
Mobil yang Asya tumpangi membelah jalanan Ibu Kota yang agak sepi.
Tumben kan Jakarta sepi? Mungkin karena sudah tengah malam, mungkin juga karena habis hujan, dan mungkin seperti yang Asya pikirkan, semua orang dengan sengaja memberinya jalan.
Laporan rumah sakit soal kejadian yang menimpa orang tuanya bikin ia kalang kabut sendiri. Tangisnya tak pernah sedetik pun berhenti, pikirannya kacau balau, pakaiannya? Jangan ditanya, dia bahkan sampai tidak sadar kalau memakai sandal kanan semua.
Yang Asya tahu, kedua orang tuanya tengah merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga puluh dengan makan malam di sebuah restoran mewah, Asya sengaja menolak ikut dengan alasan tumpukan kerjaan di tempat magangnya yang semakin menggunungㅡpadahal aslinya, ia menolak karena sengaja ingin memberi waktu untuk kencan keduanya setelah sekian lama. Asya lupa satu hal, saat itu langit mendung, dan tak lama hujan deras serta angin kencang datang mengacaukan semuanya.
Asya menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan kedua orang tuanya pergi dalam cuaca yang bahkan sedang tidak bagus. Ia juga melupakan fakta kalau berita cuaca sudah mengingatkan soal hujan badai yang akan terjadi hari ini, yang sayangnya terjadi sekitar setengah jam setelah orang tua Asya pergi.
__ADS_1
Hujan itu berhasil membasahi semua jalan serta bangunannya, sedangkan badai itu berhasil menumbangkan beberapa pohon hingga jatuh mengenai kabel - kabel listrik yang sialnya menyebabkan korsleting di restoran dimana orang tua Asya berada. Kebakaran hebat menjadi alasan kuat kalau hanya beberapa orang di dalamnya yang bisa selamat, kedua orang tua Asya? Entah, yang jelas keduanya sudah dirawat di tempat yang tepat.
Ponsel Asya berdering tanpa henti, nama Elle tertera di layar ponselnya. Antara cemas dan ragu, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat telepon dari sahabatnya yang jadi saksi bagaimana kebakaran itu terjadi, bahkan sejujurnya dia yang segera menelepon pemadam kebakaran serta para ambulans, dia juga yang ikut mengantarkan kedua orang tua Asya yang sedang tidak sadarkan diri itu ke rumah sakit terdekat.
"Halo, Le?"
"Sya? Lo dimana? Keenan baru aja ke rumah lo, katanya lo nggak ada?"
"Gue udah di jalan"
"Udah Nggak apa-apa, Le. Nggak usah khawatirin gue" ucap Asya yang yakin kalau dia bisa menjaga emosinya agar tidak bertindak ceroboh disaat yang sedang genting ini.
__ADS_1
"Sini biar mama aja yang bicara," Asya dengar percakapan ini dari ponselnya, panggilan belum terputus, dan Asya sebenarnya tahu, kalau tante Ema yang sudah berbicara tidak mungkin bercanda.
"Arasya, dengerin tante, kamu kuat kan, ya? Iya, tante tau itu, makanya sekarang kamu tenang, jangan mikir yang aneh-aneh. Mama sama Papa kamu udah ditangani dokter profesional, mereka juga lagi berjuang, jadi kamu nggak perlu buru - buru, ya?" Asya diam, nggak tahu harus gimana. Mau sok kuat, tapi hatinya runtuh juga akhirnya, otaknya mendadak kopong, jantungnya terasa berhenti untuk beberapa saat, napasnya mendadak sesak, dan yang pasti, matanya mulai memanas lagi.
"Iya, tante, makasih"
"Dengerin tuh apa kata orang tua, Sya!" suara Elle kembali menyapa telinga Asya.
"Haha, iya Le, kasih kabar ke gue kalau ada apa - apa"
"Siap komandan!" kata Elle, kemudian berbicara lagi, "Sya, sekali lagi, lo jangan mikir aneh-aneh, jalan masih licin, lo hati - haㅡ" sayangnya, yang Elle dengar setelahnya bukan suara Asya, melainkan suara dentuman keras yang berhasil buat Elle membeku seketika.
__ADS_1
"ASYA?!"
***