
The craziest things this day adalah: Kenapa aku mau - mau aja waktu Aksa ajak aku mampir ke rumahnya sekalian nunggu hujan agak reda?
Kalau dipikir - pikir, bodoh juga sih aku ini. Kalau hujan memang kenapa? Si Aksa kan bawa mobil. Duh, nggak tahu deh kenapa otak ini mendadak nggak bisa diajak mikir.
Tadi pagi, Aksa ajak aku ke lokasi syuting, belum mulai sih syutingnya, baru cek aja, dan dia mau aku temanin. Aku yang emang nggak ada kerjaan ini nggak bisa apa - apa selain menerima penawarannya. Gimana bisa nolak kalau jam delapan pagi Aksa tiba - tiba meneleponku dan bilang kalau ia sudah di depan gedung apartemennya Elle.
Begitulah awal mulanya, sebelum hujan mengguyur Ibu Kota dan Aksa terpaksa membanting stir untuk mengajakku pulangㅡke rumahnya.
"Saya yang desain semua interior rumah, for your infomation aja sih, Sya. Mungkin aja kamu butuh saya buat desain rumah kamu," katanya yang terkesan mengejek saat diterima oleh telingaku. Bagaimana tidak? Rumah saja aku nggak punya.
Berbanding lurus dengan pernyataannya barusan, aku dibuat takjub sendiri saat memasukki rumahnya. I mean, how can he design his interior sampai terlihat serapi dan semenarik ini?
Contohlah waktu aku pertama kali masuk rumahnya Aksa yang sudah langsung disambut dengan lukisan temporer yang warnanya terlihat menyenangkan sekalipun aku nggak tahu dan nggak paham soal gambar dan maknanya. Masuk menuju ruang tamupun aku sudah dibuat menganga, sofa mewah dengan design casual berwarna hitam senada dengan hiasan dinding juga beberapa interior properti seperti lemari buku besar yang menyatu dengan dinding ruang tamu.
"Astaga, ini buku segini banyak emang lo baca semua?!" tanyaku yang ditanggapi Aksa dengan senyum merekah di wajahnya.
Aksa menganggukkan kepalanya, kemudian berbicara, "sekalipun ada beberapa yang belum saya baca karena baru di beli sebulan atau seminggu yang lalu, tapi selebihnya sudah saya baca sendiri" Aksa memberi jeda sejenak sebelum mulai berbicara lagi, "buku bisa jadi sumber inspirasi, kamu pasti tahukan?"
Aku mengangguk paham. Yang dia ucapkan seratus persen benar, karena seorang sutradarapun harus punya imajinasi dan gambaran yang luas sekaligus detail soal sesuatu. Dan buku bisa jadi salah satu alternatif untuk mendapatkan itu semua.
Contohlah beberapa film atau series televisi yang dibuat berdasarkan novel karya para penulis terkenal, film Bumi Manusia garapan Mas Hanung dan Harry Potter garapan sutradara terkenal yang bahkan berasal dari berbagai negaraㅡdari Chris Colombus, Alfonso Cuarón, Mike Newell sampai David Yatesㅡmisalnya. Karena garapan sutradara - sutradara jenius seperti mereka, film - film ini diterima dengan baik oleh masyarakat bahkan sampai mencetak prestasi yang sangat luar biasa.
"Duduk, Sya," tawarannya membuatku tersenyum sebagai pengganti jawaban iya sekalipun aku tidak mengikuti tawarannya. Aku lebih tertarik melihat - lihat buku yang tersimpan rapi dalam rak buku. "Mau saya ambilkan minum apa?" tanyanya lagi.
Kali ini aku memutuskan berhenti memandangi buku dan memilih melirik Aksa yang menunggu jawabanku. "Apa aja yang ada, jangan yang ribet, gue udah nahan haus daritadi" tanggapanku membuat Aksa tersenyum lagi.
Setelahnya, Aksa pergi entah kemana, akupun tak berniat menyusulnya, takut - takut tersesat mengingat bagaimana besarnya ukuran ruang tamunya saja. Selain itu, aku masih tertarik dengan buku - bukunya. Mataku sibuk menyapu judul yang kubaca dari setiap buku, sampai salah satu judul novel menarik perhatianku.
