
Mendengar omong kosong itu, bukannya percaya Woojin dan Tuan Damanjaya malah semakin kalap hingga ingin menghabisi keduanya, namun sebelum itu.
“Hohoho ayah kakak, Calm Down! masih ada pertunjukkan lain”
***
Mendengar itu sontak semua orang menoleh ke arah Haera yang sedang mengelus tombol enter namun tak kunjung menekannya.
“Cha!! mari kita mulai” ujar Haera lalu menekan tombol enter dengan keras hingga muncul sebuah rekaman CCTV di jam lain.
Yakni pukul 20.51 yang menunjukkan Tuan Kenta keluar dari kamar 1911 dengan wajah masam seperti menahan amarah, Haera juga menunjukkan rekaman pukul 22.00 dimana dia keluar dari kamar 1191 dengan baju yang sudah berganti dan juga luka luka yang terlihat di sekujur tubuhnya, untungnya CCTV itu kurang canggih jadi mata kiri Haera tidak kelihatan di sana.
“Bibi tua, lo mau ngejual gue ke kakek kakek tua bangkotan yang mungkin sudah punya 10 cucu, setelah itu bibi mendapat keuntungan dan juga bikin gue di tendang dari keluarga Damanjaya, wah … rencana bibi sangat matang, namun sayangnya bibi gagal” ujar Haera dengan nada santainya, heh tebakannya benar semua tentang kejadian yang di alami pemilik tubuh yang sebelumnya.
Yah, hanya drama keluarga kecil kecilan seperti ini mana mungkin dia yang hidup di masa depan bisa ketipu, heh mimpi.
“Dan juga, terimakasih ya adik manis berkat lo yang salah kamar waktu bawa gue, akhirnya lo yang ngehancurin rencana ibu lo sendiri” lanjut Haera sambil menyeringai membuat beberapa orang ketakutan melihatnya.
“Ayah lakukan sesukamu, aku mau pulang dulu” ujar Haera lalu menyeret Woojin keluar dengan cepat.
Haera memang sudah membongkar kedok mak lampir dan anaknya, namun dia masih belum tahu motifnya hingga mereka menjualnya, namun hal ini sudah lebih dari cukup.
“Dek lo yakin mau langsung pulang?” tanya Woojin yang langsung di angguki oleh Haera.
“Lo gak mau ngelakuin sesuatu dulu kepada mereka berdua gitu?” tanya Woojin lagi yang hanya di balas dengan gelengan kepala oleh Haera.
Entah kenapa Haera merasa tubuhnya ada yang salah, entah ini karna Haera yang sakit atau karna Haera punya keahlian yang sama persis dengan Qiqi, jadi dia langsung tahu tentang gejala gejala yang akan mempengaruhi kesehatan tubuhnya, meski itu hanya gejala yang sangat kecil, atau bahkan jika itu orang lain mereka tidak akan bisa merasakannya.
Jadi Haera ingin segera pulang dan mengecek langsung apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya ini.
__ADS_1
“Nggak, gue cuma ingin tau bagaimana bisa kita punya adik dan ibu tiri” jawab Haera santai sambil menekan lift untuk ke lantai satu dan segera pulang.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini Haera dan Woojin sudah sampai di rumah dengan Woojin yang masih berfikir, bagaimana cara menjelaskannya ke Haera.
“Kak gue ke atas dulu, kalo kakak udah bisa jelasin kakak hanya perlu masuk ke kamar gue” ujar Haera lalu segera ke kamarnya untuk melihat apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Mula mula Haera membuka Eye patchnya terlebih dahulu lalu menatap cermin besar dan memfokuskan mata kirinya agar bekerja.
Dan violla!! cara itu benar benar berhasil, kini Haera bisa melihat keadaan tubuhnya seperti hasil X-ray.
“Nggak ada yang salah tuh, lantas apa yang terjadi?” gumam Haera pelan sambil menelisik hasil X-ray yang masih terpampang jelas di depannya.
Apa ada yang salah dengan Chip itu?
