
"Oh, asisten DoP yang sering makan bareng Aldi itu, ya?"
"Dating mungkin mereka, bisa aja dia keterima kerja disini juga karena pacarnya, kan?"
"Aldi? Pacarnya? Katanya Aldi deket sama Manda?"
"Loh, bukannya waktu itu Aldi juga bilang lihat dia jalan bareng cowok lain ya?"
"Ada yang bilang pernah lihat dia jalan sama Pak Yonas masa?"
"Heh? Pak Yonas?! Gila dia ... pintar banget ya Cari cowoknya."
"Alah tahu sendiri Pak Yonas kenalannya banyak, paling sama si Asya nggak lama, berani taruhan gue."
"Haha, benar juga. Projek yang kemarin juga dikabarin dating sama Sandra Agatha kan? Paling yang sekarang juga yang kecentilan si Asyanya."
Nggak gitu.
Nggak mau dibilang cengeng, tapi pada akhirnya tangisku tumpah juga. Pretend like I'm okay ternyata nggak semudah itu ya?
Yang mereka semua nggak tahu, saat ini aku sedang bersembunyi dalam salah satu bilik kamar mandi, berusaha keras untuk membekap mulut sendiri saat mereka membicarakan hal yang tidak - tidak di belakang.
Sebelumnya, niatku untuk keluar dari bilik kamar mandi tertahan begitu saja setelah mendengar langkah segerombolan wanita dari tim make up dan pakaian yang mulai membicarakan namaku. Aku yang tak tahu harus berbuat apa terpaksa kembali masuk dan mengunci pintu.
"Pantas Manda kemarin ngajak ke Bar, stres karena Aldi di rebut orang ya ternyata?"
"Haha, masih belum berubah dia? Mau stres mau senang larinya ke bar."
"Gue masih nggak nyangka sih kalau beneran Pak Yonas."
"Sama sih...."
Suasana mendadak hening, sesekali hanya terdengar suara air mengalir dari kran wastafel dan suara dari mesin pengering yang mungkin mereka gunakan untuk mengeringkan tangan.
Suara pintu yang terbuka membuatku ikut gugup juga. Siapa lagi yang masuk dan ikut membicarakanku di belakang?
"Mbak Nada!" sapa mereka di luar sana.
"Mbak, udah dengar soal Asya?"
"Iya, gila dia Mbak, masa katanya pacaran sama Aldi, eh ada yang bilang sama Pak Yonas malah."
Tak ada suara sejenak, aku yang takut ia ikut mengatakan suatu hal yang membuat hatiku tak enak hanya bisa berharap kalau Mbak Nada nggak sama dengan mereka semua.
"Nggak baik ngomongin tim sendiri. Daripada urusin soal percintaan orang, mending kalian urusin pakaian artis yang katanya ketinggalan sama make up yang bikin artisnya alergi deh."
"Yah... Mbak Nada mah... nggak asik ah" kata salah satu di antara mereka, setelahnya suara langkah kaki yang saling bersautan terdengar menjauh.
Mereka pergi?
Aku menempelkan telinga pada pintu bilik kamar mandi, berusaha mencari tahu situasi diluar sana. Sialnya, bukannya mendengar soal apa yang sedang terjadi, ketukan dari luar pintu bilik kamar mandi justru berhasil mengagetkanku.
"Gue tahu lo ada disini, Sya. Cepet keluar, jangan lupa hapus air mata lo, gue nggak mau lihat lo yang cengeng."
Itu suara Mbak Nada.
Aku membuka pintu sedikit demi sedikit, dan benar saja disana sudah ada Mbak Nada yang tengah berdiri menatapku sembari mensedekapkan kedua tangannya di dada.
"Mbak Nada.... " lirihku dengan air mata yang dengan lancang keluar lebih sering dari sebelumnya.
Mbak Nada melebarkan kedua tangannya seakan menyambutku untuk masuk dalam pelukannya.
Aku menghambur ke dalam pelukannya. Mbak Nada ini udah kayak Tante Ema kedua, taking care of me kalau nggak ada Aldi dan Aksa di sini. "Perasaan tadi gue suruh lo hapus air mata deh, bukan malah nangisnya yang makin jadi," katanya, sembari menepuk - nepuk punggungku. Mbak Nada memang begitu, ucapan sama tindakannya selalu tidak sinkron. Dia yang marah melihatku menangis tapi dia juga yang menenangkanku.
Setelah merasa agak tenang, aku melepaskan pelukan Mbak Nada, juga menghapus air mataku.
