
...JODOHKU SOPIR TRUK?...
...Penulis : David Khanz...
...—---- o0o —----...
"Hah? Gak salah lu milih cowok itu buat jadi laki elu?" tanya Gina terdengar kaget. "Lu sehat 'kan, Mega? Lu gak lagi mabok?"
Itulah reaksi Gina –sahabatku– ketika kabar pertunangan itu disampaikan. Bahkan walaupun sedang berada di jam kerja, dia sengaja meminta izin dan datang menemuiku di kantor pada siang harinya.
"Gila! Are you alright?" Datang-datang Gina langsung meraba dahiku dan bertanya-tanya lebih lanjut. "Lu gak lagi sakaw, 'kan?"
(Kamu sehat, 'kan?)
Aku tersenyum-senyum sendiri melihat sikapnya. "Yes, sure I am. Emangnya kenapa kalo gua milih dia, Gin?"
(Iyalah, aku baik-baik aja, tuh.)
Dia mengambil kursi kosong, menariknya ke depan mejaku, lantas menjawab, "Ya, gak kenapa-kenapa juga, sih. Cuman gua masih gak bisa percaya aja, cewek selevel elu, kok bisa jatuh cinta sama sopir truk, sih? What would the world say, Mega? I still don't believe this. I swear, Bestie."
(Apa yang bakal dikatakan dunia, Mega? Sumpah, aku masih gak percaya itu, Bestie.)
"Terserah," kataku santai. "Lagian, itu 'kan pilihan gua sendiri. Mama dan Papa gua juga udah setuju, kok. Kenapa elu yang repot?"
Gina mendecak. Mungkin merasa kesal. Kemudian lanjut bertanya, "Nyokap-bokap elu setuju juga? Ah, ini bener-bener gila. Masih sulit gua percaya sama omongan elu, Mega. Atau … jangan-jangan elu lagi nge-prank gua, ya?"
Jawabku untuk meyakinkannya, "Enggaklah! Ini beneran, kok. Serius. Kalo gak percaya, tanya aja sama Papa-Mama gua."
Gina mendengkus, gusar, lantas menatap mataku dalam-dalam. "Mega … Mega. Elu itu cewek cakep, punya kerjaan bagus, hidup mapan, tapi … kenapa selera elu malah down, sih?" Sampai-sampai, dia mengikuti kemanapun arah wajah ini menghadap. Merasa risi saja terus-menerus diperhatikan sedemikian rupa. "Ini bukan karena elu dikecewain sama si Juki, 'kan?"
Aku hampir tergelak. Untung saja otak ini cepat tanggap dan menyadari akan situasi serta kondisi sekitar. Jika tidak, bisa-bisa seluruh ruangan heboh kalau sampai kebiasaanku yang satu itu kambuh. Apalagi kalau bukan mengakak layaknya Mak Lampir.
"Justru karena si cowok sialan itu, gua jadi sadar diri, Gin," jawabku enteng.
"Maksud lu?" tanya Gina kembali.
Sejenak aku menarik napas panjang, lantas berungkap santai, "Gua jadi sadar, kalo jodoh yang gua harepin itu bukan kayak si Juki. Tapi—"
"Kayak sopir truk itu?"
"Secara definitely … enggak juga, tapi … gua ngerasa yakin aja, kalo Mas Joko itu laki-laki yang bisa bikin gua nyaman."
"Namanya Joko? Oh, my God … bahkan elu sebut dia pake panggilan 'Mas'. Gak sinkron amat sama elu, Lady Queen."
"Terserah," pungkasku lagi, "tapi yang pasti, gua sama Mas Joko udah ngerasa ada kecocokan."
"O, damn it! It's not good to hear!"
(Sialan! Ini bukan kabar yang bagus!)
__ADS_1
Aku hanya bisa tersenyum-senyum melihat kelakuan Gina. Bukan cuma itu sebenarnya —disamping karena sedang senang— tapi terkenang saat pertama kali merasakan bahwa jodoh yang kucari-cari itu ternyata tidak harus kemana-mana dan tidak perlu lagi harus siapa-siapa.
Kisahnya, kala itu aku lagi diperjalanan. Pulang berlibur bersama Gina dari villa milik orangtuaku di sebuah tempat terpencil. Sedang asyik-asyiknya mengendarai mobil, pandangan di depan terhalang oleh laju sebuah truk besar dan bermuatan cukup berat —sepertinya—. Kami mengalami kesulitan untuk menyalip, walaupun ada space cukup buat mendahului. Namun karena kondisi jalanan berkelok-kelok, Gina yang kebetulan kebagian memegang kemudi, tidak berani melakukannya.
