
Mungkin ini yang namanya roda kehidupan, setelah mengalami beberapa kali kegagalan dan kesialan yang memilukan, pada akhirnya semua terbayar dengan satu keberuntungan yang mungkin akan merubah garis hidupku secara penuh.
Beberapa hari setelah applied data diri dan membuktikan beberapa pengalaman yang sudah aku dapatkan, aku mendapat balasan email yang mengejutkanㅡsebuah pemberitahuan kalau aku terpilih jadi salah satu kru dalam projeknya Mas Hanung juga Aksa.
Senyumku tak henti - hentinya mengembang selama seharian, bahkan Elle bilang aku sudah seperti orang gila karena senyam - senyum sendiri selama itu.
"Gue seneng asli dengar kabar baik dari lo, Mas Hanung nggak akan mau kerja sama sembarang orang tanpa potensi, tapi masalahnya, gue yang ngeri sendiri lihat lo begini," kata Elle yang ditanggapi dengan senyum lebar dariku. "Si anj*r bisa berhenti senyum nggak?!" ancamnya sembari mengangkat bantalan sofa yang bisa kapan saja ia lemparkan ke arahku.
"Temannya lagi bahagia harusnya lo ikut bahagia dong!" keluhku, then pouting my lips biar kelihatan lucu.
Elle berdecih sambil menggelengkan kepalanya. "Gue bahagia, Sya, asli nggak bohong. Cuma senyum lo ngeselin banget, pengen gue lempar bantal jadinya."
"Yaudah sini lempar, lempar, Le!" tantangku yang tidak kusangka malah disanggupi Elle dengan senang hati. Bantal yang ada ditangan Elle dilemparkan. Tapi dengan beruntungnya, aku bisa menangkapnya sebelum bantal itu mendarat tepat di mukaku.
Tak mau kalah, aku melemparkan bantal sofa itu kembali pada Elle sebagai pembalasan. Perang bantal dadakanpun dimulai dengan menyenangkan disertai suara tawa kami yang menggelegar.
"Btw, Sya ..." ucapan menggantung dari Elle menarik perhatianku. Kami menghentikan aktivitas perang bantal kami secara tiba - tiba. "Sebelum gue lanjut, damai dulu damai dulu," katanya sambil mengacungkan kelingkingnya. Aku menyanggupi ajakan Elle, lalu mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya sebagai pengikat janji, setelahnya, kami berdua terduduk tenang lagi di sofa.
"Kenapa? Kenapa?" Aku excited sendiri.
Elle meraih ponselnya dari meja, lalu perhatiannya fokus pada layar ponselmya yang menyala. "Lo harus lihat ini!" katanya, kemudian menyerahkan ponselnya padaku. "Itu second accountnya si Seta."
Aku mengernyitkan dahi ketika melihat apa yang Elle beri, kemudian meraih ponsel Elle, memperbesar foto pada salah satu postingan dari Seta untuk memastikan.
Tak berhenti sampai disitu, fokusku kembali pada postingan lain di account instagram Seta yang berisi beberapa foto bersama Aksa dan sosok wanita dalam polaroid itu. Salah satu foto yang diposting bahkan saat mereka bertiga berada di studio musik di rumah Aksa dengan masing - masing alat musik yang mereka pegang dengan gaya candid ala - ala dengan muka yang ceria. Berbanding terbalik dengan apa yang Aksa bilang sebelumnyaㅡmasa kelam katanya, ya?ㅡaku buru - buru menggeleng.
Sekarang aku paham kenapa Aksa punya studio musik yang besar dan lengkap, juga suaranya yang sangat eargasm itu. Dulu, mereka sering latihan sepertinya, atau cuma iseng - iseng aja ya?
Sepertinya rasa penasaranku harus segera kuakhiri, karena semakin kupikirkan yang ada aku semakin ingin tahu lebih soal kebenarannya, Aksa nggak mau itu dibahas lagi kan? Jadi, cukup berhenti sampai disini.
*
Hari pertama kerja dalam sebuah projek besar masih jadi hal yang terlalu membanggakan buatku. Berusaha memberikan yang terbaik juga melakukan hal yang benar pada akhirnya malah membuatku melupakan banyak hal, termasuk soal wanita dalam polaroid yang aku nggak pernah tahu. Yang aku catat di otakku hanyalah memberi first impression yang baik agar mereka tidak kecewa karena menerimaku.