Mbak Nada menggelengkan kepalanya sembari berdecih. "Coba ngaca deh, Sya. Sumpah, lo tuh kalau nangis kelihatan banget, itu mata sama idung lo udah kayak tomat, merah semua."
"Eh iya, Mbak?" Aku tak percaya. Sebenarnya Mbak Nada bukan orang pertama yang berbicara seperti itu, Elle, juga Aksa pun pernah mengatakan hal yang sama, tapi tetap saja aku selalu merasa tidak percaya
Aku berjalan ke arah wastafel yang di atasnya terdapat kaca besar untuk melihat seberapa menyedihkannya aku ini.
"Astaga... " kataku setelah melihat wajahku yang benar - benar berantakkan, kemudian aku memalingkan wajahku pada Mbak Nada yang sudah berdiri tepat di sebelahku. "Mbak... ini gimana?" Aku histeris sendiri.
"Lo yang nangis, lo juga yang bingung, hadeuh... " keluhnya, kemudian menyerahkan pounch berwarna peach miliknya padaku. "Nih, cuci muka dulu terus pakek make up."
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan. "Kalau nggak ada Mbak Nada, nggak tahu deh bakal gimana nasib gue, Mbak," kataku sembari meraih facewash dari pounch.
"Lagian lo ngapain dengarin mereka deh, Sya? Kayak nggak tahu aja mereka gimana nanggepin rumor tim sendiri."
Benar juga. Soal Amanda sama Aldi juga mereka nanggapinnya nggak baik sama sekali. Seakan semua wanita yang dikabarkan dekat dengan kru pria disini hukumnya haram sampai wajib sekali untuk dijauhi dan dihina dengan segitunya.
"Next time, let it flow aja deh. Nggak usah lo repot - repot ngeluarin air mata cuma buat omong kosong mereka."
Aku tersenyum mendengar ucapan Mbak Nada. "Emang deh ya, Mbak Nada yang terbaik!"
"Udah, buruan! Bentar lagi kita take a shoot lagi."
"Eh iya, sampai lupa kalau masih kerja, hehe."
*
Kadang aku suka ngerasa kangen sama candaan dan keluhannya Elle kalau sudah disuruh angkat - angkat barang di gudang minimarket, belum lagi omelan Tante Ema yang bakal labeling Elle dengan sebutan 'malas', juga curhatan Pak Dokter yang keseringan ambil barang dan makan dulu baru bayarㅡKeenan.
Banyak juga ya yang aku kangenin sekarang?
Aku nggak kaget juga sih kalau pada akhirnya bakal ngerasa sendirian gini. Toh aku memang nggak terlalu bisa berteman. Tapi kehadiran Aldi dan Mbak Nada bisa menghiburku disini, Aksa juga diam - diam memberikan perhatian kecilnya secara tak kasat mata. Misal saat mata kami bertemu secara tak sengaja dia akan menyunggingkan senyum kelincinya.
Pernah dengar teori kepiting dalam ember? Entah kenapa situasiku sekarang ini mengingatkanku pada teori yang aku sendiri lupa pernah baca dimana.
Katanya, kalau sekumpulan kepiting dimasukkan kedalam ember, mereka akan berusaha sekuat tenaga mencapai ke atas untuk keluar dari dalam ember. Mereka bahkan tak peduli sekalipun harus menginjak - nginjak kepiting di bawahnya sampai mati, yang mereka mau hanya mencapai ke atas untuk keluar ember.
It's seem like them, right? Waktu mereka tahu kalau aku bahkan cuma tamatan SMAㅡtanpa tahu aku pernah kuliah sekalipun belum tuntasㅡtapi sudah memiliki banyak pengalaman dan bahkan langsung diangkat jadi asisten Aldi yang merupakan seorang DoP, mereka semua langsung menganggapku sebagai ancaman. Dan setelah mendengar rumor soal aku yang dating dengan salah satu kru, mereka dengan sengaja menjatuhkanku untuk menguburku dalam - dalam agar bisa mendapat kesempatan.
Bukankah itu ironi? Nyatanya, manusia yang lebih punya akal dan hati nurani ini bahkan pantas untuk disamakan dengan kumpulan kepiting dengan ego yang tinggi.
"Mbak!"
Aku menengok ke arah suara, lalu menemukan Aldi yang tengah berlari - lari menghampiri.