"Little woman," monologku sembari mengeluarkan novel itu dari rak buku. "Ah... Louisa, ya...." Aku terdiam sebentar ketika menyadari sesuatu yang janggal dari novel yang kupegang. "Ini ..."
"Cetakan pertama, tahun 1868," kata Aksa, membuatku semakin terkejut mendengar fakta yang diucapnya, kemudian Aksa menempelkan sekaleng fanta dingin pada pipiku. "Nggak semua buku punya saya, sebagian peninggalan Mama, Papa, bahkan ada beberapa buku yang ditempatkan sendiri saking tuanya karena itu peninggalan dari Kakek saya."
Aku membekap mulutku sendiri. Sekarang aku paham kenapa disini banyak sekali buku, dan aku juga paham kenapa bisa seorang Aksa membaca buku sebanyak ini. Ternyata keluarga mereka memang memiliki kegemaran yang sama, membaca buku adalah jawaban utamanya.
Aksa mengulurkan tangan kanannya untuk meraih salah satu buku di rak bagian atas, setelahnya ia mengambil salah satu buku dan menyodorkannya padaku. "Versi lengkapnya, saya lebih suka yang ini karena nggak harus ganti buku" katanya.
Sejujurnya aku pernah membaca novel ini dulu, entah kapan tepatnya. Setahu aku, 'Little Woman' adalah satu dari sekian banyak novel klasik yang must to read banget sih. Berkali - kali dicetak dan terdiri dari dua volumeㅡtahun 1868 dan 1869ㅡakhirnya pada tahun 1880 dua buku ini di satukan dalam satu volume sehingga halamannya berjumlah lebih dari enam ratus lembar. So, you can imagine how thick novel klasik berbahasa inggris ini.
"Boleh gue pinjam nggak?"
Aksa mengangguk kecil, "boleh, ambil aja, Sya."
Aku tersenyum senang. Lalu melangkah pergi mendekati sofa, berniat duduk sebelum Aksa mematahkan niatku karena menawarkan untuk melihat - lihat rumahnya. Dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang kerja, bahkan yang buat aku nggak percaya adalah waktu aku ditunjukkan studio pribadi miliknya.
Kalau yang kalian bayangkan di dalam studionya adalah seperangkat alat untuk membuat film juga mengeditnya, kalian salah! Ini lebih terlihat seperti studio musik. Berbagai macam alat musik yang di letakkan pada lantai yang agak dinaikkan juga beberapa macam speaker yang bahkan menurutku tak ada bedanya itu semua ada! Sekarang aku benar - benar merasa perlu untuk meragukan Aksa, dia ini benar sutradara atau anak band sih sebenarnya?
Aksa membawa gitar ke dalam pangkuannya, jemarinya di tempatkan pada senar gitar dan membentuk chord c, setelah sebelumnya ia membawakuㅡmenggenggam lenganku lebih tepatnyaㅡtepat ke hadapan stande mic. "Kamu mau nyanyi lagu apa?"
Aku mengerjap sesaat, belum sempat mendapat jawaban dari pertanyaan - pertanyaan yang ada di kepala, Aksa tiba - tiba malah bertanya begitu.
__ADS_1
"Ini lo ngajak gue ikut mini konser dadakan lo apa gimana?" Aksa tertawa kecil.
"Yang pilih lagu saya atau kamu?" tanyanya lagi, jelas mengabaikan semua ucapan yang keluar dari mulutku secara sengaja.
"Lo berani bayar berapa nih sampai nyuruh gue nyanyi segala?"
"Berapapun saya kasih, kalau kamu mau nyawa saya juga saya kasih"
Hah, gimana? Ini aku salah dengar atau apasih? Jadi merinding disko gini dengar omongan Aksa.
