YOUFORIA

YOUFORIA
Shopping


__ADS_3

Pagi inipun langit sedang cerah - cerahnya, dan entah bagaimana cerahnya langit ini menulari raut mukaku juga pada akhirnya. Asya yang raut mukanya kelam sudah terbenam semalam, tergantikan dengan Asya yang baru, Asya yang sekarang.


"Asya!" panggil Tante Ema yang tengah menyapu latar depan minimarket.


Aku kaget melihat kehadirannya, tapi kemudian memutuskan untuk menghampirinya dan bertanya, "Loh, Tante udah pulang?"


Tante Ema tersenyum, "iya, semalam" Tatapan Tante Ema beralih ke dalam minimarket, tepatnya pada seseorang yang tengah sibuk mengelap kaca. "Sebenarnya Elle udah bilang ke Tante semalam, tapi pacar kamu juga bilang hal yang sama tadi. Dia ngeㅡ"


"Bentar... Tadi Tante bilang apa?"


"Elle bilang ke Tante seㅡ"


"Bukan, sesudahnya"


"Pacar kamu?"


Astaga, kegilaan apalagi yang Aksa lakuin coba? Pacar katanya... Baru aja semalam aku puji - puji karena udah menghiburku, sekarang dia mulai bertingkah seenaknya lagi.


Aku menatap Aksa, ia yang sadar karena ku tatap dari luar dengan tanpa dosanya malah memamerkan senyum kelinci yang sayangnya sangat menggemaskan. Aku mau marah tapi senyumnya itu membahayakan arghh gila sendiri aku lama - lama.


"Pokoknya, hari ini biar tante yang jaga toko. Kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau hari ini. Tante ijinin."


"Tapi Tanteㅡ"


"Gaji kamu nggak akan tante potong deh serius."


"Tapi Tanㅡ"


"Udah sana pergi, pacar kamu udah ijin sampai dia bela-belain bantu tante beres-beres minimarket loh, Sya."


"Tapiㅡ"


"Kalau kamu nggak pergi, nanti Tante berubah pikiran lo ...."


"I-iya Tante, makasih" Tante Ema langsung tersenyum riang menanggapi jawaban terpaksaku. Begini, masalahnya, kalau aku berdebat ataupun menolak Tante Ema yang ada aku kalah telak. So, ya here we go, mari kita terima apapun itu yang Tante Ema bilang dan mari kita beri Aksa pelajaran.


Aksa keluar dari minimarket dengan senyum yang tertera di wajahnya, berpamitan pada Tante Ema sekaligus menghampiri dan memintaku untuk ikut dengannya.


Tante Ema yang terus melihat kami dengan senyum yang tak pernah sirna bikin aku nggak enak hati buat nolak Aksa. Alhasil aku menerima dan menuruti Aksa dengan paksaan, tentu saja semata-mata karena ada Tante Ema disana.


Aku masuk ke mobilnya, terduduk dengan senyumku yang akhirnya terbenam juga.


"Astaga... lo ngomong apa aja sih sama Tante Ema?" rutukku yang kurang ajarnya tak dia hiraukan sama sekali.


Aksa sibuk melihat jalan di belakang mobil dengan kaca spion disampingnya, juga disampingku, kemudian dia berhenti lalu menatapku dengan wajah yangㅡaku tak bisa deskripsikan. Hanya saja, gerakannya yang tiba - tiba mendekatiku bikin jantungku berdegup kencang karena terkejut. Sialnya, aku malah menutup kedua mataku, takut - takut Aksa melakukan apa yang sempat terlintas di kepala.


"Sabuk pengamannya, saya nggak mau ditilang cuma karena ini"


Seketika aku bernapas lega dan membuka kedua mataku, tapi yang kulihat disana adalah muka Aksa yang hanya berjarak beberapa centi saja. Dia sibuk mengencangkan seatbelt milikku, sedangkan aku sibuk mengendalikan diriku yang entah kenapa mendadak merasa gerah sendiri, bahkan tanpa sadar aku tahan napas sampai Aksa kembali duduk di kursinya lagi.


