
Langit memang terlihat mendung, tapi aku sedikit bersyukur. Kalaupun hujan, setidaknya aku nggak kehujanan juga nggak sendiriㅡ
"AKSA!" pekikku kaget saat sebuah pohon tumbang tepat di depan mata.
Untungnya, pohon itu tak menyentuh kamiㅡbahkan mobil Aksaㅡsama sekali tidak. Tapi tetap saja, kalau Aksa telat menginjak rem sedetikpun... aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami setelahnya.
"Sa, lo nggak apa - apㅡ"
Melihat Aksa yang mendadak membeku dengan muka yang kini memucat membuatku panik tak karuan.
"Sa?" panggilku pelan sembari menggoyangkan bahunya.
Aksa masih tak merespon, bahkan tak bergerak seakan ia sedang menjadi patung.
"Demi Tuhan ini lo jangan bercanda! AKSAA!" teriakkanku membawa kesadaran Aksa kembali ke dunia nyata. Aku bersyukur sekaligus bingung. "Lo nggakㅡ"
"Sya?" Aksa memanggil tanpa mau melirikku, pandangannya masih terfokus pada pohon yang tumbang tepat di depan kap mobilnya. "Kita pulang aja ya? Saya antar."
"Lo... nggak apa - apa kan?"
Tak ada jawaban setelahnya, kami sama - sama diam.
Belum sempat Aksa memutar balik mobilnya, mobil sirine polisi terdengar, aku refleks menoleh ke belakang dan menemukan satu mobil polisi yang parkir tepat di sebelah kiri mobil kami.
"Kalian tidak apa - apㅡloh... Arasya?" lalu ia melirik Aksa sebentar, kemudian melirikku lagi. "Selama ini kalian saling kenal?" katanya, aku tak paham.
Fyi, polisi yang baru saja menanyakan keaadan kami itu sepupuku, Mas Reno. Dia juga yang mengurusi masalah kecelakaanku dua tahun yang lalu. Tahun lalu ia memang pindah tugas ke daerah puncak, tapi aku juga nggak ada firasat bakal ketemu dia disini dan secepat ini.
"Kalian nggak apa - apa?" ulangnya lagi, dengan bahasa yang lebih santai dari sebelumnya.
"Nope, makasih sudah menanyakan keadaan kami, tapi kami harus buru - buru pergi," sahut Aksa yang sukses buat aku bingung sendiri. Buru - buru mau kemana sih? Kan katanya jalannya nggak jadi?
"Kamu Yonas kan? Saya polisi yang waktu itu mengurusi masalah kalian."
Kalian? Maksudnya, aku dan Aksa? Loh, memang kami ada masalah apa?
Aku dan Aksa saling menatap dengan tatapan yang sama - sama kebingungan.
"Dua tahun yang lalu, Sya, Pak Yonas yang bayarin semua biaya rumah sakit kamu waktu itu."
*
We just try to live a normal life even when we have a bad story behind.
__ADS_1
"And that whats Aksa did, right?"
"Car accident two years ago, yang buat gue koma sampai buat gue melewatkan sadarnya orang tua gue, Aksa ada campur tangannya kan?"
Keenan hendak membuka mulut sebelum kehadiran Seta dengan gelas yang pecah karena terjatuh dari tangannya mengalihkan perhatian kami berdua.
Tanpa perduli akan apa yang baru saja terjadi, Seta malah melangkah mendekati kamiㅡaku mungkin lebih tepatnya.
"Gue nggak tahu lo tahu sampai mana, tapi soal kecelakaan, Aksa nggak ada campur tangannya, dia cuma korban!"
Salah satu alisku terangkat, mendengar pernyataan Seta yang jelas berbeda dari info yang aku dapat dari Mas Reno sebelumnya.
"Kalau gitu bilang ke gue apa yang sebenarnya terjadi waktu itu!"
Seta menelan ludah. "Sya, sekalipun lo udah jadi pacarnya Aksa, bukan berarti lo harus tahu semua soal dia, apalagi about his past, its tooㅡ"
"Sekalipun gue adalah korbannya?" Mata Seta membulat seketika. "Kalau lo nggak budek, gue barusan teriak ke Keenan gimana gue koma sampai melewatkan sadarnya orang tua gue!"
"Bentar deh..." Seta melirik Keenan, mungkin meminta bantuan? Entahlah, aku nggak mau tahu! Yang mau aku tahu adalah kebenaran dibalik kejadian naas dua tahun yang lalu yang menyeretku juga Seta.
"Udah cukup kalian sembunyiin semuanya, apalagi lo, Nan. Brengsek ya lo! Lo tahu semua itu tapi nyembunyiin semuanya di belakang gue!"
"Gue gini demi kebaikan kalian berdua!"
"Stop blaming each other! Sya, I'll tell you everything, about accident two years ago and about Theressa."
*
Theressa, wanita dalam polaroid yang kata Aksa hanya bagian dari masa lalu kelamnya.
Kata Seta, mereka bertiga bertemu secara tidak sengaja di rumah sakit saat Seta dirawat disana selama satu minggu lamanya. Seta dan Theressa sama - sama dirawat dalam ruangan yang bersebelahan.
Seta yang tidak bisa diam dan Theressa yang selalu melewati ruangan Seta juga Aksa yang berkunjung setiap hari akhirnya bisa saling mengenal satu sama lain.
Dari situ mereka selalu pergi kemanapun bersama disela - sela kesibukan ketiganya. Aksa yang merupakan seorang sutradara, Seta yang bekerja di Daily News, juga Theressa yang merupakan seorang penulis novel ini menyempatkan waktunya untuk sekedar mengobrol di kafe atau bahkan pergi karaoke.