“Apa pun itu semoga tubuh ini gak mengalami sakit kanker atau semacam nya, jika tidak gue mati lagi dong” gumam Haera pelan lalu tertuduk di atas Kasur yang tidak ada empuk empuknya itu.
Tok Tok Tok.
“I- ini benerak kamar lo?” tanya Woojin yang langsung nyelonong melihat sekeliling kamar dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Apa jangan jangan pembantu itu gak ngasih lo fasilitas yang layak?” tanya Woojin lagi sambil membuka buka lemari Haera yang isinya baju usang semua, hanya saja terdapat tambahan beberapa hoodie yang dia berikan.
“Wah … mereka bahkan mengambil semua hadiah yang kakak berikan” lanjutnya yang kini beralih mengecek meja rias Haera.
“Handphone mana handphone?” tanya Woojin lagi yang kini udah kaya anak kecil yang hilang di pasar malam.
“Lo ngapain sih kak?” tanya Haera sewot, dia benar benar pusing melihat tingkah kakaknya.
“Handphone lo mana dek, kemarin kata pembantu itu lo minta beliin kakak HP I Phone terbaru dan juga beberapa dress buat pesta pertunangan minggu depan” ujar Woojin sambil terus membuka buka laci Haera.
__ADS_1
Haera sendiri hanya diam dan lebih memilih untuk berfikir ‘Pertunangan apa?’ siapa yang bertunangan.
“Wah … lihat laci lo kok kosong semua!! alat kosmetik mewah yang kakak kirim pada kemana? ah … kakak bahkan menghabiskan banyak uang untuk memborong produk GUCCI yang terbaru” lanjut Woojin sambil terus membongkar kamar Haera.
“Pertunangan?” tanya Haera tiba tiba membuat pergerakan Woojin yang hendak membuka laci pakaian dalam milik Haera pun berhenti.
“Ah lo pasti lupa, Ayah mengaturkan pertunangan antara lo sama Tuan muda keluarga Herman” jawab Woojin sambil membusungkan dadanya bangga karna telah memperlihat kan kemurahan hatinya pada Haera.
Sebenarnya Woojin yang mengusulkannya mengingat keluarga itu sangat murah hati dan kaya tentunya, Tuan mudanya juga sangat tampan jadi lah Woojin provokator di sini.
“Ada apa dengan ekspresi itu? cepat ceritakan lebih banyak!” ujar Haera sambil bangun dari posisi tidurnya membuat kebanggaan Woojin luntur.
Nyatanya Haera bahkan tidak mengenal keluarga Herman dengan baik.
“Lo mau cerita yang mana dulu?” tanya Woojin pasrah lalu duduk di samping Haera.
Alangkah kagetnya dia mendapati Kasur batu yang dia duduki saat ini, ingin bertanya lagi namun dia urungkan saat mendapati ekspresi Haera yang sangat serius.
Sejujurnya baru kali ini Woojin masuk kedalam kamar adiknya, karna sebelumnya Haera benar benar tidak ingin privasinya di langgar.
“Ceritakan tentang ibu tiri itu terlebih dahulu” perintah Haera.
“Jadi dulu saat usia lo baru mencapai 4 tahun ibu kita meninggal karna serangan jantung, saat itu ibu benar benar syok akibat ayah yang menghamili pembantu tidak tahu diri itu hingga menghasilkan anak, hari itu gue sama ibu lagi liburan ke australi, lo dan ayah di rumah karna ayah harus mengurus sesuatu di kantor, tapi saat kembali hal itu terjadi.
Mandra pembantu itu merangkak ke ranjang ayah hingga menghasilkan Raya, lo tau dek waktu itu kakak benar benar emosi ingin membunuh Mandra, tapi disana Mandra bersikap seolah olah dia teraniaya hingga ayah percaya jika itu kesalahannya, jadi ayah bertanggung jawab tepat saat ibu kita meninggal” ujar Woojin panjang lebar menceritakan masa lalu pemilik tubuh ini.
Sekarang Haera sudah tahu letak permasalahannya ada pada si ular Mandra, tapi soal pertunangan itu.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪
see you💃💃