Gila memang kamu Aksa!


*


Mobil Aksa terparkir dengan rapi. Aku yang baru menyadari dimana diriku berada refleks melihat pakainku sendiri, dari sandal swalow hitam, celana training, dan jumper berwarna abu berukuran satu tingkat lebih besar dari ukuran asliku.


"Sa, lo... jangan bilang mau ajak gue ke GI?"

__ADS_1


Sialnya, Aksa malah menyunggingkan senyum, mengusir denialku karena yang kukira bukan ternyata suatu kebenaran.


"Astaga bisa - bisanya lo... " Aku bahkan kehilangan kata - kata. Masalahnya, ini pakaianku sama sekali nggak kontras dengan tempatnya. Rasanya aku mau menghilang dari bumi aja seketika.


"Ayo, Sya" ajaknya, semangat sendiri. Dia bahkan sudah berdiri di luar mobilnya.


Aku melihatnya, lebih tepatnya mungkin memperhatika penampilannya. Dari sandal, celana jeans, kaos hitam polos, sampai topi yang senada dengan kaosnya, terlihat sederhana memang, tapi kupastikan setiap item semurah - murahnya berharga diatas lima ratus ribu yang kalau buatku bisa dipakai buat beli kuota lima bulan lamanya.


"Nggak deh, Sa. Kita pulang aja. Lagian lo kenapa tiba - tiba ajak gue kesini deh?"


Aksa mengernyit, kemudian mentelengkan kepalanya ke kiri. "Kata orang, kalau lagi bad mood tuh cewek suka belanja. Makanya saya ajak kamu kesini biar mood kamu baik lagi."


"The world is too cruel to follow what people says, Sa"


"I Agree sih. Tapi itu nggak ada korelasinya sama belanja. So, here we go!" katanya sambil menutup pintu. Aku menahan diri agar tak teriak saking jengkelnya menghadapi lelaki aneh macam Aksa.


Belanja di Grand Indonesia nggak pernah masuk list mood booster buatku. Bukan hanya karena aku yang merasa tempatku dan GI adalah tempat yang berbeda. Masalahnya, aku bahkan nggak punya cukup uang untuk sebatas beli sandal jepit doang disana. Ditambah pakaianku hari ini ya super duper nggak banget buat dipakai ke tempat ini benar - benar buat aku mau tenggelam ke Samudra Hindia aja kalau bisa.


Aksa membukakan pintu mobilnya, menyuruhku keluar dan mengikutinya.


"Kak Yonas!"


Aku dan Aksa refleks mencari asal suara, lalu menemukan sesosok gadis cantik yang tampaknya kukenalㅡlebih tepatnya, pernah kulihat.


Dia Sandra, kan? Sandra Agatha, penyanyi sekaligus aktris muda yang sedang naik daun setelah debut akting di film baru garapan Aksa. Mimpi apa aku bisa ketemu artis papan atas kayak dia gini?


Sandra menghampiri Aksa dengan senyum menarik dari wajahnya. Wajah cantik dan tubuh tinggi semampainya itu mendadak bikin aku insecure seketika.


Ini, ini yang paling aku benci kalau pergi ke tempat - tempat semacam ini. Aku buru - buru pergi, bersembunyi di balik mobil Aksa sambil mengintip interaksi keduanya dari jendela.


"Kak Yonas datang sendiri?" tanyanya, masih terdengar olehku sekalipun samar.


Aksa Yonaswara, kamu gila titik nggak pakai koma! batinku, gemas sendiri.


Sandra menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya tertawa. "Ini Kakak nggak lagi bercanda kan?"


"Nope, saya kesini sama pacar saya, dia di... " Raut wajah Aksa mendadak pucat pasi saat tak menemukanku di belakangnya, pandangannya menyisir setiap sisi parkiran, mencari keberadaanku.