Memutuskan untuk membuat band untuk mengisi liburan menjadikan ketiganya melalui waktu bersama lebih lama. Tak ada yang salah dari itu semua, berawal dari asing, saling mengenal satu sama lain, kemudian menjadi sahabat baik.
Tapi Seta menambahkan hal yang mengejutkan.
"Justru itu awal dari semua kesialan yang menimpa Aksa."
Seta kembali melanjutkan ceritanya. Bagaimana keanehan - keanehan lain muncul setelah mereka saling mengenal dalam waktu yang lama. Awalnya Seta hanya merasa kalau tempramen Theressa ini cukup buruk sampai membuat ia mengamuk karena diselingkuhi pacarnya, bahkan dia akan marah sembari mengobrak - ngabrik barang yang ada di apartemennya karena masalah lainnya. Lama - lama Ia merasa kalau Theressa terlalu mengandalkannya dan Aksa.
__ADS_1
Aku merasa masih merasa tak ada yang salah dari itu semua. Siapa yang tidak akan mengamuk kalau diselingkuhi pacarnya? Gissele saja mati karena dikhianati Albrect yang memilih tunangannya di depan mata.
Suatu waktu, Seta dan Aksa sama - sama sedang sibuk. Theressa menelepon keduanya sambil menangis, meminta mereka datang karena keadaannya yang sedang sangat sulit. Kata Aksa itu hanya karena salah satu ceritanya yang baru saja ditolak oleh penerbit.
"Maksud gue, di dunia kerja tuh kalau soal penolakan udah bukan suatu rahasia lagi, semua orang pasti pernah, gue aja pernah di tolak di Daily News sebelumnya, si Aksa juga beberapa kali ditolak PH*, nggak sampai harus ganggu kerjaan kita bahkan maksa kita datang kesana saat itu juga."
Aku mengangguk paham. Omongan Seta ada benarnya juga sih, Sesedihnya aku karena nggak lulus tes CPNS juga nggak sampai maksa Elle dan Keenan datang buat ngehibur.
Seta bilang kalau kejadian ini bukan terjadi satu atau dua kali, tapi berkali - kali sampai Seta kewalahan sendiri. Dia sengaja memberi jarak sedikit demi sedikit pada Theressa dengan alasan kesibukkannya di tempat kerja. Yang Seta tidak tahu, itu membuat Theressa mengantungkan diri pada Aksa.
Seta yang merasa akhirnya bisa terbebas suatu waktu dikejutkan dengan kabar kalau Theressa masuk UGD karena percobaan bunuh diri.
"Dan lo tahu kenapa dia sampai senekat itu? Karena kabar Aksa yang akan melaksanakan pertunangannya."
Tunggu deh, jadi dulu Aksa sempat mau tunangan? Aku menggelengkan kepala, daripada itu tindakan nekat Theressa perlu dipertanyakan.
Bukan hanya Seta yang berusaha menjaga jarak, Aksapun sama, terlebih ia harus membagi waktu antara pekerjaannya, pacarnya, juga Theresaa. Tapi Theressa malah mengamuk mendengar kabar pertunangan Aksa. Dia bilang kalau Aksa berubah, Seta berubah, semua orang berubah dan membuangnya seperti sampah.
Setelahnya dia menghilang, Aksa tak bisa menghubunginya selama beberapa hari sebelum kemudian Theressa di temukan di apartemennya dengan darah yang mengalir dari lengannya.
"Setelah melakukan operasi, akhirnya dia bisa kembali."
Seta dan Aksa sama - sama merasa menyesal. Aksa bahkan membatalkan pertunangannya dan fokus untuk merawat Theressa.
Tapi kejadiannya tidak berhenti sampai disitu.
Kedekatan Theressa dan Aksa membuat gadis itu membelenggu hidup Aksa. Ketika Aksa mulai merasa sesak dan muak, dia perlahan berbicara agar Theressa bisa paham dan membiarkannya setidaknya untuk bernapas lega, tapi yang Theressa lakukan adalah pergi ke tengah jalan dan menyuruh Aksa membiarkannya tertabrak sampai mati daripada kehilangan Aksa lagi.
"Itu penyebab kecelakaan yang nimpa lo dua tahun lalu, Sya. Bukan Aksa, tapi Theressa." Seta menghela napas sebentar. "Yang gue dan Aksa nggak tahu, waktu pertama kali kami bertemu, di rumah sakit itu, Theressa dirawat karena percobaan bunuh diri. Dia melakukan hal seekstrem itu agar psikiater yang merawatnya mengingatnya seumur hidup. Gangguan k**epribadian ambang*, itu yang didiagnosa Theressa."
Aku tak bisa berkata - kata.
"Dia nggak pernah tahu kalau korbannya adalah lo, dia hanya berusaha menyelesaikan kecelakaan waktu itu dengan melimpahkan semua kesalahan ke dirinya sendiri."
Sekarang aku paham,
aku paham kenapa Aksa memilih menjauhiku daripada menjelaskan semuanya.
Kenyataan kalau Theressa lepas kendali dan kecelakaan yang menimpaku semua berhubungan dengannya, ia pasti menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti.
"Terus dimana Theressa sekarang?"
Seta tersenyum. "Dia sudah ditangani dengan orang - orang profesional, orang yang bisa merawat dan menjaganya lebih baik dari gue dan Aksa."
__ADS_1
***
*Gangguan kepribadian ambang (Borderline): Gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati, perilaku, dan hubungan yang tak stabil. Penyebab gangguan kepribadian borderline tidak dipahami dengan baik. Diagnosis dilakukan berdasarkan gejala.