
“Iyap!!”
“Tapi apa alesannya?”
***
Kita kembali pada Haera yang kini sudah berada di ruang tunggu Kepala Sekolah bersama Daren yang tengah duduk menyandarkan kepalanya di dinding sembari memejamkan matanya.
“Ren perasaan lo tuh tukang molor deh, tapi kenapa lingkaran mata lo bisa se item ini?” tanya Haera sambil mencolok mata Daren membuat sang empu meringis kaget.
“Keturunan” jawab Daren acuh membuat Haera tertawa.
“Mana ada mata panda itu keturunan, yang ada lo tuh kurang tidur” sahut Haera membuat Daren kini berpaling menatapnya.
“Heuumm, jawab jujur lo Amnesia kan?” tanya Haera dengan tatapan menyelidik.
“Kok Amnesia? Hipotermia gobl*k!!” maki Daren membetulkan salah pengucapan dari Haera.
“Si anying kok ngegas!! lagian Hipotermia itu penurunan suhu tubuh secara drastis, jadi yang bener itu Anemia” sahut Haera tidak terima.
“Heh mana ada gak bisa tidur di sebut Anemia, bukannya Anemia itu kurang darah” sela Daren tidak terima.
Yah beginilah sifat Daren yang sesungguhnya, ngotot, perhatian meski itu hanyalah hal hal kecil, dan tentunya cepat bertindak, hanya saja dia masih kalah cepat dengan papi nya Momo.
“Ya terus apa dong?” tanya Haera sambil memegangi dagunya membuat pose berfikir yang imut.
Jung Haera seorang Dokter dari masa depan yang sangat sangat professional, ya masa penyakit gak bisa tidur aja dia gak tau?! ya jelas tau lah, hanya saja Haera menyukai saat dimana Daren tidak sedingin dan seacuh biasanya.
“Leukimia”
“ITU KANKER DARAH!!” sahut Haera dan Daren barengan membuat Momo yang sebelumnya menyahut sontak terjungkal kebelakang.
Untung ada pak Kepala Sekolah yang dengan sigap menahan Momo dari belakang, lalu tertawa terbahak bahak melihat betapa aneh tingkah keluarga di depannya.
“Hahahaha, pasangan zaman sekarang ada ada saja, ehemm bisa saya berbicara dengan ibu dan ayahnya Momo?” tanya bapak Kepala Sekolah membuat Haera langsung berdiri dari duduknya.
“Saya mommynya” sahut Haera sambil langsung berdiri dan beralih manaruh Momo di tempatnya tadi.
“Ayahnya?” tanya Kepala Sekolah membuat Haera sedikit terdiam sedangkan Momo hanya acuh sambil mulai memakai headphone dan memiringkan tabletnya.
Ngegame, atau meretas, entahlah hobi Momo sedikit unik.
“Anu … dia masih ker-”
__ADS_1
“Saya ayahnya Momo” sahut Daren memotong pembicaraan Haera membuat Momo dan Haera reflek menoleh.
“SERIUS!!” tanya ibu dan anak itu bersamaan.
Sangat kompak.
“Momo, bukannya kamu memakai headphone?” tanya Daren sambil berjongkok menatap Momo yang tengah salah tingkah.
“Ehem … Momo tidak mendengar apapun” ujarnya sambil berdehem cool layaknya orang dewasa membuat Daren terkekeh.
Yah … kekehan yang amat sangat jarang di tujukan.
“Mari pak bu” ujar pak Kepala Sekolah sambil mempersilahkan Daren dan juga Haera yang masih syok.
Melihat Haera yang terdiam, segera Daren menggandeng tangan Haera untuk masuk kedalam ruang Kepala Sekolah dan langsung di ikuti Kepala Sekolah dari belakang.
“Maaf bapak dan ibu apa sebelumnya Raymond pernah bersekolah?” tanya bapak Kepala Sekolah saat Haera dan Daren sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Kepala Sekolah itu.
“Hanya dua bulan, itu pun sekolah online” jawab Haera jujur, yah Momo memang pernah bersekolah dan tentu saja sangat membanggakan Haera, bukan hanya pintar anaknya termasuk kedalam jajaran bocah bocah jenius yang mampu menjawab soal anak kelas 4 Sekolah Dasar sedangkan Momo baru berumur 3 jalan 4 tahun yang mungkin masih harus masuk TK.
“Wahh … benar benar di luar ekspektasi” ujar Kepala Sekolah sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Memangnya ada yang salah?” tanya Daren yang kini penasaran dengan respon Kepala Sekolah yang tadi mengetes Momo.
Percayalah Haera tidak kaget sama sekali, begitupun Daren.