"Jangan bilang sekarang Kak Yonas lagi nembak aku?" ucapan Sandra cukup buat nyaliku semakin menyusut. Bahkan seorang Sandra bisa bicara begitu ke Aksa? Aku nggak tahu harus senang atau bagaimana tapi yang jelas nggak boleh gini, ini aku jadi kaya jurnalis yang ngikutin orang demi dapat konten gosip terbaru nggak sih?


Aksa tak menghiraukan ucapan Sandra yang bahkan pipinya terlihat sudah merona. Sebagai sesama perempuan, aku yakin betul kalau Sandra sebenarnya menyimpan rasa untuk Aksa. Bodoh sih kalau Aksa nolak mentah - mentah perempuan cantik kayak dia.


"Asya?"


Aduh, udah sih lupain aku aja. Jangan sampai Sandra lihat aku yang begini please mana Aksa bilang aku pacarnya lagi, malu - maluin aja.


Sialnya, doaku tidak terkabul sama sekali. Aksa malah melihatku. Aku buru - buru membungkukkan tubuhku, berniat menyembunyikan diri dibalik mobil milik Aksa yang nampaknya sia - sia karena setelah itu mata kami bertemu sesaat. Aksa segera meninggalkan Sandra dan dengan bodohnya malah memilih menghampiriku.


Aku memaksa otak kecilku berpikir, memikirkan suatu kejadian yang setidaknya bisa jadi alasan untukku kenapa ada disini dan tentu melindungi perasaan Sandra yang mungkin juga terluka.


Aku mengangkat tangan kananku sambil berteriak, "Ya? Bentar, Sa... tali sepatu gue lepas" kataku, kemudian berdiri sambil mengukirkan senyumku semanis mungkin.


Sandra yang melihat keberadaanku langsung mendengus sebal. "Oh, sama pacar benar ya?" katanya. "Have fun deh kalau gitu, Kak. Aku duluan ya!" tambahnya sambil melengos pergi, dan akhirnya aku bernapas lega.


Aksa tidak memperdulikan Sandra, dia malah mendekatiku, menatap lekat kakiku yangㅡastaga... "Kamu bahkan nggak pakai sepatu" Aksa kebingungan sendiri, sedangkan aku tak bisa apa - apa selain merasa malu, salah satu kata yang cocok untuk mewakilkan perasaanku dalam situasi aneh ini.


"Itu... " Aksa berjalan ke bagian belakang mobilnya, tak lama ia kembali sambil membawa sepasang sepatu converse hitam berukuran kecil.

__ADS_1


"Maaf, saya nggak tahu kalau kamu malu karena ini" katanya lalu mengambil posisi jongkok, melepaskan kakiku dari sandal dan memasangkan sepatunya yang anehnya pas sekali untukku.


Padahal aku bersembunyi bukan karena sandal jepitnya, aku memang malu untuk masuk ke GI dengan sandal jepit, tapi aku lebih malu kalau Sandra yang melihatku. Terlebih Aksa mengaku aku sebagai pacarnya.


Aku ikut berjongkok, "biar gue pakai sendiri" kataku, kemudian menali sepatunya.


Aksa memperhatikanku yang sibuk memakai sepatu sambil tersenyum. Bahkan kadang dia tertawa karena mengingat kebohonganku yang katanya nggak masuk akal.


Sama halnya dengan Aksa, akupun menertawakan diriku sendiri. Kebodohan dan segala kesialanku hari ini rasanya benar - benar membuatku malu.


*


Waktu Aksa bilang mau ajak aku belanja, aku udah khawatir duluan memikirkan berapa digit uang yang keluar dari kartu ATM yang bahkan berisi sedikit. Aku sama sekali ngga ada pikiran semua akan berjalan seperti ini, seaneh ini, dan segila ini.


"Kalau gini, jadinya gue yang temanin lo belanja nggak sih, Sa?" ungkapku ketika Aksa sibuk memilih beberapa t-shirt polos berwarna hitam dengan model yang berbeda. Sebelumnya, dia sudah mengambil beberapa item pakaian yang katanya menarik perhatiannya, seperti sepatu sport yang di pajang di depan toko dan satu jaket jeans bercorak acid wash dengan ukuran oversize.


