Young Mother X Mafia (Time Travel Komandan Jung Haera)

Young Mother X Mafia (Time Travel Komandan Jung Haera)
15 Pertemuan


__ADS_3

Sedangkan jauh di lain tempat, terdapat seorang pria yang tidak lain adalah pemimpin dari Red Mafia yang sedang menggebrak meja di depan para bawahannya,


“Tangkap mereka yang mengatas namakan Red Mafia untuk menjual narkoba!!!”


***


Pagi hari ini matahari benar benar tidak kelihatan akibat awan mendung yang mengelilinginya, Haera sendiri masih betah tertidur di balik selimutnya bersama Momo yang kini menoel noel pipi mommynya agar segera bangun dan membuat sarapan.


“Mommy wake up mommy!!” teriak Momo sambil terus menoel noel pipi Haera dan terkadang memencet hidungnya juga.


“Momo ya, tunggu sebentar kamu suruh bibi Hwang saja yang memasak mommy masih mengantuk” sahut Haera dengan suara serak khas bangun tidur membuat Momo berdecak kesal.


“Mommy ingat bukan, sekarang kita sudah kembali ke Kota Z, apa mommy tidak berencana menemui paman Woojin?” tanya Momo sambil menyibak selimut Haera yang benar benar tebal.


“Ya ya ya mommy bangun” jawab Haera sambil bangun dari tidurnya lalu berjalan kekamar mandi untuk mencuci mukanya.


Di dalam kamar mandi Haera benar benar seperti orang ling lung, dia bahkan menumpahkan odol sebanyak 7 kali baru berhasil tepat sasaran akibat nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya, yah begitulah Haera jika masih ingin tidur.


Dulu dia bahkan pernah keluar ke mini market tanpa menggunakan alas kaki akibat ngidam ingin menyapa mas mas mini market saat tengah malam dengan keadaannya yang baru terbangun.


Setelah selesai mengumpulkan nyawa serta tenaganya akhirnya Haera mulai memasak untuk Momo dan ke empat rekannya yang mungkin masih tertidur akibat rapat semalam yang selesai begitu larut.


Hari ini Haera membuat hidangan nasi goreng sederhana dan tidak aneh aneh karna dia sendiri ada janji ketemuan bersama Woojin di sebuah café.


Setelah selesai memasak segera Haera kembali membersihkan dirinya lalu memanggil Momo untuk makan bersama dan meninggalkan para rekannya serta note kecil yang dia taruh di atas meja samping makanan bertuliskan dia dan Momo akan pergi sebelum mereka bangun.


“Momo memberikan oleh oleh apa pada paman Woojin?” tanya Haera sambil memasukkan Momo kedalam mobilnya serta memasangkan sabuk pengaman untuk putranya.


“Tidak ada, sebaliknya Momo yang mau oleh oleh dari paman” jawab Momo dengan nada imutnya membuat Haera geleng geleng kepala lalu segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan markasnya yang masih sepi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, sekitar 40 menit kini Haera dan Momo telah sampai di sebuah café sederhana yang tidak begitu ramai pelanggan, tempat yang pas untuk pertemuan.


Klinggg ….

__ADS_1


Suara bel berbunyi nyaring saat pintu café di buka oleh Haera dan juga Momo yang kini berada di gendongan Haera.


Segera Haera mengedarkan pandangannya dan akhirnya menemukan Woojin yang sedang duduk di samping jendela sambil menatapnya sendu.


Kakaknya ini semakin tampan saja.


“Paman Ujin!!” teriak Momo girang lalu segera melompat turun untuk menghampiri Woojin yang langsung memeluk keponakannya.


Dan yah … akibat teriakan Momo kini mereka sukses jadi pusat perhatian, apalagi melihat wajah Haera yang terbilang cukup muda untuk mempunyai seorang anak.


Hari ini Haera memakai kaos hitam putih garis garis yang di padukan dengan celana pendek berbahan jeans, sangat simple namun membuat penampilannya semakin imut mengingat wajahnya juga masih terlihat seperti anak SMA.


Tidak sedikit orang yang sering mengira Momo adalah adiknya dan bukan anaknya, namun Haera tidak pernah memperdulikannya sama sekali.


“Kakak apa kabar?” tanya Haera yang tiba tiba duduk di depan Woojin membuat kegiatan Woojin yang tengah menciumi wajah Momo terhenti.


“Kakak baik, tapi kondisi ayah sedikit buruk! maagnya kambuh karna dia ingin bertemu dengan mu” jawab Woojin sambil duduk kembali dengan Momo yang kini berada di pangkuannya.


