
"Sya, guess what?" tanya Elle yang baru saja datang entah darimana. Ia duduk tepat di depanku yang tengah sibuk membolak - balikan buku.
Aku meliriknya sebentar, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke rutinitas awal, belajar!
"I have a good news dan lo harus tebak!"
Good news versi Elle ya? Dua hari yang lalu dia bilang soal berita baik sih karena disenyumin crushnya. Terakhir, kemarin dia bilang berita baik karena Tante Ema mau pergi seminggu lamanya, so, paling berita kali ini juga nggak jauh - jauh dari kehidupan pribadinya. "Di flirting Mas crush?" tebakku yang ditanggapi dengan gelengan kepala Elle. "Oh, Tante Ema ngasih uang jajan lebih pasti!" Again, she did the same thing, shaking her head. "So tell me what's good, hm?"
"Ishh" keluhnya kesal sendiri karena aku nggak bisa nebak. "Listen to me ya, Sya! Gue, Alrisa Gracielle, temen lo, sahabat lo, kembarannya Lisa Blackpink, anaknya Maremma Hanandika yang punya minimarkㅡ"
"Prakatanya diilangin aja deh, Le! Langsung ke inti gitu. Kepanjangan, takut keburu mati guenya."
"Hush! mulutnya ..." Elle terdiam sebentar, kemudian berbicara lagi, "jadi, GUE KETERIMA KERJA DI DAILY NEWS, SYA!! BUKAN SEBAGAI KARYAWAN MAGANG KAYA DUA TAHUN YANG LALU BUT KARYAWAN TETAP, KARYAWAN TETAP SYA!" katanya excited.
"Hah? Demi apa lo?!"
"Demi kerang ajaibnya spongebob, Sya, gue nggak bohong. Kak Nindy, ingat nggak lo? Senior yang ngajarin kita sekaligus jagain kita waktu magang ..."
Oh iya, aku lupa ngasih tahu soal ini. Daily News, salah satu acara berita yang sejujurnya sangat akuㅡkami idam - idamkan. Singkatnya, aku dan Elle kenal karena acara berita ini. Kami sempat jadi karyawan magang di Daily News dulu sebelum aku memutuskan cuti kuliah tahun lalu.
"... dia yang bahkan minta gue datang buat ngelengkapin data diri gue tadi siang setelah lima menit gue dapet email panggilan kerja resmi dari Daily News!!" jelas Elle semangat.
Aku bagaimana? Ikut senanglah pastinya, temanku satu - satunya ini akhirnya bukan pengangguran lagi. Officially dia udah punya kerjaan tetap yang memang pantas.
"Wah gila sih ..."
"YAKAN?! DAILY NEWS LOH INI SYA, DAILY NEWS YANG NERIMA GUE ASTAGA GUE SENDIRI MASIH NGGAK PERCAYA!"
Aku tertawa melihat bagaimana bahagianya Elle. "Congrats deh kalau gitu. Kerja yang bener ya lo, urusan toko biar gue sementara yang ngurus."
"Lo nggak mau ikut kerja disana, Sya? Maksudnya, kan lo juga sempat magang disana, bisa gue rekomenin kalau mereka butuh orang, kan?"
Aku kembali melanjutkan sesi belajarku tanpa menanggapi Elle, karena ya menurutku itu pertanyaan retorik yang bahkan Elle tahu betul apa yang akan aku jawab.
"Kalau nggak, lo lanjut kuliah lagi gimana, Sya?" Elle bertanya lagi. Sejujurnya, ppertanyaaya kali ini menurutku pribadi lebih tepat kalau dibilang ajakan yang dibuat samar sih.
__ADS_1
"Nope, PNS masih jadi tujuan utama untuk sekarang, Le."
"Dapat gaji cukup dan pekerjaan tetap masih jadi definisi sukses lo sampai sekarang ya?"
Aku tersenyum, "itu lo tahu."
"That's you are" katanya merasa paham. "Oh iya, you must to know about this too, Sya!"
"Apa lagi?"
"Aksa, laki - laki yang tau nama lo dan tiba - tiba ngelamar lo ..."
"Kenapa? Dia nggak waras? Emang."
"Dia sutradara dari film yang lagi populer baru - baru ini. Yang quotenya lo benci setengah mati!"
"Sutradara?! Haha bohong lo, kerjaan dia nongkrong sambil makan snack di depan minimarket masa iya sutradara, lagian itu film kan nama sutradaranya Yonas atau siapalah itu yang katanya ganteng banget sampai ditawarin jadi cover majalah itu nggak sih?"
"Ya itu dia! Yonas aka Aksa Yonaswara, kan ganteng juga dia. Gue juga baru tahu karena ketemu dia tadi di Daily News, dia jadi guest buat promoin filmnya. Asli, gue juga kaget setengah mati pas ketemu."
***
Aku kembali ke rutinitasku sendiri, belajar disela - sela waktu bekerjaku menjaga toko. Hari ini, entah kenapa memang agak sepi, aku jadi punya banyak waktu luang untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk tes CPNSku dua minggu lagi.
