
“Paman kamu sedang apa?”
***
“ASTAGA!!” teriak pria yang mengikuti Haera saat mendapati Haera yang tengah tersenyum di belakangnya sambil memainkan ranting kering di tangan kanannya.
“Bbb- ba- bagai ma- mana bis –”
Bugh … Bugh … Bughh … Duaghh….
Tanpa menunggu tersusunya kalimat gagap dari pria paruh baya itu, segera Haera menendang perut pria itu lalu melayangkan bogemannya ke seluruh permukaan wajah pria paruh baya itu tanpa henti.
“Akkhh … am- ampun” teriak laki laki paruh baya yang tidak lain adalah Raden Kusuma anak buah dari Sehun Diningrat.
Raden sendiri hanya bisa meminta ampun tanpa melawan karna Sehun hanya memerintahkan dia untuk memata matai tanpa menyentuhnya, dan lagi tugasnya juga menjadi pelindung Haera dari jauh, jadi apa dia bisa melakukan perlawanan.
Tidak memberi longgar segera Haera mengeluar Han Gun dari saku belakang celana pendeknya.
“Siapa yang nyuruh lo?” tanya Haera sambil menodongkan pistol setrumnya tepat di kepala Raden membuat laki laki paruh baya itu benar benar ingin menangis darah.
Bagaimana bisa dia mengatakannya.
“Jawab!!” teriak Haera disertai aura membunuh yang kuat membuat Raden benar benar ingin bunuh diri saja.
“Oke, kayaknya sedikit kesetrum bisa buat lo berani menjawabnya” lanjutnya sambil menarik pelatuknya sebelum.
“Mommy!!!”
Bzztttt ….
“Arggghhh ….” teriak Raden yang kini sudah tersetrum akibat Haera yang dengan reflek kebablas menarik pelatuknya saat mendengar teriakan Momo dari dalam mobil.
“Upss … padahal gue gak ada maksud buat nyetrum dia” gumam Haera merasa prihatin saat melihat Raden tergeletak di tanah, pingsan.
“Huh … gue lepasin lo hari ini tapi tidak di hari berikutnya” lanjut Haera sambil memasukkan Han Gun nya kembali ke saku celana belakangnya, lalu segera berlari menyusul Momo yang ternyata sudah terbangun.
Untung bocah itu tidak keluar dari mobil, jika tidak bisa sawan anaknya melihat dia yang sedang menyetrum orang tanpa perasaan.
“Momo kenapa teriak hmm?” tanya Haera saat mendapati Momo yang sedang melipat kedua tangannya di depan dada membuat pose ngambek yang imut.
“Mommy habis dari mana aja?” bukannya menjawab Momo malah balik bertanya dengan nada kesal.
“Maaf ya mommy tadi habis ke toilet” jawab Haera bohong dengan sangat lancar.
“Disini ada toilet?” tanya Momo sambil beranjak untuk melihat suasana di luar mobil namun segera di hetikan oleh Haera.
“Ada, yaudah ayo pulang sebelum tengah malam” ajak Haera lalu segera melesat pergi meninggalkan gang sepi dan juga mata mata yang masih terkapar lemas akibat setruman Haera.
Salah sendiri menguntit orang sebarangan, untung Momo bangun kalo enggak udah habis tuh orang di tangan Haera.
“Momo besok mulai masuk sekolah ya” ujar Haera yang langsung di angguki oleh Momo.
“Tapi nanti jika di tanya umur berapa, Momo jawabnya umur 2 tahun aja” lanjut Haera membuat Momo sontak menoleh.
“Kenapa? bukannya Momo berumur 3 tahun? Momo hitung udah bener kok 3 tahun, apa Momo yang salah?” tanya Momo beruntun membuat Haera bingung harus cari alasan apa.
Mata mata hari ini membuat Haera benar benar waspada, awalnya dia kira mata mata itu hanya menginginkan nyawanya, paling tidak dia mengenali dirinya yang merupakan Leader sebuah Agen Rahasia dan ingin membunuhnya.
