
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di gang tempat Haera meninggalkan motornya, Gavin kini menatap motor Haera dengan senyuman yang tidak luntur luntur dari wajahnya.
“Jung Haera” gumamnya pelan.
***
Kita kembali pada Haera yang kini tengah menatap wajah Sehun dengan penuh permusuhan membuat Sehun menampilkan senyum cerahnya.
Yah … sangat berbanding balik dengan Haera.
“Apa kabar?” tanya Sehun ramah sambil mendekat kearah Haera membuat Haera reflek mundur hingga kepentok tembok di gang.
“Yyaa posisi ini sedikit ambigu” bukannya menjawab Haera malah mengalihkan pembicaraan dengan nada gugup yang sangat kentara.
“Memangnya kenapa? bukankah kita ini sepasang ayah dan ibu dari anak yang sama?” tanya Sehun membuat jantung Haera mencelos.
Apa dia sudah ketahuan?
Bukankah waktu itu Momo bilang kalau umurnya baru 2 tahun.
Bahkan dia menaruh marganya di nama Momo agar tidak ketahuan, bagaimana bisa orang ini mengetahuinya begitu saja.
“Kenapa diam saja? apa aku benar Jung Haera? ah tidak bukan Jung Haera tapi Haera Diningrat” tanya Sehun sambil menambahkan marganya di nama Haera membuat Haera melotot.
“Anuu kayaknya lo salah paham deh” ujar Haera sedikit gugup saat Sehun mendekatkan wajahnya ke arahnya.
“Dimana letak kesalah pahamannya hmm?” tanya Sehun sambil membelai pucuk kepala Haera.
“Oke, lo menang!! gue emang Haera Damanjaya dan lo pasti kenal sama gue akibat kejadian malam itu” ujar Haera yang kini sudah pasrah membuat Sehun kembali tersenyum.
“Kalo nurut gini kan enak” ujar Sehun sambil menjauhkan kepalanya lagi membuat Haera kini bisa bernafas lega.
“Tapi, sekarang nama gue udah berubah jadi Jung Haera” sahut Haera dengan nada santai karna sudah bisa menguasai sebuah naskah drama yang akan dia mainkan.
“Ya terus?” tanya Sehun bingung, dia masih belum mengerti kemana arah pembicaran Haera.
“Jung itu marga papi nya Momo, lo salah paham!! jadi STOP GANGGUIN BINI ORANG!!” jawab Haera dengan nada ngegas di akhir membuat Sehun terkekeh.
“Heh tingkat kebohongan kamu semakin lama semakin menggelikan ya” ujar Sehun membuat Haera naik pitam.
Haera emang lagi bohong, tapi masa langsung ketahuan.
“Menurut lo siapa yang lagi ngibul?” tanya Haera yang kini menantang Sehun.
“Ya kamu lah!! sekarang coba bilang, siapa nama papinya Momo?”
Mampus!!
Haera belum siapin nama yang pas.
“Kenapa diam?! ketahuan kan kalo bohong” ujar Sehun sambil menampilkan senyum smirk di wajahnya.
“Kenapa kamu harus menghindar sih, akunya aja malah bangga punya anak dari kamu” lanjutnya yang malah ngegombal membuat Haera ingin salto di kepala Sehun.
__ADS_1
“Qiqi!! Jung Qiqi dia papinya Momo, PUAS!!” teriak Haera membuat Sehun kesetanan.
Brakk!!!
Sontak Haera menegang saat melihat Sehun yang tiba tiba meninju tembok di samping tubuhnya hingga membuat tangannya mengeluarkan sedikit darah segar.
“Coba ngomong lagi siapa papinya Momo?” tanya Sehun dengan nada yang di tekankan membuat Haera semakin menegang.
Kenapa ini?
Haera fikir reaksi Sehun akan sama seperti yang sebelum sebelumnya dan menganggapnya hanya omong kosong.
Tapi reaksi seperti ini bukankah sedikit berlebihan?
Apa dia salah memilih nama?
Oh ayolah, hanya nama Qiqi lah yang menurutnya keren, karna sebelumnya dia memikirkan nama ini sampai 7 hari 7 malam saat akan memberi nama robot kesayangannya.
Apa mungkin Qiqi adalah nama Musuh nya atau saingannya di dunia bisnis?
Atau jangan jangan Qiqi adalah mantannya?!!
Gak mungkin!!!
“Qiq – ”
Brakkk!!!!
“BERHENTI MENYEBUT NAMA PRIA LAIN DI HADAPANKU!!” maki Sehun sambil kembali meninju kan tangannya membuat darah yang keluar menjadi agak banyak.
Duaghh!!
