Young Mother X Mafia (Time Travel Komandan Jung Haera)

Young Mother X Mafia (Time Travel Komandan Jung Haera)
06 Permainan Wanita Jahat


__ADS_3

‘Sial!’


‘Hahahaha kena kau’


***


“Huhuhuhu ayah … maaf kan aku … aku hanya terlalu sayang pada kakak … ayah ayah maafkan aku yang tidak berbakti ini” teriak Raya dengan airmata yang terus mengalir di pelupuk matanya.


“Ka – kamu … kenapa kamu memojokan Raya!! bukan kah seharusnya kamu berterimakasih kepadanya yang sangat menyayagi kakak perempuannya” ujar Mandra sambil memeluk sang anak yang kini sedang menangis tersedu sedu.


Melihat itu Haera sangat ingin tertawa, namun dia harus mengendalikannya.


Sedangkan Tuan Damanjaya dan juga Woojin? entahlah mereka berdua harus bilang apa, sebab baru kali ini mereka menyaksikan hal hal seperti ini.


Jika biasanya Raya sangat manja kepadanya dengan membangga banggakan Haera sambil menjatuhkannya, entah kenapa sekarang Raya yang jadi terpojok begini.


Jika biasanya Mandra sangat adil dan tidak membela siapa pun namun tetap saja masih sedikit menjatuh kan Haera dengan sengaja, kini kenapa Mandra seperti sangat sangat membela Raya dan terus menyalahkan Haera.


Dan yang terakhir jika biasanya Haera hanya akan diam dan menunduk bahkan jika terjadi kebakaran sekalipun, tapi kenapa sekarang Haera menjadi banyak bicara, dan menjadi pintar bermain kata kata.


Apa Haera benar benar kehilangan ingatannya.


“Oh ayolah, bibi ini siapa? kenapa dari tadi membela adik? apa bibi adalah pembantu pribadinya?” tanya Haera dengan nada mengejek membuat Woojin membelalakkan matanya.


“Ka … kauu AKU INI IBUMU!!” teriak Mandra nyalang membuat Tuan Damanjaya menggebrak meja makan itu dengan keras.


Sontak semua nya terdiam.


‘Kenapa gue baru tahu kalo Haera punya keberanian seperti ini’ batin Woojin yang kini tengah di landa dilema besar, dia harus mempercayai siapa.


Sebenarnya Woojin memang sering mendengar rumor buruk tentang sang adik yang sering berbuat semena mena dengan ibu dan adik tirinya, namun Woojin benar benar tidak mempercayai hal itu lantaran sikap Haera yang selama ini pendiam dan sangat jarang membuat masalah saat di depannya.


Lantas siapa sebenarnya yang sedang bersandiwara disini, apa rumor itu ternyata benar atau malah ibu dan adik tirinya yang selama ini bersikap baik namun kenyataannya buruk.


“Apa kalian masih menganggapku sebagai kepala keluarga disini!! beraninya kalian berdebat di hadapanku!!” teriak Tuan Damanjaya dengan suara tegas miliknya.


“Dan kamu, sebenarnya apa yang sedang ingin kamu katakan?” tanya Tuan Damanjaya dengan suara yang masih sedikit keras seperti membentak.

__ADS_1


Bukannya marah karna di bentak Haera malah menatap laki laki tua itu penuh hormat, pantas saja dia jadi pengusaha, wong auranya aja setegas ini, apalagi pak tua ini mampu melihat gerak gerik dari permainan kata milik Haera.


“Wah … ayah mengerti maksudku ya” ujar Haera dengan kekehan manis di akhir membuat Woojin sedikit terkesima namun banyak bingungnya.


“Sebenarnya aku sedikit bingung, Ayah tahu bukan aku ini kehilangan ingatanku semalam jadi aku benar benar tidak mengingat apapun tentang keluargaku termasuk diriku sendiri. Ayah tau betapa kagetnya saat mendapati diriku yang tersadar dari tidur dengan keadaan kepala berdarah darah, dengan tubuh penuh luka”


“Berdarah darah!! bukankah seharusnya telanjang!” gumam Raya memotong perkatan Haera tanpa sadar, dengan suara yang terbilang sedikit keras membuat semua mata menatapnya tajam, tertutama ibunya sendiri.


“Ah kenapa? apa sekarang adik menginginkan ku terbangun dengan keadaan telanjang? namun sayang sekali aku membuat mu kecewa, karna aku masih terbangun dengan pakaian yang utuh, hanya saja aku berganti dengan kemeja yang di sediakan hotel akibat bajuku yang penuh dengan darah” sahut Haera sambil mengembangkan senyum manisnya.


“Lanjutkan” ujar Tuan Damanjaya memerintahkan Haera untuk melanjutkan pembicaraannya.


“Dan yah setelah itu aku berencana pergi mencari informasi dan beberapa perban untuk menutupi kepalaku yang bocor dan mata kiriku yang ternyata juga terluka sedikit parah, entah kenapa. Namun tiba tiba aku bertemu dengan seorang pencuri hingga membuatku ikut terseret ke kantor Polisi dan terjadi kesalah pahaman, Namun sejujurnya bukan hal ini yang membuatku bingung” ujar Haera melanjutkan ceritanya.


“Maksut lo?” tanya Woojin dengan tidak sabar.