"Kasih klakson kenapa sih, Gin!" seruku merasa tidak sabar karena laju kendaraan ikut pelan mengekor. "Kasih juga light lamp supaya dia minggir!"
"Just wait! Jangan dulu, Ga," tangkis Gina seraya terus fokus ke depan. "Elu gak lihat dia ngasih isyarat lampu hazard dari tadi?"
Gerutuku kembali kesal, "Lagian bego juga, sih. Lampu hazard itu 'kan fungsinya bukan ngasih tahu gak boleh nyalip, tapi pemberitahuan buat pengendara di belakang kalo di depan dia itu ada apa-apa."
"Anggap ajalah dia niat ngasih tahu ke kita, gak boleh nyalip. Soalnya jalur kanan ada banyak kendaraan juga," kata Gina terdengar santai.
Aku mendengkus sebal.
Perasaan kesal ini terus menghantui semenjak putus hubungan dan ditinggal kawin oleh Marjuki. Karena alasan itulah, makanya untuk beberapa hari lalu, aku mengajukan cuti kerja bareng dengan Gina. Lumayanlah buat healing sementara, walaupun efeknya masih tersisa hingga kini.
Iseng-iseng kuperhatikan terus nyala kedua sisi kanan-kiri lampu sein truk di depan. Memang benar, hampir setiap menit jalur kanan sibuk dilalui berbagai macam kendaraan. Walaupun ada celah kosong dan cukup untuk menyalip dari sebelah kiri, kondisi jalanan tanah yang becek akibat habis diguyur hujan, rasanya sangat berbahaya pula untuk diterobos. Satu-satunya opsi, menunggu dan menunggu.
Tit! Tit! Tit!
Kupijit tombol klakson karena tidak sabar.
"Mega, apaan sih kamu, ih?" seru Gina terkejut di belakang kemudi.
"Gabut aja gua, Gin!" jawabku cuek.
"Idih!"
"Bahaya, Ga," ujar Gina seraya menunjuk ke depan. "Lihat noh, dia ngasih tahu jangan dulu nyalip. Ada mobil di jalur kanan di depan kita. Bahaya. Bisa tabrakan kalo nekad nerobos."
"Lagian gua kesel, sih. Kapan nyampenya kalo jalannya kayak keong begini."
"Sabar, Non. Sampe kita dapet celah aman buat nyalip."
Benar saja. Tidak berapa setelah itu, kami menemukan trek lurus dan aman untuk mendahului. Bertepatan dengan itu, lampu sein truk di depan berganti berkedip-kedip ke sebelah kiri. Maka tanpa menunggu lama, Gina segera membelok ke kanan dengan lincah dan menekan pedal gas sedalam mungkin.
Tit! Tit!
Dua kali suara klakson kendaraan kami dibunyikan, sebagai tanda ucapan terima kasih serta permisi untuk mendahului. Dibalas dengan hal yang sama oleh pengendara truk tadi.
Tot!
Sempat kulirik bagian depan truk tersebut saat melintas. Sejenak tertampak, sosok seorang laki-laki muda tersenyum di belakang kemudi. Sepertinya ada dua orang di dalam sana dan yang satunya lagi pastilah kondektur. Setelah itu laju kendaraan pun lancar melesat membelah alam raya yang masih lembab berkabut.
"Kita cari makan dulu yuk, Gin," ajakku beberapa menit kemudian. "Gua laper, nih."
"Gila lu!" umpat Gina. "Tempat beginian mana ada resto."
"Cari aja warung pinggiran," kataku memberi saran. "Biasanya suka ada tuh yang jualan di tempat beginian."
__ADS_1
"Ah, paling-paling juga yang jualan gorengan ama mi rebus."
"Biarin, deh. Yang penting perut keisi."
"Yakin lu?"
"Iyalah. Daripada nunggu sampe kota? Bisa mati kelaparan gua!"
"Ya, udah. Terserah elu aja."
Tidak berapa lama, kami berhenti begitu menemukan sebuah warung kecil. Di sana langsung memesan mi instan dan beberapa camilan khas tempat jualan pinggiran. Untungnya semua tersaji dalam keadaan panas-panas. Bisa sekalian menghangatkan badan di tengah terjangan udara dingin sesore itu.
