YOUFORIA

YOUFORIA
Friend?


__ADS_3

Hari ini aku dapat misi penting dari Elle: mengantarkan id-card Keenan.


Aku pasrah menerima kenyataan kalau diantara kami memang hanya aku yang tidak punya kesibukan, tentu selain menjaga minimarket yang bahkan terpaksa buka agak siang karena aku harus mengantarkan barang berharganya Keenan.


"Kalau nggak absen bisa dianggap bolos gue, Sya! Please ya Arasya yang baik hati dan tidak sombong tolong bantu sahabat lo yang sedang dilanda kesusahan ini!" katanya memohon-mohon lewat telepon.


Sebelumnya Keenan meminta Elle, tapi Elle pagi - pagi sudah sibuk mengurusi tugasnya sebagai karyawan baru di Daily News, sedangkan Keenan tentu tak ada waktu untuk pulang mengambil Id-cardnyaㅡberhubung apartemen kami bersebelahanㅡjadilah aku yang di korbankan untuk kebaikan bersama katanya.


Kadang aku sendiri heran, bagaimana bisa kita bertiga menjadi teman? Even though they both knew how I hated medical things. Whether the hospital, doctors, nurses, even medicine, everything related to medical I really hate it tentu saja Keenan sebagai pengecualian. Dan sialnya, pengecualian ini juga yang buat aku berakhir di sini, rumah sakit pusat tempat kerja Keenan yang bahkan aroma obatnya sudah tercium dalam radius sepuluh meter dari luar. Lebih sialnya lagi, aku bahkan belum menemukan sesosok Keenan.


"Kampret lo, di mana sih?! kalau nggak keluar gue bawa balik ini id-card!" makiku melalui telepon yang terhubung dengannya.


"Bentar, bentar, Sya, gue lagi sama pasien, habis ini gue kesana."


Tanpa babibu aku memaksakan diri untuk memasuki rumah sakit dengan niat menemukan sosok Keenan lebih dulu. Aku menatap sekitarku, ke sudut ruangan, dan kemanapun tempat dimana ada kemungkinan sesosok Keenan akan muncul sebelum tiba - tiba datang ambulans dengan sirinenya yang terdengar kencang. Kedatangan mobil itu segera disambut oleh beberapa dokter juga perawat yang berlarian ke depan dengan kalang kabut. Situasi ini mengingatkan aku pada masa itu.


"Sya, orang tua lo...." telepon mendadak dari Elle membuatku kebingungan sendiri, terlebih mendengar sirine ambulan yang menjadi latar suara saat Elle berbicara membuat kebiasaan burukkuㅡberpikir secara berlebihan dalam situasi panikㅡdatang sendiri tanpa diminta.


Saat itu aku masih terkejut dan tak tahu harus bagaimana, rasa sedih, sesal, dan benci pada diri sendiri yang tidak tahu harus berbuat apa membuatku tak bisa berpikir secara normal.


Padahal dengan jelas Elle mengatakan kalau orang tuaku saat itu keadaannya masih bisa ditangani, bahkan Keenan dengan sengaja merekomendasikan senior terbaiknya untuk merawat mereka, tapi yang aku lakukan waktu itu hanya memperkeruh keadaan. Karena tak lama setelah kabar kebakaran restoran tempat kedua orang tuaku berada, kabar kecelakaanku menyusul memperparah kenyataan yang ada.


Aku segera menghubungi Keenan, meneleponnya berkali-kali karena khawatir traumaku datang lagi, rasa cemas yang mendadak datang ini bikin aku kewalahan sendiri.


"H-halo, Keenan? Lo dimana? Gue udah di rumah sakit, gue nggak kㅡ"


"Asya?" suara Keenan mulai mengabur, menggantikan beberapa adegan yang ternyata masih belum bisa kulupakan sepenuhnya.


"Katanya dokter profesional, kata Tante Ema dokter disini juga lagi berjuang, tapi kenapa sekarang jadinya gini, Le? coba jawab ke gue!"


"Sya... "


"Le, gue percaya sama lo. gue percaya semua bakal baik - baik aja kaya yang lo bilang, but shit Le, omongan lo, omongan lo sayangnya nggak bisa buktiin apa - apa!"


"Arasya!" Elle mengatur napasnya sebentar, "asal lo tau, Sya. Orang tua lo sempet sadar! mereka, keduanya, bahkan sempet jenguk lo, jagain lo sampai lupa makan, nungguin lo sampai lupa kondisi sendiri, dan doain lo sampai berharap biar mereka yang ada di posisi lo! Lo tahu? sampai kita semua ngira lo yang bakal mati duluan karena koma selama sebelas sehari!"


"Tapi mereka yang mati Le! mereka yang bahkan nggak ada pas gue buka mata, mereka yang bahkan... Le, berarti semua salah gue ya?"


"Lo ngomong apasih?!"


"Harusnya gue nggak biarin mereka pergi sendiri, harusnya gue nggak nyusahin mereka dengan kecelakaan yang nimpa gue, harusnya gue yang mati ya Le?"


"ASTAGA, ARASYA!"


"Semua salah gue, Le. Semua salah gue!"


"Mama, Asya... "


"Gue yang salah, gue yang harusnya mati, gue... "


"Asya!"


"Asya!" panggilan Keenan yang entah kesekian kalinya berhasil membawa kesadaranku kembali. Sibuk dalam ingatan di masa lampau bahkan membuatku baru menyadari keberadaan Keenan yang tengah berdiri tepat di depanku sambil mengguncangkan bahuku sampai aku sadar sepenuhnya.


"Ya?" Aku mengerjap, kemudian meliriknya sebentar, lalu melirik orang di sebelahnya yang jelas aku kenal. "Aksa?"

__ADS_1


Keenan mengernyit sambil menurunkan kedua tangannya dari bahuku, kemudian menatapku dan Aksa berganti dengan wajah penuh rasa curiga. "Kalian saling kenal?" tanya Keenan kebingungan.


"Iya!" "Nggak!" jawabku dan Aksa bersamaan.


"Jadi, kenal atau tidak?"


"Ngㅡ" "Iya!" jawaban Aksa jauh lebih cepat dariku, aku menatapnya, merasa tak setuju, toh kami memang tidak saling mengenal?


Keenan mendecih, kemudian berbicara, "ini aneh" katanya yang segera kumaklumi. Keenan tahu betul ruang lingkupku yang hanya ada tiga: Apartemen Elle, minimarket, dan rumah sakit yang literally paling aku benci, dia juga tau soal hubungan pertemananku yang hanya terdiri dari dia dan Elle, tambahan Tante Ema mungkin, tapi kali ini Aksa? Dia jelas bingung bagaimana awal mulanya sampai kami bisa saling mengenal.


Jujur saja sebenarnya bukan hanya Keenan yang bingung, akupun sama. Selama dua tahun kami berteman, baru kali ini aku melihatnya bersama Aksa.


"Ah, terserah... id-card gue mana, Sya?" pinta Keenan yang membuatku lega karena artinya aku tak perlu susah payah menjelaskan soal pertemuan antara Aku dan Aksa.


Aku menyerahkan id-card milik Keenan. "Makanya teliti, untung yang ketinggalan id-card, coba kalau otak, kan gawat."


"Hehe" dia tertawa. Tak lama ponselnya berdering, ia melihat pesan yang masuk lalu dengan terburu-buru pamit sambil berlari masuk ke dalam rumah sakit. "Urgent, gue harus balik. Sya, makasih. Sa, gue tinggal ya!"


Seperginya Keenan, Aksa menawarkan diri untuk mengantarku ke minimarket dengan pertemanan kami sebagai alasan. Awalnya aku menolak, tapi mengingat berapa banyak uang yang harus keluar untuk biaya transportasi menuju kesini tadi aku akhirnya menerima tawaran Aksa dengan terpaksaㅡakhir bulan memang selalu mengerikan.


***


Hening dan dingin, begitulah suasana di dalam mobil saat ini. Kami hanya diam tanpa mengucap sepatah kata sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya perihal kejadian aneh pada pertemuan pertama kami.


"Dari sekian banyak perempuan, kenapa lo ngelamar gue?" tanyaku memecah keheningan diantara kami.


Aksa melirikku sebentar, kemudian menatap jalanan ke depan sambil berkata, "karena saya tahu, kamu orang yang baik."


Jawaban macam apa itu? Seketika aku menyesali diriku yang menerima tawarannya dan masuk ke mobilnya. Maksudku, bisa saja dia malah menculikku, bukan begitu? Bukan! tentu saja bukan, setidaknya setelah aku mengetahui pekerjaannya dan memeriksa sedikit soal latar belakangnya di internet rasa curigaku padanya berkurang sedikit demi sedikit.


"Kalau saya bilang dari mimpi, kamu percaya?"


Aku tertawa mendengar jawabannya anehnya. Mimpi apa yang bisa memberitahu identitas seseorang haha, aneh.


"Bercanda, " katanya kemudian. Sudah kuduga, maksudnya pasti begitu. "Bukannya kamu pernah kuliah di jurusan perfilman?"


Kali ini aku membeku seketika. Bagaimana dia bisaㅡ


"Salah satu dosenmu adalah teman lama saya. Saat dia bersama saya, yang dia bicarakan hanyalah mahasiswi kesayangannya yang punya banyak prestasi, itu kamu, jadi saya tahu sedikit soal kamu dari dia."


Aku mengangguk - ngangguk, merasa paham betul akan penjelasannya. Tapi seketika pertanyaan lain melintas di kepala. "Hanya dengan mendengar cerita dari dia bisa buat lo sampai ngelamar orang dengan cara yang nggak terduga gitu, ya?" tanyaku. Tawa Aksa pecah seketika.


"Benar juga... " Mobil kami berhenti karena lampu merah, Aksa melepaskan tangan dari setirnya lalu melirik angka yang tertera di lampu merah sebentar. "Saya juga tidak tahu saya akan berbuat seaneh itu, yang saya tahu, saya senang akhirnya melihat kamu."


Dang! I hate this! I mean, how can my heart beating so fast like this just because of what he said?


Lampu lalu lintas berubah jadi hijau, mobil kami segera melaju, Aksa kembali sibuk menyetir mobilnya. Sedangkan aku? Aku tidak yakin tapi kurasa kewarasanku masih tertinggal disana.


Nggak boleh gini, Sya, nggak boleh!


"hmm... terus kenapa nggak bilang kalau lo itu sutradara terkenal?" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


Aksa terlihat agak terkejut mendengar pernyataanku, tapi tak lama dia menarik kedua sudut bibirnya. "Kamu nggak tanya ya saya nggak bilang" jawabnya dengan polos.


Benar juga sih.

__ADS_1


Bisa dikatakan ini pertama kalinya kami bisa mengobrol sesantai ini. Mungkin karena aku tak memandangnya lagi dengan penuh curiga, mungkin diapun sudah benar - benar menganggap kami berteman karena kejadian kemarinㅡtentu saja itu semua hanya kemungkinan yang aku terka - terka sendiri, tapi kemungkinan juga bisa jadi nyata, kan?


Mengalir dalam obrolan santai yang melebur kecanggungan membuatku tak sadar kalau kami sudah sampai di depan minimarket. Aku turun dan berniat untuk berpamitan pada Aksa yang mungkin akan pergi bekerja, tapi saat kulihat lagi, Aksa malah ikut turun.


"Ayo kita buka minimarketnya!" katanya semangat sambil melangkah menuju ke depan pintu minimarket.


Aku tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala karena untuk kesekian kalinya dibuat bingung akan sikap Aksa yang sulit untuk dipahami.


Seperti beberapa hari kebelakang, kali ini Aksa membantu segalanya, diawali dengan membuka rooling door bersama sampai membersihkan minimarket dia ikut serta, dia bahkan dua kali lipat lebih semangat dari aku dalam urusan bersih - bersih. Aku sendiri sampai heran, sebenarnya pegawai minimarket disini itu dia atau aku?


Setelah semuanya selesai, kami terduduk di kursi depan. Sekalipun minimarket ini bukan minimarket yang besar, tapi membersihkan semuanya terlebih di waktu yang agak siang seperti saat ini cukup membuatku kelelahan.


Aku melirik Aksa yang sesekali memejamkan matanya dan bersikap seakan ia tidur untuk mengembalikan tenaganya, dia pasti lebih lelah dariku karena harus mengangkat banyak kardus barang hari ini, belum lagi dia sempat membetulkan lampu yang mendadak mati di gudang. Untuk pertama kalinya aku merasa perlu untuk mengasihani seseorang selain aku, mengasihani Aksa lebih tepatnya.


Sekaleng fanta dingin kemasan kecil aku tempelkan tepat pada keningnya, matanya yang bulat langsung terbuka dan menatapku dengan penuh tanya.


"Buat saya?" tanyanya memastikan.


Aku mengangguk mengiyakan. "Karena udah antar dan bantu gue hari ini"


Untuk kesekian kalinya ia menyunggingkan senyum, lalu tak lama ia membuka kemasan minumnya dan menegaknya.


"Lima ribu dua ratus lima puluh rupiah."


Aksa langsung terbatuk karena tersedak, sisa minuman yang ada di kalengnya terkuras habis mengguyur kaos putih yang di pakainya sampai berubah warna menjadi merah.


Aku yang berniat menertawakan terpaksa meredam tawa sendiri karena melihat keadaannya yang benar - benar mengkhawatirkan. Jadi untuk menebus rasa bersalahku, aku memukul - mukul kecil punggunggnya agar sesi tersedaknya segera berakhir karena aku tak tega melihatnya.


"Saya kira kamu kasih ini sebagai pengganti ucapan terimakasih," ucap Aksa setelah batuknya mereda.


Aku hanya mengangguk untuk menanggapi.


"Tapi masih disuruh bayar?" Aksa tak percaya.


Aku mengangguk lagi, kemudian berbicara, "ucapan terimakasihnya tuh ngambilin minumnya doang, kalau soal bayar membayar udah beda lagi" jawabku yang ditanggapi dengan tawa renyah dari Aksa.


Aku memperhatikannya, lebih tepatnya memperhatikan baju yang dikenakannya, seketika aku merasa bersalah. Bahkan saat hal yang sama terjadi pada Elle, dia tidak seceroboh dan senaas ini. Tapi apa yang menimpa Aksa saat ini malah lebih kacau dari waktu itu.


"Gue nggak ngira bakal jadi sekacau ini sih," kataku. "Baju lo gmn?"


"Saya ada jaket kok"


"Mau pakai baju basah terus jaketan gitu maksudnya?" tebakku yang segera diiyakan Aksa. "Ya masuk angin nanti!"


Aku berpikir sejenak, mencari jalan keluar yang baik untuknya sebelum akhirnya berbicara, "kaos lo copot aja, lo pakai jaket atau kalau ada hoodie sih lebih baik lagi."


"Oh, benar juga" tanggapnya sebelum pergi menuju mobilnya untuk mengambil sesuatu.


Aku masuk ke dalam minimarket, menempatkan diriku sendiri di kasir seperti biasanya. Aksa masuk beberapa menit kemudian sambil membawa hoodie hitam di bahu sebelah kirinya.


"Kasih tau saya kalo ada pelanggan, saya mau copot baju dulu dibelakang" kata Aksa sambil melangkah pergi ke tempat yang ia maksud.


Sebenarnya aku mau memberitahu kalau bagian belakang masih tertangkap oleh camera CCTV, tapi saat aku melihat Aksa dalam satu detik saja aku langsung memalingkan muka. Bagaimana tidak? Kedua tangannya sudah bersiap untuk melepas kaos yang dipakai Aksa. Aku mengurungkan niatku untuk memberitahunya soal CCTV dan memilih memalingkan muka, tapi dengan bodohnya aku malah memalingkan muka pada monitor CCTV yang justru memperlihatkan keaadan Aksa yang sekarang tengah bertelanjang dada.


"Astaga, Asya, mata lo udah nggak suci lagi!"

__ADS_1


***


__ADS_2