
...GARA-GARA SALAH BELANJA...
...Penulis : David Khanz...
Hari Sabtu pagi adalah waktu liburku dari segala rutinitas pekerjaan. Ada banyak waktu senggang yang bisa dimanfaatkan, di antaranya ; berkumpul bersama keluarga. Bersyukur sekali, tidak ada permintaan jalan-jalan maupun berwisata dari anak-anak. Terlebih istri yang punya kesibukan sendiri seperti biasa, yakni bebenah rumah dan cuci mencuci.
"Pih, Amih mau minta tolong, dong," kata istri dari arah dapur, sewaktu aku masih berjibaku mendandani anak-anak yang habis kumandikan. "Sini sebentar dong, Pih!"
"Iya, Bebeb!" sahutku menirukan gaya Kang Komar di serial Preman Pensiun dulu. Maksud hati hendak bercanda, si anak perempuan malah menimpali, "Ih, gelay! Apih kayak benc*ng!"
"Heh!"
Anakku langsung terdiam sambil menyembunyikan cekikikannya di balik tutupan jemarinya.
"Minta tolong apa, Mih?" tanyaku begitu tiba, mendekati istri di ruangan dapur.
"Beliin sayuran, lauk-laukan, sama sekalian bumbunya," pinta istri diiringi senyuman manis-manis manja. "O, iya ... sambeleun wèh keutak. Biar menu makan pagi kita seuhah bersama."
Hhmmm, kebiasaan! Kalau ada kemauan, pasti keluar bakat genitnya. Hal apalagi kalau bulan masalah belanjaan untuk kali pertama hari ini. Terkadang menyebalkan, akan tetapi kasihan juga jika semua aktivitas rumahan bertumpuk pada dia seorang. Sebagai seorang lelaki sejati, mau tidak mau aku harus membantu. Minimal sebagai bentuk terima kasih akan ketulusannya dulu menerimaku menjadi pendamping hidup.
"Duitnya?"
Segera istri merogoh kocek dasternya yang masih terlihat bagus dengan motif gambar bebungaan.
"Inget 'kan, daftar belanjaannya?"
"Inget!" jawabku agak tersinggung sedikit. Jadi merasa diremehin kekuatan memori otak ini. "Sayuran, laukan, sambeleun, sama bumbu-bumbu. Iya, 'kan?"
"Cakep!" ujar istri menirukan kebiasaan penonton bayaran saat pengisi acara mulai berpantun. "Perlu di WA-in biar gak lupa?"
"Gak usah!"
"Cakeeeppp!"
Dikira benar dan tulus pujian kata 'cakep' tadi, nyatanya di tengah perjalanan ponselku bersuara. Ada pesan WA dari istri berisikan daftar belanjaan.
Hhmmm, memang benar juga. Dimana-mana yang namanya mulut perempuan itu memang jangan langsung dipercaya. Bisa saja bilang, "Aku baik-baik saja," akan tetapi kenyataannya sering berbanding terbalik. Mereka berkata seperti itu hanya sedang tidak ingin orang tercintanya turut serta merasakan apa yang tengah disembunyikan. Makna lain berarti, 'Aku lagi butuh perhatianmu, Sayang. Tolong beri aku kekuatan dengan kebijakan dan pelukanmu.' Bisa saja demikian, bukan? Memang. Jika sepasang pasutri sama-sama terpuruk, lantas siapa pihak penguatnya? Harus ada salah satu pihak yang mampu mengisi slot kekosongan tersebut. Kali ini --mungkin-- dia, siapa tahu esok hari adalah aku sendiri.
"Wah, sop-sopannya udah habis, Pak," ujar tukang warung begitu kupintai pesanan istri tadi. "Paling yang ada itu ... sayur asem."
Sayur asem? Perasaan tidak akan cocok di lidah, sepagi-pagi bermenukan itu. Masih mending sayur sop atau jenis tumisan lainnya. Sècim atau sawi, misalkan.
"Gimana, Pak? Mau sayur asem aja?" tanya tukang warung seraya memerhatikanku yang masih dilanda kebingungan.
__ADS_1
"Sebentar ...." kataku meminta waktu tambahan berpikir, lantas segera mengeluarkan ponsel. "Saya tanya istri dulu, deh."
Tuuuttt! Tuuuttt! Tuuuttt!
Di layar terlihat informasi 'berdering'. Artinya, aambungan telepon tersambung dan data seluler ponsel istri dalam kondisi aktif. Namun lama ditunggu, tidak kunjung diangkat. Ke mana dia? Mengapa? Mau sampai kapan?
Aarrrggghhh!
Kesal tidak kunjung direspons, akhirnya aku pun mengirim pesan.
[Mih, sayurnya gak ada. Sayur asem mau?]
Centang satu abu-abu, berubah dua, dan begitu adanya hingga menit kelima ditunggu belum juga berubah biru.
[Mih!]
[Amih!]
[Sayang!]
[Beb!]
[Woy, buka dong WA-nya!]
Keadaan masih serupa semenjak menit pertama hingga hampir mendekati angka sepuluh. Kemudian mencoba kembali menelepon, sama saja. Video call, nihil. Menghubungi melalui panggilan biasa, masih begitu. Kesal pun mulai menggayuti seisi jiwa. Orangnya ke mana, sih? Busyet, dah! Masa tidak terdengar suara ringtone HP? Apakah di-silent? Kemungkinan, bisa jadi.
[Amih!]
