
Waktu masih sekolah, guruku pernah bilang: kita lebih mengenal unsur - unsur yang menyusun tata surya daripada unsur - unsur yang menyusun bumi. Seperti, untuk apa kita mengetahui soal itu? Kita kan hidup di bumi.
Maka, aku adalah satu dari sekian banyak siswa di kelasku yang akan menentang teori seperti itu. Bukankah itu aneh? Kenapa kita lebih mengenal dunia luar daripada dunia sendiri hanya karena kita tinggal di dalamnya?
Then, this quote made me realize, bahwa kita melakukan hal seperti itu juga di dunia nyata, lebih mengenal orang yang baru masuk hidup kita daripada orang terdekat kita, bukan begitu?
Sayangnya, itu mengingatkanku pada film naas nan epic yang sebelumnya pernah kubahasa juga. Me before youㅡdi film ini, kita sama - sama melihat satu contoh yang dialami Louisa, dia yang banyak menghabiskan waktu berdua dengan Will saja pada akhirnya tidak pernah tahu soal Will secara sepenuhnya, termasuk keputusan sepihak Will dan kehidupannya.
The fact, all of us do what Will did right? Kita sibuk memilah sisi mana yang akan kita perlihatkan dan menyembunyikan apa yang tidak mau kita perlihatkan.
Seperti aku yang menyembunyikan fakta soal kecelakaan dua tahun yang lalu yang membuatku harus ditangani oleh psikiater karena di diagnosis PTSD*, seperti Elle yang menyembunyikan fakta soal perceraian orang tuanya yang sempat buat ia kalang kabut sampai kecanduan alkohol seperti orang gila, seperti Keenan yang juga menyembunyikan fakta soal ayahnya yang demensia hingga harus di rawat di sanotarium dan ditinggal ibunya karena keadaan ekonomi yang kacau juga.
We just try to live a normal life even when we have a bad story behind.
"And that whats Aksa did, right?"
Keenan menoleh ke arahku. "Gue kira kita bakal senang - senang disini, Sya." Ia tersenyum kecut, lalu menegak bir kalengan yang memang sudah daritadi ia pegang.
"Gue cuma mau kalian jujur ke gue emang susah ya, Nan?"
Keenan enggan menjawab. Yang ia lakukan justru menenggak bir kalengannya lagi.
"Nan?!" Aku kesal sendiri, kaleng bir di tangan Keenan kurebut dengan lancang, kuminum semua isinya sampai tak terlewat satupun, lalu membuangnya ke tanah. "Gue capek nerka - nerka jawaban sendirian, Nan. Lo yang jelas tahu soal masalah inipun nggak pernah mau buka suara!"
"Itu yang terbaik buat lo berdua, Sya," katanya sembari melangkah pergi meninggalkanku sendiri.
Aku terkekeh. "Kita cuma sadar kalau muka gajah itu terlihat besar tanpa tahu kalau badannya lebih besar. Thats what I think here now."
Langkah kaki Keenan terhenti begitu saja. "Jangan lo sekali - sekali gali masa lalu dia, atau lo berdua yang nantinya sama - sama kecewa!"
"Itu yang buat gue sedesperated ini, Nan. Lo yang nyembunyiin soal Aksa cuma bisa nyegah tanpa memberi kejelasan!" Aku menghela napas sebentar. "You hide everything from me, yakan Nan?"
"I dont hide anything, i justㅡ"
"You did, Nan! Car accident two years ago, yang buat gue koma sampai buat gue melewatkan sadarnya orang tua gue, Aksa ada campur tangannya kan?"
*
Acara dan plan - plan yang sudah Elle rencanakan hancur begitu saja hanya karena aku yang lepas kendali. Aku enggan menyalahkan siapapun, kenyataan kalau karena aku semua jadi kacau sudah tak bisa diragukan lagi.
Kemarin, setelah insiden pohon tumbang Aksa tiba - tiba jadi pendiam.
Di lokasi syuting sudah jelas dia menghindar karena sisi Yonasnya pasti keluar. Masalahnya, setelah jam kerja habispun Aksa tak lagi kutemukan dimana - mana.
Aku menunggu - nunggu telepon dari Aksa, atau setidaknya dia mengirimi chat random yang biasa dia kirim di tengah malam.
Aku tahu ini aneh, but I miss him and everything he did for me.
__ADS_1
Aku jadi ingat hari pertama kami berada di puncak. Pagi - pagi sekali dia sudah menelepon dan bilang sudah menungguku di depan gedung.
Rencananya waktu itu dia mau ajak aku main ke kebun teh yang kabutnya masih terlihat dan dinginnya bahkan mencapai suhu lima derajat.
Yang Aksa lakukan sepanjang jalan adalah mengambil gambar, dari sudut satu ke sudut yang lain, dari objek satu ke objek yang lain, sampai kemudian dia memotoku tanpa aku tahu.
"What are you doing now ya Bapak Aksa?" tanyaku saat itu.
Aksa malah terkekeh sembari melihat hasil jepretannya, kemudian menatapku sambil tersenyum. "You must to know," Aku menautkan kedua alisku, menunggu Aksa menyelesaikan ucapannya sebelumnya. "Saya hanya memotret hal yang cantik - cantik."
"But you took a pict on me, right?"
Aksa hanya mengangguk mengiyakan, sembari terus menyusuri jalan tanpa mau berhenti. Meninggalkanku yang tengah tersipu dan mengekorinya di belakang.