"Kenapa, Di? Ada yang kurang kameranya? Gue salah kasih laporan atauㅡ"
"Gue udah dengar dari Mbak Nada, lo nggak apa - apa?"
Aku menautkan kedua alisku. Mbak Nada? Oh... jangan - jangan masalah di toilet tadi?! Salah satu sudut bibirku terangkat. "Nope, I'm okay kok, Di. Begitu doang mah kecil."
Aldi menelengkan kepalanya. "Yakin, Mbak? Nggak apa - apa kok sampai nangis segala?"
Aldi yang terbebas dari bekapan tanganku menghela napasnya sebentar, kemudian berbicara, "dia cuma bilang mergokin anak make up dan wardrobe ngomongin lo waktu di bathroom tanpa tahu lo ada di salah satu biliknya."
"Terus gimana bisa lo tahu gueㅡ"
Aldi tertawa. "Mbak... Mbak... dari radius sepuluh meter juga kelihatan kalau Mbak Asya habis nangis."
"Demi apa?!"
"Demi Iron Man hidup kembali dan masuk Avengers lagi, lo beneran kelihatan habis nangis banget." Aldi tertawa lagi. "Lagian nih ya Mbak, mau lo pakai make up setebel apapun itu mata lo yang sembab tetap nggak bisa ketutupan."
"Astaga... ini terus gue harus gimana, Di?" tanyaku, heboh sendiri. Takut lah pasti, nggak lucu kalau semua orang sadar aku habis nangis dan bakal tanya ini - itu, yang ada aku bakal digosipin lagi nanti.
"Coba tempelin es atau sendok deh biar agak kempes, kalau susah... ya terima kenyataan aja udah."
"Sialan lo."
Aldi terkekeh lagi. "Sumpah gue nggak paham, kenapa lo peduli banget omongan orang sih? Tahu kan kenapa bisa lo di terima dan dapat jabatan jadi asisten gue, Mbak? Bukan Bang Aksa yang minta, apalagi gue, bukan! Soal penerimaan kru baru, itu semua keputusan Produser sama para Sutradara, sekalipun Bang Aksa bilang iya juga kalau Mas Hanung sama Produsernya bilang nggak ya lo nggak akan bisa keterima, Mbak."
Benar juga, kok aku tadi nggak kepikiran ya?
"Udah jangan sedih lagi, nanti aku pelukㅡeh puk puk aja deh, nggak boleh peluk kan punya Bang aksa, ya?"
"Gue nggak tahu ini lo niat modus apa bercanda, Di. *But t*hanks, that helps a lot."
"No prob. Yaudah yuk balik, Mbak!" Aku mengangguk, mengiyakan ajakan Aldi untuk kembali ke lokasi syuting yang baru saja dihentikan karena break sebentar.
Belum sempat melangkah, ponselku bergetar, aku meraih ponsel dari sakuku.
"Duluan, Di. Ada telepon," ungkapku, Aldi menganggukkan kepalanya sebelum kemudian pergi meninggalkanku sendiri.
"Halo, Sa?"
"Kamu dimana?" tanya Aksa to the point. Tumben dia begini, biasanya suka basa - basi dulu daripada langsung bicara ke inti.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kamu dimana?" ulangnya lagi, aku semakin cemas sendiri. Apa aku salah bawa lensa, ya? Atau kameranya ada yang tertinggal? Aduh... jangan deh, udah kena rumor jangan ditambah kena sial juga, please!
"B-belakang lokasi syuting, ada apa, Sa?"
"Bentar, tunggu disitu sebentar, ini aku bentar lagi sampai, kamu jangan kemana - mana!"
Ini kenapa sih? Sumpah aku mendadak jadi panas dingin gini. Aku nggak ngelakuin kesalahan kan ya? Kalau iya, Aldi pasti tadi bilang duluan.
"Arasya?"
"Eh, i-iya. Gue tunggu."
Setelahnya tak ada jawaban dari Aksa lagi, yang terdengar hanya suara tut yang panjang.
Aku menyimpan kembali ponselku pada saku celana. Kemudian mencari tempat teduh dan bersih agar aku bisa duduk.
Sekalipun nasihat dari Mbak Nada dan dukungan dari Aldi masih menempel kuat dalam otak, ternyata gosip murahan yang bahkan jauh dari fakta itu lebih sering lewat di kepala. Bahkan rasanya seperti seseorang dengan sengaja menempelkan list yang berisi ucapan - ucapan mereka di kamar mandi sebelumnya tepat pada keningku agar semua orang bisa baca.
