
Masih memegang teguh adat ketimuran dan agama yang kuat, Indonesia adalah salah satu negara yang masih menganggap skin ship yang berlebihan itu hal yang tabu apalagi di tempat umum. Contohlah hugging or kissing, siapapun yang melakukan ini di tempat umum pasti langsung dipandang rendah, menjijikan, nggak sopan, atau nakal.
Padahal, di luar negeri, kejadian ini bukan suatu hal yang menganggu orang lain. Kissing bahkan make out in public place sudah jadi pemandangan yang biasa, tentu jauh berbeda dengan apa yang terjadi di negara kita.
Akupun sama, mungkin karena sudah tertanam dalam otak kalau sesuatu yang tabu itu tak enak untuk dipandang, jadi saat melihatnya secara langsung, aku akan langsung melabeli mereka dengan sebutan 'nakal' dan moral yang nol, 'nol besar!'
Kenapa nggak dinikmati sendiri daripada diumbar - umbar di tempat umum? Sengaja mau di cap nakal? Atau karena mau viral?
Ya, begitu pikiranku sebelum aku merasakan itu semua sendiri.
Kissedㅡno, being kissed a guy in publik place adalah salah satu hal yang nggak pernah sekalipun terlintas dalam kepala. Apalagi, pria itu adalah Aksa! Aksa Yonaswara!
Aku berharap semua ini bukan suatu hal yang nyata, entah mimpi atau sebuah imaji sendiri itu lebih baik dari apapun. Sayangnya, ini nyata, kejadian ini benar adanya! Aku nggak halu, ini serius. Aksa benar menciumku di tempat umum!
Apa ini alasan dia mengajakku ke Lotteria? Aku geleng - geleng kepala sambil menepuk kedua pipiku, berusaha menyadarkan diri sendiri dari pikiran - pikiran lain yang melintas ke dalam otak tanpa permisi.
Bagai menjilat ludah sendiri, sekarang aku dihadapkan pada suatu hal yang kuanggap tabu.
Apa aku harus melabeli diriku sendiri dengan sebutan nakal juga? Aku menggeleng, nggak, Aksa yang mulai, aku nggak tahu apa - apa!
Berkelut dalam pikiranku sendiri, aku sampai tak terpikirkan untuk melemparkan segelas cola yang masih berisi setengahnya pada muka Aksa, atau mungkin menampar keras pipinya karena perilaku kurang ajarnya.
Aku mau diajak hangout bukan berarti aku mau diㅡ
"Oh shit! My eyesㅡ" Fokusku teralihkan karena pekikka seseorang yang baru saja datang dan menghampiri kami. "Kaget gue lihat lo bisa begitu, Bang" tambahnya lagi sambil melirik Aksa.
Kalau aku nggak salah ingat, dia kru di dalam yang sebelumnya memperlihatkan laporan atau proposal ke Aksa itu kan?
"Kamu ngapain disini, Di?"
Oh iya, sebelumnya juga Aksa memanggil dia, 'Di'.Anehnya, gaya bicara dia sekarang dan saat di gedung tidak sama. Yang sekarang terlihat lebih santai, bahkan memanggil Aksa hanya dengan embel - embel 'Bang' bukan 'Pak'.
"Tadinya mau langsung pulang, terus lihat Mbak cantik disini, jadi mau mampir sekalian minta nomor teleponnya, eh ternyata Bang Aksa yang punya, ya?"
Aku cantik? Of course, banyak kok pembeli di minimarket yang datang buat minta nomor ponselku dan berakhir dengan tolakan tragis dariku. Tapi, apa katanya? Punya Aksa?
Bentar ... jangan bilang Aksa menciumku hanya karena dia tahu kalau rekan kerjanya itu mau dekatin aku? Haha, nggak deh, alasan macam apa itu?
Ponselku bergetar, aku mengeluarkannya dari saku celanaku, lalu melihat layar ponselku yang menampilkan notifikasi pesan masuk dari ... Aksa?! Apasih ini astaga, kan bisa bicara langsung. Masa udah duduk hadap - hadapan gini biacaranya dengan kirim pesan teks via WA?!
Aksa:
Jangan percaya semua omongan dia. Dia nggak baik, sukanya mainin perempuan, jangan percaya pokoknya.
Aku malah tertawa terbahak membaca pesan singkat dari Aksa. Kedua pria itu refleks memandangku dengan raut wajah penuh tanya.
"Ah... Elle, temanku, dia menceritakan kejadian yang lucu," ungkapkuㅡtentu saja berbohongㅡmembuat temannya Aksa ber-oh ria.
"Suara ketawanya aja merdu banget, Mbak. Bisa nyanyi pasti, ya?"