“Kenapa ibu dan bapak ini tidak merasa kaget?” tanya bapak Kepala Sekolah membuat Daren dan Haera sontak bertepuk tangan di ikuti bapak Kepala sekolah yang memang sedari tadi ingin bertepuk tangan.
Sekolahannya mendapat Murid jenius!! siapa yang tidak merasa senang coba.
“Wahh … saya benar benar terharu” ujar Haera sambil menyeka ujung matanya yang tidak mengeluarkan apapun.
“Anak kita benar benar membanggakan” sahut Daren membuat tepukan Haera terhenti.
“Dia anak ku!!” maki Haera membuat Daren hanya menggangguk sambil tersenyum tipis menghadap ke Haera.
“Jadi, Momo bisa masuk kelas berapa?” tanya Haera to the poin agar bisa cepat selesai, yah dia rasa sudah meninggalkan Momo sendirian di luar terlalu lama.
“Seharusnya kelas 5 namun mengingat umur Raymond yang masih sangat kecil, mungkin kelas 4 tidaklah buruk” ujar bapak Kepala Sekolah yang langsung di setujui Haera.
Setelah semua diskusinya selesai kini Haera tinggal memenuhi pembayaran serta mengisi formulir pendaftaran dan data data lainnya yang membutuhkan waktu sekitar 30 menitan.
Dan akhirnya semua prosedur pendaftaran telah selesai kini Haera sudah boleh pergi, namun alangkah terkejutnya saat mendapati ruang tunggunya kosong.
__ADS_1
“Shitt!!” maki Haera yang langsung mengambil heandphone nya untuk melacak keberadaan Momo, tidak lupa dia juga mengaktifkan mata kirinya agar bisa segera cepat mendapat keberadaan Momo.
Daren sendiri saat mengerti situasi ini segera berlarian kesana kemari untuk mencari Momo yang sudah menghilang.
“Oh ayolah” gumam Haera sambil menunggu loading di ponselnya yang terbilang cukup cepat.
Hanya saja Haera yang tengah khawatir apapun pasti terasa lambat.
Sembari menunggu Haera juga mencoba menghubungi Momo lewat Smart Watch yang kemarin di belikan Woojin, namun sambungannya terputus dan semakin membuat Haera khawatir.
“Sudah ketemu?” tanya Daren yang datang dengan keringat membasahi rambut serta leher sampai hoodienya, membuat pria itu semakin terlihat sexy.
Tidak, tidak ini bukan waktunya mengagumi.
“Belum” jawab Haera singkat namun sangat kentara dari nadanya bahwa dia sedang gelisah.
“Tenang dulu, gue udah cari ke semua sudut sekolah dan gak nemu, tapi Momo bocah itu pergi bersama semua barang barangnya, dan lagi Momo anak yang cerdas jadi mustahil kalo seandainya dia di culik” ujar Daren mencoba menenangkan Haera padahal dia sendiri gak kalah kalang kabut nya.
Ting.
Tiba tiba suara notif dengan tulisan ‘Alamat terdeteksi’ muncul di layar hp Haera bersamaan dengan mata kirinya yang sudah lebih dulu memperlihatkan lokasi Momo saat ini.
Untungnya Haera selalu menaruh alat pelacak, mulai dari tablet, jam tangan, sampai baju yang di kenakan Momo agar di saat seperti ini benda benda itu bisa di andalkan.
“Sudah ketemu?” tanya Daren lagi.
“Heum … dia sekarang di Kantor Polisi” jawab Haera yang langsung terduduk di lantai karna sudah merasa lega.
“Syukurlah, ayok samperin” ajak Daren sambil menarik Haera untuk segera berlari ke parkiran.
Tidak membutuhkan waktu yang lama kini Daren dan Haera sudah berada di mobil dengan Haera yang sedang bertelfonan dengan si kembar Kenzo dan Kenzi.
“Gue udah berhasil retas CCTV kePolisian, dan sekarang Momo lagi main game di ruang tunggu sambil di temenin Polwan, terus tadi gue juga udah hubungin si kembar yang ternyata lagi belanja di mini market yang kebetulan dekat banget sama Kantor Polisinya” ujar Haera membuat Daren membuang nafasnya lega.
“Kok bisa jauh banget sih Momo mainnya, butuh 45 menit buat kita sampai disana” ujar Daren yang di angguki Haera karna emang benar adanya.
“Maka dari itu gue nyuruh si kembar buat nyamperin Momo terlebih dahulu kesana, siapa tahu kedatangan mereka ngebantu” ujar Haera.
“Tapi, Momo ngapain sih ke Kantor Polisi?”
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪
__ADS_1
See you💃💃💃