Yang bisa aku lakukan hanya menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk itu pergi dan menyemangati diri sendiri.
Mereka nggak lebih dari para kepiting yang mau keluar dari ember, aku nggak layak untuk mendengarkan omong kosong mereka, apalagi menangisinya.
Merasa bosan menunggu, aku menatap sepatuku yang menginjak tanah yang dihinggapi beberapa rumput liar di antara tanah dah tangga yang jadi tempatku terduduk.
Aku mencabutinya, satu - persatu sembari sesekali bermonolog pada diri sendiri. "Not bad lah, Sya. Sesekali lo emang harus nangis daripada nahan diri terus meledak gitu aja, lo manusia, bukan bom waktu!"
"Crying Doesn't mean you are weak kok, Sya ..." Aku menengadahkan kepala, melihat seseorang yang baru saja datang dengan ceramahnya. Aksa... "It's also mean you have been strong for long time."
Wow, emang ya, semua yang keluar dari mulutnya tuh nggak pernah bikin kecewa.
Aku tersenyum mendengarnya. "So, here is Pak Yonas or Aㅡ"
"Whatever you want, Sya." Aksa menurunkan tubuhnya, mendudukan diri di sisiku. "Ini salah saya, maaf."
"Salah lo darimananya? Jelas - jelas mereka yang ngatain aku, emang kamu ikut gosipin aku juga di belakang?!"
Aksa malah terkekeh. "Maksudnya... kalau saya dari awal terang - terangan bilang kalau kamu pacar saya kan nggak akan gini."
"Sa... " Aksa melirikku, menunggu kalimatku yang sengaja kugantung begitu saja. "Kita bahkan baru pacaran setelah aku keterima kerja disini."
"Iya, ya... " Aksa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Saya cuma nggak mau kamu nyalahin diri sendiri, salahin saya lebih baik daripada salahin diri kamu sendiri, Sya."
"Salahin lo ya?" Aku beranjak dari posisi dudukku. "Iya, salah lo emang sampai buat orang kayak gue falling in love ke lo." Senyum kelinci khas Aksa mengembang. Okay, my sweatest bunny is coming! "I hope sih yang ada disini Aksa."
"So here I am. Your boyfriend came only to cheer up his girlfriend who cried a lot because of damn people."
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. "Wow, ini lo beneran lagi ngumpat, Sa? Bukan lagi ngaji kan?"
Aksa merotasikan bola matanya, sebal. Tapi ity memang kenyataan, sekesal - kesalnya Aksa, aku nggak pernah mendengar dia mengumpat satu kalipun. So, ini official telingaku mendengar Aksa mengumpat, apalagi karena orang - orang yang jahil sama aku, hehe. Wajar kan aku ngerasa bangga?
"Saya serius ini, Sya. Kamu mau saya gimana? Saya datangin mereka satu - satu terus jelasin mereka atauㅡ"
"Nggak gitu juga Bapak Aksa Yonaswara yang terhormat... " Aku menghela napas sebentar. "Jangan repot - repotin diri sendiri."
"Yaudah kalau gitu, mulai sekarang kamu makan siang sama saya, ya?"
"Eh? Tiba - tiba gini? Cuma karena masalah ini?"
"Bukan cuma, kamu nggak tahu rumor mereka tuh benar - benar melenceng dari fakta, dan saya nggak terima! Terlebih mereka bilang kamu pacaran sama Aldi!"
Tawaku pecah seketika setelah mendengar nama Aldi di penghujung kalimat Aksa. Ini Aksa ngumpat tadi gara - gara mereka ngira aku pacarnya Aldi? Haha, astaga... ada - ada aja.
"Atau saya harus gandeng kamu di depan mata mereka biar mereka tahu kalau kamu pacar saya?"
"Nggak, ya ampun Aksa... " Aku tertawa lagi. "Biarin aja deh biarin, I will try not to listen to what they say, so you have to do what I do too, ya?"
Aksa mengangguk, kemudian mengacak poniku. "My gf knows what better she should do more than me."
Yes, you are right, Sa. Here, your gf feels hotter and hotter just because see you so close and only because you randomize my bangs ajskskksl my heart beating so loud.
"Don't do anything, Sa, please. You know my heart still fluttered when you did something to me even looking in my faceㅡmy eyes ajskskkslsl" Aku gemas sendiri.
"Okay, so here is a special service for my girlfriend whose heart is beating very fast."
__ADS_1
For a second, i realized if his lips already on mine.
***