Kalau sebelumnya aku pernah menjadi seorang Astrada pada projek film senior kampusku, kali ini aku mendapat tugas sebagai salah seorang kru film yang bekerja sebagai Asisten DOP yang kebetulan DOPnya adalah Aldi. Well, setidaknya ada satu orang yang aku kenalㅡsekalipun nggak kenal - kenal amat sih.
Percaya nggak percaya, hari pertamaku yang amat sangat aku banggakan itu ternyata sangat melelahkan. Baru hari pertama tapi sudah sangat sibuk, mengurus ini itu, diajarkan soal banyak hal, sampai disuruh melakukan kerjaan - kerjaan yang bikin aku kewalahan.
Tadinya, aku kira akan menyenangkan. Nyatanya, realita memang tak seindah ekspetasi. Justru karena aku bekerja pada projek besar - besaran, tenaga dan pikiran yang kukerahkanpun nggak bisa asal - asalan.
Aku mendudukkan tubuhku pada salah satu kursi dalam kantor, menyandarkan punggungku yang pegal sambil memejamkan kedua mataku.
"Gimana Mbak Asya hari pertama kerjanya?" Tanpa membuka mata untuk melihat siapa yang berbicara, aku sudah tahu kalau itu Aldi, karena suaranya sudah tidak asing lagi di telinga.
__ADS_1
Aku menghembuskan napas beratku. "Lumayan berat sih, tapi gue bersyukur akhirnya semua berjalan dengan lancar" kataku dengan mata yang masih terpenjam.
"Cuma dua belas jam loh, Mbak. Suatu keberuntungan itu! Biasanya nih kalau gue kerja sama Bang Aksa bisa makan waktu lebih dari empat belas jam."
Bicara soal Aksa, selama seharian penuh aku bahkan nggak pernah melihatnya, padahal kita bekerja dalam satu projek yang sama, tapi sama sekali nggak bisa ketemu, ya?
Aku membuka kedua mataku, lalu menatap Aldi dengan posisi duduk yang menegak. "Btw, kok gue nggak lihat si Aksa, ya?"
Yang ditanya malah terkekeh. "Padahal dia ada di mana - mana loh, Mbak. Udah macam Naruto yang pakai jurus seribu bayangan."
Salah satu sudut bibirku tertarik setelah mendengar perumpamaan dari aldi. Naruto dengan jurus seribu bayangannya, ya? Kalau dipikir benar juga sih, mengingat kemana aku pergi sosok Aksa selalu ada di depan mata, keduanya memang mirip.
Setelahnya aku memilih menyandar pada kursi dan memejamkan mataku lagi. Mungkin aku yang terlalu sibuk sampai nggak melihatnya, ya?
"Tapi Mbak, Bang Aksa tuh kalau lagi kerja emang suka gitu. Ke saya aja nyuruh harus sopan di tempat kerja, katanyasih nggak mau ada rumor yang nggak - nggak, tapi kan agak gimana gitu nggak sih?"
Oh, sekarang aku paham kenapa gaya bicara Aldi berbeda di tempat kerja dan diluar tempat kerja. Penyebab utamanya adalah keprofesionalan Aksa yang bahkan bisa dengan mudahnya membuat dinding yang tinggi pada semua orang di dekatnya saat sedang bekerja.
"Kalau disimpulin sih, Pak Yonas dan Bang Aksa tuh kayak orang yang beda gitu, Mbak."
Sekali lagi aku merasa paham, amat sangat paham.
"Udah jam setengah sebelas nih, Mbak Asya nggak puㅡ"
Sesuatu yang dingin mendarat di kepalaku secara tiba - tiba, bersamaan dengan perkataan Aldi yang terhenti begitu saja. Aku refleks membuka mataku dan menangkap bayangan seseorang yang tengah tersenyum sebelum kemudian melirik Aldi dengan tatapan kesal.
"Wah, baru aja diomongin... udah kayak jelangkung aja nih Bang Aksa, datang tak di jemput" kata Aldi, kemudian tertawa.