Tapi dengan kurang ajarnya pikiran tentangnya tidak mau pergi. Terlebih kalau mengingat ucapan Elle semalam bukannya lupa yang ada malah semakin buat aku sengsara. Nggak tahu deh, bisa gila sendiri kalau mikirin soal dia, toh nggak penting juga.
Tapi masalahnya manusia nggak penting itu lagi ada disini, duduk manis sambil sibuk makan cheetoz. Ini hari kelima dia datang dan aku semakin nggak paham sama jalan pikirnya karena dia kesini hanya untuk makan snack yang berbeda setiap harinya!
Pernah suatu waktu aku sempat memberanikan diri untuk bertanya alasan dibalik kedatangannya, dan tahu nggak apa jawabannya? Mau nyobain semua snack disini katanya. Duh, gila dia memang gila, aku yakin betul.
Dia se-jobless itukah sampai harus mencicipi satu snack setiap hari? Tapi kan dia sutradara terkenal.
Iya, dia, Aksa Yonaswara, pria aneh dan sakit jiwa itu ternyata seorang sutradara kelas dunia yang bahkan baru tiga hari filmnya tayang di layar lebar jumlah penontonnya sudah tembus angka dua juta, yang film garapannya tahun lalu akan diremake oleh Negara Amerika, dan yang paling buat aku hampir nggak percaya adalah bagaimana film pendek garapannya memenangkan salah satu nominasi di Festival Film Cannes yang artinya diakui pula oleh seluruh dunia!
It's just still too hard to believe all of this. Manusia yang tengah menyantap snacknya sambil sesekali tertawa sendiri melihat ponselnya itu adalah orang yang mempunyai prestasi segitu banyaknya.
__ADS_1
Berkelut dalam pikiran sendiri membuatku tidak sadar kalau manusia yang sibuk kupikirkan tau - tau sudah berdiri tepat di depan mata.
"Kamu mau?" katanya sambil menyodorkan onigiri rasa chicken mayo yang literally favoritku. "Belum expired, saya yang bayar kalau mau" katanya lagi.
Sejujurnya ini memalukan, dia begini pasti karena kemarin menangkap basah aku yang makan makanan expired. "Nggak, makasih"
Aku menghitung onogiri yang dibelinya, sedangkan ia melangkah pergi untuk mengambil sebotol minuman dingin dan dua buah permen chupa chups. "Kalau ini mau?" tanyanya, kali ini menyodorkan satu buah permen chupa chups.
"Nggak," jawabku singkat, kemudian meraih semua barang belanjaannya untuk kuhitung.
"Kalau yang ini, mau nggak?" katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Aku tertawa sebentarㅡlebih ke tertawa yang tidak ikhlas sih sebenarnyaㅡkarena kelakuannya yang diluar nalar.
"Bercanda, bercanda," katanya, kemudian tersenyum sampai setengah matanya hilang tertelan, sedangkan gigi kelincinya terekspos bebas yang entah kenapa malah membuatnya menggemaskan.
Aku menahan senyumku dengan mengacuhkannya dan memilih untuk menghitung barang belanjaannya. Tentu saja tanpa berniat memasukkan barangnya pada plastik, dia memang tidak pernah mau membungkusnya dengan plastik, mungkin karena yang dibeli jumlahnya sedikit. Setelah itu yang ia lakukan adalah meraih belanjaannya dengan tangan kosong atau sesekali dimasukkan pada saku jaketnya.
Setelah membayar makanannya dia melenggang pergi, menuju keluar lagi sebelum akhirnya ia berbalik dan menatapku. "Kalau jadi teman saya mau?"
"Hah?"
"Saya sudah ditolak tiga kali, kali ini saya nggak mau menerima penolakan lagi. Jadi, sekarang saya teman kamu"
Apasih astaga maksa banget ini manusia satu.
Dia melempar salah satu permennya, dan entah bagaimana, tubuhku merespon untuk menangkapnya. "Itu hadiah karena kamu mau jadi teman saya" katanya sambil tersernyum tulus. "Sampai jumpa besok!" tambahnya terakhir kali sampai bayangannya benar - benar hilang dari pandanganku.
'Sampai jumpa besok' adalah kalimat andalannya sebelum melenggang pergi meninggalkan minimarket dan aku sendiri.
Entah sudah berapa kali pula kalimat perpisahan itu menyapa telinga, tapi anehnya setiap hari berganti kadang aku merasa seperti menunggu kedatangannya.
Ucapan pamit yang seperti itu seakan mengucap janji kalau esok kita akan bertemu lagi.
Jujur saja, agak sulit bagiku untuk menyadari perasaan aneh ini. Perasaan gelisah yang mulai mengganggu dan mencampuri urusan hidupku. Kalau aku bilang dia lancang, setidaknya itu benar kan? Because he provoked me first, then i realized that something wrong with me.
__ADS_1
***