“Kak kalo mau bohong bagusan dikit napa, ya kali maag kambuh karna kangen yang ada lambung ayah lagi kesel” sahut Haera santai membuat Woojin terkekeh.


“Smart Watch, apa Momo menyukainya?” tanya Woojin sambil memberikan bingkisan itu yang langsung di terima dengan antusias oleh Momo.


“Suka suka” jawab Momo semangat sambil mencoba jam tangan pintar di tangannya yang kecil.


“Kak, sebenernya gue mau minta tolong sama kakak untuk jagain Momo selama 5 bulan kedepan” ujar Haera membuat Woojin membelalakan matanya.


Itu mau nitip apa nyuruh Woojin mengasuhnya.


“Lama amat dek gak kaya biasanya?” tanya Woojin penasaran.


“Anak anak daftarin gue kuliah lagi kak, jadi gue minta tolongnya waktu jam kuliah doang, gak papa kan?” tanya Haera yang langsung di angguki dengan semangat oleh Woojin.


Akhirnya adiknya ini mau kuliah.

__ADS_1


“Oh iya dek, kapan lo mau ngunjungin ayah?” tanya Woojin membuat Haera mengingat ayahnya yang kini berubah sangat protektif terhadap dirinya dan Momo.


Jadi sejak kejadian Haera yang kabur dari rumah dan meninggalkan surat yang berisi ketidak setujuannya atas pertunangan, Tuan Damanjaya beserta Woojin benar benar di buat frustasi dan kalang kabut untuk mencari keberadaan Haera.


Bukan karna ingin memaksa pertunangan, namun mereka berdua merasa sangat bersalah kepada Haera yang mereka fikir kabur dari rumah karna tertekan.


Hingga dua tahun lamanya, di saat Momo sudah berusia satu tahun lebih dan mulai bisa berbicara dan berjalan, akhirnya Woojin putus asa dan memilih untuk bunuh diri.


Yah kakak yang baik benar benar merasa bersalah atas tertekannya adik satu satunya itu.


Beruntung Haera mendapatkan informasi ini hingga membuat Haera memutuskan untuk mengirim email serta fotonya bersama Momo kepada sang kakak, email itu berisi.


‘Kakak maaf, gue kabur dari rumah bukan karna pertunangan, tapi gue hamil kak dan sekarang anak gue udah gede, gue cuma gak mau bikin keluarga malu jadi gue mutusin buat kabur. Kakak jangan marah ya, meski rencana Mandra dan Raya gagal tapi Raya berhasil bawa gue ke kamar seorang lelaki sampai bikin gue kayak gini, sekali lagi maaf dan sampaikan salam Haera pada ayah’ nah seperti itu isi email yang membuat pintu hati Woojin terbuka sehingga mengurungkan niat bodohnya.


Saat itu Woojin dan Tuan Damanjaya benar benar ingin membunuh Mandra dan Raya yang notabenya adalah si pembuat masalah, namun takdir berkata lain Mandra bunuh diri di penjara sedangkan Raya meninggal akibat tabrak lari, jadi mereka berdua harus membunuh siapa untuk melepaskan amarah.


Awalnya Haera benar benar takut jika nanti menerima kemarahan keluarganya, namun siapa yang menyangka jika Tuan Damanjaya dan Woojin malah mencarinya kemana mana untuk meminta maaf, sampai akhirnya mereka kembali bertemu saat Haera tengah memata matai musuh di sebuah apartemen.


Tuan Damanjaya sangat senang kala itu, dan langsung menanyakan keberadan Momo tanpa menghiraukan status anak itu yang tidak memiliki ayah.


Haera tentu saja sangat senang dan bersyukur, ternyata keluarganya yang sekarang sangat menerima kekurangannya, betapa beruntungnya dia.


“Oke oke ayo pulang kerumah, tapi sebelumnya kita akan mampir ke mall sebentar mau beli perlengkapan kuliah beserta kebutuhan anak anak yang lain” ujar Haera memutuskan untuk mengunjugi Tuan Damanjaya membuat Woojin langsung bersemangat.


“Ayo!!”


🐣🐣🐣


Oke guys, jadi author mau curhat sebenarnya author itu sedikit kesulitan saat menggunakan bahasa Non Formal, mungkin karna kebiasaan Formal saat menulis novel "Terlempar Ke Zaman Kuno" jadi mohon maklum ya jika ada kesalahan🙏🙏🙏


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪

__ADS_1


see you💃💃


__ADS_2