“Pagi ini aku menemukan banyak sekali bekas luka cambukan di punggungku, pantas saja punggungku terasa sakit, jadi kira kira apa yang sedang terjadi pada diriku, kenapa waktu itu tubuhku penuh luka, lalu punggungku, jika di lihat lebih teliti seharusnya luka itu sudah sangat lama namun sering di perbarui dengan mencambuk di tempat yang sama” ujar Haera yang mulai masuk kedalam permainan yang sebenarnya, dan bukan hanya permainan kata seperti awalnya.


“Ku pikir aku sangat dimanja karna malam itu ayah dan kakak sangat mengkhawatirkan ku, namun saat melihat luka luka itu, aku jadi berfikir dua kali, kira kira siapa ya yang melakukannya”


“Wah … apa benar dia ibuku? kenapa dia selalu menyalahkanku dan sebaliknya selalu membela adik, aku bahkan tidak menuduhnya?” tanya Haera pada Woojin yang hanya di balas gelengan lemah oleh sang kakak.


“Jika ayah dan kakak sering bepergian, dan luka ini kurang lebih sudah sekitar 2 hari yang lalu, kira kira siapa yang melakukan hal ini?” tanya Haera lagi sambi membuka dua kancing kemeja nya lalu menariknya kebelakang hingga memperlihatkan sedikit punggungnya yang memang penuh dengan bekas luka cambuk.


“Astaga!!!” teriak Woojin heboh membuat telinga Haera sedikit sakit, akibat posisi pria itu yang berada di sampingnya.


“Ini … dek!! gimana bisa lo nyembunyiin hal seperti ini dari kakak?” tanya Woojin dengan suara parau sambil menutup kembali punggung putih sang adik yang penuh dengan bekas luka lama maupun baru.


Melihat itu Tuan Damanjaya benar benar merasa gagal menjaga putri tercintanya, kini Tuan Damanjaya menatap Mandra dengan tatapan penuh kebencian yang kentara.


Yah, sebagai pengusaha sukses Tuan Damanjaya bukan tipikal laki laki yang mudah di bodohi, apalagi hanya perihal masalah rumah tangga, dia tahu betul apa yang di alami sang anak, namun dia butuh bukti untuk menghukum Mandra dan anaknya.


Dan bukti hidup yang merupakan korban itu sendiri kini tengah mengalami amnesia.


‘Sialan jal*ng ini bagaimana bisa dia membuka kartu semudah itu’ batin Mandra sambil terus memikirkan cara untuk menyingkirkan Haera dengan segera.


“CEPAT PANGGIL DOKTER!!” teriak Tuan Damanjaya membuat beberapa Maid yang ada disana segera berlari gelagapan mencari telfon rumah.

__ADS_1


“Su – Suami ku, i-ini benar benar hanya salah faham, tidak tidak aku tidak tahu apapun tentang luka cambuk itu a-aak”


Brakk!!!


“DIAM!! DASAR TIDAK BECUS!!” maki Tuan Damanjaya sambil menggebrak meja makan untuk yang kedua kalinya dalam pagi ini.


“Ayah!! tolong jangan salah faham dulu, ibu memang tidak tahu apapun! itu itu tidak benar ibu memang tidak tahu apapun” sahut Raya sambil menenangkan sang ibu yang sedang menahan tangisnya.


Ahhh pemandangan ini, Haera benar benar menyukainya.


“Dan ka kamu jal*ng!! jangan memfitnah ibuku dan aku, kamu saja yang berandalan dan sering keluar malam, jadi mungkin saja luka itu kamu dapatkan dari sana” lanjutnya yang kini mulai mencaci maki Haera.


Plakk!!!


“Beraninya kamu memaki kakakmu sendiri!!” teriak Tuan Damanjaya setelah menampar pipi Raya yang tidak jauh berada di samping kanannya.


“Kak, apa benar mereka berdua itu ibu dan adik kandungku?” tanya Haera yang tengah berbisik ke arah Woojin sambil memakan buah apel di tangannya.


“Ah lo pasti gak ingat, mereka berdua ibu dan adik tiri kita” jawab Woojin yang kini ikutan berbisik.


“Ahh pantas saja” gumam Haera pelan lalu kembali melihat pertunjukan di depannya yang kini menayangkan adegan dimana Raya yang menangis tersedu sedu di pelukan ibunya.


“Ka kamu … aku akan membuktikannya jika kamu adalah berandalan!!” teriak Raya tiba tiba sambi menunjuk Haera yang masih memakan apelnya dengan santai.


“Benarkah?” tanya Haera dengan nada imutnya membuat Woojin gemas sedangkan Tuan Damanjaya hanya menatap anaknya penuh arti.


“Benar!! aku akan membuktikan jika kamu benar benar tidur dengan pria tua semalam!! lihatlah dirimu yang sudah kotor itu!! apa nantinya kamu masih punya muka untuk kembali!” jawab Raya dengan percaya dirinya.


“kurasa bermain main dengan ibu tiri dan adik tiri yang kejam, bukan kah itu sebuah hiburan yang bagus” gumam Haera pelan, sangat pelan bahkan Woojin sekalipun tidak akan mendengarnya.


“Silahkan saja, haruskah kita melihat rekaman CCTV Hotel agar kebusukan seorang Haera yang lemah ini terungkap” sahut Haera menantang Raya dengan aura kepemimpinan miliknya.


TBC.


Jangan lupa tinggalkan jejak vote, like, komen dan rate 5nya ya guys❤❤ biar author makin semangat ngetiknya💪💪


see you💃💃

__ADS_1


__ADS_2