
Mungkin kalau taruhan Aksa untuk menghubunginya kemarin kuiyakan, dia akan minta banyak hal gila yang bisa saja diluar nalar manusia. Semua berawal dari Tante Ema yang nyuruh aku menghubungi Aksa untuk menggantikan lampu di etalase bagian belakang yang mendadak mati. Nggak tahu deh kenapa harus Aksa, padahal dia bukan karyawan minimarket disini juga.
Masalahnya ini sudah lewat jam sembilan malam, minta orang untuk membetulkanpun belum tentu mau, jadi aku bisa apa selain menghubungi Aksa? Rasanya kayak menjilat ucapan sendiri, nomor Aksa yang katanya nggak sepenting itu ternyata bisa jadi amat sangat penting dalam keaadan yang sedang genting begini.
"Halo?" sapaku saat Aksa mengangkat panggilanku, aku menahan malu.
"Iya? Ada apa, Sya?" jawab seseorang di seberang sana.
"Lo lagi sibuk nggak? Ini lampu bagian belakang minimarket mendadak mati, gue udah coba hubungin teknisi tapi nggak ada yang nyaut karena udah kemaleman katanya."
Aksa menanggapi dengan hmm panjang. "Sebenarnya ini saya lagi PPM*, tapi sebentar lagi juga selesai. Tunggu sekitar lima belas menit mau?"
Oh, dia lagi sibuk ternyata. Pantas aja nggak pernah datang pagi buta dan bantu aku buka minimarket sampai membereskan semuanya.
"Sya?" panggilan Aksa membawaku kembali pada realita yang ada. "Gimana? Nggak apa - apa?"
"Ah, iya. Nggak apa-apa."
"Yaudah kalau gitu saya tuㅡ"
"Sorry, jadi ganggu waktu lo."
"Nggak masalah kok. Setidaknya masukin nomor ponsel saya di quick call jadi ada gunanya, kan, ya?" katanya, masih sempat bercanda.
Aku tertawa. "Yaudah kalau gitu, sana lanjut meeting lagi"
"Doakan biar meetingnya lancar ya, Bu Asya"
Senyumku melebar mendengar ucapannya yang entah kenapa menurut aku menggemaskan. "Siap, Pak Aksa! Semoga lancar semuanya, investor senang, projeknya jalan, Aamiinn!" jawabku setulus dan se-excited mungkin, Aksa ikut mengaminkan dari sana, dan setelahnya telepon diantara kami terputus begitu saja.
Aku menghela napas panjang. Sesekali kejadian pencurian seminggu yang lalu datang menghantuiku. Bohong kalau aku bilang sudah melupakannya. Kenyataannya, semua masih menempel secara detail di kepala. Belum lagi melihat kenyataan sekarangㅡaku bekerja pada jam malam, ditambah lampu bagian belakang yang bisa - bisanya mati disaat aku sedang sendirianㅡyang ternyata sangat mengenaskan.
Arggh, bisa gila sendiri kalau kupikir lama - lama.
Ngak boleh gini! Harusnya aku mengumpulkan pikiran - pikiran positif disaat yang seperti ini. Lima belas menit itu beda dengan lima belas tahun, jadi nggak mungkin selama itu.
Itu pikiranku sebelum aku merasakan sendiri bagaimana lima belas menitku yang terasa seperti di dalam neraka. Aku hanya bisa menghabiskan seluruh waktuku dengan menonton series Netflix, sekalipun sesekali aku terkesiap setiap ada pelanggan yang membuka pintu, tapi setidaknya itu bisa membantuku melewati situasi tidak mengenakkan ini.
Akhirnya, penantianku tidak sia - sia. Sebuah Mercedes-Benz berwarna hitam terparkir di depan minimarket. Tak lama Aksa keluar bersamaan dengan seseorang yang tentu saja ku kenal.
__ADS_1
"Loh, Keenan?"
*
Lagi lagi minimarket Elle berubah fungsi jadi base camp pribadi. Ini semua karena kedatangan Keenan dan Aksa yang entah bagaimana bisa barengan. Katanya sih karena mobil Keenan yang mogok di jalan. Keenan uring - uringan telepon aku dan Elle sampai kemudian kedatangan Aksa yang mengenali Keenan membuatnya tersenyum senang seketika.
"Kalau nggak ada si Aksa barusan, nggak tahu deh nasib gue gimana" kata Keenan sambil menegak minuman kaleng dingin yang baru saja dia ambil.
Benar juga sih. Ini sudah jam sembilan malam. Mana ada bengkel buka dua puluh empat jam? Yang ada malah kena palak preman - preman jalanan.
Aksa yang baru saja membenarkan lampu di dalam minimarket keluar dengan dua botol yoghurt yoforia rasa coffee cream dan berry smooth di tangan, kemudian menyerahkan salah satunya padaku sebelum ia terduduk di sebelah Keenan.
"Si Elle belum pulang?" tanya Keenan.
Aku menggeleng, kemudian meraih sebotol yoforia rasa berry smooth yang which is memang kesukaannku. "Katanya sih bentar lagi, coba deh tanya temannya dia" jawabku lalu menatap Aksa sambil mengucap thanks seperlunya.
Keenan yang paham akan maksudku pun membuka suara. "Oh iya, si Seta kan satu kantor sama Elle, ya? ajak kesini sekalian aja biar rame"
"Rame rame seenak jidat, ini kalau gini caranya toko si Elle bisa bangkrut lama - lama" keluhku saat Keenan menaikkan beberapa cemilan juga minuman kaleng dingin lainnya yang ternyata sudah ia bawa dalam keranjang minimarket.