Tapi apa, setelah di biarkan sekian lama mata mata itu tidak menghajarnya, Haera bahkan sengaja mengambil tempat sepi tapi kenapa mata mata itu tidak memanggil teman temannya dan menghabisi Haera saat itu juga.
__ADS_1
Di tambah lagi mata mata itu sama sekali tidak memukulnya atau bahkan membalas pukulannya, Haera tahu persis mata mata itu bisa menghindar atau bahkan menghajarnya balik, tapi kenapa?
Apa orang yang dia tuju sebenarnya bukan dirinya?
Apa itu Woojin, tapi saat di rumah keluarga Damanjaya mata mata itu tidak menyerang kakaknya sama sekali, atau minimal ngirim bom lah.
Apa jangan jangan mereka menunggu Haera pergi terlebih dahulu? jika iya kenapa malah ikutan pergi mengikutinya.
Benar benar membingungkan.
Apa jangan jangan sasarannya adalah Momo?
“Gak!! gak mungkin!!” ujar Haera sambil memukul stirnya membuat Momo bingung menatapnya.
“Apanya yang tidak mungkin?” tanya Momo.
“Tidak ada, apapun itu Momo harus bilang jika usiamu baru menginjak 2 tahun” jawab Haera tanpa memandang Momo.
“Baiklah” jawab Momo pasrah namun jauh di lubuk hatinya banyak sekali pertanyaan pertanyaan aneh yang bermunculan.
Kenapa Mommy nya tiba tiba begini?
Apa ini karna seseorang yang mengikutinya di mall tadi?
Ya! pasti itu!! karna sebelumnya masih baik baik saja.
Dengan cepat Momo mengambil tab nya dan memasang earphone di telinganya, lalu menerbangkan Drone yang baru saja dia beli tadi lewat jendela.
“Momo jangan main Drone malam malam” tegur Haera sedikit mengeraskan suaranya karna melihat Momo yang menggunakan earphone di telinganya.
“Momo hanya mencoba apa Drone ini bisa berfungsi dengan baik, mommy tenang saja dan lanjutkan perjalanannya” jawab Momo membuat Haera hanya menghela nafasnya pasrah.
Momo sendiri masih bekerja dengan keras untuk mengontrol penerbangan Dronenya sampai pada tempat dimana mobil Haera berhenti sebelumnya.
Sosok laki laki berjaket tebal yang tengah pingsan dan di kelilingi 3 orang berpakaian hitam.
Apa itu perampok?
Oh tidak paman itu di rampok sebelum dia mendapat informasi lebih!
Ini tidak bisa di biarkan.
Segera Momo memotret semua plat mobil, tipe mobil, merek atau bahkan striker terkecil yang menempel di mobil mereka, Momo juga memotret kegiatan orang orang itu yang tengah memindahkan laki laki berjaket tebal yang sedang pingsan ke dalam salah satu mobil.
Untungnya Momo di belikan Drone terbaik yang mampu memotret dengan jelas bahkan saat jaraknya terbilang cukup jauh, yah Momo tidak sebodoh itu untuk mendekatkan dronenya ke posisi mereka.
Bisa bisa nanti Drone nya di hancurkan, apa lagi Momo masih belum tahu siapa orang di balik perampok serta orang yang mengikutinya itu.
“Sudah mencobanya? sebentar lagi kita akan sampai” ujar Haera membuat Momo segera menarik kembali Drone nya.
Kita beralih ke lain tempat dimana terdapat 3 orang yang sedang menundukkan kepalanya, 1 orang yang tengah terkapar lemas tak berdaya di atas lantai dan satu orang lagi yang tengah menatap orang orang itu dengan intimidasi yang kuat.
“Bagaimana bisa pria tua ini pingsan di tengah jalan?” tanya sesorang yang sebelumnya menatap tajam mereka berempat yang tidak lain adalah Sehun Diningrat.