"Yaudah, lo aja deh yang pilih. Selera gue tinggi, takut lo nggak ngerti"
"Kalau saya disuruh milih pasti saya pilih kamu sih"
Masyaallah sekali ya Aksa Yonaswara ini. Maksudnya dia bilang gitu apa coba? Masalahnya, Ini bukan sekali dua kali, hampir setiap aku dan Aksa ngobrol tuh jatuhnya pasti begini, modusnya Aksa lancar banget, jadi aku harus selalu siap - siapin hati karena kalau sudah begini rasanya seperti sedang ikut acara try not to cringe challenge. Geli sendiri gitu pokoknya, serius, aku nggak bohong.
"Bubar ajadeh bubar, ini lama - lama gue pulang aja, gimana?" kataku sebal
"Oke Oke, sori," tanggap Aksa dengan ekspresi wajahnya yang mendadak berubah tidak senang.
Aku mendadak merasa bersalah. Aneh banget sih ini. "Yaudah, Never Not-nya Lauv, lo tahu, kan?"
Bukannya menjawab, Aksa malah tersenyum puas. Jarinya mulai sibuk dibenahkan pada senar gitar, kemudian sebuah pick ia gunakan untuk memetik, tak lama melodi yang kukenal terdengar.
"There’s a room, In my heart with the memories we made ..." Aksa menyanyikan liriknya sambil melirikku. Aku tersenyum. "Took ’em down but they’re still in their frames, there’s no way I could ever forget, mmm ...."
Kemarin waktu kubilang suaranya bagus aku nggak bercanda karena itu nyata, suara Aksa bagus pakai banget malah. Serius deh, aku bingung sendiri. Si aksa ini kenapa bisa nyanyi sebagus itu. Aku nggak tahu deh masalah teknik nyanyinya benar apa nggak karena aku bukan guru vokal. Tapi satu yang jelas, suaranya dia tuh eargasm banget. Aku mendadak insecure, takut - takut suaraku goyah terus diketawain. Tapi ternyata nggak, Aksa nggak sejahil itu untuk menertawakanku.
"I will never not think about you ...."
Setelah konser mini mendadaknya kami selesai, Aksa menawarkan untuk makan siang, aku mengusulkan untuk delivery tapi Aksa keukeuh banget mau masakin. Ini kalau sampai dia ternyata pintar masak juga aku udah nggak tahu lagi deh harus bilang apa, dia segala bisa dan serba ada, coba kurangnya apa? Duh.
Sambil menunggu Aksa memasak, aku terduduk di sofa living roomnya sambil membaca buku. Buku yang akan kubawa pulang nanti sengaja kubaca sedikit demi sedikit agar ketika sampai di rumah bisa aku lanjutkan lagi.
Baru beberapa lembar aku baca, sebuah kertas yang agak tebal terjatuh, aku meraih dan melihatnya dengan seksama. Ternyata itu sebuah polaroid, ada Aksa dan Seta disana, juga... seorang wanita yang tak kukenal. Aku mengangkat satu alisku.
"Aglio olio*, mau, kan?" tanya Aksa yang segera kuiyakan.
"Nggak masalah, gue pemakan segala."
Aksa kembali pergi, menyiapkan spaghetti aglio olio masakannya di meja makan. Aku mengekori, dengan foto yang sengaja kusimpan di balik badan.
"Saya lupa belanja barusan, padahal udah nawarin diri buat masakin"
"Santai sih" jawabku sambil terduduk di kursi, Aksa pun melakukan hal yang sama.
Kami berdoa sebentar, lalu memakannya dengan tenang sebelum aku yang masih dilanda penasaran ini membuka suara.
"By the way, Sa ..." Aksa mengangkat kedua alisnya, lalu melirikku. Aku mengeluarkan polaroid yang kutemukan dari dalam buku. "Gue nemuin ini tadi di buku yang mau gue pinjam. Ini, teman lo ya?" tanyaku sehati - hati mungkin.
__ADS_1
Anehnya, ekspresi Aksa malah memucat, seakan yang ia lihat adalah makhluk gaib. Dia tak menjawab apapun, yang ia lakukan hanyalah kembali memakan masakannya dan membiarkan rasa penasaran juga rasa bersalah mengeliliku.
