, memaksa otakku berpikir. What do you mean, ya? Belum sempat terjawab, kata - kata Aksa yang lain ikut mengganggu pikiranku, 'waktu yang tepat dan aku yang siap?' Oke, fix! aku benci kalau mendadak disuruh mecahin teka - teki semacam ini. Hidupku udah terlalu sulit, jangan nambah - nambahin ya, tolong.
"Sa... "
"Kalau kamu mau bicara dulu, saya bisa tunggu di parkiran."
Beneran mau? Eh, jangan, kalau aku bilang gitu kesannya nggak sopan. Tadi kan aku yang ngajak dia kesini masa sekarang aku juga yang minta dia pergi. Serba salah banget emang, duh gusti.
"Saya tunggu di parkiran, ya?" Aksa berdiri, berniat melangkah pergi sebelum aku mencegahnya.
"Nggak usah, bareng aja, ini juga gue mau balik"
__ADS_1
Aksa mengangkat salah satu alisnya. "Sekarang?"
"Yep!" Kepalaku menengadah keatas sebentar, lalu melirik Aksa sambil bilang, "langitnya mendadak mendung, gue nggak mau pulang kehujanan." Aku ikut berdiri, menghampiri Asya lalu menarik lengannya, membawanya pergi ke parkiran. "Lo, hari ini nggak ada acara kan?"
"Nggak ada, tadi sebelum kesini sih ada meeting lagi, tapi udah selesai."
Meeting lagi, ya? Pantas aja pakaian Aksa kali ini berbeda dari biasanya. Pakaiannya yang sekarang agak rapi, bukan sebatas celana santai dengan sandal jepit dan topi hitam yang biasanya dia pakai.
"Jadi, gimana perkembangan projek film. barunya ya Bapak Aksa?"
Aksa tersenyum sebentar sebelum kemudian berbicara, "karena kemarin script conference* udah sedikit dibahas sama setiap divisi, hari ini udah tinggal dengar laporan. Setting waktu sama propertinya udah lengkap, DoP* juga cepat paham bagaimana kemauan saya, Sound designer* juga udah oke, yang agak terlambat di proses Recce* dan survei lokasi sih, ini saya harus nunggu beberapa hari lagi sepertinya."
Aku mengangguk - ngangguk sok paham. Nggak juga sih, aku benar - benar paham akan tahap - tahap yang Aksa jelaskan. Hanya saja, mendengar sendiri bagaimana Aksa menceritakan semua secara detail bikin aku jadi tiba - tiba rindu menjadi kru film yang bakalan sibuk ubet kesana - sini.
Aku pernah sekaliㅡsetahun yang laluㅡdi rekrut jadi Astrada* pada salah satu film pendek yang di produseri langsung oleh salah satu senior kampusku. Bukan projek besar memang, tapi aku jadi punya sedikit gambaran akan apa yang Aksa ceritakan. Sekalipun berbeda jauh dari projek Aksa yang kupastikan memiliki dana produksi yang besar dengan skala lebih luas dan kru yang lebih banyak, setidaknya aku paham how it alls work.
"Lo kalau lagi kerja suka marah - marah juga nggak, Sa?" tanyaku penasaran.
Kebanyakan yang aku tahu dari pengalaman pribadi maupun cerita teman - teman, sutradara kalau udah di lokasi syuting bakal berubah jadi singa saking galak dan ngeselinnya. However, a film director is known to be a perfectionist, dan itu kadang menjadi menyebalkan di mata para kru yang kena getah omelannya.
Aksa diam sebentar, "kalau yang ini bisa saya skip nggak? Takut salah jawab."
Aku tertawa sebentar, menyadari bagaimana Aksa menolak menjawab pertanyaanku membuat aku yakin kalau Aksa Yonaswara ini sering marah - marah di lokasi syuting saat menggarap film - filmnya. "Jadi, Bapak Aksa Yonaswara ini ternyata punya tempramen yang kurang baik juga ya di tempat kerja?" ejekku.
"Mau lihat sendiri buat memastikan?" Aksa tersenyum jahil sambil menatapku.
"Gimana maksudnya? Ini lo mau ajak gue ke lokasi syuting apa gimana?"
"Boleh, asal kamu bisa jaga rahasia" he said, then pretended as if his lips were sealed, as he shut the 'imaginary' zipper on his mouth.
Salah satu sudut bibirku terangkat, merasa tertarik diajak terjun langsung untuk mengamatinya, juga proses pembuatan film yang amat sangat aku rindukan. "Okay, I'll keep that secret! So, take me there kalau syutingnya udah mulai."
Aksa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang. "I'll take you, for sure"
For the first time aku merasa datang ke pemakaman adalah hal yang menyenangkan. Aneh memang, tapi begitulah kenyataan yang kurasakan.
***
*TPU Karet Bivak: salah satu tempat pemakaman umum di Kota Jakarta.
*Script Conference: analisis terhadap cerita dan struktur dramatik yang dijelaskan oleh penulis skenario. Dari skenario yang sudah diberikan, seluruh tim bisa memulai dengan breakdown masing-masing kebutuhan. Hal ini tentunya berdasarkan konsep penyutradaraan yang diberikan sutradara.
*DOP (Director of Photography): Seorang kepala departemen yang memimpin dan menjaga kualitas fotografi dari keseluruhan film. Termasuk kualitas gambar, pencahayaan dan juga pergerakan kamera.
*Sound Designer: divisi yang menciptakan konsep aural (semua hal yang bersangkutan dengan indra pendengaran) dalam film.
*Recce: melihat lokasi yang sudah pasti digunakan untuk proses shooting oleh keseluruhan departemen yang nantinya akan terkait dengan proses produksi.
*Astrada (Asisten Sutradara Sutradara).
__ADS_1