“Cowok gila!! kan lo yang nanya dodol!!” teriak Haera sambil melarikan diri meninggalkan Sehun yang kini bersimpuh sambil memegangi ‘itu’ nya yang mungkin terasa nyeri.
Jiwa dokter Haera memang tidak tahan melihatnya, namun jiwa Komandan Haera berkata kalau dia harus selamat terlebih dahulu.
Jadilah dia menendang masa depannya Sehun lalu bergegas melarikan diri sejauh mungkin.
Sedangkan Sehun yang menjadi korban kini sedang mencari cari nomor seseorang untuk di hubungi.
Masa depannya memang lagi sakit apa lagi di tambah tangannya yang mengeluarkan darah, namun kali ini menelfon Albar adalah tujuan utamanya yang paling penting.
“Bar cari tahu semua laki laki yang bernama Qiqi di kota Z” perintah Sehun dengan nada serius membuat albar sedikit tersentak di sebrang sana.
“Tapi hun, ini gue nemu jejaknya Momo lewat plat nomor taxi yang waktu itu dia naikin” protes Albar yang baru saja selesai bekerja keras melacak plat nomot kang taxi eh malah tiba tiba di suruh ganti profesi.
“Di bilang cari ya cari!!” bentak Sehun lalu segera menutup telfonnya membuat Albar sawan di sebrang sana.
“Sial!!” maki Sehun sambil mengacak ngacak rambutnya lalu segera pergi meninggalkan gang itu tanpa memberdulikan rambutnya yang kini berantakan bercampur bercak darah dari tangannya.
Dan tanpa Sehun sadari sedari tadi ada seseorang yang melihat semuanya mulai dari Haera yang masih di tempat sampai Sehun meninggalkan tempat itu.
Kini si pengintip itu mulai berjalan dengan pelan menuju tembok tempat bercak darah Sehun yang tertinggal lalu mengambilnya sebagian dan membersihkan sisanya.
__ADS_1
Sedangkan di lain tempat tepatnya di rumah keluarga Damanjaya, Haera yang baru saja sampai langsung berteriak dengan heboh membuat Woojin dan Momo langsung berlarian menghampiri Haera.
“Ayah mana?” tanya Haera sambil membawa Momo ke gendongannya.
“Tadi ke mini market, katanya mau beli masako” jawab Woojin membuat Haera mengangguk mengerti.
“Mommy merah merah ini apa?” tanya Momo sambil mencolek telinga Haera membuat Haera mengernyitkan dahinya.
“Ini amis, Momo gak suka” lanjutnya membuat Haera melotot.
Darahnya Sehun!!
Kok bisa nyangsang di telinganya?!.
“Amis? kok bisa? telinga lo luka?” tanya Woojin sambil mencolek darah di telinga Haera namun keburu di tampol sama Haera.
“Apa sih kak, paling juga lipstick” jawab Haera sambil menghapus bercak darah itu menggunakan tangannya.
“Tuh kan hilang? telinga gue juga baik baik aja, terus baunya juga wangi, mungkin Momo salah cium kali” lanjutnya lalu segera membawa Momo keatas meninggalkan Woojin yang masih kebingungan.
“Dek!! kok gue di tinggal!!!” teriak Woojin.
“Gue besok kuliah kak, tolong bilangin ke ayah kalo gue nginep sini” balas Haera dengan berteriak juga.
“Eumm mommy, tadi Momo gak salah cium kok, ini beneran amis kayak ikan” ujar Momo saat Haera membawanya ke wastafel untuk mencuci tangan.
“Iya Momo gak salah kok, tadi mommy cuman ngerjain paman Woojin aja” sahut Haera sambil tersenyum membuat Momo ikutan tersenyum.
Setelah perdebatan kecil itu Haera menyuruh Momo untuk segera tidur sedangkan dirinya sendiri masih sibuk mandi sambil nyanyi nyanyi gak jelas.
Tidak berselang lama kini Haera sudah kembali dengan ponsel yang bertengger manis di telinganya.
“Gimana Ren? Qiqinya udah sama lo gak?” tanya Haera sambil tiduran di samping Momo.
“Udah, btw besok ngampus lo gue jemput ya” jawab Daren di sebrang sana.
“Lah ngapain?! buang buang waktu aja, lagian besok gue sama bareng sama Momo” ujar Haera dengan suara pelan karna Momo yang sudah terlelap.
“Gak!! pokoknya gue yang nganter, lagian gue juga kangen sama anak lo”
“Apasih!! kayak gak pernah ketemu aja”
“Pokoknya gue gak mau tau!!”
Pip …
“Lah ni anak kenapa sih!!” maki Haera sambil membanting ponselnya kesal.
Untung kena karpet bulu😅.
TBC.
Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪
__ADS_1
see you💃💃💃