Aku meraih sekaleng soda dingin yang Aksa tempelkan pada keningku. Entah kenapa sikapnya ini mengingatkanku pada beberapa waktu yang lalu, saat aku melakukan hal seperti ini padanya setelah ia membantu membereskan minimarket.
Oh, udah balik ke mode Aksa lagi, ya?
"Duh, Aldi pulang aja deh, nggak sehat mata Aldi kalau lihat orang lagi lovey dovey gini." Aldi merapikan barang bawaannya sebentar, kemudian berdiri.
"Lovey dovey darimananya sih, Di?!" Aku histeris sendiri, sedangkan Aldi hanya menanggapi dengan hehenya sambil kemudian melangkah pergi.
"Ini mau langsung pulang atau main ke rumah saya dulu?"
"NGAPAIN KE RUMAH LO JAM SEGINI?!" kataku, setengah berteriak. Aksa ini beneran gila apa gimana sih, astaga.
Aksa malah terkekeh melihatku. "Bercanda Sya, yaudah ayo pulang, saya antarkan."
Bercanda katanya, nggak tahu apa kalau mukaku udah panas semua?
__ADS_1
"Nggak mau?" tanya Aksa lagi, memastikan.
"Mau lah! Lagian udah malam, kalau nyari ojol belum tentu daㅡ" ucapanku berhenti begitu saja ketika Aksa menggengam tangan kiriku yang kemudian ia masukkan pada saku jaketnya.
"Ayo! Keburu dingin," katanya sembari membawaku pergi ke parkiran.
Sekalipun udara malam terasa dingin, wajahku terasa memanas hanya karena digenggam. Apa - apaan sih ini? Aku bingung sendiri, tapi tidak menolak sama sekali dan tetap mengikuti Aksa menuju parkiran dengan tanganku yang masih ia genggam.
"Ini kalau mampir KFC dulu mau nggak?"
"Jam segini?!"
Aksa mengangguk mengiyakan. "To be honest, saya belum makan sama sekali hari ini."
"Astaga... emang lo nggak istirahat apa gimana? Lagian ini kan masih pre-production, belum masuk ke tahap production aja lo udah segitunya?"
Lelaki yang kuomeli itu malah tersenyum lebar. "Daripada ada yang kurang di tahap produksi nanti, jadi tahap ini harus maksimal, kan?"
Aku terdiam sebentar. Benar juga sih, apalagi ini kan projek kolaborasi yang nggak dipikir sama satu otak, tapi dua otak sutradara handal yang pastinya punya kemauan berbeda. Pada akhirnya, semua orang jadi harus bekerja dua kali lebih banyak untuk menghasilkan film yang berkualitas dengan menyamakan kriteria juga kemauan dari dua kepala.
"Itu benar sih, tapi gue nggak tahu kalau lo itu workaholic, gue kira cuma pekerja keras aja" Aku terdiam sebentar, memberi sedikit jeda sebelum kembali berbicara, "Workaholic sama pekerja keras tuh beda, persis seperti Yonas yang gue lihat di gedung hari ini sama Aksa yang biasa bantu gue di minimarket, beda banget."
"Ehh? Saya?"
"Iyalah, siapa lagi?"Aku memberikan soda kalenganku yang tinggal setengah. "Nih, minum dulu, lo bilang belum makan kan? Seenggaknya isi perut lo sama air dulu."
Aksa terdiam sebentar sebelum kemudian meraih soda itu dari tanganku dan meneguknya.
"Lo sampai lupa makan karena sibuk kerja, apalagi namanya kalau bukan workaholic?"
Aksa mengangguk setuju, "maybe you're right, Sya, Yonas and Aksa is a different person. Kalau Yonas yang kamu lihat di gedung itu workaholic dan cuek banget, kalau saya yang sekarang disini sama kamu ini sekalipun kaku pasti ingat kamu."
"Apasih, Sa. Geli!"
Kami berdua tertawa.
"Saya serius ini, kalau Yonas workaholic, berarti saya Asyaholic, ya?"
"Bercanda lo astaga... Shut you mouth aja deh udah, ayo kita pulang, capek gue nanggepinnya."
"Ke rumah saya?"
"Heck, no! Sa, gue santet juga lo lama - lama."
__ADS_1
Aksa malah terkekeh dengan wajah tanpa dosa, masih dengan tanganku yang ia genggam erat dalam saku jaketnya.
***