“Am- ampun Tu an, saat kami mendapat sinyal bahaya kami segera menemui Raden, namun saat tiba disana Raden sudah seperti ini” jawab salah satu anak buah Sehun.
“Apa ada petunjuk?” tanya Sehun sambil membuang nafasnya kasar mencoba menahan amarah.
Sehun fikir laki laki yang bersama Haera sebelumnya lah yang membuat anak buahnya pingsan.
__ADS_1
“Kamera Black Box” jawab salah satu bawahannya sambil memberikan sebuah Memori kepada Sehun.
Dengan cepat Sehun mengambil memori itu lalu memasangnya di computer miliknya untuk melihat rekaman yang di dapat dari kamera mobil itu.
1 menit 2 menit Sehun terlihat sangat fokus memperhatikan rekaman itu, mulai dari Raden yang mengendap ngendap sampai tiba tiba ada seorang gadis yang menepuk bahunya dan langsung menghajarnya membuat Sehun tertawa.
Gadis itu tertangkap kamera, dan dia adalah Haera Damanjaya seseorang yang dia cari.
“Hahahahahaha dari mana dia punya keahlian seperti ini” ujar Sehun membuat ketiga bawahannya gemetaran.
Apa sebentar lagi akan ada gempa bumi? kenapa Tuannya tertawa?
‘Oh tidak aku masih ingin melihat matahari terbit esok’ batin ketiga bawahan itu merasa was was di saat Sehun yang jarang ada ekspresi tiba tiba tertawa.
Tidak berhenti disitu Sehun semakin di buat kaget dengan Haera yang mengeluarkan Han Gun (Pistol Setrum) dari saku belakang celananya, apa ini yang membuat bawahannya pingsan.
Cklekk …
Tiba tiba saja Sehun menekan tombol spasi dengan keras bersamaan dengan wajahnya yang menggelap.
‘Oh tidak apa lagi ini’
‘Apa kita membuat kesalahan lain’
‘Seseorang selamatkan kami’
Kira kira seperti itu perang batin para bawannya saat melihat wajah Sehun yang berubah drastis dalam sekejap.
“Bangunkan Raden!!” perintah Sehun tiba tiba sambil menatap laki laki pingsan itu tajam.
“Y-yya Tuan?” tanya salah satu bawahannya memastikan pendengarannya.
“CEPAT!!” teriak Sehun membuat ketiga bawahan itu berebut untuk menjambak, menampar atau bahkan menekan hidung Raden kuat kuat agar laki laki paruh baya itu cepat bangun dari tidurnya.
“Raden kumohon” gumam salah satu bawahan Sehun sambil terus menggelitik perut Raden membuat Sehun ingin memaki.
Kenapa gak di siram aja coba?
“Eunhgg”
Berhasil!! akhirnya Tuhan berpihak pada mereka.
“Apa ini, oh … ASTAGA TUAN!!” teriak Raden saat menyadari ada Sehun yang menatapnya tajam membuat kesadarannya benar benar di paksa keluar.
“Tuan maafkan bawahan ini” ujarnya sambil secepatnya berdiri lalu membungkuk di ikuti ketiga bawahan yang sedari tadi membangunkannya.
“Siapa yang memanggilnya?” tanya Sehun ambigu membuat ratusan tanda tanya mengelilingi kepala para bawahannya termasuk Raden.
“Yyaa?” tanya Raden sedikit ragu.
“Siapa yang memanggilnya sebelum kamu pingsan?!” tanya Sehun lagi dengan penuh tekanan membuat otak Raden bekerja 2 kali lipat.
“Itu saya tidak tahu Tuan hanya saja orang yang memanggil, memanggil Nona Haera dengan sebutan Mommy” jawab Raden yang mulai faham kemana arah pembicaraan Sehun.
Tuannya ini pasti telah melihat rekaman Black Box mobilnya.
“Mommy?”
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪
See You💃💃💃