
“Mommy / Haera!!” teriak seluruh penghuni markas yang tiba tiba di kagetkan dengan kedatangan Haera dengan kondisi menangis serta tubuh penuh dengan darah.
Darah nya Bella.
***
“Momo maafin mommy” gumam Haera sambil terus memeluk putranya tanpa menghiraukan tubuh mereka berdua yang sudah terkena bercak darah milik Bella.
“Mommy jangan gini … tubuh mommy berdarah!!” rengek Momo sambil terus mencoba melepaskan pelukan Haera.
Kali ini Momo benar benar khawatir, kalau seandainya itu memang darah Haera yang artinya tubuh mommynya sedang terluka parah.
Haera sendiri benar benar tidak memperdulikan ocehan Momo, dia sibuk menangis dan terus terusan meminta maaf membuat Momo malah ikutan menangis karna takut mommynya kenapa napa.
“Hikss … Mommy jahat banget sama Momo, mommy kenapa sih? mommy jangan nangis dong Momo takut” erang Momo sambil terus berusaha melepaskan pelukan Haera.
“Mommy memang jahat, tapi Momo harus maafin mommy” ujar Haera tanpa melepaskan pelukannya.
Dia benar benar merasa bersalah, di lihat dari betapa Haera menyayangi Momo dari mana asalnya kesalahan nya, setidaknya kan meski dia belum tahu kebenarannya namun dia masih menyayangi Momo seperti anaknya sendiri.
Namun siapa yang tahu jika Haera memiliki sedikit kebencian dengan hanya melihat wajah Momonya, yang nyatanya benar benar mirip perpaduan antara Haera Damanjaya dan Sehun Diningrat.
Jadi pantas dia merasa sakit hati, dia yang mengandung Momo, yang membesarkan Momo, dan tentunya yang memberikan semua kebutuhan Momo, terutama kasih sayang, tapi jika di ingat ingat lagi, Momo bukanlah anaknya!!
Memang dia yang melahirkan, namun di dalam dirinya sangat yakin jika Momo anak dari Haera Damanjaya yang asli dengan Sehun Diningrat.
Dan kenyataan seperti itu lah yang sering membuatnya menangis saat sendirian.
“Kenapa mommy terus meminta maaf … hiks kalo Momo ada salah Momo minta maaf, tapi mommy jangan gini” ujar Momo dengan sesengguk an membuat keempat rekan Haera merasa tertusuk melihatnya.
“Ra lo kenapa sih?, lo kalo ada apa apa coba omongin baik baik dong, jangan gini kasian Momo nya jadi takut” ujar Kenzi mencoba menenangkan Haera yang masih terus terus an memeluk Momo sambil menggumamkan kata maaf ber kali kali.
“Gak!! maafin mommy, pokoknya Momo harus maafin mommy yang jarang ada waktu buat Momo, yang gak kasih Momo perhatian padahal Momo putranya Mommy” sahut Haera yang kini sudah mulai tenang dan berani menatap mata berair Momo.
“Maafin mommy ya” lanjutnya dengan suara serak membuat Momo langsung balik memeluknya tanpa memperdulikan bau amis dari tubuh Haera.
“He-hei … mommy keterlaluan ya? Momo jangan malah ikutan nangis dong” ujar Haera sambil menepuk bahu Momo yang berada di pelukannya tanpa memperdulikan air mata nya yang masih terus mengalir hingga membuat eye patch nya basah kuyup.
__ADS_1
“Momo takut mommy kenapa napa, nanti Momo sama siapa kalo mommy sakit” cicit Momo membuat Haera sontak mengingat kondisi tubuhnya.
Tanpa membalas ucapan Momo segera Haera menggendong putranya menuju kamar mereka untuk menjelaskan keadaan tubuhnya yang jauh dari kata baik baik saja.
“Sianyink!! kok kalian diem aja sih? lo juga Bang, biasanya juga lo yang nenangin Haera” protes Kenzi yang tadi terjun sendirian.
“Ansel juga, tampang lo kan selalu bikin Haera luluh, kenapa tadi gak ngomong sesuatu biar Haeranya tenang?” lanjut Kenzi yang kini menatap Ansel yang sedang menunduk.
“Ansel takut bang, takut kalau seandainya Ansel salah bicara dan malah bikin Noona tambah sedih” jawab Ansel yang langsung di angguki oleh Kenzo karna fikiran mereka sejalan.
Berbeda hal nya dengan Daren yang sedari tadi terus terusan menampilkan ekspresi khawatir di wajahnya namun sekarang berganti menjadi sedikit lega.
“Itu bukan darah Haera” ujar Daren tiba tiba membuat atensi si kembar plus Ansel teralihkan.
“Maksudnya?!” tanya mereka bertiga bersamaan.
Tanpa menjawab pertanyaan rekan rekannya segera Daren berlari ke luar untuk melihat kondisi kendaraan yang di pakai Haera, si kembar dan Ansel yang tidak mengerti apapun hanya ikut ikutan menyusul Daren namun mendadak terhenti saat melihat mobil orang asing terparkir di halaman markasnya.