Di saat tengah menikmati penganan pesanan tadi, sebuah truk berhenti tepat di belakang kendaraan kami yang terparkir. Kemudian turun dua orang sosok laki-laki dari dalam dan langsung menghambur ke dalam warung.
Aku masih ingat, itu adalah truk dan orang yang sama sewaktu disalip tadi. Salah satunya membungkukkan badan begitu tatap kami saling beradu, memberi hormat salam. Lumayan sopan juga sopir itu, pikirku. Mereka berdua memilih duduk-duduk di dalam, walaupun di tempatku dan Gina masih tersedia bangku kosong.
"Di depan aja atuh Aa," ujar pemilik warung pada keduanya. Jawab mereka, "Gak apa-apa, Bu. Kami di sini aja. Lagian, ini badan masih keringetan. He-he."
Wah, pengertian juga dia, pikirku kembali. Mungkin khawatir bau badannya akan mengganggu kenikmatan kami. Sampai-sampai harus berdesak-desakkan di dalam sana bersama pemilik warung. Bisa jadi pula sedang berusaha menghindari adu mata denganku dan Gina.
Hhmmm, sejenak kulirik sosok sopir itu. Masih muda. Mungkin usianya tidak bertaut jauh dariku. Berkulit eksotis dan sedikit kusam karena –bisa jadi– faktor keringat dan debu jalanan yang masih menempel. Namun dari gerak-gerik dan bahasa selama berbicara dengan tukang warung, terdengar begitu sopan sekali. Apalagi yang dihadapinya itu orang tua.
Satu hal yang kukaitkan selama berada di belakang truknya tadi –yang berkaitan dengan isyarat-isyarat lampu sein yang diberikan di sepanjang jalan–, sepertinya dia memang berusaha memberi perlindungan dan keamanan buat pengguna jalan lain. Termasuk kami tentunya. Tidak semua pengemudi mau dan memahami bahasa-bahasa jalanan seperti itu.
"Ayo, lanjut jalan lagi yuk, Ga," ajak Gina mengejutkan sewaktu asyik memerhatikan sosok laki-laki di dalam warung tadi. Aku pun langsung mengikuti tarikan tangannya menuju kendaraan. Sampai kemudian sesuatu pun terjadi. "Astaga! HP gua ketinggalan di warung tadi!"
Sialan memang, kami harus kembali ke tempat semula. Tadinya bermaksud hendak mengambil ponsel yang tertinggal di sana, akan tetapi urung dilakukan. Sebuah kendaraan memberhentikan kami di tengah perjalanan.
"HP Mbak tertinggal di warung tadi," ujar seorang laki-laki begitu turun dari kendaraannya. Dia adalah sopir tadi. Begitu menyerahkan benda tersebut, langsung pamit dan menolak untuk menerima sejumlah uang dariku sebagai tanda terima kasih. Namun dengan senang hati bertukar nomor seluler detik itu juga. "Nanti saya hubungi lagi, ya?" janjiku padanya.
Sejak saat itu pula, kami intens membuka dan melakukan komunikasi. Hingga akhirnya bilai-bilai rasa itu terpancing tanpa disadari. Aku mulai menyukai kepribadian laki-laki tersebut. Begitu santun, lemah lembut, dan terpenting adalah memiliki tanggungjawab besar.
Beberapa bulan setelah semakin akrab, kami pun memutuskan untuk bertunangan.
"Terus, sekarang … laki lu itu kerja apa?" tanya Gina di kemudian hari.
Aku jawab disertai senyuman puas, "Tetap seperti yang kita kenal pertama kali, yaitu jadi sopir."
"Sopir truk?"
"Bukan," jawabku kembali. "Dia jadi sopir pribadi gua."
"Hah?!"
"Jadi selama ada dia, gua gak usah mengeluarkan biaya untuk menggaji. Cukup dia seorang yang bisa mengantar, kemanapun gua pergi … secara gratis tentunya. Karena dia juga ikut tinggal di rumah bokap-nyokap gua. Hi-hi!"
"Gila!" seru Gina seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Terus kapan elu nikahnya?"
Sejenak aku berpikir, lantas menjawab penuh pengharapan, "Nunggu si Juki beres sidang cerai sama istrinya. Hi-hi."
__ADS_1
Plak!
Gina menepuk kening sendiri, kemudian kami pun tertawa bareng-bareng.