Salahku fatal banget, ya? Aku kan cuma tanya, nggak ada maksud lainnya.
Aksa benar - benar menjadi diam tanpa membuka suara bahkan sampai makanannya habis pun dia masih diam. Yang ia lakukan setelahnya hanya membereskan makanannya lalu mencucinya tanpa mau menjawab pertanyaanku, bahkan melihatku.
Suasana di antara kami kali ini lebih dari sekedar canggung yang biasanya. Aksa yang kaku ini bisa amat sangat menakutkan ternyata kalau sudah diam. Masalahnya, aku nggak pernah tahu diamnya ini artinya apa? Marahkah? Kesalkah? Malukah? Atau apa?
"Kalau gitu, gue pamit pulang ya Sa, makasih buat hari ini."
"Biar saya antar," tawarnya dengan ekspresi datar.
"Nggak usah, gue panggil taksi aja, mumpung ada promo" jawabku, tentu saja berbohong. Promo apanya?! Hanya saja, memilih untuk naik taksi daripada berada lebih lama dalam situasi yang aneh ini adalah pilihan terbaik.
Lagi - lagi, dia bersikap seakan tak mendengar ucapanku. Entah aku yang mendadak transparan di matanya atau suaraku yang mungkin saja tak terdengar oleh telinganya, yang jelas ia meraih kunci mobilnya lalu berjalan mendekat ke arah pintu. Aku tak bisa apa - apa selain mengekori.
Niatku untuk pulang naik taksi hancur karena Aksa yang berkelakuan seenaknya. Keluar rumah dan menuju parkiran tanpa suatu ucapan selain "Saya antarin pulang." Padahal daripada diam - diaman dalam mobilnya aku lebih memilih mendengarkan lagu dengan earphone di dalam taksi.
*
Aku langsung merebahkan tubuhku ke dalam kasur, memandangi langit - langit kamar sembari mengulang kejadian hari ini. Semua baik - baik aja sebelum aku mengajukan pertanyaan yang membuat wajah Aksa memucat. Dan aku tak henti - hentinya memikirkan hal itu. Kenapa Aksa sampai begitu? Maksudku, kalaupun dia nggak mau membahas soal wanita itu denganku, dia nggak harus sampai begitu.
Argghh! Aku mengacak rambut sendiri.
"Astaga Arasya, kemana aja sih lo?"
"Gue part time nungguin anak orang" jawabku asal.
"Hah?"
"Tau ah, Le. Gue capek banget. Mau tidur aja please lo pergi sana, jangan ganggu."
"Dih, pede banget, gue tuh kesini mau kasih tahu lo. Ada info nih katanya mas Hanung mau rekrut kru, kru baru buatㅡ"
"Hanung Bramantyo?! Yang nggarap film Bumi Manusianya Eyang Pramoedya?!"
Elle mengangguk mengiyakan.
Seketika mataku berbinar, melupakan segala kerisauan soal Aksa yang menyebalkan dan sosok wanita dalam polaroid yang masih jadi pertanyaan. "Serius Mas Hanung?" Aku masih tak percaya. Susah memang mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Elle.
"Berius - rius juta ini gue seriusnya. Cek deh account twitter dia."
Senyumku semakin melebar. Kalau kemarin aku gagal jadi PNS, hari ini bisa saja aku berhasil, kan? Sekali lagi, aku memutuskan untuk berharap, semoga bukan sesuatu yang akan kusesalkan di masa depan.
"Falcon pictures, lo bisa cek account instagram mereka juga buat info lainnya"
Aku mengangguk senang, melupakan transisi perubahan sikap Aksa dengan kabar gembira yang Elle bawa. Again, special thanks to Elle yang sudah jadi saviour buatku.
***
__ADS_1
*Spaghetti aglio olio adalah jenis pasta dari Napoli. Aglio berarti bawang putih, sementara olio adalah minyak. Ciri khas pasta udang yang satu ini adalah bumbunya yang minimalis dengan bawang putih, minyak, garam, dan serpihan cabai kering.