"Tenang elah, Sya. Ntar juga gue bayar"
Aku mencebik. Kemudian perhatianku beralih pada Aksa yang sedari tadi hanya bisa diam sambil senyam - senyum sendiri. "Ini, lo nggak akan pulang?"
Keenan menepuk bahu kiri Aksa sambil mendecih dan menggelengkan kepalanya. "Udah malem loh Asya, nggak baik nyuruh orang pulang malam - malam"
Aku tertawa mendengar pembelaan tak masuk akalnya Keenan. "Ya terus... masa gue suruh dia nginep disini?"
Aksa dan Keenan malah tertawa.
Tak lama, Elle datang bersama seseorang. Seta! Wah, pemandangan langka ini. Jarang - jarang mereka bisa barengan dan akur gini.
"Kalau bukan karena ojolnya lama nggak nyantol aplikasi gue juga ogah banget bareng lo sih"
"Dipikir gue mau banget barengin lo? jangan mimpi"
Oh, salah ternyata saudara - saudara. Mereka masih belum akur, hanya satu mobil dan pulang bareng, belum cukup membuat mereka jadi akur.
"Ini lagi datang - datang bukannya ngucap salam malah berantem duluan" cibir Keenan yang ditanggapi dengan lirikan sinis dari Elle.
__ADS_1
Elle dan Seta berjalan mendekati kami, kemudian Elle merubuhkan tubuhnya pada kursi kosong yang ia pindahkan agar berhadapan denganku, sedangkan Seta duduk tepat di sebelahku.
"Sa, lo punya gosip nggak? Sumpah deh gue capek banget mikirin acara berita buat besok"
"Daily News banting stir jadi berita entertaiment apa gimana?" celoteh Seta yang disambut dengan kepalan tangan Elle. "Arghh.. ampun Mba Kat!"
Sontak kami memandangi Seta. "Kat?" tanyaku yang segera ditanggapi senyum Seta.
"Jadi giniㅡ"
"Jangan percaya omongan dia deh ya, sesat udah. Kalau percaya, kalian kafir semua!" Belum sempat Seta membuka mulutnya, Elle lebih dahulu menyauri, setelahnya ia pergi ke dalam minimarket dan membawa satu kemasan keripik kentang dan sekaleng soda dingin.
"Kalian tahu bahasa inggrisnya lele kan?" Seta bertanya setelah Elle kembali dengan cemilannya.
"Catfish, kan? What's wrong with that?" kataku yang entah kenapa merasa tertarik akan bahasan yang tidak berfaedah ini.
"Nah, kalian juga tahu kan gimana nggak bisa diamnya ikan lele. Nah itu, itulah asal - usul kenapa Elle dapat julukkan Mbak Kat di kantor, Catfish maksudnya. Lagian dia... sumpah deh, polahnya bikin orang pusing sendiri, nggak bisa diam banget kayak orang cacingan, haha" jelas Seta lengkap dengan tawa renyah di akhir cerita, kami ikut tertawa mendangarnya.
Aku sendiri mewajarkan itu semua, Elle memang nggak bisa diam sih. Rasanya kalau dia bisa diam sepuluh menit aja ada kemungkinan kalau dia udah nggak napas lagi gitu, haha.
"Heran ya, orang tuh sukanya ngomongin orang lain di belakang bukan di depan muka kayak kalian gini" celoteh Elle dengan muka marahnyaㅡbohongan sih, selama dua tahun aku hidup satu apartemen bareng Elle bahkan nggak pernah lihat dia marah.
"Itu artinya kita lebih baik dari mereka" tanggap Aksa yang berhasil membuat sebuah keripik kentang mendarat tepat pada keningnya. Jangan tanya ulah siapa, kalau bukan Elle ya siapa lagi?
"Astaga Aksa Yonaswara, gue kira cuma lo yang paling normal disini. Ternyata lo nggak jauh beda sesatnya ya?"
Lagi - lagi yang ada malah kami tertawa.
Angin malam yang dingin ini bahkan tak berani melewati kebersamaan kami yang kelewat hangat. Dengan modal minuman kaleng dingin dan beberapa cemilan saja bisa memperbaiki kelelahan selama satu hari. Segitu murahnya ternyata buat jadi bahagia, sepeeti yang Aksa bilang, bahagia bisa kita cari darimana saja, dan kebersamaan ini masuk list of my happiest things in this world, of course.
"Sya, besok biar gue sama Mama yang jaga minimarketnya."
Aku hendak bertanya kenapa, tapi keburu ingat besok adalah weekend yang artinya Elle akan libur kerja.
"Lo libur cuma dua hari tetep mau maksain jaga toko juga?" tanyaku yang segera diangguki Elle.
"Seenggaknya besok lo nggak harus kerja. Lo lupa? Besok peringatan kematian 3 tahunnya Ortu lo?"
Masyaallah sekali ya kamu arasya, bisa - bisanya lupa peringatan sepenting itu. Seketika aku merasa jadi anak durhaka.
__ADS_1
***
*PPM (Pre-Production Meeting): Pertemuan untuk mengomunikasikan proyek film yang akan dibuat kepada seluruh kru maupun investor yang terlibat. Pada langkah ini, filmmaker menyampaikan visi yang dimiliki dalam film hingga hal-hal yang mendetail seperti referensi visual, jadwal produksi, dan budgeting.