"Eh?"
Pria itu tertawa. "Kenalin, Mbak. Aldi, panggil Al boleh, Aldi juga boleh, apalagi panggil sayang, boleh banget," katanya sambil tersenyum tanpa dosa.
__ADS_1
Aku tertawa sedikit sebagai formalitas. "Oke, halo Aldi!" sapaku dengan senang hati.
"Mbaknya bosan nggak pacaran sama dia? Gue aja yang saudaranya bosan, Mbak. Kaku banget dia kayak kanebo kering."
Lagi, aku dibuat tertawa, apalagi melihat ekspresi tak bersahabat dari Aksa yang kuyakin tengah menahan diri agar tak meledakkan amarahnya menurutku sangat lucu.
"Kalau Mbakㅡ" Aldi melirikku, seakan meminta suatu informasi dariku. Aku berpikir sejenak sebelum sadar kalau yang ia butuhkan adalah namaku.
"Asya, Arasya, terserah deh mau panggil apa."
Dia mengangguk, kemudian berbicara lagi, "Kalau Mbak Asya bosan, pacaran sama saya aja, Mba. Dijamin nggak akan menyesal, saya kasih free trial satu bulan deh, gimana?"
"Aldi!" Peringatan keras dari Aksa malah jadi bahan tertawaan aku dan Aldi.
"Ah elah, Bang. Gitu aja ngambek, padahal maksud gue kan bercanda. Tapi ... kalau Mbak Asyanya mau ya nggak apa - apa, hehe." Sebuah sedotan melayang tepat pada kening Aldi. Pelakunya? Jelas saja itu Aksa.
"Bercanda kamu nggak lucu, sana kamu pulang."
"Tuh kan, Mbak, susah diajak bercanda dia. Kaku banget emang aduh. Yang sabar ya jadi pacarnya, kalau udah bosan hubungi nomor dibawah ini," katanya sambil menunjuk ke bawahㅡke nomor imaji yang ia ciptakan sendiriㅡpersis seperti adegan iklan - iklan dalam televisi. "Yasudah kalau gitu, gue pamit undur diri ya, Bang." Aldi melangkah pergi sembari mengangkat tangan kanannya. Tanpa butuh waktu lama, bayangannya segera hilang dari pandangan.
"Dia anak tante saya, maafkan kelakuannya yangㅡ"
"Kurang ajar?" kataku mendahului Aksa. "Nggak kok, justru dia friendly banget, tipe orang yang mudah bergaul juga humoris. Orang kayak dia mau bilang apapun nggak akan buat orang salah paham." Aksa mengangguk senang mendengar ucapanku yang bahkan belum selesai. "Kelakuan lo sebelumnya yang justru buat orang salah paham."
"Saya? Kelakuan saya yang maㅡ" Aksa menunduk diam kemudian, sepertinya ia baru sadar dengan apa yang dia perbuat.
"Jangan bilang lo sengaja nyium gue cuma karena Aldi?"
Tebakanku benar ternyata saudara - saudara.
Aku memberikan colaku padanya, tepat di depannya. "Subhanallah sekali ya anda Bapak Aksa, melakukan hal begitu di tempat umum hanya karena cemburu?! Astaga, Aksa ...."
"Nggak, bukan gitu, Sya. Saya nggak cemburu, maksud sayaㅡ"
"Coba jelaskan maksud yang sebenarnya kalau gitu."
Aksa mengacak rambutnya kesal. "Udah, kita pulang aja, Sya."
Mataku membulat sempurna saking terkejutnya. Menyentuh makananku saja belum udah ngajak pulang aja, jahat banget.
Aku tersenyum kecut. Rasa jengkel juga kesalku tak bisa kusembunyikan lagi. Aksa kelewatan, buat aku yang nggak paham sama situasi yang sebenarnya sedang terjadi. Padahal, dia bisa bilang jujur dan apa adanya, bukan malah menghilang dan ngajak pulang dengan seenaknya. Nggak lucu banget, dia yang minta ketemuan, tapi dia juga ngusir seenak jidat.
Astaga, rasanya mau aku santet online aja dia.
"Ternyata sia - sia gue buang - buang waktu disini."
"Oke, sori, Sya. Saya minta maaf karena melakukan hal itu tanpa ijin terlebih dahulu, iya, saya nggak suka Aldi dekatin atau modusin kamu. Bahkan saat di dalam gedung dia bilang mau mengenalmu, saya menolaknya secara tegas!"
"Intinya lo cemburu, kan?"
"Cemburu atau bukan kan nggak ada urusannya dengan kamu, bukan begitu Ibu Asya?"