Atau bahkan random questionnya Aksa waktu kita lagi teleponan. Dia bakal tiba - tiba nanya soal streaming di luar angkasa pada saat Apollo 13 pergi ke bulan, " emang manusia udah secanggih itu ya sampai bisa nampilin siaran langsung di bulan?
"Kenapa sih otaklo mikirin hal yang nggak - nggak?"
Kemudian Aksa akan tertawa, memperlihatkan senyum kelincinya yang menggemaskan.
Aku menghembuskan napas panjang, ternyata mengingat hal - hal yang berbau Aksa cukup menyulitkan ya? Terlebih, sekarang Aksa dengan sengaja menghindariku seakan aku adalah hantu.
Aku ada salah ya?
Aku tak tahan lagi, satu atau dua hari masih bisa kumaklumi, tapi kalau berminggu - minggu diabaikan tanpa tahu kesalahanku apa, aku muak sendiri.
Apartemen Aksa! Aku harus kesana!
Frustasi sendiri, akhirnya aku menelepon Mas Danin.
"Halo?"
"Halo, Sya, ada apa?"
"Mas, ini saya mau ambil barang yang ketinggalan waktu itu di apartemennya Pak Yonas, tapi kok kodenya salah terus ya?"
"Oh, baru Yonas ganti. Bentar deh, saya kirim lewat whatsaap ya kode aksesnya. Kalau Yonasnya nggak ada, langsung ambil aja. Akhir - akhir ini kalau malam dia suka pergi rootoff."
Rooftop?
"Rooftop di gedung ini?"
Mas Danin mengiyakan. Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera mematikan panggilan dan pergi menuju rooftop untuk menemukan Aksa dan meminta penjelasan.
*
Aku melangkah pelan secara pasti dengan pikiran dan rasa takut yang menyelimuti diri.
__ADS_1
Sudut mataku menangkap siluet bayangan seseorang yang sepertinya kukenal. Aksa! Dia benar disini ternyata.
Aksa berdiri di dekat pagar pembatas, aku melangkah menghampirinya diam - diam. Berdiri di samping Aksa yang bahkan tak pernah sadar akan keberadaanku yang berada di sisinya. Pandangannya jauh ke bawah sana dengan sebatang rokok yang terselip di bibirnya.
Aku menelengkan kepalaku sebelum kemudian berbicara, "gue nggak pernah tahu kalau lo perokok."
Aksa masih enggan menatapku, tapi kini tangannya meraih rokok itu. "Memang jarang, ini hanya karena saya sedangㅡ"
"Marah?" Aksa menghela napasnya. "Sedih? Kecewa? Menyesal? Atauㅡ"
"Semuanya," Ia menjatuhkan rokoknya ke bawah lalu menginjaknya sampai rokok itu tak menyala. Aksa memutar tubuhnya sampai berhadapan denganku. "Semuanya, Sya. Tapi saya nggak mauㅡlebih tepatnya saya nggak bisa lihat kamu pergi."
"Emang gue mau kemana?" Aku tersenyum. "Gue nggak pernah pergi, Sa. Lo yang tiba - tiba pergi dan menghilang entah kemana."
Aksa terdiam lagi. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
"Sya, kamu bisa tampar saya kalau mau, pukul saya, atau lakuin apapun yang menurut kamu pantas buat saya."
"Hey, lo kenapa sih, Sa? Coba sini cerita ke gue."
"Saya bahkan nggak bisa bilang kejadian yang sebenarnya ke kamu, saya salah, Sya. Saya harusnya nggak ganggu hidup kamu."
"Siapa yang bilang lo ganggu hidup gue? Lo justru banyak bantu gue."
"Kecelakaan dua tahun yang lalu, saya yang nabrak kamu."
Mataku membulat sempurna. Ini bercanda kan ya? Jangan - jangan ada kamera dan kehadiran Elle, Seta, juga Keenan yang akan bilang kalau ini hanya prank semata.
"Lo nggak bercanda kan, Sa?" tanyaku dengan suara yang bergetar.
"Saya harap saya bisa bercanda sekarang biar nggak bikin kamu kecewa, Sya."
Mataku mulai berkaca - kaca. Aku nggak nyangka semua yang Keenan bilang ternyata adalah fakta.
"Honestly, aku agak kecewa karena dengar masalah ini dari orang lain lebih dulu. Tapi melihat kamu masih melindungi Theressa even di depanku, aku lebih kecewa."
Aksa terkejut mendengar nama itu baru saja keluar dari mulutku. Nama yang selama ini ia hindari, nama yang selama ini ia tutup - tutupi, nama yang selama iniㅡ
"Dari mana kamu tahu soal dia?"
"I know her, lebih dari yang lo bayangin, Sa."
Lagi - lagi, aku harus melihat Aksa yang tiba - tiba memucat.
Theressa, wanita yang katanya hanya memberi Aksa kisah yang kelam. Ya, wanita dalam polaroid yang juga pernah jadi sahabat dekat Aksa. Setelah beberapa kejadian buruk menimpa mereka, Aksa bahkan tak lagi sudi mendengar namanya. Tapi tanpa sadar ia masih melindungi gadis ituㅡdengan alasan sakit jiwaㅡseperti sudah jadi kebiasaan dan keharusan dalam hidupnya.
Apa melindungi Theressa jadi hal yang lebih utama daripada aku ya, Sa?
__ADS_1
***
*PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis.