
Dari dulu, kalau disuruh menilai Aksa dalam satu kalimat, Elle bakal langsung jawab, "Aksa tuh kaku juga dingin."
"Emang beda ya?" tanyaku, tak paham letak perbedaannya.
Alle menimpali, "ya beda! Emang kelihatannya setipe tapi keduanya jelas beda."
Aku sendiri nggak tahu apa dan dimana letak perbedaannya. Tapi kalau soal kekakuan Aksa, aku seratus persen setuju. Yang paling jelas terlihat sih pasti dari penggunaan bahasanya yang pakai saya - kamu, belum lagi seringnya dia pakai kata - kata baku sampai kadang aku merasa lagi baca KBBI saking rapi tata bahasanyaㅡhaha, nggak, nggak gitu juga kok. Bercanda aja itu.
Well, manusia kaku yang lebih mirip kanebo kering itu bisa mendadak jadi clingy di depanku. Dia bisa tiba - tiba sandarin kepalanya di pundakku sambil bilang, "saya mau gini sebentar ya, Sya?" Aku hanya bisa senyam - senyum sendiri, nggak jawab, juga nggak nolak sama sekali. Gimana mau nolak kalau dianya udah kelihatan capek banget? Yang ada aku malah nggak tega.
Nggak berhenti sampai disitu, ini, manusia yang satu ini kalau udah berdua sama aku udah kayak teddy bear bangetㅡmintanya dipeluk, nggak mau lepas. Atau mungkin kayak koala yang bakal nempel di pohon dalam waktu yang lama, begitu juga Aksa yang akan mengekoriku kemanapun aku pergi, seperti pagi hari yang cerah ini misalnya.
Pagi - pagi sekali aku sengaja datang ke rumah Aksa karena ada rencana buat lari pagi di hari sebelumnya, but you know what? Ketika aku sampai di rumahnya, Aksa masih jadi kepompongㅡsibuk menggulung diri dengan selimut tebal di atas kasur.
Yang aku lakukan waktu itu tentu saja membangunkannya, memanggil - manggil namanya yang hanya diiyakan tanpa mau membuka mata, atau sekedar bilang, "bentar ya, Sya. Lima menit lagi." lalu ia tertidur kembali. Susah memang membangunkan Aksa yang kalau sudah tidur bakal tentram dan damai banget kayak bayi, aku sampai kewalahan sendiri.
"Masa iya harus aku siram pakai air, Sa?" ancamku yang sialnya tidak dihiraukan Aksa sama sekali. "Astaga, dia tidur lagi?!" monologku, kelewat kesal.
Putus asa karena tak berhasil membangunkannya, aku memutuskan untuk membuat sarapan sambil menunggu ia bangun sendiri. Aku nggak tahu sih mana urutan yang benar, lari dulu baru sarapan atau sarapan dulu baru lari pagi? Nggak tahu deh.
Then, I'm wearing Aksa's apron.
Kalau pancake buat sarapan udah mainstream, enaknya aku buat apa ya?
Aku memutar otak kecilku sembari memikirkan masakan yang lumayan gampang .
Ah, gimana kalau muffin?
*
Ting! Oven berbunyi, aku segera membukanya sembari menggunskan sarung tangan yang akan kugunakan untuk meraih muffin yang baru saja matang dari dalam oven.
"That looks delicious! You made muffin, huh?" kata Aksa yang entah sejak kapan sudah berdiri di sekitar dapur.
Aku tersenyum, kemudian mematikan oven sambil memindahkan muffin pada piring yang sudah kusiapkan sebelumnya. "Here is special muffin bake by Arasya!"
Aksa tertawa kecil mendengarku. Kemudian ia berjalan mendekatiku dan memelukku dari belakang.
"Hey, what are you doing ya Bapak Aksa? Nempel lagi kayak koala?"
Lagi - lagi Aksa tertawa kecil, tentu tanpa melepas pelukannya. "I just wanna hugging you." Jangan kaget, modusnya Aksa dari dulu emang lancar banget kayak laju internet kalau sinyalnya lagi 4G, apalagi sim cardnya sebangsa Telkomsel dan Simpati. "Kamu mungil banget, enak buat dipeluk."
Duh, Aksa kalau ngomong suka banget buat aku jantungan, bahaya!
__ADS_1
"Jangan tambah gede, segini aja ya kamu," kata Aksa lagi.
Aku terkekeh, kemudian meraih satu muffin yang menurutku sudah agak dingin, menyuapkannya pada Aksa agar ia bisa berhenti bicara seenaknya.
"Ini masih panas, Sya." Aksa melepas pelukannya karena tanganya kini sibuk mengipas - ngipas mulutnya sendiri.
"Eh iya?" Melihat ekspresi Aksa yang masih berusaha dengan susah payah untuk sekedar mengunyah muffin yang ada di mulutnya, aku jadi yakin kalau itu memang masih panas. "Sori," lirihku, sembari meletakan muffinnya kembali ke piring, menuangkan air kedalam gelas kosong, lalu menyerahkannya pada Aksa.
"No, it's oke, Sya. Btw, ini enak banget, serius! Made with luv ya?" Aksa aku jitak ujung kepalanya, lancar banget ini mulutnya kalau bicara cinta - cintaan.
"Gue coba juga ah." Aku hendak menggigit muffin yang sebelumnya aku sodorkan pada Aksa, tapi ia buru - buru merebut muffinnya.
"No! Jangan kamu makan!" Jangan - jangan nggak enak ya? "Ini enak ya, aku nggak bohong. But, it's better if we eat this muffin when it's a bit cold."
Aku tersenyum.
*
"Makanya kalau jarang olah raga apalagi lari jangan maksain diri," omel Aksa sembari melirikku yang tengah ia gendong di punggungnya. Bingung juga sebenarnya, orang sekaku dan sependiam Aksa bisa ngomel juga ya ternyata.
Aku mendengus sebal. Toh aku juga nggak mau jatuh sampai bikin kakiku terkilir, siapa yang mau? Nggak ada.
"Berat nggak, Sa? Pesan Grabcar aja deh, yuk! Nggak tega gue lihat lo gendong gue daritadi."
"Ini lo ngejek apa muji sih?"
"Nggak keduanya" kata Aksa dengan wajah datar tanpa dosa.
Aku menghela napas panjang, lalu menyandarkanku daguku di sela - sela bahu dan leher Aksa.
"Lo haus nggak, Sa? beli minum dulu yuk?" Aksa mengangguk mengiyakan.
Kebetulan sekali sekitar sepuluh meter di depan kami ada minimarket. Setelah kamiㅡAksa lebih tepatnya, karena aku hanya bisa pasrah dan diam dibalik punggungnyaㅡsampai di depan minimarket, Aksa menurunkanku tepat pada tempat duduk yang ada di luar.
"Kamu tunggu disini, biar saya yang beli."
"Tapi saㅡ"
"Nggak apa - apa Arasya." Setelahnya Aksa melangkah pergi memasuki minimarket sendiri.
Katanya, kalau jatuh cinta, semua tentang dia jadi terlihat sempurna, nggak ada cacat, celah, masalah, atau apapun itu nggak ada. Pernah dengar nggak? Kalau aku sih pernah, dan sekarang mungkin aku sedang mengalaminya.
Dimataku, Aksa serba bisa, baik hati, ganteng, dan sempurna. Coba deh bilang ke aku dimana celahnya dia? Jangan bilang soal sikap kakunya, karena itu bukan kekurangan buatku, tapi keunikanㅡdasar bucin.
__ADS_1
Tapi aku serius deh, kalau soal baiknya seorang Aksa Yonaswara, udah deh nggak usah ditanya, dari how he treat me like a queen aja udah jadi bukti. Gantengnya apalagi, dari balkon apartemen Elle yang berada di lantai tujuh aja gue bisa langsung kenalin dia saking mencolok dan glowingnya muka dia. Mau ngomong soal skillnya? Aksa kalau disuruh nyanyipun dia bisa sampai punya studio musik segala, disuruh masakpun hasilnya luar biasa, bonusnya dia sutradara kelas dunia, fix dia masuk list boyfriendable buat seluruh anak cucu cicitnya Siti Hawa deh kalau gini.
Dinginnya sebotol yoghurt yang ditempelkan Aksa pada keningku membuyarkan semua lamunanku. Entah antara dendam kesumat atau memang udah jadi hobinya, Aksa selalu melakukan hal itu padaku.
"Minum dulu, ngelamunnya nanti lagi."
Aku terkekeh. Ini berarti aku disuruh ngelamun lagi? Sumpah ya, aku nggak bisa paham sama jalan pikiran dia.
Setelah aku meraih yoghurt yang ia tempelkan pada kening, Aksa meletakkan yoghurt miliknya di meja sembari duduk pada kursi di sebelahku yang tersekat meja.
"Masih sakit nggak?" tanyanya, retorik banget sih.
"Ada pertanyaan lain nggak?"
Aksa yang paham kalau pertanyaannya amat sangat useless itu tertawa sebentar. "Kalau gitu pertanyaannya saya ganti." Dia meneguk yoghurt miliknya, kemudian meletakkannya kembali ke meja. "Kamu sayang saya nggak?"
"Seriously?" Aku menggelengkan kepala. "Whats gotten into you sih, Sa? Astaga ...."
Yang Aksa lakukan malah tertawa sembari mengendikkan bahunya. "You, maybe?"
Sumpah ini dia minta aku lempar meja apa gimana sih masyaallah.
Kan aku kaget tiba - tiba Aksa begitu. Like, bukan Aksa banget kalau mendadak bicara hal - hal begituan, akupun geli juga dengarnya.
Aku bangkit dari kursi. "Pulang aja deh pulang, udah nggak beres ini otak lo kayaknya."
Lagi - lagi Aksa terkekeh. Suka banget dia godain aku kayak gini.
"Pesan Grabcar deh ya, takut lo makin ngadi - ngadi."
Aksa buru - buru berdiri setelah kata 'Grabcar' keluar dari mulutku. "Nggak, Nggak. Bentar lagi juga sampai rumah, Sya. Maaf deh, saya bercandanya kelewatan ya?"
Nggak juga sih, the problem is not in what you said, Sa, but in my heart that beats so fast! It feels like I'm going to die because of this shit asjskksl.
"Mau digendong atau diseret?"
Aku mengulum bibir atasku, kemudian mendesis. "Mau kayang ajalah gue, Sa."
"Waktu dan tempat dipersilahkan."
"Sialan lo!"
Jangan heran sama weekendnya kami yang nggak jauh - jauh dari olah raga pagi, masak bareng, atau nonton film di rumah sambil rebahan dan makan cemilan, semua udah jadi kebiasaan tersendiri untuk sekarang. Anehnya, aku sama sekali nggak merasa bosan. Nggak perlu deh kita aneh - aneh dan nyusahin diri sendiri, gini aja udah berasa banget liburannya. Toh bukan soal apa dan dimananya, intinya soal siapanya, kan? Selama sama Aksa, apapun itu bakal berkesan dan menyenangkan, thats the fact and enough.
__ADS_1
***