Aku mengangkat salah satu alisku. Nggak ada urusannya? Astaga, dicium orang tanpa ijin itu bukan urusanku?! Aku naik pitam.
__ADS_1
"Kamu tahu saya suka kamu dari dulu, jelas kamu tahu, tapi kamu bersikap seakan nggak tahu apa - apa sedikitpun!"
"Lo sama perasaan lo itu urusan lo, tapi masalahnya disini ... lo udah ciㅡ"
"Cuma saya yang nggak tahu soal perasaan kamu Arasya!"
"Emang lo siapa mau tahu soal perasaan gue segala, Sa?!"
"Makanya, jadiin saya siapa - siapanya kamu!"
Aku membeku sesaat. Ini daritadi Aksa buat perkara dan marah - marah nggak jelas cuma karena mau nyatain perasaannya? Unik banget ya cara nembaknya.
Aku tersenyum melihat Aksa yang susah payah mengendalikan dirinya sendiri. "Sa, gue nggak bisa buat lo ajak pacaranㅡbukan nggak, mungkin belum."
Aksa menenggak segelas cola miliknya sekaligus milikku yang sebelumnya aku berikan padanya. "Kalau gitu, saat belum bisanya kamu jadi bisa, segera bilang ke saya!"
Setelahnya kami berdua tertawa. Aneh memang, sudah marah - marah sebegitunya, ternyata klimaksnya adalah pernyataan cinta. Tapi yang buat aku salut, Aksa tidak keberatan sekalipun sudah kutolak dua kaliㅡsekali saat pertemuan pertama kami. Yang kedua, hari iniㅡdia malah menerima dengan senang hati dan memilih untuk menungguku lagi.
Dua minuman tambahan datang setelah Aksa pergi memesannya. Terlalu banyak bicara bikin kerongkongan kami terasa kering. Belum lagi, kenyataan kalau makanan kami belum tersentuh sama sekali.
"Saya juga mau minta maaf juga soal sikap saya kemarin."
Kata 'kemarin' yang keluar dari mulut Aksa menarik perhatianku. Ayam yang kupegang kuletakkan terlebih dahulu, lalu menyimak Aksa dan semua ucapannya yang keluar dari mulutnya secara seksama.
"Saya nggak tahu juga kemarin saya kesurupan apa sampai bisa sesensitif itu, tapi kalau saya memang harus memberi penjelasan, saya akan bicarakan secara detailnya."
Aku menelengkan kepalaku ke kiri dengan punggung tangan kanan yang kujadikan penopang kepalaku. "That's the purpose of our meeting here, no?"
Aksa mengangguk. "Semua soal dia hanyalah masa lalu yang kelam. Saking kelamnya, bahkan untuk mendengar namanya saja saya sudah malas duluan."
Kepalaku mengangguk - ngangguk, merasa paham akan alasan yang dikatakan oleh Aksa.
"Bahkan Seta yang tahu semua soal dia tak pernah berani mengungkitnya," Aksa menghela napasnya sebentar. "Seingat saya, semua benda yang berhubungan dengam dia sudah saya buang, tapi foto itu, saya bahkan nggak tahu itu ada disana karena buku itu terakhir dipinjam oleh dia dua tahun yang lalu dan nggak pernah saya baca lagi."
Sekarang aku paham. Setidaknya setitik rahasia yang Aksa punya sudah sedikit terbuka. Sekalipun aku nggak tahu lebih tepatnya soal hubungan keduanya, tapi itu bukan masalah buatku, bukan urusanku juga, kan?
"Padahal, lo cukup bilang buat berhenti bahas soal dia. Toh, gue nggak tahu apa - apa even lo jelasin secara detail seperti barusan."
"Makanya saya minta maaf."
Aku mengulum bibir. "Dimaafkan, kalau gitu," Aku meraih satu french fries yang kusuapkan dalam mulutku. "Btw, Sa. Ini gue bayar ke lo setengahnya atauㅡ"
"Kalau Aldi mau kasih kamu free trial buat kencan, saya kasih kamu free voucher makan setiap makan sama saya, mau?"
"Tanpa syarat jadi pacar lo, kan?"
Aksa mengangguk mantap.
Setelahnya, aku dan Aksa tertawa terbahak bersama.
Bagai es batu yang dicairkan oleh kehangatan, kesalahpahaman di antara kamipun menguap bersama sisa - sisa cerita di masa lampau. Jangan lupakan kehadiran Aldi yang cukup membuat suasanya jadi jauh lebih menyenangkan. Ah iya, seleksinya ... hanya kesitu sekarang pikiranku harus di fokuskan!
***
__ADS_1