Aksa yang sadar akan sindiranku tertawa sambil menyelipkan kata maaf.


"Di maafkan deh, karena udah minjemin gue sepatu"


Kemudian Aksa menarik lenganku, menuntunku ke tempat khusus pakaian wanita di dalam toko yang sama. "Mau pilih sendiri apa saya pilihin?" katanya sesaat sebelum melepaskan genggamannya dari lenganku.


"Sendiri aja" Aksa langsung terduduk di kursi yang di sediakan. Aku sibuk memilah, dari satu sisi ke sisi yang lain sampai salah satu pilihanku jatuh pada crop top bermotif kotak - kotak.


Aku meraihnya, mencari price tag lebih dulu sebelum akhirnya aku letakkan kembali.


Delapan ratus ribu bisa buat makan dua minggu! Mana ikhlas aku pakai uang sebanyak itu cuma buat beli baju? batinku pasrah.


Setelah sekian lama menimang - nimang keputusan, aku memutuskan untuk membeli baju berwarna peach dengan garis hitam di bagian ujung lengannya. Harganya jauh lebih terjangkau dan masuk di akal untuk isi ATMku daripada baju yang sebelumnya.


"Yang ini nggak jadi?" kata Aksa yang tiba - tiba saja sudah berdiri di belakangku, aku terperanjat kaget.


"Bukannya lo tadi diㅡ" Belum sempat kuselesaikan ucapanku, Aksa meraih crop top kotak - kotak berwarna hitam putih yang tadi kukembalikan.


"Saya nggak tahu selera kamu seperti apa, tapi ini yang saya khawatirkan," Aksa beralih pada sisi lainnya, lalu meraih beberapa baju, bahkan dress casual ke tangannya. "Ukuran baju kamu berapa? Nanti saya bilang pekerjanya" Aksa beralih lagi pada jejeran topi yang ditata rapi, kemudian meraih beberapa topi yang kemudian menyuruhku untuk mencobanya. "Saya yang bayar semuanya"


Aku langsung terdiam, membiarkan Aksa berjalan sendiri ke tempat lain. Dia menoleh sebentar, mencariku dan menyuruhku untuk mengikutinya tapi aku enggan.


"Nggak gini caranya, Sa" kataku yang berhasil membuat Aksa datang kembali dengan beberapa item yang dibawa dalam keranjang tas plastik toko.


"Terus gimana?" tanyanya, lebih seperti menantang sih kalau kubilang. Dan itu cukup buat aku semakin kesal.


"Gue tahu lo punya banyak uang tapi bukan berarti lo harus beliinㅡ"


"ㅡsemua yang kamu mau. Iya saya tahu, ini kamu omongin setelah insiden makan siang kemarin kan?"


Kalau tahu kenapa di lakuin lagi? Ya ampun, aku benar - benar nggak paham sama apa yang ada di otaknya itu.


Aksa mengambil satu langkah lebih dekat padaku, mencondongkan badannya untuk menyamakan tingginya dengan tinggiku. Aku menutup kedua pipi dengan tanganku, takut - takut pipiku merah merona, persis seperti kepiting rebus di depan Aksa dan itu sama sekali tidak lucu. Tapi hal yang membuat aku kebingungan setengah mati adalah ketika Aksa tiba - tiba mengacak poniku sambil menyunggingkan senyum.


Oh my God, I think I will gonna die now.


"Kalau kamu nggak mau saya bayarin, kamu yang bayarin belanjaan saya, mau?" Mataku melotot kaget, penawaran macam apa itu? Bahkan sepatu yang dia mau harganya mencapai delapan digit, mana mau aku bayarinㅡLebih tepatnya, mana bisa aku bayarin? uang darimana? "Nggak mau kan? udah makanya kamu nurut saya aja."


Nggak ada pilihan lain.


Aku mendengus sebal. Aksa yang baik itu sudah berubah menjadi keras kepala ternyata saudara - saudara.

__ADS_1


***


__ADS_2