[P]
[P]
[P]
[P]
[P]
... Begitu seterusnya hingga beberapa kali salah cocol layar. Maksud hati mau menulis, malah memijit tombol keluar. Masuk kembali ke aplikasi WA. Mengirim tulisan yang sama, yakni '[P]'. Salah pencet. Malah memilih fitur voice note. Segera dibatalkan. Balik lagi menulis. Kemudian memutuskan mengirim lesan suara, [Mih, buka ngapa hape-nya! Sayurnya gak ada! Cuma asem doangan, nih!]
Hening. Semuanya bercentang dua abu-abu.
"Astaghfirullah ... Gusti Nu Agung!" Aku berusaha bersabar dan tetap berpijak pada titik normal alias waras.
__ADS_1
"Kenapa, Pak?"
Ini lagi! Orang lagi kesal malah ditanya! Dasar tukang warung! Kepo saja urusannya!
Halah!
Ingin sekali berkata kasar, tapi malu dan akan mengakibatkan salah paham.
"Gak apa-apa. Ini nelpon istri tapi gak diangkat-angkat!" jawabku kemudian sembari menyampurinya dengan seulas senyum, tapi intonasi sedikit meninggi.
"Ooohhh ...." timpal tukang warung sambil mesem-mesem menyebalkan. Jadi berasa ditertawakan dia. Padahal bukan, 'kan? Hihihi. Maklum, hati ini mendadak sensitif akibat ancaman murka berlebihan. Bayangkan, bagaimana tidak kesal, segala cara telah dilakukan untuk menghubungi istri. Namun semua berujung nol besar.
"Ya, ampun!" seruku tidak sadar begitu mengusap-usap layar kolom percakapan dengan istri. Begitu banyak dan panjang kiriman tadi, yakni berupa tulisan '[P]'. Padahal sapuan jempol ini berayun lebih dari enam kali. Bisa diperkirakan, kira-kira bisa mengalahkan rekor 'pesan belum dibaca' pada sebuah WAG yang diantep selama dua hari. Seperi itulah kemungkinannya. Hihihi.
Tidak berani berimprovisasi sendiri tanpa persetujuan sang bidadari, akhirnya khusus pesanan sayuran tadi --terpaksa-- ditangguhkan. Daripada nanti repot menghadapi suara omelan istri. Iya, 'kan? Iyalah.
"Kalo udah tahu gak ada, kenapa gak beli yang ada sih, Pih?" ujar istri begitu aku kembali menghadap di ruangan kesibukannya. "Segitu aja gak bisa. Baru belanja. Belom kalo dipinta ngatur-ngatur duit keluarga. Gaji sebulan diempit-empit biar hemat dan cukup sampe terima gaji lagi. Ini cuma beli sayur aja, susah banget."
"Masalahnya bukan begitu, Mih."
"Apalagi? Apa kudu Amih terus yang ngerjain ini-itu? Sekali-kali bantuin kek, Pih. Apa susahnya, sih?"
Sekali-sekali? Terus yang selama ini aku lakukan, apa artinya dong? Bantu-bantu bebenah, mencuci, mengurus anak, belanja ke warung biarpun cuma membeli pembalut, dan memasak juga. Itu semua bermakna apa? Jangan-jangan cuma sekelas ungkapan, 'Ngapain aja di rumah?' Bujug, dah! Hahaha. Benar-benar deh, si Amih! Kesal banget dan tiba-tiba ingin memperkausnya detik itu juga. Huh!
"Ya, udah! Apih balik lagi deh ke warung! Ngomel 'mulu kerjaan Amih mah! Sebel!" Aku menggerutu sendiri.
"Hihihi!"
Eh, malah cengar-cengir dia! Benar-benar bulat tekadku untuk segera ....
"Nyengir! Gandèng, Mih!"
(Ketawa! Berisik, Mih!)
Masih dengan hati dongkol dan termanyun-manyun sendiri, aku bergegas kembali ke warung. Rasa kesal itu masih tersisa. Sudah berusaha bertanya-tanya tadi, malah justru disalahkan. Asli ini, laki-laki memang selalu salah di mata perempuan. Akan tetapi, wanita selalu menggoda di hati pria. Uhuy! Benar-benar dua sisi pandangan kontradiktif, sekaligus asyik. Bukan apa-apa, asyik dramanya maksudku. Hihihi.
"Jadi beli sayur asemnya, Pak?" tanya tukang warung tadi --masih-- dengan senyum simpulnya.
Kalau iya, mau ngapain lu? Awas nambah kesal, gua gares sekalian ini orang!
"Hape Amih di-charge, Pih," tutur istri begitu aku kembali dan bertanya-tanya tentang ribuan kiriman '[P]' tadi. "Kurang kerjaan amat sih, pake ngehubungin Amih pake cara begituan? 'Kan, Apih bisa langsung beli aja, gak kudu nanya-nanya amih segala. Atawa pulang dulu, terus balik lagi kayak tadi."
Hhmmm, sok bijak banget si Amih!
__ADS_1
Tidak terlihat ada roman bersalah atau apalah di wajah itu. Makin menyebalkan. Untungnya pagi tadi aku mendapat bonus, cukup bantu mencuci piring bekas memasak dan makan. Entahlah, apakah itu berarti dia mengakui kesalahannya? Bahkan sampai tulisan ini mengudara, belum terucap ada kata 'maaf' dari bibir istri. Terkecuali, "Apih mau tidur siang? Yuk, ah!"
Sebait kalimat ambigu yang bernada bonus ataukah diskon? Tidak ada jawaban pasti, terkecuali isi sampo dan sabun mandi cair tadi siang, semakin berkurang beberapa mililiter.