“Itu mobil sapa woy!! stooppp!!! … jangan jangan itu punya nya penyusup!!” teriak Kenzi yang langsung berlari mengejar Daren yang hendak membuka pintu mobil.
“Bukan bang!! itu mobil yang tadi di pakek Noona!!” teriak Ansel sambil menunjuk bercak darah di sekitar pintu mobilnya.
Iya cuma setengah, karna mereka masih bisa melihat nafas tidak beraturan nya yang menunjukkan kalau wanita itu masih setengah hidup alias sekarat.
“Sel, lo coba tes kecocokan darahnya sama bercak darah di gagang pintu markas” ujar Kenzi yang sekarang berlari sambil menggendong Bella untuk memberikan pertolongan pertama.
“Lah bang Ansel cuman hecker bukan ahli otopsi” protes Ansel sambil melihat tangannya yang kini penuh darah akibat Kenzi yang sempet sempetnya nempelin telapak tangannya di tangan Ansel.
“Gak papa, gak usah di cek, gue yakin seratus persen kalo yang tadi bukan darahnya Haera” ujar Daren sambil menepuk bahu Ansel.
“Emm, serius aslinya gua gak pengen nanya tap – ”
“Yaudah gausah nanya” sela Daren yang memotong pembicaraan Kenzo.
“Ishh … itu ngapain sih makek nolongin cewek tadi!! kalo ternyata cewek tadi musuhnya Haera gimana?” ujar Kenzo yang akhirnya memutuskan untuk lanjut bertanya meski dengan nada yang tidak ikhlas.
“Biarin, kalo emang itu musuh nya, dan Haera belum membunuhnya itu tandanya Haera gak ingin dia mati dengan mudah, jadi biar dia dapet penderitaan yang panjang lebih baik sekarang di sembuhin dulu dengan cara biadab” ujar Daren santai meski isi perkataannya menyeramkan.
__ADS_1
“Awalnya Ansel malah berfikir kalo wanita tadi korban tabrak mobil, soalnya Noona kalau bawa mobil suka gak nyelow, eh tapi kalau di fikir fikir lagi Noona gak mungkin kan bawa orang yang bukan musuhnya atau orang terdekatnya ke markas” sahut Ansel yang kini ikut ikutan memberikan asumsi asumsi yang muncul di otaknya.
“Yaudah deh gue mau bantuin Kenzi nyiksa cewek tadi, biar Haera sayang sama gue” ujar Kenzo lalu pergi meninggalkan Ansel dan juga Daren.
“Lah bang apa hubungannya?!” tanya Ansel sedikit berteriak namun hanya di balas kekehan dengan lambaian tangan oleh Kenzo.
“Sel, lo bisa kan ngelacak ini mobil milik siapa dari plat nomornya?” tanya Daren sambil menarik Ansel untuk mendekat ke arah mobil yang tadi di pakai Haera.
“Oh itu sih gampang” ujar Ansel lalu berlari ke dalam markas untuk mengambil tablet miliknya.
Tidak lama kemudian Ansel kembali dengan mata yang terfokus pada layar tabletnya dan tentunya dengan tangan yang sudah bersih kembali, dan kini kelima jari jarinya sibuk menari nari di atas layar tablet untuk membuka pengaturan.
“Gimana?” tanya Daren saat Ansel sudah berada di depan mobil yang dimaksud.
“Habis pindai tinggal nunggu loading bentar” jawab Ansel yang kini sibuk memindai plat nomor mobil itu menggunakan kamera belakang tablet berlogo apel di gigit yang berada di tangannya.
“Wah … makin keren aja kemampuan lo” ujar Daren yang baru kali ini memuji sesama rekannya membuat Ansel menganga tidak percaya.
“Tadi bang Daren bilang apa?” tanya Ansel memastikan membuat dahi Daren mengernyit.
“Lo keren” jawab Daren singkat membuat Ansel jingkrak jingkrak kegirangan.
“Yess!! kenapa coba tadi gak Ansel rekam buat di pamerin sama abang kembar” gumam Ansel membuat Daren geleng geleng kepala.
“Lagian Ansel juga gak akan kayak gini kalau Noona gak terus terusan ngajarin Ansel” lanjutnya membuat Daren sedikit menyunggingkan senyumnya.
“Ah hasilnya udah keluar” ujar Ansel tiba tiba membuat Daren segera ikut ikutan nimbrung untuk melihatnya.
“Aih … Sehun Diningrat, 25 tahun, pemilik dari Universitas ternama di Kota Z sekaligus pewaris dari Mall terbesar di kota Z, wah wah sultan ini mah” ujar Ansel sambil menatap mobil mewah di depannya penuh binar.
Berbeda halnya dengan Daren yang rahangnya tiba tiba mengeras saat mendengar nama Sehun di ucapkan.
“Sial!!” maki Daren sambil menendang ban mobil itu dengan kasar membuat Ansel terkejut setengah mati.
“Loh bang Daren kenal?” tanya Ansel namun malah mendapat respon tidak bersahabat dari Daren yang pergi begitu saja meninggalkannya.
“Ini … Noona gak nyolong kan” gumam Ansel sedikit khawatir mengingat reaksi Daren yang berlebihan.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